
"Gimana mau dirayain, tanggal ulang tahunku saja mas Lio tidak tahu."
"Heh, kok bisa seorang suami tidak tahu tanggal ulang tahun istrinya."
"Itukan bukan sesuatu yang penting juga kali Li, jadi ya sudahlah, ngapain harus dipermasalahin."
"Etdah Naya, ya jelas itu merupakan sesuatu hal yang penting, dengan mengingat tanggal lahir kita dan merayakannya bersama, itu menandakan kalau pasangan kita itu mencintai kita."
"Ya gimana ya Li, mas Lio mana tahu tanggal lahirku kalau aku saja tidak pernah ngasih tahu."
"Ya ampun Naya, kita tidak perlu memberitahu, seharusnya kalau laki-laki itu beneran cinta sama perempuan, dia akan mencari tahu sendiri tentang segala hal mengenai wanita yang dia cintai, termasuk kapan tanggal ulang tahun wanita yang dia cintai, Toni saja sampai menyogok pegawai tata usaha dulu untuk mencari tahu tanggal kelahiranku. Aku jadi berfikir, apa beneran sik Lio itu mencintai kamu."
"Ya gak gitu juga kali Li, seorang laki-laki yang gak tahu kapan tanggal ulang tahun wanita yang dia cintai bukan berarti gak cinta, buktinya mas Lio selalu bersikap lembut dan baik sama aku, bukankah hal itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan kalau mas Lio mencintaiku, kalau kamu tidak percaya, tanya saja pak Ridwan."
"Iya nona, tuan Lio benar-benar mencintai nona, percaya sama saya." pak Ridwan yang tengah fokus menyetir menimpali obrolan Naya dan Eli lewat sambungan vidio.
"Tuhkan kamu denger, pak Ridwan bilang mas Lio itu mencintaiku."
"Iya iya Lio mencintaimu, sorry deh karna aku meragukan cinta suami kamu itu hanya gara-gara dia tidak tahu tanggal ulang tahunmu."
Setelah ngobrol tentant beberapa hal untuk beberapa saat, kedua sahabat itu kemudian memutuskan untuk mengakhiri obrolan mereka.
****
"Lo siap-siap, gue lihat mobil keluarga lo sudah memasuki perkiran hotel." lapor Rafa saat melihat mobil milik keluarga Rasyad terlihat memasuki parkiran hotel, Rafa memang diperintah oleh Lio untuk memantau kedatangan Naya.
Begitu mendengar informasi yang disampaikan oleh sahabatnya lewat sambungan telpon, Lio tersenyum, dia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Naya dan mengetahui reaksi perempuan yang begitu dia cintai saat melihat kejutan yang sudah dia persiapkan untuknya.
***
"Silahkan nona." pak Ridwan membukakan pintu mobil untuk Naya.
"Terimakasih pak."
Karna hotel tidak jauh dari pantai, Naya bisa mendengar suara deburan ombak yang terasa menenangkan.
"Maaf, apa anda dengan nona Kanaya Azzahra Rasyad." tegur seorang laki-laki berpakaian rapi yang merupakan menejer hotel yang memang ditugaskan untuk mengarahkan Naya menuju tempat pesta kejutan ulang tahun.
"Iya saya sendiri."
Menejer hotel yang berusia kurang lebih 30 tahun itu tersenyum, "Mari ikuti saya nona."
Naya melirik ke arah pak Ridwan, pak Ridwan yang mengerti arti lirikan Naya menjelaskan, "Tuan ini akan membawa nona menemui tuan muda."
"Mari nona ikuti saya." ulang menejer hotel itu saat dilihatnya Naya tidak kunjung beranjak dari tempatnya.
Tanpa ragu Naya mengikuti langkah laki-laki itu, laki-laki itu membawa Naya menjauh dari hotel dan mendekati pantai yang membuat suara ombak semakin terdengar jelas ditelinga Naya.
"Saya hanya mengantarkan nona sampai sini, nona jalan saja lurus kedepan."
"Sampai sini." ulang Naya dibuat agak bingung.
Menejer hotel itu mengangguk, "Tuan Lio menunggu anda disana." laki-laki itu menunjuk ke area remang-remang yang terlihat sepi, bahkan Lio tidak terlihat disana.
Meskipun ragu, tapi Naya akhirnya mengikuti intruksi menejer hotel itu, dia melangkahkan kakinya berjalan lurus ke arah yang ditunjuk.
Beberapa meter berjalan, langkah Naya terhenti begitu lampu-lampu hias menyala secara tiba-tiba yang menampakkan pemandangan yang begitu indah dimalam yang temaram itu, dibalik penerangan Bulan dan lampu-lampu hias yang berkerlap-kerlip Naya bisa melihat sebuah meja berada ditengah-tengah tempat yang sudah didesain dengan begitu sangat cantik, dan bola mata Naya terarah pada sosok laki-laki yang berdiri tegap dengan pakain rapi yang berdiri membelakanginya, Naya tersenyum lebar saat mengenali laki-laki yang memilki bahu kokoh itu, bahu yang menjadi tempat nyaman untuknya bersandar.
"Mas Lio." gumamnya dengan langkah pasti mendekat ke arah kekasih halalnya.
Pemilik punggung tegap itu berbalik, wajah tampannya langsung dipenuhi oleh senyuman saat melihat wanita yang dia cintai berjalan mendekatinya, tangannya membawa sebuah buket bunga yang begitu cantik, bunga yang dia persiapkan untuk wanita istimewa yang selalu menghiasi hari-harinya, sekarang dan sampai maut yang memisahkan. Jantung Lio berdebar hebat saat melihat begitu cantiknya sang istri dalam balutan gaun yang dia belikan untuk Naya, Naya terlihat begitu mempesona dibawah siraman temaram sinar rembulan. Lio hanya terpaku ditempatnya memandang dengan takjub wanita yang berstatus sebagai istrinya, wanita yang selalu sabar menunnggu cintanya dan selalu tulus mencintainya.
Naya kini berdiri dihadapan suaminya, "Mas Lio, ini semua...."
Sebelum Naya menuntaskan kalimatnya, Lio memotong, "Selamat ulang tahun istriku." Lio mengulurkan bunga yang ada ditangannya kepada Naya.
__ADS_1
Naya mengambil bunga cantik itu dengan suka cita, akhir-akhir ini Lio selalu memberikannya bunga, meskipun Naya melarangnya untuk jangan membeli bunga terlalu sering karna itu membuang-buang uang saja menurut Naya.
"Mas Lio tahu hari ini Naya ulang tahun."
Lio mengangguk, "Tentu saja aku tahu sayang, mana mungkin aku tidak tahu." antara bersyukur dan kesel sama mantan terindah Naya itu, karna gara-gara Wahyu yang mengucapkan selamat ulang tahun jam 12 malam kemarin Lio jadi mengetahui kalau hari ini adalah ulang tahun sang istri.
"Mas Lio tahu dari mana kalau hari ini adalah ulang tahun Naya." tentu saja Naya bertanya akan hal itu mengingat Naya tidak pernah meyebut-nyebut tentang tanggal kelahirannya didepan Lio.
"Itu...." Lio sebenarnya tidak ingin memberitahu, tapi dia tidak mau berbohong juga, "Aku tahu saat mantan kamu mengucapkan selamat ulang tahun kemarin jam 12 malam."
"Mas Wahyu, dia ngecat Naya dan mengucapkan ulang tahun ke Naya mas."
Lio mengangguk dengan rasa bersalah, pasalnya dia membaca pesan tersebut dan langsung menghapusnya, "Maafkan aku Nay karna aku lancang membuka HPmu dan membaca pesan yang dikirim oleh Wahyu, dan maafkan aku, aku bukannya memberitahu kamu yang aku lakukan adalah malah menghapusnya." jelasnya sambil memandang Naya takut-takut, dia khawatir Naya akan marah besar padanya karna telah lancang memabaca pesan diponselnya, "Itu aku lakukan karna aku cemburu, aku kesal karna mantan kamu itu masih menghubungimu untuk mengucapkan selamat ulang tahun padamu, tapi sisi baiknya adalah, aku jadi tahu kalau hari ini adalah hari ulang tahunmu, dan meskipun awalnya kesel, tapi aku berterimakasih karna kalau bukan karna dia, aku tidak mungkin tahu kapan ulang tahun kamu."
Naya tidak kesal apalagi marah, menurutnya sudah sewajarnya suaminya tahu semua hal tentang dirinya, termasuk jika Lio harus memeriksa HPnya, karna dalam menjalani kehidupan berumah tangga sudah seharusnya mereka saling terbuka satu sama lain tanpa ada yang disembunyikan.
Melihat suaminya terlihat merasa bersalah, Naya tersenyum dan meraih tangan Lio, "Aku gak marah kok mas."
Lio menatap Naya, tidak percaya dengan pendengarannya, "Kamu tidak marah." tanyanya untuk memastikan pendengarannya.
Naya menggeleng, "Ngapain juga aku marah hanya gara-gara mas Lio membaca pesan yang dikirim oleh mas Wahyu, bukankah yang membelikan HP itu mas Lio, jadi mas memiliki hak untuk membukanya ataupun memeriksa isinya"
Lio bener-bener tidak menduga dengan jawaban yang didengarnya, Naya bener-bener gadis polos.
"Seperti yang pernah aku katakan, aku dan mas Wahyu sudah tidak ada hubungan apa-apa mas, dan kamipun tidak pernah saling menghubungi lagi, dan yah malam itu untuk pertama kalinya mas Wahyu ngechat aku lagi untuk mengucapkan selamat ulang tahun, jadi Naya berharap mas tidak salah paham."
Lio kini menggenggam tangan Naya dengan erat dan mengarahkannya ke bibirnya, perlakuan manis yang selalu membuat Naya tersipu, "Aku percaya sama kamu sayang, aku yakin cintamu hanya untukku seorang, begitu juga denganku yang hanya menyerahkan hatiku hanya untukmu."
"Terimakasih mas Lio karna telah mempercayai Naya."
"Dan terimakasih karna telah menjadi istriku, aku sangat mencintaimu Naya."
"Aku juga sangat mencintai mas Lio."
Dua insan itu saling mengungkapkan perasaan satu sama lain, disaksikan oleh bulan, bintang-bintang dilangit dan deburan ombak yang menenangkan.
Lio menarik kursi untuk Naya, "Silahkan duduk tuan putri. " serunya memperlakukan Naya dengan manis.
Naya terkekeh, "Terimakasih mas." ucapnya sebelum duduk dikursi tersebut.
Lio duduk dikursi satunya, dia kemudian menepuk tangannya dua kali dan tidak lama, seorang pelayan berpakain rapi datang menghampiri meja mereka dengan membawa hidangan sebuah kue ulang tahun dengan angka dua puluh menancap di atas kue tersebut.
Sik pelayan meletakkan kue tersebut ditengah meja, dan dengan ramah berkata, "Selamat ulang tahun nona, semoga nona selalu diberi kesehatan, dan kebahagiaan selalu menyertai nona.
"Terimakasih mas." balas Naya tersenyum tipis.
Lio ternyata belum selesai membuat istrinya itu terkesan, karna dia kembali menepuk tangannya, dan terdengar suara alunan biola yang sangat merdu yang tengah memainkan lagu selamat ulang tahun, Naya menoleh kesamping dan menemukan tiga orang laki-laki berpakaian rapi tengah memainkan biola untuknya.
Naya membekap mulutnya saking terharunya, dia tidak pernah menyangka Lio akan memberikan kejutan ulang tahun yang begitu manis yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya.
Naya sampai tidak bisa berkata-kata, matanya sampai berkaca-kaca, dia hanya mampu mengucapkan terimakasih lewat tatapan matanya.
"Selamat ulang tahun istriku, tetaplah mencintaiku dan jangan pernah berpaling." ujar Lio disaat para pemain biola itu berhenti menggesek biolanya.
Naya hanya mengangguk, lidahnya terasa kelu.
"Nahh sekarang, ayok tiup lilinnya."
Naya mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Lio, semua orang yang ada disana bertepuk tangan begitu Naya selesai meniup lilin yang tertancap diatas kue.
"Tutup matamu Nay." perintah Lio.
Tanpa bertanya, Naya melakukan apa yang disuruh oleh Lio, Lio mengeluarkan hadiah spesial yang sudah dia persiapkan dari saku jasnya.
"Nahh, sekarang bukalah matamu."
__ADS_1
Naya membuka matanya perlahan, sebuah benda kecil yang sangat cantik kini berada dihadapannya.
"Ini...."
"Hadiah ulang tahun untukmu Nay." Lio mengambil cincin tersebut, kemudian meraih tangannya Naya yang tergeletak dimeja untuk memasangkan cincin tersebut dijari manis Naya.
"Ini...." Naya hanya memandang cincin berlian yang kini tersemat dijari tangannya sambil menaksir harga cincin yang diberikan oleh suaminya itu, Naya memang tidak pernah membeli perhiasan, tapi Naya tahu, kalau cincin itu pasti harganya mahal, "Ini harganya pasti sangat mahal mas, mas tidak perlu membelikan Naya perhiasan semahal ini."
"Ahh gadis ini, dia benar-benar polos, sangat berbeda dengan Cleo yang sangat tergila-gila dengan perhiasan, aku yakin, kalau benda itu aku berikan pada Cleo, gadis itu sudah pasti mengucapkan ribuan terimakasih dan ribuan kata cinta." batin Lio membandingkan sang mantan dengan istrinya yang bagaikan langit dan bumi,
"Sudahlah, jangan mulai membahas masalah harga, mulai sekarang kamu sudah harus terbiasa dengan barang mahal yang akan sering aku hadiahkan untukmu."
"Tapi, mas Lio benar-benar tidak perlu membelikan aku hadiah semahal ini."
"Terima tanpa ada kata 'tapi' oke, karna aku bisa marah kalau istriku menolak hadiah dariku."
"Terimakasih mas." akhirnya kata itu yang terucap dari bibir Naya.
"Apapun akan ku berikan untukmu sayang."
Lio kembali menepuk tangannya untuk ketiga kalinya, kini muncul tiga orang pelayan menghampiri meja mereka dengan membawa hidangan makan malam untuk mereka, dua pasangan yang saat ini tengah saling mencintai itu menikmati makan malam romantis beratap langit dengan deburan ombak yang menjadi musik pengiringnya.
Setelah selesai menyantap hidangan makan malam dengan menu istimewa, Lio kembali meraih tangan Naya dan menggandengnya mendekati pantai.
"Ada satu kejutan lagi untukmu Nay."
"Kejutan apa mas."
Lio tidak menjawab pertanyaan Naya, dia malah mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "Sekarang." Lio memberikan perintah singkat, dan tanpa menunggu jawaban Lio menutup panggilan tersebut.
"Lihat ke langit Nay."
Naya mendongak, dan berbarengan dengan itu, ledakan indah kembang api memanjakan matanya, mata Naya melebar, dia memandang kembang api yang terus-menerus meledak yang memamerkan keindahan, "Mas, ini semua mas Lio yang lakukan." tanyanya takjub tanpa mengalihkan perhatiannya dari kembang api yang meledak menghasilkan pemandangan indah diangkasa.
"Tentu saja bukan, bagaimana aku bisa melakukannya sementara aku ada disampingmu, orang lainlah yang melakukannya atas perintahku, ini semuaku lakukan untuk membuatmu bahagia, bagaimana, apakah kamu suka."
Naya mengangguk antusias, "Sangat suka, ini benar-benar sangat menakjubkan, ini akan menjadi ulang tahun paling indah yang tidak akan Naya lupakan."
"Aku sangat senang mendengarnya."
Malam itu mereka habiskan dengan menyaksikan indahnya kembang api yang menari-nari diudara.
****
Dari balkon hotel dikamar yang dia tempati, Rafa bisa menyaksikan ledakan kembang api diudara, dia ikut bahagia merasakan kebahagiaan yang kini tengah dirasakan oleh sahabatnya dan Naya yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri.
"Semoga mereka selalu bersama sampai kakek nenek dan diberikan keturunan yang banyak." doanya tulus, sementara dia sendiri belum menemukan tambatan hati, sedangkan ibunya yang ingin menggendong cucu selalu merongrongnya dan menanyakan kapan dia menikah, bukannya tidak ingin menjalani kehidupan rumah tangga seperti sahabat-sahabatnya, hanya saja dia belum dipertemukan saja dengan wanita yang pas dan klik dihatinya.
Lio mengarahkan ponselnya ke langit untuk memotret kembang api, "Lio kalau sudah bucin, apapun akan dilakukannya, tapi gue bersykur, dia memilih wanita yang tepat, wanita yang benar-benar tulus mencintainya."
Rafa mengirim gambar kembang api yang tadi dipotretnya, gambar cincin dan gambar tempat dilangsungkan acara kejutan ulang tahun untuk Naya, gambar yang diambil saat lampu-lampu hias tengah dinyalakan, gambar-gambar tersebut dikirim melalui aplikasi chat kepada adiknya, gambar tersebut dibarengi dengan caption.
Kakak selalu berharap suatu saat adik kecilku yang cantik ini bisa menemukan laki-laki yang mencintanya dengan tulus seperti Lio yang mencintai Naya,
****
Leta yang saat ini tengah berbaring dikasur empuknya dengan malas meraih ponselnya yang tergeletak disampingnya, membuka pesan gambar yang dikirim oleh sang kakak, tadinya Rafa mengajaknya untuk ikut membantu persiapan acara kejutan ulang tahun untuk Naya, tapi dengan alasan sakit Leta menolaknya, alasan yang dibuat-buat.
Leta mendengus saat melihat gambar yang dikirim oleh kakaknya, "Apa sieh maksud kak Rafa ngirimin gambar ini ke gue, bikin gue iri saja." rutuk Leta kesal.
"Naya memang beruntung, dicintai oleh banyak orang, sementara aku...." keluhnya, "Laki-laki yang aku sukai malah menyukainya, apa sieh yang dilihat oleh laki-laki dari Naya, diakan biasa saja, tidak terlalu cantik, bahkan dandanpun aku yang ngajarin, dia hanya gadis kampung yang beruntung dinikahi oleh kak Lio."
Pada dasarnya sifat wanita memang seperti itu, meskipun berstatus sebagai sahabat, tapi adakalanya memang rasa iri itu menjakiti hati saat melihat sahabat sendiri lebih beruntung dari dirinya, dan itulah penyakit hati yang saat ini derita oleh Leta, dia yang awalnya tulus berteman dengan Naya beralih menjadi tidak menyukai Naya hanya gara-gara laki-laki yang dia sukai yaitu Boy malah menyukai Naya.
"Andai saja dulu aku tidak mengenalkan Naya sama Boy, pasti Boy akan mencintaiku sekarang."
__ADS_1
****