
Suara muntah-muntah dari kamar mandi membuat Lio terbangun ketika memasuki waktu shubuh, matanya langsung silau karna bias bola lampu yang sangat terang sudah menyala menerangi seantero ruangan kamarnya. Lio mengumpulkan nyawanya dan meregangkan otot-ototnya sebelum duduk dengan mata mengarah ke kamar mandi yang terbuka.
Hoek
Hoek
Lio kasihan melihat Naya yang terus menerus mual dan muntah, tapi dia bisa apa, hanya sekedar memijit tengkuknya saja tidak bisa karna Naya tidak suka mencium bau badannya jika berdekatan dengannya, "Kenapa anak didalam perut Naya begitu sangat merepotkan ibunya sieh." gumamnya, "Bikin gue merasa bersalah saja karna gue yang nyetak. Apa setiap orang hamil seperti Naya, muntah-muntah tiap saat dan tidak suka mencium aroma suaminya."
Naya keluar dari kamar mandi, dia terlihat lemas dan kuyu.
"Apa-apa kamu tidak apa-apa Nay."
Naya menggeleng.
"Apa kita perlu ke rumah sakit lagi."
Sekali lagi Naya menggeleng dan terus berjalan ke arah dimana dirinya menggelar sajadah untuk melaksanakan sholat shubuh.
"Nay, kita berjamaah ya, tungguin aku."
Naya langsung melirik Lio dengan tatapan tajam, "Mas lupa kalau aku tidak suka mencium bau badan mas." ujarnya ketus, tanpa alasan yang jelas, dia tiba-tiba sebal melihat wajah suaminya itu.
"Ahh iya benar, ya sudah kalau begitu kamu sholat duluan."
Saat Naya mulai mendirikan sholat, Lio melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
****
Saat ini Lio tengah bersiap-siap pergi ke kantor, dia terlihat mencari sesuatu dilemari, "Nay, apa kamu lihat dimana dasi yang kamu belikan untuk aku waktu itu, kayaknya dasi itu cocok jika dipasangkan dengan baju yang aku pakai."
"Gak Lihat." tanpa menoleh pada Lio.
"Kan biasanya kamu yang naruh dan membereskan baju-baju dilemari, masak gak lihat sieh."
"Kalau aku bilang gak lihat ya gak lihat mas, lagian dasi maskan banyak banget, pakai saja yang ada, ribet banget sieh jadi orang." tuhkan, Naya bawaannya pengen marah-marah terus, padahal Lio Nanyanya baik-baik lho, dijawabnya malah ngegas.
Lio sampai mengerutkan kening, heran dia melihat Naya yang marah-marah, karna bisa dibilang, ini untuk pertamakalinya Naya marah-marah tanpa alasan yang jelas, hal tersebutkan menimbulkan tanda tanya dibenak Lio, "Naya kenapa sieh, akukan Nanyanya baik-baik, dia malah ngegas."
Jangankan Lio, Naya sendiri heran dengan dirinya sendiri, dia heran kenapa tiba-tiba sebal sama Lio, saat Lio bicara dia bawaannya pengen marah melulu, padahalkan kemarin-kemarin, bagaimanapun perlakuan Lio padanya, dia selalu menerima dan tidak pernah marah-marah, selama ini Naya selalu menanggapi permasalahannya rumah tangganya dengan kepala dingin.
"Iya aku pakai yang ada saja, tapi gak perlu ngegas juga Nay."
"Siapa yang ngegas, aku biasa saja kok." Naya malah menyangkal tidak mau mengakuinya.
"Dengan suara melengking tinggi sampai mencapai lima oktav, itu yang dibilang biasa, aku gak ngerti apa yang ada difikiran Naya." Lio hanya membatin, takutnya kalau dia ngomong Naya marah lagi.
__ADS_1
"Mas."
Lio menoleh ke arah Naya.
Naya mengibas-ngibaskan tangannya sebagai kode meminta Lio menjauh, "Sanaan mas jauhan, bau badan mas sangat menyengat." Naya menutup hidungnya.
"Tapikan jarak kita sudah lumayan jauh Nay."
"Bau mas tercium sampai sini, gak enak banget baunya."
Dengan menghela nafas Lio berjalan menjauh, "Naya kok lebay banget sieh hamilnya, apa setiap wanita hamil seperti Naya, padahal aku pakai parfum mahal masih saja dibilang baunya gak enak." keluhnya tanpa suara.
Setelah selesai memakai pakain kerjanya, Lio bersiap untuk pergi, "Kamu sebaiknya dikamar saja, biar nanti aku suruh mbak Wati yang bawain sarapan ke kamar, kamu mau sarapan apa." tanya Lio yang tiba-tiba perhatian.
Namun Naya kembali menjawab dengan ketus, "Aku gak lumpuh, aku bisa turun sendiri kalau mau sarapan, gak perlu dibawain segala, ntar dibilang aku manja lagi."
"Apa sieh sebenarnya yang terjadi dengan Naya, perasaan sejak tadi bawaannya dia pengen marah-marah terus, padahalkan aku gak menyinggung perasaannya."
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu, aku berangkat dulu." pamit Lio melangkah keluar meninggalkan Naya sendirian.
"Aku kenapa sieh sebenarnya, kenapa aku bawaannya pengen marah-marah terus sama mas Lio, dan kenapa juga wajah mas Lio tiba-tiba menjadi menyebalkan, aneh." Naya bertanya pada diri sendiri, "Apa ini karna bawaan bayi ya." Naya mengelus perutnya, "Iya, ini pasti karna bawaan bayi yang saat ini tengah aku kandung, karna sebelumnya aku tidak pernah marah-marah sama mas Lio." Naya membenarkan praduganya mengingat selama ini dirinya tidak pernah punya masalah sama Lio, justri Liolah yang selama ini yang tidak menyukainya dan kini dia malah berbalik tidak menyukai suaminya itu, "Kamu bisa merasakan ya sayang kalau papa kamu tidak mengharapkanmu, makanya kamu tidak suka melihat papa dan ingin marah-marah terus sama papa."
"Kamu sabar ya sayang, kan ada mama yang akan selalu sayang dan ada untukmu, kamu jangan sedih ya walaupun papa kamu tidak mau menerima kehadiranmu."
****
"Gak."
"Ya udah yuk kita keluar makan siang."
"Oke."
Dan kini dua laki-laki itu tengah berada disebuah restoran yang tidak jauh dari kantor, mereka memutuskan makan diluar karna bosan dengan makanan dikantin kantor.
"Hehhh." Rafa menendang kaki Lio dari bawah meja karna sejak tadi sahabat merangkap bosnya itu terlihat melamun, "Kenapa sieh lo, sejak dikantor gue perhatiin lo melamun terus, lo ada masalah, sama Cleo ya." tebak Rafa, fikirnya, sahabatnya itu seperti ini karna cinta, "Apa masalahnya, cerita ke gue."
"Naya hamil."
"Naya apa...."
Lio paling malas mengulang kalimatnya, makanya dia tidak merespon saat Rafa mengulang pertanyaannya, "Lo dengerkan, jadi jangan kebiasaan meminta gue mengulang kalimat yang sama dua kali."
"Ini beneran Naya hamil Lio."
"Hmmm, begitulah."
__ADS_1
Bukannya memberi selamat pada Lio, tapi Rafa malah heran, ya heranlah, yang Rafa tahu, Lio tidak mencintai istrinya itu dan berniat menceraikannya setelah satu tahun pernikahan, dan kini Lio tiba-tiba mengabarkan kalau Naya hamil, siapa yang tidak heran coba.
"Lo...."
"Ya waktu malam dimana gue mabuk berat itu, gak gue sangka ternyata kekhilafan gue bisa membuat Naya hamil." dan Lio kembali tidak menceritakan insiden saat dirinya lepas kontrol malam saat dirinya emosi dan meluapkan amarahnya pada Naya, karna kalau dia sampai menceritakannya, bisa-bisa Rafa menceramahinya sebelum dia dikatai-katai dengan nama hewan karna telah berbuat kasar sama perempuan, atau lebih parah lagi, bisa-bisa dia digebuk oleh Rafa karna telah menyakiti Naya.
"Bukankah ini suatu pertanda gak sieh."
"Pertanda apa maksud lo." tanya Lio tidak mengerti.
"Mungkin ini suatu pertanda dari Tuhan kalau lo dan Naya ditakdirkan untuk bersama dengan menitipkan sik bayi diperut Naya."
"Jangan ngada-ngada lo, gue gak cinta sama Naya, jadi, gue tidak mungkin tetap bersama Naya, lagian bayi itu juga ada karna kekhilafan gue."
Rafa kembali menendang kaki Lio, kali ini dia menendang dengan lebih kuat sehingga membuat Lio sampai mengaduh.
"Lo kenapa sieh nendang-nendang terus." protes Lio jengkel.
"Bayi yang dikandung Naya itu bayi lo bangsat, jadi jangan memanggilnya dengan sebutan bayi itu, setidaknya lo bilang bayi gue kek." dengus Rafa mengeluarkan kekesalannya, dia tidak suka saja mendengar Lio menyebut bayi yang dikandung Naya dengan sebutan bayi itu, seolah-olah bayi itu bukan dia yang mencetak.
"Apaan sieh lo, masalah sepele begini doank lo ributin."
"Ini bukan masalah sepele bodoh, gue yakin kalau Naya denger lo menyebut bayi yang dia kandung dengan sebutan bayi itu, dia pasti sedih, dan gue yakin bayi yang dalam kandungannya juga pasti ikutan sedih, dan itu anak lo sialan."
"Iya deh, bayi gue, puas lo." tandas Lio tidak mau memperpanjang urusan hanya karna masalah sepele, seenggaknya sepele menurut Lio.
"Terus, apa yang akan lo lakukan sekarang saat Naya mengandung anak lo, jangan bilang lo masih tetap pada rencana awal untuk menceraikan Naya."
"Hmmm, sepertinya begitu, gue akan tetap menceraikan Naya."
"Ahhh, lo bener-bener laki-laki tidak bertanggung jawab, fikir donk pakai otak, emang lo tega membiarkan anak lo jadi korban karna percerain lo dan Naya, jangan egois lo jadi orang hanya memikirkan diri lo sendiri." Rafa kembali emosi.
Lio hanya diam, tidak berusaha menyela perkataan Rafa, dalam hati memang dia membenarkan ucapan Rafa, biar bagaimanapun, bayi yang dikandung Naya adalah anaknya, kalau dia dan Naya bercerai, maka anak itu yang nantinya akan jadi korban dan tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tuanya.
"Kalau Naya tidak hamil, dan lo berniat menceraikannya dengan alasan tidak cinta, bos sepuh mungkin mengerti, tapi saat Naya hamil begini, terus melahirkan, gue yakin bos sepuh tidak mungkin setuju lo menceraikan Naya, walaupun lo tetap ngotot menceraikan Naya, yang ada malah harta warisan bos sepuh akan diwariskan ke anak lo, bukan ke elo."
"Fikiran lo kok jadi jauh gini sieh." Lio agak terpengaruh juga dengan kata-kata Rafa.
"Iya gue berfikir logis saja sieh, secara yang gue lihat bos sepuh sayang banget sama Naya, bahkan beliau lebih sayang sama Naya ketimbang sama elo, jadi, jika lo menceraikan Naya nieh, bukan tidak mungkinkan kalau anak yang dikandung Naya alias anak lo akan mewarisi semua kekayaan keluarga Rasyad."
Lio terlihat merenung untuk sesaat sebelum berkata, "Gue mau balik ke kantor, pusing gue lama-lama denger ocehan lo." Lio langsung berdiri dan meninggalkan Rafa yang masih belum beranjak dari tempat duduknya.
"Kasihan Naya, sudah hamil, dan Lio masih saja tetap mau menceraikannya, bener-bener gak punya otak sik Lio itu, dia lebih memilih Cleo yang matrek itu ketimbang Naya yang sudah pasti tulus mencintainya."
****
__ADS_1