Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
APARTMEN CLEO


__ADS_3

"Aku kesepian di apartmen, sejak menikah dengan gadis kampung itu kamu jarang menemuiku, kamu berubah Lio, tidak seperti dulu lagi, kamu bahkan sudah tidak peduli lagi denganku." racaunya semakin menjadi-jadi, memang kalau tengah dalam pengaruh minuman keras orang akan mengeluarkan keluh kesahnya.


Tidak mau menjadi pusat perhatian, terpaksa Lio harus membawa Cleo secara paksa, dia melingkarkan tangannya dengan kuat dibahu Cleo supaya gadis itu tidak bisa berontak, "Kita balik ya Cleo." karna menggunakan segenap kekuatannya meskipun Cleo kembali berontak, hal tentu tidak berpengaruh sama sekali.


"Aku gak mau balik, aku mau disini saja." racau Cleo namun tidak dihiraukan oleh Lio yang terus membawa Cleo keluar dari club.


Dan akhirnya dengan susah payah Lio berhasil membawa Cleo ke mobil, Lio kemudian melingkarkan sabuk pengaman ditubuh Cleo.


"Aku gak mau balik Lio, aku mau disini saja." racaunya setengah sadar.


"Kita balik ke apartmen ya Cle, gak baik perempuan sepertimu berada dibar."


Dan setelah memasangkan sabuk pengaman, Lio menutup pintu mobil dan berjalan mengitari mobil menuju kemudi, begitu mendudukkan bokongnya dengan nyaman dibalik kemudi, Lio menoleh sejenak ke arah Cleo, gadis itu sudah tidak sadarkan diri.


Melihat wajah gadis yang telah menjadi kekasihnya selama dua tahun belakangan ini, terbersit juga rasa bersalah, mengingat dia memang agak jarang menemui Cleo akhir-akhir ini, bahkan dia tidak langsung menemui atau bahkan menghubungi Cleo saat Rafa mengatakan kalau Cleo terlihat ngambek saat keluar dari ruangannya tadi siang.


Lio mengelus puncak kepala Cleo yang disandarkan disandaran kursi, "Maafkan aku Cle kalau akhir-akhir ini kurang memperhatikan kamu, dan sampai kamu harus bilang putus hanya supaya untuk mendapat perhatianku ." ujarnya dengan rasa bersalah meskipun Cleo tentu saja tidak bisa mendengarnya, "Aku janji akan lebih perhatian sama kamu, meluangkan waktu untuk kamu." janjinya dan meraih tangan Cleo, "Bersabarlah menungguku sayang, ini hanya satu tahun."


Dan setelah mengucapkan janji tersebut, Lio menjalankan mobilnya keluar dari parkiran club malam tersebut.


****


Dengan menggendong Cleo, Lio membawanya sampai ke kamarnya dan membaringkan gadis itu ditempat tidurnya, Lio kemudian melepas sepatu Cleo dan menarik selimut sampai batas leher.


Ingin pulang, tapi ada rasa tidak enak meninggalkan Cleo sendirian dalam kondisi tidak memungkinkan begini, oleh karena itu, Lio akhirnya memutuskan untuk menginap malam ini di apartmen yang dia belikan untuk Cleo dengan tidur disofa ruang tamu.


"Tidurnya yang nyenyak Cle." gumamnya mencium kening Cleo, "Aku akan menjagamu disini."


****


Sementara itu dirumah besar, tepatnya dikamar Lio dan Naya, Naya terlihat gelisah, dia tidak bisa tidur karna menunggu Lio, meskipun Lio memintanya untuk tidak menunggunya, Naya tidak tenang, dia takut terjadi apa-apa sama Lio.

__ADS_1


"Apa aku telpon dia saja kali ya, nanyain apakah dia baik-baik saja." ujarnya pada diri sendiri.


Naya sudah akan mendial nomer Lio, namun disaat terakhir dia mengurungkan niatnya, "Janganlah, dia mau pulang kek, gimana kek, nginep sekalian dirumah kekasihnya itu kek, itukan bukan urusanku." dengan pemikiran tersebut Naya mengurungkan niatnya untuk menghubungi suaminya tersebut.


Namun ternyata, Naya tidak bisa pura-pura cuek begitu, dia terus saja merasa gelisah yang membuatnya tidak bisa tidur, dia membolak-balikkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Sesuai dengan pesan Lio, dia akhirnya memilih tidur ditempat tidur.


Karna merasa galau, Naya akhirnya turun dari tempat tidur karna dia berniat mengungsi dikamar Bulan, fikirnya siapa tahu dia bisa tidur jika bersama dengan anak angkatnya itu.


Naya membuka pintu kamar anak angkatnya tersebut dengan perlahan, mungkin karna takut, gadis kecil itu tidak mematikan lampu kamarnya yang membuat kamar tersebut terang benderang, dari pintu yang sedikit terbuka, Naya bisa melihat kalau Bulan tidur diapit oleh boneka tedy kesayangannya dan juga Bintang kucing betina yang sore tadi dibelikan oleh Naya, gadis kecil itu terlihat dalam tidurnya .


Naya tersenyum melihat anak angkatnya, melihat wajah polos dan menggemaskan Bulan mampu membuat hatinya yang saat ini gundah gulana menjadi tenang.


Karna tempat tidur Bulan lumayan luas dan lebih dari cukup untuk ditiduri oleh dua orang, Naya kemudian naik ke tempat tidur, mengambil tempat didekat Bintang sik kucing betina, "Selamat tidur Bulan anak bunda, mimpi indah sayang." mengecup puncak kepala Bulan sebelum membaringkan tubuhnya.


****


Pagi hari diapartmen Cleo, gadis itu terbangun karna mendengar suara berisik dari dapur.


"Siapa yang membawa aku pulang ke apartmen." Cleo mencoba mengingat-ngingat kejadian semalam, "Lio, ahh iya benar Lio yang membawaku, apa dia sudah pulang."


Cleo turun dari ranjang, karna penasaran dia berniat ke dapur untuk mengetahui penyebab kenapa dapurnya berisik.


Dari arah pintu, Cleo melihat punggung kokoh laki-laki yang selama dua tahun ini menjadi kekasihnya tengah menggoreng sesuatu diwajan.


"Lio." gumamnya melihat tubuh kokoh Lio yang membelakanginya, "Akhirnya dia kembali lagi seperti Lio yang aku kenal." tentu saja Cleo merasa senang karna ternyata Lio tidak meninggalkannya dan memilih menginap di apartmennya.


Cleo tidak tahu saja kalau Lio tidak bisa tidur semalaman karna terus kefikiran Naya, Lio juga aneh dengan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja terus kefikran Naya, ingin menghubungi tapi gengsi, akhirnya dia mengurungkan niatnya dan berharap malam cepat berganti pagi supaya dia bisa cepat pulang.


Dengan langkah pelan Cleo berjalan mendekat ke arah Lio, gadis itu langsung melingkarkan tangannya diperut Lio, dan dengan senyum sumringah menyapa, "Pagi sayang." sambil mencium pipi Lio.


"Pagi juga sayang." balas Lio menoleh ke samping.

__ADS_1


"Kamu goreng apa." tanyanya melongokkan wajahnya ke arah wajan.


"Goreng telur, aku mau buat roti isi untuk sarapan." Lio memang tidak bisa masak, tapi kalau hanya goreng telur dia bisa.


"Kamu baik sekali sieh sayang." kembali mencium pipi Lio.


"Kamu sebaiknya duduk, aku sudah membuatkan kopi hitam untuk kamu untuk menghilangkan pusing."


"Sekali lagi makasih ya sayang." Cleo kembali mencium pipi Lio sebelum berjalan ke meja makan.


Gak lama, Lio datang menghampiri meja makan dengan piring berisi roti isi yang telah dibuatnya, "Nahh ini, makanlah agar kamu ada tenaga."


"Wahh, kelihatannya enak, makasih ya sayangku." ujarnya antusias, dulu Lio juga sering membuatkannya sarapan saat laki-laki itu menginap di apartmennya, "Apa ini berarti kita kembali menjadi pasangan kekasih lagi." karna ketika menemui Lio dikantor siang tadi, mereka belum sempat berbaikan secara resmi karna keburu diganggu oleh kedatangan Naya dan Bulan yang merusak suasana.


Lio hanya tersenyum tipis untuk menanggapi kalimat Cleo, "Ayok makanlah, setelah ini aku harus pulang dan pergi ke kantor."


Cleo yang tadi terlihat antusias menurunkan garpu yang diarahkan ke mulutnya, dengan ketus dia berkata, "Kamu mau pulang."


Lio menyeruput kopinya sebelum menjawab, "Aku harus pulang dan pergi ke kantor, hari ini aku ada pertemuan penting dengan klien."


"Aku fikir kamu akan menemani aku seharian, akhir-akhir inikan kamu jarang ada waktu untuk aku, kalau tidak urusan pekerjaan ya urusan istri kamu itu." Cleo terlihat kecewa, lebih tepatnya sieh ngambek.


Melihat perubahan wajah dan nada bicara Cleo, Lio tahu Cleo ngambek, dia yang sudah berpengalaman bagaimana cara menangani cewek yang ngambek meraih tangan Cleo yang tergeletak dimeja, dia berusaha menjelaskan kepada Cleo, "Sayang, ini adalah pertemuan penting yang mengharuskan aku harus hadir, aku harap kamu mengerti, ini juga demi masa depan kita." Lio mengecup punggung tangan Cleo.


Gadis itu ternyata tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan Lio, dia tetap menampilkan wajah cembrut.


Lio mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan jurus terakhirnya, jurus yang sengambek-ngambeknya perempuan itu pasti akan luluh dan sumringah, "Belilah apapun yang kamu inginkan, bersenang-senanglah." Lio menyodorkan kartu ke hadapan sang kekasih, "Tapi maafkan aku karna tidak bisa menemanimu."


Dan benar saja, wajah yang tadinya ditekuk itu langsung melengkung sempurna, Cleo berdiri dan berjalan mendekati Lio yang duduk dihadapannya, gadis itu melingkarkan tangannya dileher Lio dan mencium pipinya, "Terimakasih sayang, kamu bener-bener kekasih yang pengertian."


Untuk pertama kalinya Lio menghela berat, kalau dulu dia akan bahagia melihat gadisnya itu tersenyum, kini dia mulai berfikir, apakah Cleo benar-benar mencintainya atau mencintai hartanya saja.

__ADS_1


*****


__ADS_2