Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
JALAN-JALAN KE PANTAI


__ADS_3

Sejak tiba digedung apartmen Cleo, Lio terus memampangkan wajah masam, sedikitpun dia tidak bersusah-susah untuk tersenyum.


Begitu tiba didepan apartmen yang ditempati oleh Cleo, Lio mengarahkan telunjuknya untuk memencet bell, dan gak lama kemudian, pintu apartmen Cleo terbuka.


Cleo tersenyum sumringah saat mengetahui kalau Lio menepati janjinya dan membawakan apa yang dia pesan.


"Ahkkk akhirnya kamu datang juga, aku sudah menunggumu sejak tadi Lho, aku fikir kamu tidak akan datang."


Lio tidak menyangka dia akan kembali menginjakkan kakinya diapartmen Cleo lagi, berbeda dengan Cleo, gadis itu terus saja mengulas senyum dibibirnya karna berhasil menekan Lio sampai laki-laki itu mau menemuinya dan membawa apa yang dia inginkan.


Makanya Cleo dengan sifat manjanya melilitkan tangannya dilengan Lio dan menariknya ke ruang tamu, Lio tidak protes dan membiarkan saja Cleo menarik lengannya.


"Makasih ya sayang karna bawain pizza pesenan aku, pizza sangat enak sampai habis satu kotak begini." ocehnya, "Hummm, hari ini rasanya begitu sempurna, karna kamu ada disisiku."


Lio tidak menanggapi, sumpah dia malas-malas berdekat-dekatan gini sama Cleo, dia ingin cepat-cepat enyah dari hadapan gadis itu.


"Anak kamu ini." Cleo mengelus perutnya yang masih rata, "Banyak maunya lho Lio, ingin makan ini, ingin makan itu, duhh pokoknya dia doyan makan banget, bisa-bisa dibikin melar tubuhku ini sebelum dia lahir." curhatnya namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Lio, "Tapi tidak apa-apa tubuhku melar, apapun yang ingin dia makan akan turuti agar dia sehat dan tidak ileran."


Raganya memang bersama Cleo saat ini, tapi hati Lio terus memikirkan Naya, "Naya lagi apa ya sekarang, apa dia sudah tidur, atau malah dia lagi sedih karna sendirian karna aku belum tidur, ukhh, aku ingin memeluk Naya, tapi aku malah terjebak bersama Cleo disini."


"Kapan-kapan kita ke dokter ya Lio, temenin aku periksa kehamilan aku, aku juga ingin USG."


Lio tetap diam tidak merespon.


"Lio, apa kamu gak mau ngelus perut aku untuk menyapa anak kamu ini, pasti dia senang banget kamu sapa."


"Lio." tegur Cleo kesal karna terus diabaikan, "Kamu denger aku gak sieh, kamu itu dari tadi diajak ngomong diem aja kayak patung." Cleo merengut.


Bukannya membujuk Cleo agar tidak ngambek, Lio malah berkata, "Kalau kamu sudah selesai ngocehnya, bisakan aku balik sekarang."


Cleo mendelik, dia benar-benar marah sekarang, "Pulang kamu bilang, kita bahkan belum bicara apa-apa."


"Sejak tadi kamu ngoceh kesana kemari itu namanya apa."


"Ya maksud aku, kita belum membicarakan tentang pernikahan kita Lio."


Lio mendengus, mendengar topik tentang pernikahan dari bibir Cleo membuat moodnya yang memang sudah buruk bertambah buruk.


"Hal itu tidak perlu dibahas." lisannya, tambahnya dalam hati, "Karna aku gak ingin menikah denganmu."


"Lho, kok gak perlu sieh, ya perlulah Lio, gimana sieh kamu ini, mumpung perut aku masih belum buncit dan tubuhku masih ramping, aku gak mau menikah disaat perutku udah besar, bisa jelek nanti aku saat mengenakan gaun pengantin."


Dan mulailah Cleo menyebut daftar hal yang dia inginkan saat pernikahan nanti, "Pokoknya ya Lio, pesta pernikahan kita harus meriah, diadakan dihotel berbintang, dan untuk gaun pernikahannya kita bisa pesan dari perancang busana ternama, dan bla bla bla."


Lio hanya memijit keningnya yang tiba-tiba berdenyut, kalau dulu dia dengan senang hati meladeni setiap apa yang diinginkan oleh Cleo, sekarang jangankan menuruti, mendengar suara Cleo saja dia jadi pusing, baginya suara Cleo tidak ubahnya seperti kaleng bekas dipukul.


"Kepalaku pusing, kayaknya aku butuh istirahat, masalah ini nanti saja kita bicarakan."


"Hmmm, baiklah, tapi ingat ya Lio aku ingin kita menikah sebelum perutku membesar agar gaun pernikahannya bagus ditubuhku." namanya juga perempuan, maklumin saja kalau penampilan merupakan hal yang nomer satu untuk mereka.


Tanpa menggubris kata-kata Cleo, Lio berdiri dan akan langsung pergi, tapi sebelum dia melangkah pergi, Cleo kembali berkata, "Kamu tidak mau nginep gitu, anak kamu ingin ditemani papanya."


"Apaan sieh kamu Cleo, gak jelas." tandasnya dan langsung melangkah ke arah pintu tanpa menoleh ke belakang.


"Terserah deh, kamu suka atau tidak sama aku, aku tidak peduli, tapi yang paling penting kamu harus nikahin aku dan semua harta Rasyad group akan jatuh ke tanganku dan anakku kelak, hahaha." membayangkan hal itu membuat Cleo tertawa jahat.


****


Saat tiba dikamarnya, Lio menemukan Naya terbaring dengan mata terpejam, rasa dongkolnya langsung sirna begitu melihat istri yang sangat dia cintai terlelap dengan damai ditempat tidur, untuk beberapa saat dia hanya menatap Naya, hal yang menjadi pemandangan terindah baginya beberapa bulan belakangan ini.


"Aku fikir sejak peristiwa hari itu aku tidak akan bisa melihatnya lagi dan menemukannya ditempat tidurku." gumamnya sambil jarinya menggambar lekuk wajah Naya, "Tidakku sangka dia mau bertahan dan menerimaku setelah perbuatanku yang begitu sangat menyakitinya." Lio benar-benar sangat menyesal atas apa yang telah terjadi, tapi dia bisa berbuat apa, toh semuanya sudah terlanjur dan dia harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Lio pernah berjanji akan membahagiakan Naya, dan dia juga berjanji akan menciptakan banyak kenangan indah untuk Naya selama bersamanya, tapi apa yang dia lakukan, dia malah membuat Naya menangis, disaat dia ingin memperbaiki semuanya dan membina rumah tangga yang bahagia dengan Naya, badai dahsyat menerpa kehidupan rumah tangga mereka, tapi ditengah guncangan itu, Lio benar-benar bersyukur karna Naya tetap mau bertahan disampingnya dan dengan berbesar hati istrinya itu meminta dirinya menikahi Cleo.


"Kalau aku ada pilihan, aku tidak ingin menikahi Cleo Nay, aku benar-benar tidak ingin menyakiti kamu lagi." Lio menghembuskan nafas lelah yang menandakan kalau dia begitu tertekan dengan masalah yang menimpa kehidupan rumah tangganya, "Maafkan aku Nay, aku belum bisa memberikan kebahagian seperti janjiku, aku hanya bisa memberikan rasa sakit untukmu." Lio terdiam, mengambil jeda untuk sesaat, "Terimakasih ya Nay, terimakasih karna mau bertahan dengan laki-laki brengsek ini, terimakasih karna kamu memaafkan laki-laki brengsek ini, laki-laki brengsek yang sangat beruntung mendapatkan bidadari cantik seperti kamu, Tuhan benar-benar baik padaku karna mengirimkan wanita sholehah dan baik hati sepertimu."

__ADS_1


Lio mendaratkan kecupan dikening Naya, "Tetaplah disampingku, jangan pernah tinggalkan aku, karna kamu begitu sangat berharga untukku." Lio kemudian meraih tangan Naya dimana cincin yang dia berikan tersemat dijari manis Naya, Lio mencium tangan Naya, "Jangan pernah lepaskan cincin ini ya sayang, karna jika kamu melepaskannya itu sama saja dengan melepaskanku."


Dan Lio mengakhiri semuanya dengan memeluk Naya, "I LOVE YOU KANAYA AZZAHRA, aku akan tetap mencintaimu selamanya." bisiknya.


****


Saat bangun keesokan paginya, Naya mendapati sebuah tangan kokoh suaminya melingkar dipinggangnya, Naya tersenyum mengetahui fakta kalau suaminya kini ada disampingnya.


Dia mengarahkan tubuhnya ke arah Lio dan mengecup mata suaminya yang masih terpejam, "Selamat pagi ayahnya anak-anak." sapanya meskipun tentu saja Lio tidak akan menjawab karna dia masih berada di alam mimpi.


Naya memperhatikan wajah Lio, wajah suaminya itu terlihat pucat dan lelah karna masalah yang akhir-akhir ini tengah dihadapinya, "Kamu adalah suamiku mas, bagaimanapun keadaanmu aku akan selalu menerimamu, dan aku tahu kamu dan Cleo hanya masa lalu, masa lalu yang pada akhirnya membuahkan hasil dari hubungan gelap kalian, sekali lagi itu hanya masa lalu, meskipun sakit dan rasanya sangat sulit, tapi aku akan berusaha untuk ikhlas dan merelakan yang telah terjadi dan yahh, aku harus rela membagi kamu dengan Cleo." Naya mencurahkan isi hatinya.


Lio sudah bangun, tapi dia sengaja tidak membuka matanya dan membiarkan Naya untuk mencurahkan isi hatinya.


"Kalau boleh jujur, aku tidak rela mas, sangat tidak rela, wanita mana yang rela kalau suaminya harus menikahi wanita lain, tapi aku harus gimana kalau menikahi Cleo adalah jalan satu-satunya untuk menyelsaikan permasalahan ini, aku hanya berharap, saat mas nanti mengucapkan janji suci pernikahan untuk kedua kalinya didepan penghulu, aku bisa kuat melihat mas harus menjadi milik wanita lain." air mata Naya menetes saat mengucapkan kata-kata tersebut.


Lio yang mendengar curahan hati istrinya hanya bisa meminta maaf dalam hati, "Maafkan aku Nay, maafkan aku karna menorehkan luka yang begitu menyakitkan untukmu."


****


Disaat suami istri itu tengah dilanda permasalahan pelik dan sudah pasrah menerima takdir, ditempat berbeda, dikediaman Rafa, Rafa yang tidak percaya kalau anak yang dikandung saat ini oleh Cleo adalah anaknya Lio memulai menyusun strategi untuk menyelidiki Cleo, oleh karna itu, dia menyewa jasa seorang detektif untuk melakukan tugas untuk melakukan penyelidikan tersebut.


Sambil menikmati secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas, dibalkon apartmennya yang berada dilantai 15 Rafa kini tengah melakukan pembicaraan yang cukup penting dengan seseorang, "Iya, nama gadis itu adalah Cleopatra, cari tahu semua tentangnya dan masa lalunya, lebih cepat lebih baik." perintahnya pada orang diseberang.


"Baik tuan, tuan akan menerima hasilnya dalam beberapa hari."


"Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik, jangan kecewakan aku."


"Selama tuan bekerjasama dengan saya, saya tidak akan mengecewakan tuan."


"Bagus, saya tunggu hasilnya."


"Baik tuan, secepatnya tuan akan menerima hasilnya."


"Semoga saja hasilnya yang didapatkan oleh Irawan sesuai dengan apa yang gue harapkan." Irawan adalah nama detektif yang tadi berbicara dengannya.


Dihari minggu itu Rafa kembali memandang pemandangan kota dipagi hari lewat balkon apartmennya.


****


Lio memeluk Naya dari belakang saat Naya tengah membereskan tempat tidur, Naya otomatis menghentikan aktifitasnya, "Maafkan aku karna semalam aku pulang terlambat." mencium rambut Naya.


Naya mengangguk, "Iya mas gak apa-apa."


"Kamu tidak marahkan aku pulang telat."


"Tidak." Naya menjawab singkat.


Lio membalikkan tubuh Naya menghadapkannya ke arahnya, dia menempelkan keningnya dan kening Naya, hidungnya yang mancung bergesekan dengan hidung Naya yang bangir, "Untuk menebus kesalahanku karna pulang terlambat, apa kamu mau jalan-jalan dengaku."


"Duhhh, kan Naya sudah bilang mas, Naya tidak marah, lagian mas pulang terlambatkan karna kerja bukannya kencankan."


Disini Lio merasa bersalah, karna semalam, dia bukannya lembur seperti yang dia katakan, tapi dia atas paksaan dan ancaman Cleo datang ke apartmen mantannya itu.


"Istriku ini memang baik sedunia." pujinya sembari menggesek-gesekkan hidungnya dihidung milik Naya, "Karna hari ini aku libur kerja, gimana kalau kita liburan."


"Hmmm ide yang bagus."


"Kamu mau kemana."


"Kemana ya mas, Naya gak tahu."


"Apa kamu mau ke pantai."


"Pantai, iya mas aku mau." mendengar kata pantai membuat Naya antusias.

__ADS_1


"Nahh sekarang yang harus kamu lakuka n adalah bersiap-siap, aku akan menyuruh mbak Wati untuk mempersiapkan segala sesuatunya dulu oke."


"Hmmm." sebelum keluar Lio mencuri ciuman dipipi istrinya.


Itu membuat pipi Naya bekas ciuman itu seketika memerah, "Dasar mas Lio."


****


Setelah memasukkan bekal yang sudah disiapkan oleh mbak Wati dan memasukkan tikar dibagasi belakang, dan setelah memastikan semuanya beres, Lio bergegas masuk ke dalam mobil, duduk disampingnya sang istri tercinta, sedangkan dikursi penumpang dibelakang, duduk dengan manis dan penuh semangat yaitu Bulan yang diapit oleh Bintang dan sik Tedy boneka beruangnya.


Ngeong


Ngeong


Sik Bintang terus mengeong-ngeong, sepertinya dia sangat antusias dibawa jalan-jalan.


Yang Lio inginkan saat ini adalah menghabiskan waktu dengan keluarga kecilnya.


"Ayahh, kita mau kemana." Bulan bertanya.


Naya yang menjawab, "Kita akan ke pantai sayang."


"Benar ayah kita akan pantai."


"Iya sayang kita akan ke pantai, apa kamu suka."


"Horee ke pantai." gadis kecil itu bersorak bahagia dan bertepuk tangan, "Bulan suka pantai ayah, kita bisa mandi air laut, membuat istana pasir, mencari kerang." Bulan mengabsen daftar hal yang ingin dia lakukan.


Naya hanya tersenyum melihat tingkah polos sang anak angkat.


"Ayok ayah berangkat sekarang."


"Iya sayang." Lio menstater mobil dan menjalankannya.


Diluar mbak Wati dan bi Darmi melambai-lambaikan tangannya melepas kepergian sang majikan, Naya dan Bulan membalas.


Karna jarak pantai dan kota cukup jauh, maka butuh waktu berjam-jam untuk sampai.


Suasana perjalanan yang mereka tempuh tidak terasa membosankan karna Bulan yang suaranya imut-imut menghibur kedua orang tua angkatnya dengan nyanyian yang diajarkan oleh ibu gurunya disekolah, nyanyiannya seperti ini.


Naik naik kepuncak gunung


Tinggi tinggi sekali


Kiri-kanan kulihat saja


Banyak pohon cemara.


Kiri-kana kulihat saja


Banyak pohon cemara


Sehingga tidak heran begitu nyanyian itu berakhir, Lio langsung protes, "Lho, bagaimana sieh kamu ini Bulan, kita itukan ke pantai bukan ke gunung, kenapa malah yang dinyanyikan lagu naik-naik ke puncak gunung."


"Benar juga hehe." gadis kecil itu nyengir, "Habisnya tidak ada lagu tentang jalan-jalan ke pantai ayah, adanya cuma lagu naik-naik ke puncak gunung, makanya Bulan nyanyiin saja yang itu."


"Apa Bulan juga mau diajak jalan-jalan ke gunung." Naya membahas topik masalah gunung.


"Mau bunda mau." kayak Bulan sudah kelihatan hobinya jalan-jalan, setiap menyebut tentang jalan-jalan dia pasti menanggapi dengah heboh.


"Nanti ya, tunggu ayahnya tidak sibuk baru deh ajakin ke gunung."


"Baik bunda."


****

__ADS_1


__ADS_2