
"Lo kenapa sieh Cle, lo itu bawaanya ingin marah mulu deh sejak tadi." heran Nadia melihat sahabatnya itu terlihat uring-uringan terus.
"Nyesel gue datang kemari, tahu gini lo nyuruh kita untuk kumpul hanya untuk dengerin lo marah-marah, mending gue tidur cantik dirumah." sambung Sinta sahabat Cleo yang satunya.
Mengabaikan protes kedua sahabatnya, Cleo menjelaskan penyebab dirinya uring-uringan begini, "Lo tahu gak sieh kalau sik Lio brengsek itu tidak menghubungi gue sampai saat ini, sialan ya dia, berani-beraninya dia ngabaiin gue kayak gini." geramnya mencengkram gelas minumannya.
Bukannya bersimpati atas kondisi sahabatnya yang tengah uring-uringan, Nadia dan Sinta malah tertawa.
"Heh sialan, gue bukannya lagi ngelawak ya, gue itu lagi kesel." Cleo jelas sewot karna ditertawakan oleh kedua sohibnya tersebut.
"Itu salah lo sendiri ya Cle, sok-sok'an mutusin Lio dan dan pakai jual mahal lagi ngabaiin telpon dia, dan sekarang, lo uring-uringankan saat Lio ngabaiin lo beneran." timpal Nadia.
"Mungkin selama ini lo gak nyadar, nieh gue kasih tahu ya Cleopatra Kusuma." Sinta menekankan kalimatnya, "Adelio Rasyad itu adalah laki-laki perfek, perfeck, lo pahamkan makna perfek Cle."
Nadia menyambung, "Tampan, tinggi, kaya, pewaris kerajaan bisnis keluarga Rasyad, satu lagi yang tidak boleh lo lupain Cle, royal dan bucin, tuh cowok nurutin apapun yang lo inginkan, dimana lagi coba lo bisa dapetin cowok seperfeck itu, ehh ini malah lo nyelingkuhin dia dengan laki-laki yang jauh dari standar lagi."
"Laki-laki seperfeck Adelio Rasyad itu sudah pasti yang mau banyak Cle, dan pastinya yang lebih segala-galanya dari lo itu ngantri untuk mendapatkan seorang Adelio Rasyad, ya mungkin saja sekarang Lio telah menemukan wanita yang lebih segala-galanya dari lo, makanya sekarang dia lupain lo."
Cleo terpengaruh juga dengan kata-kata Nadia dan Sinta, dan itu jelas saja membuatnya tambah khawatir, "Tidak bisa, tidak bisa, gue tidak boleh ngelepasin Lio, tidak boleh."
"Kalau lo gak mau kehilangan Lio, mending sekarang lo hubungin dia deh." saran Nadia.
"Akhh, tapi masak gue ya harus hubungin dia duluan sieh, mau taruh dimana muka gue, gue yang udah mutusin dia."
"Makanya kalau mau ngelakuin sesuatu itu difikir dulu donk pakai otak Cle, lo itu cantik banget, tapi sayang gak punya otak." Sinta meledek sahabatnya.
"Memang sialan lo ya Sin, disaat serius begini masih saja lo ngehina gue."
"Ya maaf, habisnya gue gemes dengan lo yang sok-sok'an begini."
"Sudah deh Cle, kalau saran gue nieh, lo mending hubungin Lio deh sekarang kalau lo gak mau kehilangan ATM berjalan lo, hilangin deh tuh gengsi lo yang selangit."
Gengsi, tapi membenarkan ucapan kedua sahabatnya, Cleo akhirnya menekan gengsinya, dia meraih ponselnya dan mendial nomer Lio.
****
Lio saat ini tengah memeriksa berkas-berkas kerjasama dengan rekan bisnisnya yang diberikan oleh Rafa saat ponselnya yang tergeletak pasrah dimeja kerjanya berbunyi nyaring.
Karna tengah sibuk, Lio mengabaikan panggilan tersebut, sampai Rafa yang juga tengah bersamanya protes, "Boss, lo angkat napa tuh ponsel lo, berisik tahu."
"Biarin aja." jawabnya cuek.
Rafa melongokkan wajahnya untuk melihat siapa yang menghubungi Lio, mata Rafa melebar saat mengetahui sik penelpon, "Cleo." gumamnya.
Mendengar nama kekasih, maksudnya mantan kekasihnya disebut oleh Rafa membuat Lio reflek mendongak dari berkas yang tengah fokus diperiksanya.
__ADS_1
"Cleo nieh yang nelpon lo." lapor Rafa.
Lio merasa aneh, karna beberapa hari belakangan ini sejak Naya sakit dan sejak Bulan hadir dalam kehidupannya, Lio tidak terlalu memikirkan gadis yang memutuskannya secara sepihak tersebut.
"Malah bengong lagi, mau diangkat gak nieh."
Setelah menimbang beberapa saat, Lio berkata, "Biarin saja."
Rafa tersenyum mendengar jawaban Lio, karna sahabatnya itu untuk pertama kalinya lebih mementingkan pekerjaan daripada Cleo, dan Rafa berharap ini adalah awal yang bagus.
"Benerkan yang gue bilang."
Lio kembali mendongak menatap Rafa tidak mengerti dengan kata-kata sahabat merangkap sekertarisnya tersebut.
Rafa melanjutkan, "Cleo menghubungi lo lebih dulu pada akhirnya."
Ucapnya dalam hati, "Mana ada cewek yang rela ngelepas laki-laki seroyal lo, akhirnya tuh sik cewek matre menyerah juga dengan sifat sok jual mahalnya."
Lio ingat saran dari Rafa untuk tidak menghubungi Cleo untuk beberapa hari, dan dia tidak pernah menyangka kalau dia bakalan cuek beneran sama Cleo,
"Gue gak menyangka ternyata apa yang lo katakan bener Raf, Cleo pada akhirnya ngehubungin gue lebih dulu."
"Hmmm, jadi bagaimana sekarang, lo lanjutin nyuekin dia nieh ceritanya, atau lo sudah tidak cinta sampai telponnya saja lo abaikan begini."
Rafa terkekeh, tidak menyangka akan mendengar kalimat tersebut terucap dari bibir sahabatnya yang terkenal bucin sama Cleo, "Gue suka gaya lo, jangan mau diperbudak oleh wanita."
"Jangan sibuk ngoceh terus lo, lanjutin kerja lo."
"Oki doki bos."
****
Saat ini Naya tengah membantu mbak Wati dan bi Darmi memasak di dapur, sedangkan Bulan tengah bermain dengan boneka tedy bear kesayangannya tidak jauh dari posisi Naya berada sehingga Naya bisa mengontrol Bulan tiap beberapa saat.
"Nona kecil manis sekali ya." ucap mbak Wati memperhatikan gadis kecil yang tengah asyik bermain tersebut.
"Iya." sahut bi Darmi membenarkan, "Suasana rumah besar tambah rame dan seru dengan kedatangan nona kecil, selain manis dan cantik, nona kecil juga cerdas, dan tuan besar juga sepertinya sangat menyukai nona kecil."
"Semoga dengan non Naya mengadopsi nona kecil, nona Naya dan tuan muda Lio segera dikaruniakan keturunan supaya rumah besar tambah rame." doa mbak Wati penuh harap
"Amin." bi Darmi mengaminkan.
"Nona Naya kenapa tidak mengaminkan doa saya."
"Eh iya amin." seru Naya setengah hati, pasalnya dia tidak mengharapkan keturunan dari suami yang berencana untuk menceraikannnya dalam jangka wakti satu tahun.
__ADS_1
Di tengah obrolan antara orang dewasa tersebut, Bulan menghampiri ibu angkatnya, gadis kecil itu menarik rok yang dikenakan oleh Naya, "Bunda bunda."
Naya menunduk, mata bulat besar dan polos itulah yang selalu membuat orang luluh dan menyayangi Bulan, "Kenapa sayang."
"Bunda, Bulan kangen sama ayah."
"Bulan kangen sama ayah." ulang Naya memastikan.
"Iya bunda, ayok bunda kita ke kantor ayah untuk menemuinya."
Naya mencoba untuk memberi penjelasan sama gadis kecil berumur lima tahun tersebut, "Ayahkan lagi kerja sayang, cari uang yang banyak buat Bulan, jadi untuk sekarang, karna ayah lagi sibuk, jadi tidak boleh untuk ditemui."
"Tapi kalau telpon boleh bunda." ternyata anak yang lagi kangen sama ayah angkatnya ini masih belum menyerah untuk bernegosiasi dengan Naya.
"Hmmm, ya udah deh, bunda coba telpon ayah ya, kalau ayah tidak menjawab, itu tandanya ayah lagi sibuk."
"Iya bunda."
***
Masih dengan kesibukan yang sama saat deringan ponsel Lio kembali mengganggunya.
"Gimana mau fokus kerja kalau telpon lo berdering terus boss." protes Rafa, dia berharap Lio menjawab panggilan tersebut.
Namun ternyata Lio tidak menggubris ponselnya yang terus berbunyi maupun ucapan Rafa, hal itu membuat Rafa yang kesal dengan Lio meraih ponsel tersebut tanpa permisi dan menjawabnya tanpa melihat nama yang tertera dilayar, "Cleo, Lionya lagi sibuk, jadi, aku harap kamu bijaksana ya dengan tidak menghubungi Lio untuk saat ini."
Dan Lio kalem saja tuh saat panggilannya dijawab oleh Rafa.
"Ini mas Rafa ya, mas Lionya mana, kenapa mas Rafa yang menjawab telponnya mas Lio."
Rafa bisa mengenali suara lembut tersebut, "Naya."
"Iya mas, ini Naya."
Rafa langsung memukul-mukul bibirnya yang nyerocos tanpa rem karna mengira yang menelpon adalah Cleo, sekarang Rafa berharap kalau Naya tidak mendengar clotehannya tersebut, pasalnya Rafa tidak mau Naya sakit hati mendengar dirinya menyebut nama Cleo yang merupakan perempuan yang dicintai oleh suaminya.
"Itu Naya." tanya Lio karna mendengar Rafa menyebut nama Naya.
Rafa mengangguk.
"Sini, berikan ke gue."
Rafa menyodorkan ponsel tersebut pada Lio.
****
__ADS_1