Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
GHIBAH DI DAPUR


__ADS_3

"Katanya, wanita itu akan tinggal dirumah besar nona."


Mata Naya melebar mengetahui informasi yang disampaikan oleh mbak Wati. Mama Renata memang pernah mengatakan kalau Cleo akan tinggal dirumah besar, tapikan itu setelah Lio dan Cleo menikah, dan sekarang, meskipun Cleo tengah hamil anaknya Lio, tapi tetap saja mereka tidak punya ikatan apa-apa, jadi memang tidak seharusnya Cleo tinggal dirumah besar.


Tentu saja meskipun tidak pernah mengalami apa yang dialami oleh nona majikannya, tapi mbak Wati mengerti apa yang saat ini tengah dirasakan oleh Naya, apalagi mbak Wati dan bi Darmi tiap malam tidak pernah absen menonton sinetron indosiar, dia dan bi Darmi selalu gregetan saat melihat tokoh utama wanitanya dizalimi dan selingkuhi, ternyata nona majikannya yang mereka sayang juga mengalami apa yang dialami oleh istri-istri sinetron indosiar.


Ingin rasanya mbak Wati melabrak dan mengacak-ngacak rambut pelakor bernama Cleo yang telah menghancurkan rumah tangga majikannya, tapi sayangnya, dia dan bi Darmi tidak bisa melakukan hal itu karna itu pasti membuat mereka akan dipecat, apalagi nyonya besar mereka sangat menyayangi wanita itu, kalau sampai mbak Wati melaksanakan niatnya, sudah bisa dipastikan dia akan dipecat, dan kalau dirinya dipecat, bagaimana dengan keluarganya dikampung yang selalu mengandalkan gajinya untuk bertahan hidup, bisa sieh nyari kerja lagi, tapi zaman sekarang cari kerja susah, meskipun itu hanya sebagai pembantu rumah tangga. Jadi yang hanya bisa mbak Wati dan bi Darmi lakukan adalah merutuk dan mencela apa yang dilakukan oleh calon istri kedua tuan mudanya.


Sementara itu Naya, dia berusaha mencerna kata-kata yang disampaikan oleh mbak Wati, "Mas Lio membawa Cleo ke rumah, dan dia akan tinggal disini." gumamnya dengan tatapan hampa, reflek dia memegang perutnya, "Beri hamba kesabaran ya Tuhan, kuatkanlah hambamu ini." doa itu merupakan doa yang sering dipanjatkan oleh Naya akhir-akhir ini.


"Kasihan nona Naya, tega sekali tuan Lio menyakiti wanita sebaik nona Naya." mbak Wati prihatin.


"Nona." panggil mbak Wati, namun Naya tidak bergeming, "Nona Naya." mbak Wati mengguncang lengan nona majikannya pelan untuk mengembalikannya ke dunia nyata.


"Nona, apa nona baik-baik saja." mbak terlihat khawatir.


"Aku tidak baik-baik saja." jawabnya dalam hati, jawabnya dilisan, "Naya baik-baik saja kok mbak, mbak gak perlu khawatir." berusaha untuk tersenyum untuk menghilangkan kekhawatiran ARTnya tersebut.


"Mmm, ya sudah ya mbak, Naya turun dulu untuk menyambut penghuni baru rumah kita." ujarnya dengan suara dibuat sebiasa mungkin.


Naya melangkah, baru dua langkah mbak Wati mencegahnya, "Nona, apa nona yakin mau menemani pelakor itu, apa nona benaran tidak apa-apa."


Mbak Wati itu perempuan, kurang lebihnya dia sedikit tahu tentang perasaan sesama perempuan, mbak Wati tahu kalau nona majikannya hanya berpura-pura kuat dengan apa yang menimpanya.


Sekali lagi Naya kembali tersenyum untuk lebih meyakinkan ARTnya itu, "Mbak Wati tenang saja, Naya beneran gak apa-apa kok."


"Nona benar-benar pintar menyembunyikan perasaanya." batin mbak Wati yang merasa iba dengan masalah yang saat ini tengah dihadapi oleh Naya.


Naya kemudian kembali berjalan, diikuti oleh mbak Wati dibelakang.


"Dia dimana mbak."


"Wanita itu beserta tuan dan nyonya besar saat ini ada diruang tamu nona."


Naya mengangguk dan berjalan ke arah ruang tamu.


Saat dirinya sudah didekat ruang tamu, Naya mendengar suara tawa, itu adalah suara tawa mama mertuanya dan Cleo. Naya tidak langsung ikut bergabung, untuk sesaat dia hanya terpaku menyaksikan bagaimana akrabnya mama mertuanya dan Cleo, terlihat jelas mama mertuanya sangat menginginkan Cleo sebagai menantunya, sedangkan dia, selama menjadi istri Lio, mama Renata tidak pernah bersikap ramah padanya, Naya begitu iri melihat kenyataan itu, dia juga ingin berakrab ria dengan ibu mertuanya, karna ibu mertua seharusnya menjadi pengganti ibunya, tapi sayangnya, itu hanya sebuah angan yang tidak akan bisa terwujud karna sampai kapanpun mama Renata tidak akan pernah bisa menerimanya sebagai menantu dikeluarga Rasyad.


Liolah yang menyadari kehadiran istrinya, "Nayaaa." tegurnya saat melihat istrinya hanya berdiri mematung.


Otomatis mama Renata dan Cleo yang sejak tadi asyik dengan dunia mereka sendiri menoleh ke arah Naya.


Lio beranjak menyongsong istrinya, rasa kangen sekaligus rasa bersalah berbaur menjadi satu, kangen karna dua hari belakangan ini dia lebih banyak berada dirumah sakit menemani Cleo yang membuat mereka bertemu hanya sebentar, Lio juga sekaligus merasa bersalah karna begitu kembali ke rumah, dia membawa Cleo turut serta, bukan inginnya tapi keinginan sang mama yang tidak mungkin bisa ditolak oleh Lio.


Naya berusaha untuk tersenyum ketika suami yang begitu dia rindukan berjalan mendekatinya, "Mas Lio." gumamnya dengan penuh kerinduan.


Lio langsung memeluk Naya untuk menyalurkan rasa kerinduannya, "Aku merindukanmu." bisiknya.


Naya menyandarkan kepalanya didada bidang sang suami, merasakan detak jantung Lio, suara detak yang selalu dia sukai, "Aku juga merindukanmu mas."


Lio menatap tubuh sang istri yang berbalut pakaiannya, "Kamu kenapa memakai pakaianku Naya." memandang tubuh istrinya dalam balutan baju miliknya, baju dengan ukuran over size untuk ukuran tubuh Naya yang mungil.


"Mmmm." dengan malu-malu Naya menjawab, "Saat aku mengenakan pakaianmu, aku merasa dipeluk olehmu mas, jadi rasa kangenku bisa sedikit berkurang." jawabnya jujur.


Mendengar jawaban istrinya membuat Lio semakin merasa bersalah, "Maafkan aku Nay, maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu, maafkan aku yang selalu menyakitimu, dan maafkan aku yang tidak bisa membuatmu bahagia."

__ADS_1


"Aku bahagia mas." tandas Naya mematahkan kata-kata Lio, "Aku bahagia bersamamu."


Lio tidak bisa berkata-kata, meskipun kenyataannya dia lebih sering memberi rasa sakit yang teramat sangat untuk Naya, tapi istrinya itu merasa bahagia hidup dengannya, kurang beruntung apa coba dirinya mendapatkan seorang wanita yang memiliki hati bak bidadari, tiba-tiba saja Lio merasa takut kehilangan Naya, perasaan itu membuatnya memeluk Naya dengan cukup kencang sampai Naya protes.


"Awhhh, perutku mas."


Lio mengendurkan pelukannya mendengar Naya mengaduh, "Maafkan aku sayang, aku tidak sengaja, sakit ya."


Naya menggeleng.


Tangan Lio beralih mengelus perut istrinya dan menanyakan keadaan bayinya, "Bayi kita keadaannya gimana, apa dia tidak rewel dan membuatmu susah selama aku tidak ada disampingmu."


Kembali Naya menggeleng, "Dia anak yang baik mas, bahkan tadi dia menendang-nendang." Naya melaporkan perkembangan janinnya.


"Benarkah." wajah Lio yang tadinya kusut kini terlihat cerah saat Naya memberitahunya akan hal tersebut.


"Iya mas."


"Kamu sudah bertumbuh semakin besar ya sayang, ayah bener-bener tidak sabar untuk melihat kamu, sayangnya, kakek buyutmu telah pergi sebelum sempat melihat dan menggendong kamu sayang, ini semua gara-gara ayah." mengingat almarhum kakeknya membuat Lio kembali murung.


Naya merengkuh wajah suaminya dan mencoba untuk menghiburnya, "Sudahlah mas, jangan salahkan dirimu, ini sudah takdir, kakek sudah tenang disana."


Lio hanya mengangguk dan kembali merengkuh tubuh Naya untuk mengisi kembali dayanya yang tersisa tinggal 10%.


Mereka berpelukan tanpa menghiraukan dua wanita yang sama-sama menatap mereka dengan gusar.


"Bisa gak sieh mereka tidak usah lebay begitu, mengumbar kemesraan didepan orang, bikin aku sakit hati saja." ketus Cleo dalam hati, "Tapi, habiskan saja waktu kalian berdua sebaik mungkin, karna sebentar lagi kalian akan berpisah." rencana-rencana licik sudah mulai memenuhi otak kotor Cleo.


"Ekhem ekhem."


Deheman itu sekaligus membuat Naya mengurai pelukannya, dia merasa malu sama mama mertuanya karna tidak bisa mengontrol perasaannya yang langsung bermanja-manja dengan suaminya ditempat yang tidak seharusnya.


"Naya, Lio." suara mama Renata terdengar serius, "Duduk kalian."


Dengan memegang tangan Naya dan tanpa menghiraukan tatapan sinis Cleo, Lio menuntun Naya, sikapnya benar-benar lembut dan penuh perhatian deh, kenyataan tersebut semakin membuat Cleo makin jengkel dan semakin bernafsu untuk segera memisahkan pasutri itu.


Naya melirik ke arah Cleo, dengan hati yang dia kuatkan mencoba untuk memberi senyuman pada calon madunya itu, tapi apa yang dilakukan Cleo, dia malah membuang muka dan berdecih, "Cihhh, dasar gadis munafik, sok-sok jadi wanita kuat dan sabar, sok-sok menerima aku jadi maduny hanya agar dia anggap wanita sholehah." memang ya kalau wanita jahat, bawaannya suudzon mulu.


Lio duduk berdempetan dengan istrinya dan tidak melepas tangan Naya.


"Naya." mama Renata memulai, fokus kini pada Naya, "Mulai sekarang, Cleo tinggal bersama kita, kamu tidak keberatankan." tanyanya hanya sekedar sebagai formalitas semata.


Naya menatap mama mertuanya, dan mengeluarkan pendapatnya, "Tapi mas Lio dan Cleokan belum menikah ma, kata mama Cleo akan tinggal disini setelah mas Lio menikahinya."


"Memang awalnya seperti itu, tapi melihat kondisi Cleo, mama berubah fikiran, mama tidak tega membiarkannya tinggal sendirian diapartmen, lagiankan sebentar lagi Lio juga akan menikahi Cleo, jadi tidak ada yang salahkan kalau Cleo tinggal lebih cepat dirumah besar."


Naya memang bisa membantah, tidakkan, Lio saja yang anaknya manut dengan perintah sang mama, apalagi dia yang hanya sekedar menantu, menantu yang tidak dianggap lagi, benar-benar miris hidupnya Naya.


Tangan Naya bergetar dalam genggaman Lio, Lio bisa merasakannya, dia tahu saat ini istrinya berusaha menahan rasa sakit dihatinya, oleh karna itu, Lio mempererat genggamannya ditangan mungil Naya sebagai sebuah isyarat bahwa, apapun yang terjadi, dia akan selalu mencintai Naya, walaupun Cleo tinggal sekalipun bersama mereka, itu tidak akan berpengaruh pada perasaanya, karna Nayalah satu-satunya pemilik hatinya.


"Bagaimana Naya, kamu tidak ada masalahkan dengan semua ini." ujar mama Renata.


"Kalau ini yang menurut mama yang terbaik, Naya yahh...." Naya berusaha mendapatkan kata-katanya, "Naya ya setuju saja." ucapnya pasrah


"Baiklah kalau begitu, sekarang kelar masalah." mama Renata kini mengalihkan perhatiannya sama Cleo, "Nahh sayang, sekarang kamu resmi tinggal dirumah besar, ini adalah rumahmu juga, jadi buat dirimu nyaman dan jangan membuat dirimu seperti orang asing disini."

__ADS_1


Diantara semua orang yang ada diruang tamu tersebut, Cleolah satu-satunya orang yang paling bahagia, sehingga dengan wajah berseri-seri dia berkata, "Iya tante, makasih, tante baik banget sama Cleo." Cleo memeluk mama Renata, agar suasana lebih dramatis, Cleo sampai pura-pura terharu, "Tante seperti pengganti ibu yang tidak pernah Cleo miliki, sejak kecil Cleo sudah kehilangan sosok seorang ibu."


Hati mama Renata jadi tersentuh dengan akting calon menantunya itu, dia mengelus-elus punggung Cleo, "Anggap saja sekarang tante adalah mama kamu ya sayang, lagipula kamukan akhirnya akan jadi anak tante juga."


"Iya tante, sekali lagi terimakasih."


****


Sementara itu didapur, bi Darmi dan mbak Wati memulai aksi menggibah mereka sembari menyiapkan makan malam.


"Kasihan banget ya nona Naya, tuan muda benar-benar tega mengkhianati nona Naya, mana nona lagi hamil lagi." mbak Wati memulai, wajahnya dirundung mendung karna turut merasakan apa yang saat ini tengah dirasakan oleh nona majikannya.


"Iya Wati, aku juga benar-benar tidak menyangka kalau tuan muda bisa setega itu sama nona Naya, padahalkan selama ini tuan muda terlihat begitu menyayangi nona Naya, tidak tahunya ehhh malah selingkuh."


"Nasib nona kok seperti sinetron indosiar yang sering kita tonton ya bi."


"Iya Wati, kehidupan rumah tangga nona dan tuan muda benar-benar persis seperti cerita sinetron-sinetron yang sering kita tonton tiap malam."


"Bedanya bi, kalau disinetron, wanitanya sabar karna dibayar, kalau nona mah benar-benar sabar asli tanpa dibayar, langka sekali wanita yang seperti nona, ahhh nona, kasihan sekali kamu."


"Iya, coba kalau aku yang jadi nona, sudahku bejek-bejek dan ulek-ulek pelakor tidak tahu malu itu sampai halus, tapi nona hanya diam disakiti begitu." bi Darmi jadi gemes sendiri karna sang nona begitu sabar.


"Dasar pelakor, semoga saja dia cepat mendapatkan azab karna menzolimi gadis baik."


"Amin."


"Kalian itu bukannya masak, ini malah menggibah, kalau didengar sama nyonya besar bisa dipecat kalian." pak Ridwan sopir keluarga Rasyad nimbrung saat dia memasuki dapur untuk minta dibuatkan kopi.


"Habisnya kesel banget kami itu sama pelakor itu pak Ridwan, ingin rasanya aku menaruh racun dimakanannya biar mati sekalian."


"Tuan muda juga sepertinya tidak suka kalau wanita itu tinggal dirumah besar." pak Ridwan kini malah ikutan menggibah, dia mengeluarkan pendapatnya karna dia selalu melihat tuannya murung akhir-akhir ini setelah Cleo datang mengacaukan acara syukuran kehamilan nona mudanya dan disanalah wanita tidak tahu malu itu mengumumkan berita kehamilannya, kehamilannya yang katanya disebabkan oleh Lio, dan pernyataan Cleo tersebut tentu saja menimbulkan kehebohan pada waktu itu.


"Gak suka gimana, pastilah yang paling senang kalau pelakor itu tinggal disini adalah tuan Lio, secara itukan selingkuhannya." tukas mbak Wati, biasa wanita, hanya mengambil kesimpulan dari apa yang dilihatnya.


"Kamu jangan mengambil kesimpulan sendiri Wati, kitakan tidak tahu duduk perkaranya dengan jelas." tandas pak Ridwan mencoba membela tuan mudanya.


"Namanya juga sesama laki-laki, pastilah dibela." gumam mbak Wati dalam hati.


"Kalau saya lihat sieh tuan muda itu akhir-akhir ini terlihat tertekan dan stres, dia lebih banyak diam, saya jadi kasihan sama tuan muda, berat banget masalah yang dia hadapi."


Saat dua ART didepannya menghujat Lio, pak Ridwan malah kasihan dengan sang tuan.


"Pak Ridwan ini malah kasihannya sama tuan muda, dia mah gak perlu dikasihani, dia sendirikan yang membuat masalah ini, yang patut dikasihani adalah nona Naya, nona orang yang paling tersakiti disini."


"Iya, saya juga kasihan dengan nona, apalagi nona orang baik."


Acara menggibah itu masih berlanjut, sampai setengah jam kemudian, pak Ridwan baru ingat niat awalnya ke dapur saking asyiknya ikutan menggibahi majikannya dengan dua ART rumah besar.


Pak Ridwan menepuk keningnya sendiri, "Astagfirullahh, tuhkan saya lupa niat awal saya ke dapur, ini gara-gara kalian yang ngajakin saya ghibah."


"Siapa yang ngajak pak Ridwan menggibah, pak Ridwannya saja yang doyan."


"Ahhh sudahlah, lebih baik bi Darmi bikinin saya kopi."


****

__ADS_1


__ADS_2