Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERJODOHAN


__ADS_3

Tuk


Tuk


Tuk


Jendela kamar Naya diketuk dari luar.


"Mas Wahyu." gumam Naya.


"Iya Nay, ini aku." terdengar sahutan dari luar.


"Tunggu mas."


Sebelum menemui Wahyu, Naya merapikan rambutnya dan memastikan panampilannya sudah oke dengan mematut  dirinya didepan cermin, barulah kemudian di membuka jendela, mereka telah janjian pergi nonton layar tancap dilapangan desa. Memang semuanya serba canggih sekarang, meskipun setiap rumah sudah memiliki televisi, tapi pemerintah didesa tersebut sengaja menyediakan layar tancap untuk menghidupkan hal yang sudah hilang, supaya generasi mudanya bisa menikmati zaman dimana tehnologi tidak secanggih zaman sekarang, dan hal tersebut sering dimanfaatkan oleh muda-muda untuk kencan, maklumlah di desa tersebut tidak ada bioskop.


"Ayok cepat." ujar Wahyu membantu Naya keluar.


Iya, mereka pergi diam-diam, para orang tua didesa tersebut kebanyakan tidak mengizinkan anaknya pacaran jika masih sekolah, termasuk juga kedua orang tua Naya, tapi sekarangkan mereka sudah lulus, seharusnya gak perlu diam-diam lagi donk, seharusnya mereka meminta izin untuk pacaran, tapi untuk saat ini belum mereka lakukan.


"Sepedanya dimana mas."


"Aku parkir di depan."


Padahal masih belum malam lho, baru saja jam 08.10, tapi suasana didesa dengan dikota sangat jauh berbeda, di jam segitu di desa sudah sepi karna para penduduk lebih senang berada didalam rumah daripada harus keluyuran.


Setelah duduk dengan nyaman diboncengan sepeda Wahyu, Wahyu menjalankan sepedanya, "Mas, Toni dan Eli mana."


"Udah duluan mereka, katanya nanti ketemunya disana."


"Akhirnya ya mereka jadian juga."


"Iya itu juga berkat aku Nay, sik songong itu, nyatain cinta aja takut, untungnya sik Eli sabar nungguin dia, coba aku jadi Eli, aku udah nyari tuh yang baru."


"Kayak mas gak itu aja, mas dulukan juga sama seperti Toni."


"Iya sieh hehhe, tapi gak separah Toni donk."


Selama dalam perjalanan, mereka banyak membahas tentang awal-awal mereka PDKT, saking asyiknya ngobrol, gak terasa mereka sudah sampai dilapangan desa, sudah cukup ramai ketika mereka tiba dilapangan meskipun filmnya belum diputar.


"Nay, nay." Eli melambai untuk menarik perhatian Naya.


"Eli mas, kesana yuk."


Naya dan Wahyu menghampiri Eli, "Toni mana Li."


"Beli cemilan dia."


"Cie, yang sudah jadian sekarang." mulai deh tuh Naya menggoda Eli.


Eli malu-malu, "Jangan godain mulu donk Nay, malu akunya."


"Udah Nay, jangan gangguin Eli mulu." tegur Wahyu.


"Habisnya gemes mas lihat Eli dan Wahyu malu-malu kucing gitu."


Gak lama Toni datang nyamperin mereka dengan membawa banyak cemilan sebagai teman nonton layar tancap, gak lama film diputar, kebanyakan film yang diputar sieh film rakyat, atau film tentang kisah perjuangan atau gak film Wakop DKI.

__ADS_1


***********


Ketika Lio memasuki rumah besar kediaman keluarga Rasyad, mamanya Renata yang sengaja menunggu kedatangan putra semata wayangnya itu menghampiri, Wanita yang kini mengunjak usia kepala lima itu masih terlihat cantik dan segar, Renata Rasyad adalah anak dari Handoko Rasyad, yang merupakan kakek Lio. Renata adalah seorang singgle parent, Rio suaminya meninggal dalan kecelakaan mobil, selain itu Renata merupakan desainer ternama dinegeri ini, banyak artis-artis ternama yang sering menggunakan hasil rancangannya.


Lio yang heran melihat mamanya menghampirinya pun bertanya, "Kenapa ma." karna mamanya tidak seperti biasanya.


"Kakek kamu."


"Kakek ma, kenapa, jantungnya kumat lagi."


"Huss, sembarangan, kakek kamu sehat wal'afiat."


"Syukur deh, terus, kalau bukan itu apa ma, sampai mama bela-belain nungguin Lio."


"Kakek kamu nungguin kamu diruang kerjanya." Renata memberitahu alasannya menunggu kedatangan sang anak.


"Emang ada apaan Ma, tumben, jangan bilang kakek akan nyabut warisan yang kakek wariskan pada Lio." ujar Lio bercanda.


"Ngaur kamu, mana mungkin begitu, kamu cucu satu-satunya."


"Atau jangan-jangan kakek kangen lagi sama cucu gantengnya ini."


Renata menggeleng melihat kelakuan anaknya, Lio bener-bener mirip dengan almarhum ayahnya Rio, meskipun begitu dalam urusan pekerjaan Lio orangnya tegas dan tidak segan-segan bertindak keras kalau dia tidak menyukai kinerja karyawannya.


"Bisa gak sieh kamu gak usah bercanda."


"Iya ma sorry, habisnya muka mama tegang begitu, jangan-jangan benang yang mama tanam diwajah bermasalah ya."


"Kamu ini Lio." Renata jadi kesal kan, anaknya ini suka sekali meledeknya.


Lio terkekeh melihat kekesalan mamanya akibat ulahnya, "Kira-kira apa yang kakek ingin sampaiin ya ma." masih menebak-nebak.


Lio mengendus bau badannya, "Gak mungkin dengan bau asam begini kan ma, bisa-bisa kakek teler nanti mencium bau Lio, sebelum Lio menemui kakek, ada baiknya Lio membersihkan diri dulu."


"Jangan biki kakek mu kelamaan nunggu lho Lio."


"Tenang aja ma, emang Lio kayak mama yang mandinya satu jam." Lio meledek mamanya.


"Sudah, sudah jangan meledek mama terus, cepat sana kamu bersih-bersih dan temuin kakekmu."


"Siap bu bos."


Dua puluh menit kemudian.


Lio mengetuk pintu ruang kerja kakeknya, tanpa dipersilahkan masuk, Lio mendorong knop pintu. Seorang pria berumur sekitar tujuh puluh lima tahun dengan rambut memutih dengan kacamata berbentuk persegi bertengger dibatang hidungnya, di lihat dari usianya, laki-laki itu memang sudah tua, tapi diusianya yang ketujuh puluh lima, dia masih terlihat sehat, meskipun kadang penyakit jantungnya kadang kumat.


"Malam kek." sapa Lio.


Sang kakek mengalihkan matanya dari map yang kini tengah berada ditangannya, "Duduk Lio." suaranya berat dan berwibawa.


"Ada apa kek."


Handoko menyodorkan map yang tadi dilihatnya, Lio mengambilnya dan membukanya, menurut Lio, itu bukan berkas penting yang berkaitan dengan perusahaan, itu hanya biodata seorang gadis yang tidak dikenal.


Lio mengarahkan matanya dari berkas yang sudah selesai dibaca kearah kakeknya, untuk meminta penjelasan dari kakeknya maksud dari semua ini.


"Gadis itu merupakan cucu dari sahabat kakek." Handoko mulai buka suara.

__ADS_1


Dalam hati Lio bergumam, "Oh, cucu sahabatnya, terus apa hubungannya dengan gue"


Handoko kembali meneruskan, "Kakek sangat berhutang budi padanya, dia pernah menolong kakek dari rampok dengan mengorbankan nyawanya."


"Kakek gak kenapa-napa kan."


"Kakek gak kenapa-napa, tapi dia terluka parah, tapi masih bisa diselamatkan."


"Syukurlah, terus, sahabat kakek dimana sekarang."


"Dia kembali ke desanya, karna kesibukan kakek, kakek tidak pernah menemuinya."


"Terus."


"Setelah sekian tahun, kakek baru tahu kalau dia meninggal, meninggalkan seorang putri yang sudah menikah dengan seorang anak."


Lio masih belum mengerti arah pembicaraan kakeknya, oleh sebab itu dia masih fokus menjadi pendengar yang baik.


"Untuk membuat persahabatan kami makin erat dan gak lekang oleh waktu, Kami telah bersepakat, akan menjodohkan anak-anak kami kelak, tapi sayang, anak kami sama-sama perempuan."


"Gak enak nieh roman-romannya." Lio udah bisa menebak ke arah mana pembicaraan kakeknya, tapi dia bener-bener berharap dugaannya salah.


"Oleh karna itu kami mengganti rencana, dengan menjodohkan cucu-cucu kami kelak, dan Tuhan mengabulkan keinginan kami, cucunya perempuan dan kakek memiliki cucu laki-laki, nah, sampai sini kamu pahamkan."


"Jangan bilang kakek ingin menjodohkan Lio dengan cucu sahabat kakek." Lio memastikan.


Handoko mengangguk, "Benar Lio, meskipun janji itu sudah lama, dan kakek yakin Ade tidak memberitahukan janji ini kepada anaknya." Ade adalah nama sahabat Handoko, "Tapi kakek berjanji akan melaksanakannya."


"Apa." reflek saja Lio meninggikan suaranya saking terkejutnya.


Sadar akan tidak seharusnya dia meninggikan suaranya didepan sang kakek, Lio meminta maaf, "Maafin Lio kek, Lio hanya kaget."


"Kakek bisa memaklumi."


"Kek, bisakah janji itu tidak usah dilaksanakan saja, toh juga sahabat kakek sudah meninggal." iyalah Lio gak mau dijodohkan, dengan wanita yang tidak dikenal lagi, mana wanita yang akan dijodohkan dengannya wanita kampung lagi, selain itu, saat ini kan dia sudah memiliki kekasih yang sempurna dimatanya.


"Tidak bisa Lio, janji harus ditepati." ujar Handoko tegas.


"Tapi Lio gak mau dijodohkan kek, Lio udah punya kekasih." Lio ngotot.


"Kamu tahukan Lio, kakek tidak menyukai wanita pilihanmu itu."


Lio menghembuskan nafas berat, "Beri Cleo kesempatan kek untuk membuktikan dia layak menjadi cucu menantu kakek."


Namun Handoko adalah laki-laki yang berpendirian tegas, sekali mengatakan tidak tetap tidak, "Sekali tidak maka selamanya kakek tidak akan merestui kalian Lio." entah apa sebabnya Handoko tidak menyukai Cleo, Allahu'alam, hanya Allah dan Handoko yang tahu.


"Terserah kakek, yang jelas Lio tidak akan menerima perjodohan ini." dengan kalimat tersebut, Lio pergi meninggalkan sang kekek.


Mama Lio yang menunggu dari tadi untuk mengetahui apa yang terjadi didalam langsung menyongsong Lio dan mengajukan pertanyaan, "Bagaimana, apa yang kakek kamu bicarakan."


Saat ini, Lio yang tengah diselimuti amarah malas untuk menjelaskan panjang lebar, dia hanya menjawab seperlunya saja, "Kakek berniat menjodohkan Lio ma." langsung berjalan ke arah kamarnya meninggalkan mamanya yang masih diselimuti rasa penasaran.


"Di jodohkan dengan siapa." teriak Renata.


Lio berhenti dan berbalik menghadap mamanya, "Dengan mahluk astral." jawabnya ngaur.


"Dasar anak tengil, ditanya malah jawabannya ngaur." omel Renata

__ADS_1


Renata berjanji akan bertanya secara langsung besok pada ayahnya, ayahnya pasti akan menjawab keingintahuannya.


**********


__ADS_2