
Dalam perjalanan pulang, Lio melewati toko bunga tempat dia pertama kali membeli bunga untuk Naya saat Naya pertama kali tiba di Jakarta, Lio menghentikan mobilnya karna berniat membeli bunga untuk Naya, kali ini dia murni membeli bunga untuk Naya bukan karna paksaan kakek Handoko. Saat memasuki toko bunga, karyawan toko yang pernah melayaninya waktu itu ternyata mengenalinya.
Melihat pelanggan yang pernah membeli bunga ditokonya, karyawan itu bergumam dalam hati, "Inikan pria yang waktu itu membeli bunga untuk calon istrinya itu, mungkin sekarang dia dan calon istrinya itu sudah menikah, dan waktu itu nieh cowok terlihat terpaksa gitu saat pertama kali membeli bunga untuk calon istrinya."
"Selamat datang kembali mas ditoko bunga kami, masnya cari bunga apa." sapa pelayan toko itu seperti biasanya ramah dan tersenyum.
"Saya mau beli bunga mawar merah mbak."
"Ohh, pasti buat istrinya ya mas."
"Iya." Lio menjawab singkat.
"Berarti bener dugaan saya, masnya sudah menikah ternyata, dengan calon istri yang mas belikan bunga waktu itu ya." kepo sik pelayan.
"Hmmm." balas Lio malas menanggapi clotehan karyawan tersebut.
Sik karyawan kembali membuka bibirnya, dia belum puas mencecar Lio, namun Lio yang malas kalau harus meladeni clotehan sik karyawan mendahului dengan berkata, "Mbak, saya buru-buru, bisa gak mbak menyiapkan pesanan saya."
"Ohh iya mas, maafka saya, mohon tunggu sebentar, saya akan menyiapkan bunga pesanan mas."
Lio mengangguk dan duduk dikursi panjang yang disediakan oleh pihak toko, sementara menunggu pesanannya, Lio memanfaatkan waktu itu dengan membuka aplikasi chat untuk bertanya tentang pertemuan yang dia tinggalkan kepada sekertarisnya Rafa.
Lio : Raf, gimana, semuanya lancarkan.
Rafa : Lo tenang saja bos, gue akan menghandle semuanya, lo lebih baik fokus sama Naya saja.
"Mas, ini bunga pesanannya sudah siap." tegur sik pelayan mengalihkan perhatian Lio dari ponselnya.
Lio : Oke, lakukan yang terbaik demi perusahaan, gue percaya sama lo.
Lio membalas chat Rafa untuk yang terakhir kalinya sebelum nyamperin karyawan yang telah menyelsaikan pesanannya.
"Nahh ini dia mas bunganya." sik pelayan menyerahkan buket bunga yang sangat cantik pada Lio.
"Terimakasih mbak." balas Lio tulus, dia yakin Naya pasti suka dengan bunga mawar yang belikannya ini.
"Mas sepertinya sangat mencintai istri mas ya." mulai deh muncul keponya.
"Hmmm." gumam Lio tidak mengiyakan atau mengatakan tidak.
"Sangat kelihatan sieh dari sikapnya mas." simpulnya sok tahu, "Pasti istrinya cantik ya mas secara masnya tampan begitu."
"Ya begitulah." jawab Lio acuh tak acuh.
__ADS_1
"Saya masih inget lho waktu mas pertama kali membeli bunga disini, mas mukanya masam dan tidak tahu harus membeli bunga apa, waktu itu terlihat banget gitu kalau mas membeli bunganya karna terpaksa." karyawan itu mengingatkannya saat dirinya pertama kali memasuki toko bunga tersebut, dia dipaksa membeli bunga oleh kakeknya untuk calon istri yang tidak pernah diharapkan.
Lio hanya menanggapi dengan tersenyum tipis, fikirnya, "Harus gitu nieh cewek ngingetin gue tentang hal itu, gue saja sudah lupa."
"Mengingat wajah mas yang cembrut, waktu saya berfikir mas itu menikah karna terpaksa karna di jodohkan, bener gak mas, tapi sekarang mas sudah cinta ya sama istrinya, aihhh kok kayak kisah dinovel-novel online yang sering saya baca ya." makin ngentur nieh lama-lama sik pelayan.
"Apa-apaan sieh nieh orang, baru pertama kalinya gue lihat orang yang keponya parah kayak gini." dengkus Lio dalam hati.
"Tidak, saya mencintai saya sejak dulu sebelum menikah sampai sekarang dan selamanya." tandas Lio bohong untuk membungkam bibir bawel sik pelayan, dan setelah membayar, Lio segera keluar.
"Mas, kapan-kapan mampir lagi ya." teriak sik karyawan.
"Ini terakhir kalinya gue membeli bunga disini." gumam Lio mendengar teriakan karyawan tersebut.
****
Setibanya dirumah, dalam perjalanan menuju kamarnya, Lio lebih dahulu dihadang oleh kakeknya, laki-laki tua itu ternyata belum puas mengomeli cucunya lewat telpon, dan kini dia berniat mengomeli Lio secara langsung.
"Kamu itu, dasar laki-laki...." omelannya langsung berhenti saat melihat tangan cucunya membawa buket bunga mawar yang sangat cantik.
Melihat kakeknya mengerem omelannya membuat Lio bersyukur karna menyempatkan dirinya untuk membelikan bunga untuk Naya, "Sepertinya keputusan gue membeli bunga merupakan keputusan yang tepat, buktinya kakek gue tidak jadi marah." serunya dalam hati.
Sebagai gantinya kakeknya mengatakan, "Naya lagi istirahat, badannya panas sekali, kakek telah membujuknya untuk ke rumah sakit, tapi anak itu tidak mau, katanya dia tidak apa-apa, sana lebih baik kamu temani dia."
"Baik kek." jawab Lio patuh.
Setibanya dikamar, Lio tidak menemukan istrinya, namun suara gemericik air dari kamar mandi memberitahunya kalau saat ini Naya ada disana.
Lio duduk diatas ranjang, menunggu Naya keluar.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka, Lio reflek memandang ke arah kamar mandi. Naya yang tidak tahu kalau suaminya tiba-tiba sudah ada dikamar tentu saja terkejut. Tadi untuk meredakan panas badannya Naya memilih untuk mandi, dan dia tidak membawa baju ganti ke kamar mandi, tubuhnya hanya dibalut oleh handuk.
Melihat pemandangan indah tersebut membuat Lio menelan salivanya, matanya intens memandang tubuh Naya yang hanya berbalut handuk.
Meskipun suami istri dan Lio sudah melihat semua aset miliknya, tapi Naya tidak bisa begitu saja bersikap cuek dengan hanya berbalut handuk saja, makanya begitu bersitatap dengan Lio, Naya reflek kembali menutup pintu kamar mandi.
"Mas Lio kenapa sudah pulang sieh jam segini, aduhh malu aku."
Lio hanya terkekeh geli melihat tingkah Naya, "Dasar gadis kampung, padahal gue sudah lihat semuanya, masih saja dia malu."
"Mas, mas Lio." dari dalam kamar mandi Naya memanggil.
"Apa."
__ADS_1
"Mas, tolong ya ambilin baju Naya dilemari."
"Ambil saja sendiri, kan lo punya tangan dan kaki." goda Lio karna tahu Naya malu.
"Tolong Naya mas, Naya malu."
"Kenapa malu, guekan suami lo dan gue juga sudah lihat suaminya."
"Mas Lioo." lengking Naya karna merasa malu.
"Iya iya ini gue ambilin."
"Ada-ada saja gadis itu." Lio berjalan ke arah lemari untuk mengambil apa yang diminta oleh Naya.
"Nay."
"Hmmm."
"****** ******** yang warna merah muda berenda, hitam, putih atau...." Lio semakin iseng menggoda Naya, dia yakin Naya saat ini malu.
"Terserah mas, terserah." jawabnya Naya dengan wajah merah saking malunya.
Lio terkikik, "Oke doki."
"Kalau Branya...."
"Yang mana saja mas." Naya berteriak kenceng.
Ingin tertawa keras, tapi Lio berusaha menahannya. Dan disaat dirinya tengah mencari baju untuk diberikan pada Naya, matanya tidak sengaja melihat lipatan kain tipis berenda berwarna hitam, Lio menariknya dan sempet terbengong melihat benda itu ada diantara tumpukan pakaian Naya, memandangnya beberapa saat, "Naya punya lingere, kapan dia belinya, dan untuk apa dia membelinya, untuk menggodaku."
"Mas, cepetan." terdengar teriakan Naya.
Lio yang kumat isengnya berjalan ke arah pintu kamar mandi, dia bukannya membawa baju ganti untuk Naya malah yang dibawa adalah kain tipis berenda tersebut, dia ingin mengetahui reaksi Naya. Lio mengetuk pintu kamar mandi, engsel bergerak yang menandakan Naya membuka pintu dan Naya hanya menjulurkan tangannya untuk menerima pakain yang akan diberikan oleh Lio.
Lio tersenyum jail dan meletakkan lingere itu ditelapak tangan Naya yang terbuka. Naya mengerutkan keningnya karna pakaian yang berikan oleh Lio terasa ringan, dia kembali menarik tangannya ke dalam dan menutup pintu.
"Mas Liooooo." jerit Naya, "Iseng banget sieh."
"Hahaha." Lio tidak bisa lagi menahan tawanya, dia ngakak sampai memegang perutnya.
"Akhh mas Lio ini." desah Naya mendorong pintu dengan kasar, dia menepis rasa malunya, dan berjalan cepat melewati Lio menuju lemari untuk mencari pakaian yang layak untuk dikenakan.
Lio langsung menghentikan tawanya, dia kembali menelan salivanya melihat pemandangan indah yang terpampang nyata di hadapannya, meskipun tidak terekpos sepenuhnya, tapi kulit kuning langsat Naya benar-benar menggoda iman, matanya tidak berkedip melihat bagian belakang tubuh Naya yang terbungkus handuk yang mengekpos punggung basahnya yang membuat kulit itu tampak berkilat.
__ADS_1
Begitu mendapatkan semua yang dibutuhkannya, Naya langsung berlari kembali ke kamar mandi tidak menghiraukan Lio yang terus menatapnya seolah ingin menelanjanginya.
****