Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PULANG KAMPUNG


__ADS_3

Pagi itu Naya sudah rapi dan cantik, mulai pintar dandan dia sekarang karna rajin diajarin Leta. Melihat Naya yang sudah cantik begitu dipagi seperti ini, karna tidak seperti biasanya sehingga mendorong Lio yang pagi ini tengah berbaring malas-malas ditempat tidur karna kebetulan hari ini adalah hari minggu dia tidak masuk kerja, Lio bertanya, "Mau kemana, sepagi ini sudah rapi begitu."


"Naya mau pulang kampung mas."


Mendengar jawaban Naya sontak membuat Lio yang tadinya berbaring terduduk, "Pulang kerumah lo maksud lo, rumah orang tua lo."


"Iya." mematut dirinya didepan cermin rias.


"Kenapa lo baru bilang sekarang."


Naya memutar tubuhnya kearah Lio, matanya melotot, "Baru bilang sekarang mas bilang." Naya mendengus sinis, "Ganteng-ganteng kok pikun, padahal Naya sudah sejak satu minggu yang lalu bilang kalau Naya harus kepernikahannya Eli sahabat Naya didesa, mas juga pasti gak ingat kalau Naya juga ngajakin mas untuk ikut, iya kan."


"Oh yang itu, gak penting sih makanya gue lupa." ujarnya tanpa dosa.


Naya mendengus kesal, dia membuka lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke koper yang telah terbuka.


"Lho, kenapa lo bawa-bawa koper segala."


"Naya rencananya mau nginep satu minggu mas, kangen sama ayah dan ibu, lagian Naya sudah lama gak pulang."


"Kenapa cuma satu minggu, satu bulan aja sekalian." ucapnya ketus.


"Emang boleh, ya udah deh kalau gitu."


"Lhaa, kenapa omongan gue lo anggap serius."


"Lha teruss."


"Tauh ah." ngambek.


****


Naya menarik koper kebawah, rencananya dia akan diantar oleh pak Ridwan, Naya juga sudah memberitahu kakek Handoko, dan kakek Handoko mengizinkannya, namun Naya tidak bilang kalau Lio tidak akan ikut.

__ADS_1


"Pagi kek." sapa Naya.


"Pagi sayang." balas kakek Handoko.


Dengan ragu Naya menyapa mama Renata yang juga tengah menikmati sarapannya, "Pagi ma."


"Hmmm." jawaban Renata tidak bersahabat.


"Kamu jadi pulang kampung hari ini." kakek Handoko bertanya melihat Naya yang membawa koper.


"Iya kek."


"Tolong sampaikan salam kakek sama ayah dan ibumu, nanti kalau kesehatan kakek membaik kakek bakalan datang berkunjung kedesamu sekalian menziarahi makam almarhum kakekmu."


"Iya kek, pasti Naya sampaikan."


Gak lama Lio ikut bergabung dimeja makan hanya memakai kaos oblong dan celana pendek. Kakek Handoko yang mengira kalau Lio akan menemani istrinya tentu saja memandang cucunya itu dengan tajam, Lio yang tidak menyadari tatapan mata sang kakek dengan cueknya duduk disamping Naya dan mengambil selembar roti tawar dan mengolesinya dengan coklat.


Jawab Lio polos yang tidak menyadari makna dibalik pertanyaan kakeknya, "Sarapan kek, lapar Lio."


Dengan tongkatnya kakek Handoko menyodok pinggang Lio.


"Awww." Lio mengaduh, "Apa salah Lio kakek."


"Apa salah Lio, apa salah Lio." kakek Handoko mengulang kalimat Lio, "Istri kamu mau pulang ke kampungnya."


"Ya teruss, apa urusannya dengan Lio kalau dia pulang, biar saja dia pulang, ketemu sama ayah dan ibunya, masak Lio harus larang sieh kalau Naya ingin mengunjungi keluarganya."


"Anak ini." kakek Handoko menyodokkan tongkatnya dipinggang Lio untuk kedua kalinya, "Kenapa kamu tidak menemani Naya, sekalian bertemu dengan ibu dan ayah mertuamu, selama inikan kamu tidak pernah menemui mereka."


"Liokan banyak kerjaan disini kek, ngurusin perusahaan, ya kali Lio harus ikut, lagian Naya baru balik seminggu lagi, kalau Lio ikut bisa-bisa kerjaan Lio terbengkalai. " Lio mencoba membela diri dengan membawa nama perusahaan.


"Perusahaan itu biar menjadi urusan kakek, kamu lebih baik ikut Naya kedesanya, suami macam apa kamu membiarkan istrimu pergi sendiri."

__ADS_1


"Tapikan kakek kondisinya masih tidak memungkinkan untuk mengurus perusahaan."


"Pa." Renata menyela, "Lio benar, kondisi papa tidak memungkinkan, biaran ajalah Naya yang pulang sendirian, lagiankan juga dia diantar sama pak Ridwan."


"Iya kek, Naya perginya sendiri saja, Naya gak apa-apa kok." timbrung Naya karna gak mau terjadi perdebatan yang menurutnya gak penting.


"Mana bisa begitu Naya, apa yang ayah dan ibumu fikirkan tentang keluarga kami, mereka pasti berfikiran kalau keluarga kami tidak bertanggung jawab membiarkan anak mereka pulang sendiri tanpa ditemani suami."


"Baiklah baiklah." ujar Lio pada akhirnya dengan terpaksa, "Lio akan nemenin Naya."


"Memang seharusnya itu yang kamu lakukan sebagai suami bertanggung jawab."


****


Dibantu oleh pak Ridwan Naya memasukkan koper dibagasi, tidak hanya satu tapi dua koper yaitu koper milik Lio, wajah Lio terlihat asem karna dia bener-bener terpaksa harus ikut Naya ikut ke kampungnya. Karna Lio ikut jadinya pak Ridwan tidak perlu ikut menyopiri mereka.


"Mas, kalau terpaksa mending mas gak usah ikut deh." komen Naya melihat wajah asem Lio yang lebih asem dari asem jawa.


"Memang gue terpaksa, tapi mana bisa gue ngebantah perintah kakek, bisa-bisa pinggang gue disodok terus pakai tongkatnya."


"Maaf." lirih Naya, "Tapi Naya berjanji, pasti mas Lio gak bakalan nyesel ikut Naya pulang ke desa Naya."


"Oh ya, apa coba yang membuat gue gak menyesal ikut ke desa lo, memang disana ada bioskop dan cafe apa, paling-palingan disana cuma ada sawah doank."


"Ya memang, tapi desa Naya indah mas, hijau, udaranya segar, sungainya berair jernih, pokoknya mas gak bakalan nyesel deh." Naya menyakinkan.


"Yakin amet lo, pokoknya ya kita gak boleh berlama-lama disana, kita harus segera kembali ke Jakarta."


"Iya ya."


Setelah perdebatan itu barulah Lio menjalankan mobil keluar pekarangan rumah besar keluarganya.


****

__ADS_1


__ADS_2