Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
EPILOG PART I


__ADS_3

Dari jarak sedekat ini Lio bisa melihat dengan jelas sisa air mata dipipi istrinya yang sudah mengering, Lio yakin istrinya habis menangis, menangis karna dirinya yang telah banyak menyakiti Naya.


"Maafkan aku, maafkan aku sayang karna telah banyak menyakitimu, aku benar-benar laki-laki brengsek." ujarnya merutuk dirinya sendiri, "Aku berjanji sayang, mulai saat ini, aku tidak akan menyakitimu lagi."


Untuk waktu yang cukup lama, Lio tetap seperti posisinya dan menatap wajah teduh istrinya, wajah yang tidak pernah bosan dilihatnya, wajah yang selalu mencerahkan hari-harinya.


"Terimakasih Tuhan karna engkau telah memberi kesempatan pada hambamu ini untuk bisa melihatnya lagi, dan terimakasih Tuhan karna engkau selalu menjaganya dan menitipkan anugrah terbesarmu dirahimnya yang akan menjadi sumber kebahagiaan kami." Lio tidak putus-putusnya mengucapkan kata syukur yang tidak terhingga karna Tuhan sangat menyayangi dirinya dan memberikannya istri yang sempurna.


Lio naik ke tempat tidur dan ikut berbaring disamping Naya, tangannya melingkar diperut Naya yang membuncit, "Hai sayang, apa kabarnya kamu, kamu baik-baik sajakan didalam, kamu tidak merepotkan bundamukan nak." mengelus perut Naya dan berusaha mengajak bayinya bicara.


Saat mengelus perut Naya, Lio merasa adanya gerakan kecil seperti menendang-nendang dari perut Naya, itu untuk pertamakalinya Lio merasakan tendangan dari bayinya, "Astaga anakku, kamu mendengar suara ayah sayang." tanyanya penuh haru, Lio kembali menitikkan air mata, "Cepat keluar sayang, ayah dan bunda sudah tidak sabar menanti kehadiranmu."


Naya tidur seperti orang mati suri, mengingat dia tidak terusik sedikitpun dengan kehadiran suaminya dan ocehan Lio.


"Selamat tidur sayangku, mimpi indah." mencium pipi Naya.


Lio kemudian memutuskan memejamkan matanya, rasa pegal dan lelahnya baru terasa saat ini sehingga dia memilih untuk tidur supaya besok dia bisa menyambut hari yang baru bersama dengan Naya.


****


Suara kokok ayam menjadi alarm alami yang membangunkan penduduk desa dipagi hari, suara kumandang azan shubuh menggema memanggil umat manusia untuk menghadap robbnya.


Naya menggeliat, dia merasakan sesuatu melingkari perutnya, Naya meraba dan mengetahui kalau itu adalah sebuah tangan, dalam hati bertanya-tanya, "Tangan siapa ini, masak iya tangan ibu sieh."


Naya berbalik untuk mencari tahu siapa pemilik tangan tersebut, memang gelap, hanya cahaya rembulan yang tampak remang-remang yang menembus gorden yang menjadi sumber penerangan, meskipun begitu, Naya bisa melihat dengan jelas siapa yang kini tidur disampingnya, "Mas Lio." gumamnya tidak mempercayai apa yang dilihatnya.


"Ini beneran mas Liokan." Naya masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya, dia berfikir ini adalah sebuah mimpi, sehingga dia mencubit pipinya untuk memastikan apakah itu cuma mimpi atau nyata.


"Aww." Naya mengaduh ketika capitan tangannya menyentuh kulit pipinya, "Kok sakit." herannya masih kebingungan. "Berarti ini....ini bukan mimpi, ini nyata, ini memang mas Lio." kini dia jadi antusias, dengan penuh semangat dia mengguncang-guncang tubuh Lio untuk membangunkannya.


"Mas Lio, bangun mas."


"Hmmm." Lio menggeliat pelan, kelopak matanya bergerak-gerak dan pada akhirnya terbuka, Lio tersenyum begitu matanya disambut oleh wajah istrinya yang persis berada didepan wajahnya.


"Pagi sayang." sapanya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.


"Mas Lio, ini beneran mas Liokan."

__ADS_1


"Memang kamu fikir siapa."


"Mmm, kenapa mas Lio tiba-tiba ada disini."


"Ya karna aku kangen donk, habisnya kamu pergi ninggalin diam-diam, makanya aku datangnya juga diam-diam." sindirnya.


Naya jadi malu sendiri mengingat kelakuannya yang kenak-kanakan, pergi diam-diam dan hanya pamit lewat surat, tapi dia senang juga karna suaminya itu datang menyusulnya.


Lio merentangkan tangannya, "Sini peluk, aku kangen banget."


Dengan senang hati Naya melemparkan dirinya dalam pelukan sang suami, rasanya hangat dan nyaman, "Aku juga kangen mas." jawabnya merebahkan kepalanya didada bidang sang suami.


Tidak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Naya saat terbangun dan menemukan suaminya memeluknya, namun rasa bahagia itu hanya berlangsung sepersekian detik karna kemudian dia ingat sesuatu, "Mas Lio ngapain disini, pernikahannya gimana, Cleo gimana." Naya mengurai pelukannya.


"Astaga sayang, kamu itu merusak suasana saja, bisa tidak sieh disaat momen mengharu biru begini kamu jangan menyebut-nyebut wanita itu." Lio jadi kesel tuh kayaknya karna dimomen-momen mesra seperti itu Naya merusak suasana dengan menyebut nama ular yang hampir merusak rumah tangga mereka.


"Aku serius, bagaimana pernikahannya, apa mas sudah menikahi Cleo, kalau sudah, kenapa mas Lio tiba-tiba berada disini, seharusnya mas bersama Cleo saat ini, bukannya malah menyusul Naya ke desa, dan...."


Cup


Kecupan itu langsung menghentikan rentetan kalimat yang dimuntahkan oleh Naya dari bibirnya yang mungil.


"Habisnya aku sudah bilang jangan sebut nama wanita itu lagi, bandel sieh."


"Tapi mas...."


Cup


Kembali mencium bibir istrinya, kali ini ciuman itu berlangsung cukup lama sampai Naya kehabisan nafas barulah Lio melepaskannya, Lio kemudian meraih pinggang istrinya dan membawanya dalam pelukannya, "Jangan sebut-sebut nama itu lagi, mengerti."


Dalam pelukan suaminya Naya mengangguk.


Mereka berpelukan untuk beberapa saat sebelum Naya kembali bertanya, "Mas, apa yang sebenarnya terjadi."


Lio memang harus menceritakan semua rentetan kejadiannyakan, dan dimulailah dia menjelaskan semuanya, Naya hanya diam mendengarkan dan tidak menyela sedikitpun, sampai pada akhirnyanya Lio menuntaskan ceritanya.


"Jadi bayi yang dikandung itu bukan anaknya mas Lio." respon Naya saat Lio menyelsaikan ceritanya.

__ADS_1


"Jelas bukan sayang, itu anaknya Dani selingkuhannya Cleo."


"Astaga ya ampun, kasihan sekali istrinya mas Dani, pasti dia hancur mengetahui kalau suaminya berselingkuh dan membuat selingkuhannya sampai hamil, jahat sekali mereka berdua itu."


"Kamu gak kasihan sama aku Nay." timpal Lio.


"Kenapa aku harus kasihan sama mas Lio."


"Gara-gara kamu meninggalkan aku diam-diam, aku jadi menderita, stres dan frustasi, apalagi aku di harus menikahi Cleo, itu benar-benar membuatku frustasi, untungnya Rafa datang tepat waktu dan menggagalkan pernikahan tersebut dengan berbagai bukti yang dibawanya."


"Ohhh, mas frustasi ternyata saat akan menikahi mantan terindah mas itu, aku fikir mas akan sangat bahagia, secara gitu, menikah dengan Cleo adalah impian mas Lio sejak dulu." goda Naya seakan-akan mengingatkan suaminya itu bagaimana dulu dia begitu sangat mencintai Cleo.


"Bisa gak jangan bawa-bawa masa lalu, itu sudah berlalu sayang, sekarang masa depanku adalah kamu, Bulan dan sik dedek bayi yang sebentar lagi ikut bergabung bersama kita." mengelus perut sang istri.


"Iya mas, aku cuma bercanda tadi itu."


"Hmmm."


"Oh ya sayang, kamu tahu tidak tadi malam, saat aku mengelus perutmu bayi kita menendang-nendang, dia sepertinya menyadari kalau ayahnya yang mengajaknya bicara."


"Oh ya, sik kecil menendang-nendang mas."


Lio mengangguk, "Aku jadi tidak sabar menunggu kelahirannya, bagaimana ya wajahnya, apakah mirip kamu atau aku, aku berharapnya sieh dia mirip aku."


Naya terkekeh menanggapi harapan sang suami, "Amin mas, semoga Allah mengabulkan harapan mas Lio."


Dua pasutri yang beberapa hari tidak pernah bertemu itu kembali berpelukan untuk melepas rasa kangen, sampai suara ketukan dari pintu mengganggu kemesraan tersebut.


"Woee Lio, bangun lo, kata ayah mertua lo, ayok kita sholat shubuh berjamaah dimasjid." suara Rafa.


"Sana mas pergi ke masjid."


"Tapi aku masih mau memeluk kamu."


"Astaga mas ini manja sekali sieh, sudah sana sholat berjamaah dulu ke masjid, sudah ditunggu lho sama ayah dan yang lain."


"Baiklah, tapi setelah pulang dari masjid, aku akan memeluk kamu lagi sampai hari kiamat."

__ADS_1


Naya terkikik, "Mas Lio ini ada-ada saja."


****


__ADS_2