
Naya melihat perubahan yang sangat kontras pada suaminya saat Lio kembali ke rumah sejak suaminya itu pergi begitu saja dan mengabaikannya, raut wajah Lio terlihat menahan amarah sehingga membuat Naya tidak berani bertanya penyebab suaminya berubah begitu, jangankan bertanya, mendekat saja Naya takut.
"Kamu dimana sieh Cle, jangan buat aku gila begini." desahnya putus asa karna dia sudah menghubungi semua teman Cleo, namun semuanya kompak memberikan jawaban yang sama yaitu tidak tahu keberadaan, Cleo tentu saja teman-teman Cleo memberikan Lio jawaban yang sama atas suruhan Cleo.
Disaat tengah putus asa begitu, sebuah chat masuk diponselnya, dengan cepat Lio meraih ponselnya yang digeletakkan sembarangan ditempat tidurnya, dia berharap chat tersebut dari Cleo mengingat puluhan pesan yang dia kirim belum mendapat respon sama sekali dari gadis itu, dan memang benar itu merupakan pesan dari orang yang dia harapkan, bunyi pesannya adalah.
Sudahlah Lio, kita akhiri saja hubungan kita, ini terasa tidak benar, aku merasa serba salah disini, orang akan menghakimiku karna sebagai wanita yang merusak hubungan orang lain.
Lupakan aku Lio, dan cintai istri pilihan kakekmu.
Semoga kamu bahagia dengan istrimu itu.
"Tidak tidak, jangan katakan itu Cle, aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilangan kamu." panik Lio langsung menghubungi Cleo begitu membaca chat yang dikirim oleh Cleo, sayangnya, gadis itu lagi-lagi mengabaikan panggilan Lio, dan dipanggilan yang kedua, yang menjawab adalah operator yang memberitahu bahwa nomer yang dituju sedang tidak aktif.
"Brengsekkk." umpat Lio geram, dia sampai membanting ponselnya dan berhasil membuat benda tersebut berserakan dilantai.
Naya yang baru keluar dari kamar mandi terkejut melihat Lio yang diluar kendali.
Dalam kondisi seperti itu, meskipun takut, namun pada akhirnya Naya memberanikan dirinya untuk bertanya, "Mmm mas, mas Lio kenapa." tanyanya takut-takut.
Pertanyaan yang dijawab dengan plototan tajam oleh Lio, ya menurut Lio, Nayalah yang membuatnya putus dengan Cleo, gara-gara Lio harus ikut ke kampung halaman Naya yang kekurangan sinyallah yang membuatnya tidak bisa menghubungi kekasihnya itu sehingga membuat Cleo ngambek dan memutuskannya secara sepihak.
Mendapat tatapan mengerikan begitu membuat Naya menunduk, tidak berani memandang suaminya yang terlihat menakutkan, mau tidak mau berbagai spekulasi tentang penyebab sikap Lio berubah begitu memenuhi benak Naya, apalagi dilihatnya suaminya itu lepas kendali dan membanting ponselnya, "Mas Lio sebenarnya kenapa, apa ini karna pekerjaan, apa ada masalah dengan perusahaan karna mas Lio meninggalkan pekerjaan selama satu minggu, apa perusahaan akan bangkrut."
"Ini gara-gara lo." tiba-tiba dengan suara meninggi Lio menunjuk Naya.
"Ehh, maksud mas Lio apa." tanya Naya takut, dia tidak tahu apa-apa, terus kenapa Lio tiba-tiba menyalahkannya.
Lio berderap mendekati Naya yang berdiri didekat meja rias, melihat wajah Lio yang merah padam menimbulkan rasa takut dihati Naya, begitu tiba didepan Naya, Lio mencengkram lengan Naya dengan kasar, perlakuan Lio tersebut membuat Naya meringis menahan sakit.
"Aduhh mas, sakit." rintih Naya namun dibaikan oleh Lio yang tengah emosi.
__ADS_1
"Gara-gara lo Cleo memutuskan gue."
"Cleo." gumam Naya seperti pernah mendengar nama tersebut.
"Dia wanita yang gue cintai, wanita yang akan gue nikahi kalau seandainya lo tidak hadir diantara kami, wanita yang akan melahirkan anak-anak gue." ujarnya berapi-api.
Naya ingat, Cleo adalah nama yang disebut oleh suaminya saat dirinya mabuk, saat malam dimana dia dan Lio melakukan hal sebagaimana mestinya yang harus dilakukan oleh suami istri.
Saat itu Naya merasa sakit mendengar suaminya menyebut nama wanita lain, namun saat itu dia berusaha berfikir positif, dan rasa sakit itu kini bertambah lima kali lipat karna dengan terang-terangan suaminya mengumumkan dihadapannya kalau Cleo itu adalah kekasihnya dan wanita yang dia cintai, hati wanita mana yang tidak hancur mendengar kata perkata yang begitu menyakitkan.
Pelupuk mata Naya sudah membentuk bendungan yang sebentar lagi bisa jebol, "Mak mak sud mas Lio, Cleo..."
"Dia adalah kekasihku." Lio memperjelas.
"Maksud mas, mas Lio se se ling kuh." tanya Naya terbata dengan bibir bergetar.
"Cleo bukan selingkuhan gue, sebaliknya, lo yang hadir diantara kami, lo yang merusak hubungan kami."
"Tapi, tapi..."
Jelas Naya tahu akan hal ini, siapapun bisa melihatnya, karna awal-awal pernikahan Lio tidak pernah memperlakukannya dengan baik, bahkan sampai saat ini, Nayapun begitu, sangat terpaksa menerima perjodohan ini, namun disaat ijab kabul Naya berusaha untuk ikhlas dengan takdir hidupnya yang telah digariskan oleh Allah, berfikir positif kalau Liolah yang ditakdirkan sebagai jodohnya bukan Wahyu, Naya bertahan dan berharap Lio akan menerimanya juga mengingat janji yang diikrarkan dihadapan Tuhan dan para saksi yang menghadiri pernikahan Tuhan.
Mendengar kata-kata menyakitkan dari seorang laki-laki yang berstatus sebagai suami, wanita mana yang bisa tegar, begitupun juga dengan Naya, meskipun dia berusaha untuk tegar, namun toh pertahanannya runtuh juga, air mata yang susah payah ditahannya akhirnya jebol. Lio yang sangat mencintai Cleo dan putus asa karna kata putus sepihak yang dikatakan oleh Cleo lewat chat membuatnya sedikitpun tidak bersimpati dengan kondisi Naya yang terlihat hancur karna kata-katanya.
"Ma mas Lio." suara Naya bergetar, "Apa mas ingin menceraikan Naya."
"Gue sangat ingin, tapi tidak mungkinkan."
"Karna kakek."
"Karna siapa lagi gue bertahan dengan pernikahan ini."
__ADS_1
"Aku...maafkan aku mas, aku..." Selain hancur, Naya juga merasa bersalah, bersalah karna dirinya Lio tidak bisa bersama dengan kekasih yang dia cintai, kalau seandainya orang tuanya tidak terlilit hutang pada lintah darat, mungkin Naya juga tidak akan mau menerima perjodohan ini.
Tok
Tok
Tok
Disaat suasana tegang begitu, terdengar suara pintu diketuk dari luar.
"Tuan muda, nona Naya, makan malamnya sudah siap." suara mbak Wati terdengar dari balik pintu.
Lio menatap Naya sesaat sebelum menjawab, "Gue dan Naya tidak lapar."
"Tapi tuan..."
"Lo tidak denger, gue dan Naya tidak lapar, itu artinya kami tidak mau makan." suara Lio meninggi.
"Tapi tuan muda." mbak Wati terdengar takut mendengar bentakan tuan mudanya, ingin langsung kabur saja dari sana, tapi tuan Handoko memintanya memanggil Lio dan Naya dan mereka diwajibakan hadir dimeja makan, daripada dimarahin oleh tuan besarnya, mbak Wati mau tidak mau harus memaksa Lio dan Naya turun ke meja makan walaupun tuan mudanya itu mengatakan kalau dirinya dan istrinya tidak merasa lapar, "Tuan besar meminta tuan muda dan nona Naya harus turun, ada hal penting yang ingin dibicarakan." membawa nama tuan besar supaya tidak mendapat bentakan lagi.
Mbak Wati berdiam diri didepan pintu kamar tuan mudanya, dia tidak mau beranjak dari sana sebelum ada kata "Ya." dari tuan mudanya tersebut.
Dari dalam Lio menarik pintu dengan gerakan kasar, "Bilang sama kakek, gue dan Naya akan turun sebentar lagi."
"Ehh, baik tuan." mbak Wati buru-buru turun begitu melihat wajah tuan mudanya yang terlihat menakutkan.
"Tuan muda kenapa, apa dia tengah bertengkar dengan nona Naya, padahal pas balik dari desa mereka kelihatan baik-baik saja." tanya mbak Wati dalam hati.
"Cuci wajah lo, gue tidak mau kakek bertanya penyebab mata lo bengkak dan merah begitu." perintah Lio.
Naya menuruti perintah Lio, mereka harus menghadapi kakek, laki-laki sepuh itu pasti akan menanyakan banyak hal pada mereka selama didesa, dan jelas saja kalau kakek Handoko melihat matanya sembab begitu pasti kakek mertuanya itu akan bertanya, dan Naya tentu saja tidak tahu akan memberikan jawaban apa kalau kakek mertuanya itu sampai menanyakan hal tersebut.
__ADS_1
Dimeja makan, ketika Naya dan Lio tiba, mereka menemukan sang kakek dan mama Renata yang tengah menunggu kedatangan mereka berdua.
****