
Iya, memang anak yang dikandung oleh Cleo bukanlah anaknya Lio, janin yang saat ini tumbuh dan berkembang dalam rahimnya adalah milik dari selingkuhannya, seorang laki-laki beristri dan memiliki anak bernama Dani.
Dan sampai saat ini mereka masih menjalin hubungan gelap itu, Cleo tidak pernah memberitahu Dani kalau saat ini dia tengah hamil anaknya, karna Cleo lebih memilih Lio yang jauh lebih tajir untuk menikahinya, karna bersama dengan Lio masa depannya dan anaknya akan lebih cerah dibandingkan dengan Dani yang hanya seorang menejer disebuah perusahaan.
"Makasih ya sayang kuenya." Cleo bergelayut manja pada lengan kekasihnya itu saat keluar dari toko kue.
Kalau masalah kue sieh memang Dani lebih dari sanggup untuk membelikannya berapapun yang kekasih gelapnya itu inginkan, tapi kalau masalah barang mewah dan branded dia harus fikir-fikir dulu mengingat dia harus memenuhi tuntutan istrinya dan biaya sekolah untuk anak-anaknya. Sebagai seorang menejer, gajinya memang tergolong besar, tapi kalau harus membelikan Cleo barang branded terus menerus tentu saja kalau hanya mengandalkan gajinya saja tidaklah cukup.
"Kamu minta dibeliin banyak kue begitu, memang kamu sanggup menghabiskannya."
"Yahh, akhir-akhir ini memang nafsu makanku jadi lebih besar, setiap saat rasanya aku lapar terus." ya jelaslah, orang tidak hanya dia yang makan tapi juga janin yang mulai berkembang dalam perutnya.
"Apa kamu tidak takut kalau badan langsing dan seksi kamu melar dan membengkak kalau makan terlalu banyak."
"Memang kenapa, kalau aku gendut kamu tidak suka lagi sama aku." Cleo meradang mendengar ucapan Dani, dia menarik tangannya yang tadi bergayut manja dilengan Dani, wajahnya cembrut yang mengindikasikan kalau dia dongkol dengan ucapan Dani barusan.
"Astaga, kamu itu ya Cle, gitu aja ngambek, akukan tidak ada maksud apa-apa, lagian mana mungkin aku akan meninggalkan kamu meskipun nantinya kamu gendut, akukan sudah cinta mati sama kamu, jadi, biar bagaimanapun bentukan kamu nantinya, aku akan tetap mencintai kamu." rayunya, biasalah laki-laki, lain dibibir lain dihati.
Mendengar kata-kata manis yang keluar dari bibir Dani membuat wajah masam yang ditampilkan oleh Cleo berubah manis, kini kedua sudut bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman.
"Nahh, gitu donk sayangku, senyum, kan cantik, aku tambah klepek-klepek kalau lihat senyum pacar cantikku ini." gombalnya.
"Ihhh apaan sieh, gombal."
"Tapi sukakan."
"Hmmmm."
"Ya sudah ya aku antar kamu balik ke apartmen, aku mau balik ke kantor lagi."
"Iya, tapi janji ya, kalau aku butuh kamu, kamu akan langsung datang menemuiku."
"Iya sayang, ya udah yuk balik."
Kembali Cleo menggandeng tangan Dani menuju parkiran.
****
Ting tong
Ting tong
Suara bell yang dipencet oleh Leta begitu didepan pintu rumah besar, bi Darmilah yang membukakan pintu untuknya.
"Ehhh ada non Leta."
"Hehe iya bi, mbak Nayanya adakan."
"Iya nona, nona Naya ada, dia masih betah duduk termenung ditaman belakang, sudah 4 jam dia ada disana." lapor bi Darmi.
"Hehh, ngapain aja dia taman belakang selama itu bi."
"Gak ada nona, nona Naya hanya duduk termenung, saya dan Wati sudah berusaha untuk menghiburnya, tapi kami hanya dicuekin saja, untungnya nona Leta datang, siapa tahu kalau dengan non Leta, non Naya bisa sedikit terhibur."
"Ya udah bi, Leta samperin kesana saja ya."
"Iya nona."
Leta melangkah masuk dan langsung menuju taman belakang untuk menemui Naya.
Posisi Naya yang membelakanginya menyebabkan kehadirannya tidak diketahui oleh Naya, Leta berhenti, untuk sesaat dia hanya menatap punggung sahabatnya itu, dia ikut prihatin dengan masalah yang menimpa Naya.
"Kasihan mbak Naya, pasti dia sedih banget mengetahui sik brengsek itu bermain gila dibelakangnya sampai membuat pelakor itu hamil, coba kalau aku yang ada diposisi mbak Naya saat ini, mungkin aku tidak akan kuat kali." batinnya menatap punggung Naya yang bersandar dikursi.
"Ekhemmm." Leta berdehem untuk memberitahu kedatangannya.
Naya menoleh, dia tersenyum lemah begitu melihat kehadiran sosok Leta yang kini berdiri disampingnya.
"Hai mbak cantik, ngelamun aja, ntar kesambet lho." canda Leta nyengir.
"Mbak Leta, Naya fikir siapa." Naya bangun dan menghampiri Leta, dua gadis seumuran itu saling berpelukan dan cupika-cupiki.
"Kenapa gak ngasih tahu dulu kalau mau datang."
"Sengaja, agar mbak Naya kaget." Leta terkekeh.
"Ahh mbak Leta bisa saja, ayok duduk."
__ADS_1
Leta duduk sembari memperlihatkan kotak kue berlogo toko tempatnya membeli kue tersebut, "Aku bawain kue coklat lho untuk mbak Naya, enak banget kuenya, aku membelinya ditoko langganan keluargaku, dijamin deh mbak Naya suka dan ketagihan."
Naya tersenyum tipis untuk menanggapi, "Terimakasih mbak Leta, nanti saya makan kuenya."
"Gak bisa, mbak Naya makannya harus sekarang didepanku, ntar nasibnya sama lagi seperti kue yang didepan mbak Naya." dengan dagunya Leta menunjuk piring berisi kue yang dibawakan oleh mbak Wati masih utuh sempurna, Naya hanya meminum teh yang dibawakan oleh mbak Wati.
Naya terkekeh, "Duhh iya, Naya lupa memakannya."
"Makanya mbak Naya, jangan sibuk melamun."
"Naya gak melamun mbak, hanya saja, Naya sedang berfikir."
"Melamun dan berfikir sama saja itu namanya." Leta tidak mau kalah, "Sama-sama tidak ada faedahnya."
Naya diam, tidak menanggapi ucapan Leta.
Sekarang Leta sibuk membuka kotak kue coklat yang isinya benar-benar harum dan menggiurkan, Leta bahkan sampai menelan air liurnya saat melihat kue yang dihias dengan cantik dan menggoda itu, "Tunggu sebentar ya, aku ambilin piring dan pisau untuk motong kuenya."
"Jangan repot-repot mbak, mbakkan tamu disini, biar Naya saja yang ambil." tahan Naya yang merasa tidak enak.
"Sudah mbak Naya jangan banyak protes, lebih baik duduk manis saja disini."
Naya membuka bibirnya, sepertinya dia kembali akan protes, tapi sebelum sepatah katapun keluar dari bibir Naya,
Leta langsung bergegas mengambil apa yang dibutuhkan, hanya butuh waktu tiga menit Leta sudah kembali membawa piring, pisau, sedangkan dibelakangnya mengekor mbak Wati yang datang kembali membawa jus jeruk.
Leta memotong kue yang dibawanya menjadi beberapa bagian dan menyerahkannya pada Naya, meski saat ini Naya tidak nafsu makan, tapi demi menghormati Leta, Naya memakan kue yang disodorkan oleh sahabatnya itu.
"Gimana mbak, enakkan."
Naya mengangguk, "Enak." sembari tersenyum, dan kue itu benaran enak, jadi tanpa sadar Naya makannya lahap.
Sedangkan mbak Wati menuang jus jeruk ke dalam dua gelas yang dia bawa, mbak Wati begitu senang dengan kedatangan Leta, karna bisa membuat Naya tersenyum kembali, "Syukurlah, non Naya bisa tersenyum lagi." batinnya saat melihat seulas senyum dari bibir nona majikannya.
Setelah melakukan tugasnya, mbak Wati kembali undur diri untuk menyelsaikan pekerjaannya didapur.
"Mbak Naya memang kelihatan lemah diluar, tapi dibalik itu semua di memiliki ketegaran yang luar biasa, dia masih bisa makan dan tersenyum menghadapi masalah seberat ini. Aku jadi malu sama mbak Naya, hanya karna laki-laki yang aku sukai menyukai mbak Naya membuatku mengurung diri dikamar, nangis kejer sampai gak mau makan." Leta mengingat masa-masa saat dirinya patah hati berat saat mengetahui Boy menyukai Naya.
"Mbak Leta juga harus makan, jangan lihatin Naya terus." tegur Naya karna mendapati Leta memandanginya dengan intens.
"Kue itukan aku yang bawa dan khusus aku bawakan untuk mbak Naya, iya kali aku juga ikut makan."
"Hmmm, oke deh kalau gitu."
Untuk beberapa saat mereka bercakap-cakap, sedikitpun Leta tidak menyinggung tentang masalah perempuan yang mengaku-ngaku telah dihamili oleh Lio, pokoknya dia disini dalam rangka untuk menghibur Naya sepenuhnya.
Leta memeriksa ponselnya, ternyata ada pesan masuk dari kakaknya.
Kakak sudah transfer ya Ta ke rekening kamu.
Disaat moodnya tengah bagus begini, tentu saja dia begitu sangat senang mengetahui kalau kakaknya telah mentransfer sejumlah uang ke rekeningnya, dia berharap sieh uang yang ditransfer oleh kakaknya lumayan, kan dia bisa beli tas, berbeda saat dia patah hati, bagaimanapun Rafa menghiburnya sampai di iming-imingi dibelikan tas mahal dan sepatu mahal, sedikitpun tidak dia respon.
"Mbak, daripara berdiam diri dirumah terus, bagaimana kalau kita jalan-jalan."
"Gak deh mbak, Naya dirumah saja." tolak Naya, rasanya dia hanya ingin berdiam diri dirumah, tidak mau melakukan aktifitas apapun.
"Yahhh mbak Naya kok gak asyik gini sieh, ayoklah, kita memanjakan diri dengan perawatan dan shoping, mbak Naya sudah lamakan tidak jalan-jalan." ajak Leta dengan sedikit paksaan.
Karna dipaksa sedemikian rupa akhirnya Naya mau juga.
"Tapi Naya minta izin sama mas Lio dulu ya." Naya benar-benar istri berbakti dah.
"Kurang beruntung apa coba sik brengsek itu, udah ngehamilin wanita lain, tapi tetap saja mbak Naya mau menerimanya, dan kemana-mana mbak Naya selalu saja izin, ahh benar-benar sik brengsek itu, tidak ada syukurnya sebagai cowok." ujarnya dalam hati.
"Gimana sik breng...eh maksud aku kak Lio ngizinin gak mbak." tanya Leta begitu Naya mengakhiri panggilan.
"Mas Lio ngizinin, asal jangan terlalu lama katanya, ntar Naya kecapean."
"Oke deh gak lama-lama banget kok, akukan juga maklum kalau mbak hamil."
"Ya udah mbak, kalau gitu lebih baik mbak Naya siap-siap Leta tungguin disini."
Naya mengangguk dan meninggalkan Leta untuk bersiap-siap.
****
Lio, badanku lemes nieh, gak punya tenaga gitu, efek hamil anak kamu nieh kayaknya.
__ADS_1
Lio aku ngidam, ingin makan pizza, pulang kantor mampir ke apartmen ya bawain, soalnya ini keinginan anakmu, ntar kalau tidak diturutin ngiler lagi.
Lio, balas donk chat aku, jangan cuekin aku, biar bagaimanapun saat inikan aku lagi mengandung anak kamu, kasih aku perhatian kek.
Kamu tahu gak sieh Lio, aku iri banget sama pasangan yang sangat romantis yang selalu memperhatikan istrinya yang tengah hamil, lha ini kamu, tidak ada perhatiannya sama sekali.
Itu beberapa pesan yang dikirim oleh Cleo yang sama sekali tidak di gubris oleh Lio.
"Apa-apaan sieh wanita itu, bikin gue risih saja." rutuknya kesal karna pesan-pesan itu mengganggunya, "Lagian memangnya lo siapa harus gue perhatiin segala, lokan cuma mantan."
Karna rengekannya lewat pesan-pesan yang dia kirim sama sekali tidak digubris oleh Lio membuat Cleo akhirnya melakukan panggilan.
"Mau apa sieh dia sebenarnya, gak tahu apa gue lagi sibuk."
"Apa." ketusnya pada akhirnya memilih menjawab panggilan tersebut.
"Ihhh Lio, kok ketus gitu sieh, akukan jadi sedih nieh."
"Kamu maunya apa sieh sebenarnya, kamu tahukan aku lagi sibuk sekarang."
"Kangen aja sama kamu, pulang kantor mampirnya ya ke apartmen."
Lio mendengus, "Aku pulangnya larut." menolak secara halus meskipun bahasanya ketus.
"Aku tungguin deh."
"Kamu tidak perlu nungguin aku, aku gak akan mampir ke apartmen kamu."
"Kok kamu gitu sieh Lio, padahal ini kemauan anak kamu lho yang kangen bertemu dengan kamu." alasan saja.
"Jangan mengada-ngada deh Cleo, kamu ingat ya, kita itu bukan siapa-siapa lagi." tandas Lio.
Cleo sepertinya sudah putus urat malunya sehingga dia berkata, "Bukan siapa-siapa kamu bilang, aku itu adalah ibu dari calon bayi kamu Lio, ingat itu, dan satu hal, kalau kamu tidak mau aib kamu aku bongkar didepan publik, kamu harus menikahi aku." Cleo benar-benar mendesak.
Lio memang bukan publik figure, tapi dia adalah pengusaha sukses yang mewarisi kerajaan bisnis keluarganya, kerajaan bisnis yang dibangun dan dirintis dari nol oleh kakek buyutnya sehingga sampai sebesar sekarang, tentu saja kalau aib dirinya menghamili wanita lain diluar nikah kalau sampai tersebar pasti akan berdampak pada perusahaan yang susah payah dibangun oleh keluarganya.
"Jangan berani-beraninya kamu mengancamku Cleo." geram Lio mengepalkan tangannya.
"Aku tidak mengancam kamu Lio, mana berani aku melakukan hal itu pada pewaris Rasyad group yang memiliki banyak uang dan kekusaan, aku hanya memperingatkan kamu."
Lio berusaha menahan emosinya supaya tidak meledak-ledak.
"Jadi Adelio Rasyad, hal pertama yang harus kamu lakukan demi menjaga nama baik keluargamu adalah, turuti semua keinginanku, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah temui aku diapartmen begitu jam kantor berakhir, karna bayimu yang saat ini aku kandung kangen banget sama kamu."
Lio jelas tidak mau menuruti keinginan Cleo, tapi dia tidak punya pilihan.
"Baiklah, aku akan mampir ke apartmen kamu begitu jam kantor berakhir." ujarnya putus asa.
Diseberang Cleo tersenyum puas mendengar jawaban Lio, "Nahhh gitu donk sayang, aku akan menunggumu, bye Lio sayang, sampai ketemu."
Lio hanya bisa mengepalkan telapak tangannya menahan kegeramannya, dia tidak habis fikir, ternyata wanita yang dulu dia puja-puja ternyata wanita yang sangat licik.
"Gadis licik." umpatnya memukul meja.
****
Sayang, aku pulangnya agak malam, tidur duluan ya, jangan tungguin aku.
Itulah bunyi pesan yang dikirim oleh Lio saat Naya tengah membacakan dongeng untuk Bulan.
Naya membalas.
Mas Lio lembur ya.
Iya, ada pekerjaan yang harus mas selsaikan.
Itu jelas bohong, tapi Lio tidak mungkin jujur mengingat Naya pasti akan sangat sakit hati saat mengetahui dimana dirinya kini berada.
Jangan lupa makan ya mas Lio, ingat, kesehatan yang paling penting.
Iya, kamu juga yang sayang, sudah dulu ya Nay, Love you.
Naya tidak membalas pesan terakhir yang dikirim oleh Lio, matanya menatap ke arah buku dongeng yang saat ini berada ditangannya, dongeng tentang cinderalla sik gadis miskin yang dinikahi oleh seorang pangeran tampan, "Aku berharap kisah cintaku berakhir seperti Cinderella, berakhir bahagia selamaya bersama dengan laki-laki yang dia cintai, sayangnya ini dunia nyata, hal itu tidak mungkin terjadi dalam hidupku." Naya menghembuskan nafas lelah.
Naya sudah berdamai dengan keadaan, tapi memang kadang yang namanya manusia biasa, sifat pengeluhnya tidak bisa dihilangkan begitu saja dengan mudah.
Naya menatap ke arah Bulan yang sejak tadi terlelap, Bulan memintanya untuk membacakan dongeng karna katanya anak itu tidak bisa tidur, Naya baru membacakanya setengah jalan saat gadis kecil itu terbang ke alam mimpi.
__ADS_1
Terdengar suara dengkuran halus dari bibir mungil anak angkatnya, Naya menaikkan selimut sampai sebatas leher dan mencium kening gadis kecil itu, "Selamat tidur sayang, mimpi indah." ucapnya sebelum keluar dari kamar tidur Bulan.
***