
Naya melambaikan tangan dari dalam mobil yang dibalas oleh kedua orang tuanya, ibunya bahkan sampai menitikkan air mata, sedih ditinggal oleh putri semata wayangnya untuk yang kedua kalinya.
"Hiks hiks." Begitu orang tuanya sudah tidak terlihat, Naya sejak tadi berusaha kuat, akhirnya tidak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya, bendungan dipelupuk matanya jebol membentuk anak sungai dikedua pipinya, kalau boleh memilih, dia tidak mau meninggalkan orang tuanya, tapi apa mau dikata, dia harus pulang ke rumah suaminya dan mengabdi pada sang suami.
Lio menyodorkan kotak tisu pada Naya, Naya meraih tisu pemberian Lio, "Terimakasih mas." ujarnya menyeka matanya.
"Sudah lo gak perlu nangis begitu, kapan-kapankan kita bisa datang lagi ke rumah orang tua lo."
"Hmmmm." desahnya tidak yakin, fikir Naya kata-kata lio tadi hanya untuk menenangkannya saja, "Aku bisa datang kapan-kapan mas, tapi apa mas mau ikut denganku lagi menjenguk ayah dan ibu, ini saja kalau tidak dipaksa kakek mas tidak akan mau ikut." batinnya.
"Kita akan ke kembali dengan membawa bayi tentu saja, sesuai harapan ayah dan ibu."
Naya yang tengah sibuk menyeka air matanya langsung melirik ke arah suaminya begitu mendengar kalimatnya Lio, "Apa sieh mas." desis Naya dengan wajah memerah.
"Sepertinya nanti malam, gue akan mencoba obat kuat yang diberikan ibu, supaya saat kita kembali lagi, kita tidak mengecewakan ayah dan ibu, gimana menurut kamu Nay, apa kamu kuat lima ronde." godanya bercanda hanya untuk membuat Naya tersenyum.
Naya bukannya tersenyum, tapi jelas malu berat mendengar clotehan suaminya, "Apaan sieh mas Lio, mesum."
Lio terkekeh, suka gemes sendiri melihat istrinya yang polos ini malu-malu, hal itu membuatnya makin seneng menggoda Naya, "Gimana, sanggup gak, tapi jangan deh ya, kasihan lonya, kalau gue gempur habis-habisan, malah lo gak bisa jalan nantinya, bisa-bisa dimarahin gue sama kakek, melihat cucu menantu kesayangannya gue bikin Ko."
"Mas Lio." lengking Naya kesel karna digoda terus, "Fokus saja nyetirnya, jangan goda Naya mulu, iseng banget deh jadi orang."
"Hahaha." Lio tergelak.
****
Begitu tiba dirumah, mereka disambut oleh para pekerja dirumah besar diteras depan.
"Selamat datang tuan, nona." sambut mereka kompak begitu Lio menghentikan mobilnya didepan bangunan besar dan kokoh tersebut.
Naya tersenyum pada pekerja rumah yang menyambut kedatangan mereka.
"Ya Tuhan, kalian tidak perlu repot-repot menyambut segala." seru Naya melihat para pekerja itu berjejer menyambut kedatangannya dan Lio.
"Ya perlulah nona, nona dan tuankan sudah satu minggu lebih pergi, rumah besar terasa sepi tanpa kehadiran tuan muda dan nona."
"Akhh, kalian berlebihan."
"Pak Udin dan pak Asep, tolong keluarkan koper dibagasi." perintah Lio yang langsung dilakukan oleh pak Udin dan pak Asep.
__ADS_1
"Baik tuan muda."
"Kakek mana." tanya Lio pada bi Darmi.
"Tuan lagi chek up tuan diantar sama nyonya Renata."
"Apa selama kami pergi kondisi kakek baik-baik saja."
"Alhamdulillah tuan muda, tuan besar baik-baik saja, dan tidak sabar menunggu kepulangan tuan muda dan nona Naya, katanya tuan mudan dan nona Naya pasti akan membawa kabar bahagia begitu pulang dari desa nona Naya." lapor bi Darmi.
Lio mengerutkan kening, tidak mengerti dengan penjelasan bi Darmi, memang berita bahagia apa yang diharapkan kakeknya dari dirinya dan Naya, "Berita bahagia apaan, kakek ada-ada saja." dengusnya melangkah masuk menuju lantai dua untuk istirahat di kamarnya.
"Wah Non Naya, mentang-mentang pulang kampung, lupa dengan kami disini, tahu gak nona, tidak seru nonton sinetron tanpa nona." cloteh mbak Wati begitu Lio sudah masuk.
Naya terkekeh, "Iya mbak, habisnya dikampung adem dan bikin betah gitu lho, jadi malas kembali ke Jakarta."
"Benar nona, kampung memang adem, apalagi orang dikampung ramah-ramah, sepertinya saya akan izin cuti sama tuan besar untuk pulang kampung, mendengar non cerita nona Naya, saya jadi rindu kampung halaman." mbak Wati menyela.
Naya hanya tersenyum menanggapi clotehan mbak Wati sebelum pamit masuk, "Naya masuk dulu ya mbak Wati, bi Darmi, Naya mau istirahat."
"Iya nona, nona istirahat saja, nona pasti capek setelah melakukan perjalanan jauh."
****
Sebelum itu Lio merogoh kantong jaketnya, mengambil benda yang jarang diaktifkan saat berada didesa, dan begitu benda itu menyala, beberapa notifikasi chat langsung menyerbu masuk, dengan ogah-ogahan Lio memeriksa chat tersebut, beberapa dikirim oleh mamanya, Rafa dan Cleo.
"Cleo." gumam Rafa seperti baru ingat kalau dia punya kekasih, dia langsung memeriksa setiap chat yang dikirim oleh kekasih gelapnya tersebut.
Cleo : Baby, aku kangen.
Cleo : Kamu kok gak balas chat aku
Cleo : Kamu sudah bosan ya dengan aku.
CLeo : Kamu jahat sama aku Rafa, kamu janji tidak akan ninggalin aku, tahunya kamu malah senang-senang dengan istri kampung kamu itu.
Cleo : Kamu benar-benar melupakan aku ternyata, ya sudah terserah.
Cleo : Lio, aku sudah tidak tahan lagi dengan kelakuan kamu yang terus mengabaikan aku, lebih baik kita putus, jangan pernah cari aku lagi.
__ADS_1
Lio yang niatnya ingin istirahat langsung bangun kembali melihat sederet chat yang dikirim oleh Cleo, dia berjalan setengah berlari menuju pintu, saking terburu-burunya dia hampir menabrak Naya yang akan menarik ganggang pintu.
"Mas, ada apa." Naya yang terkejut karna suaminya tiba-tiba membuka pintu.
Tanpa mempedulikan dan menjawab pertanyaan Naya, Lio terus berjalan meninggalkan Naya.
"Masss." teriak Naya, "Mas Lio, mas mau kemana."
Namun Lio tetap tidak bergeming dan terus meninggalkan Naya yang kebingungan.
****
Sambil mengemudi Lio terus menghubungi Cleo kekasihnya, Lio tidak ingin putus dengan Cleo, dia begitu mencintai wanita itu, dia rela memberikan apapun asal wanita itu tidak memutuskanya, Lio merasa heran pada dirinya, kok bisa-bisanya dia tidak ingat sama Cleo saat bersama dengan Naya.
"Angkat Cle, angkat." desahnya frustasi karna panggilannya diabaikan.
Dengan tidak sabaran Lio melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dia tidak peduli keselamatannya, Lio hanya ingin bertemu dengan Cleo dan menjelaskan semuanya, Lio benar-benar tidak ingin putus dengan Cleo.
Lio dengan tergesa-gesa keluar dari mobilnya begitu sampai digedung apertmen Cleo, berjalan dengan cepat menuju lift untuk sampai dilantai dimana no apartmen Cleo berada.
Begitu tiba di apartmen tersebut, apartmen itu kosong, Lio berusaha mencari Cleo disemua sisi apertmen, mulai dari memeriksa kamar tidur, kamar mandi, dapur, namun gadis pujaannya tidak ada dimanapun, hal tersebut semakin membuat Lio makin frustasi.
Lio kembali menghubungi nomer Cleo, tapi sepertinya gadis itu sengaja mengabaikan panggilan Lio.
"Kamu dimana Cleo, jangan abaikan aku, aku sangat mencintaimu."
****
Disaat Lio tengah frustasi dengan keberadaannya, Cleo malah terlihat sangat bahagia berkumpul dengan teman-temannya disebuah restoran mewah setelah capek keliling mall membeli ini dan itu menghabiskan uang pemberian Lio yang ditransfer tiap bulan ke rekeningnya.
"Heh Cleo, ponsel lo tuh bunyi, angkat kek, berisik tahu gak." komen salah satu teman Cleo melirik ke arah ponsel Cleo yang tergeletak dimeja, sejak tadi ponsel tersebut terus berdering, namun Cleo memang sengaja mengabaikannya.
"Dari Adelio tuh, ATM berjalan lo, kenapa lo cuekin gitu, ntar tidak dapat transferan lagi nyesel lho."
"Alaahhh biarin aja, siapa suruh dia bikin gue kesel, gak ngabarin gue malah pergi seneng-seneng dengan istri kampungannya, sekarang rasain aja dia gue putusin, dia pasti akan mohon-mohon minta balikan sama gue."
"Lo seharusnya gak perlu kesel gitu Cle, bukannya lo juga sering senang-senang dengan simpanan lo yang om-om itu, lo impas donk."
"Lo benar juga sieh, tapi tetap saja gue kesel, dia berani-beraninya ngabaiin gue, tidak ngasih kabar ke gue, biarin tuh dia nelpon sampai sejuta kali tidak akan gue angkat, gue yakin dia pasti lagi diapertmen nyariin gue."
__ADS_1
"Terserah lo deh Cle."
****