Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
NAYA MARAH


__ADS_3

Lio buru-buru kembali ke kamarnya, menunggu kedatangan Naya disana, namun setengah jam berlalu, tapi Naya belum juga nongol, padahal Lio yakin tadi Naya sudah selesai menangani kakeknya, dan seharusnya dia sudah kembali ke kamar setengah jam lalu, hal ini membuat Lio berinisiatif kembali ke kamar kakeknya, fikirnya siapa tahu kakeknya itu merengek minta dibacain dongeng, (Emang anak kecil apa.). Lio kembali turun, tapi dia menghentikan langkah kakinya begitu melihat sosok Naya ikut bergabung dengan bi Dijah dan Wati nonton sinetron diruang tengah, Lio bisa mendengar wanita-wanita itu pada ngomentarin tokoh antagonis sinetron yang mereka tonton.


"Ihhh, gemes banget tahu gak sih lihat sik pelakor itu, kalau ketemu ingin bibik cubit dia biar tahu rasa." komen bi Dijah, giginya sampai bergemerutuk saking keselnya.


Wati juga merespon, "Semoga aja sik pelakor dapat azab, ditabrak kereta api kek, sepeda kek minimal, kesel banget deh lihat mukanya."


"Jahat banget, seperti gak ada laki-laki lain saja." timbrung Naya, "Menurut bibik dan mbak wati, ada gak didunia nyata wanita yang kayak dia." tanya Naya dengan polosnya karna memang didesanya yang adem ayem gak pernah dilihatnya wanita genit yang suka merebut suami orang.


"Banyakkk banget non, emang non Naya gak pernah lihat gitu cewek yang suka rebut suami orang."


Naya menggeleng, "Gak pernah bik, soalnya wanita dikampung Naya baik-baik semua."


"Kalau orang kampung sieh kebanyakan gitu non, baik dan gak tegaan gitu merebut milik orang lain, tapi kalau dikota besar seperti di Jakarta ini buannnyakkk banget pelakor, dan pesan mbak neih, non Naya kudu menjaga tuan muda Lio baik-baik dari godaan pelakor, soalnya dengan segala kesempurnaan yang tuan muda miliki, tuan muda menjadi sasaran empuk untuk dijadikan mangsa oleh wanita-wanita genit." pesan mbak Wati.


Naya jadi inget kalau Lio pernah menyebut nama seseorang ketika dia tengah mabuk, dia inget dengan jelas nama yang disebut oleh suaminya, Cleo, itu jelas nama perempuan, "Apa mas Lio selingkuh." fikirnya, memang setelah kejadian tersebut dia tidak pernah punya niat untuk bertanya pada Lio tentang siapa sebenarnya Cleo, mengingat hal tersebut membuat Naya jadi murung, dia jadi takut kalau dia bernasib sama dengan wanita disinetron yang suaminya direbut oleh pelakor.


"Non." tegur bi Dijah melihat wajah murung nona majikannya.


"Eh, iya bik kenapa."


"Non Naya baik-baik saja."


"Iya." jawabnya singkat, "Naya masuk dulu bi, Naya ngantuk." pamitnya.


"Gak mau nonton sampai selesai dulu non, hal yang paling seru dalam nonton sinetron seperti ini adalah melihat balas dendam yang akan dilakukan oleh pemeran utama yang tersakiti."


"Gak bik, selamat malam bik, mbak."


"Selamat malam nona, semoga mimpi indah."


Naya pergi meninggalkan ruang tengah.


*****


Seperti yang tadi dia lakukan dipintu kamar kakeknya, Lio juga kembali buru-buru naik ke kamarnya sebelum Naya melihatnya, kali ini dia yakin Naya bakalan langsung kekamar, dan benar saja, baru satu menit Lio masuk kamar, pintu kamar kembali terbuka.


Lio pura-pura bertanya, "Dari mana saja, suami nungguin dari tadi lo malah asyik keluyuran." penggunan kata yang tidak pas, mengingat masih berada didalam area rumah memang bisa dikatakan keluyuran.


Naya yang masih sakit hati dengan perlakuan Lio tadi pagi mengabaikan pertanyaan Lio, fikirnya seharusnya Lio berfikir sebelum bertanya, siapa disini yang sebenarnya keluyuran, Lio yang sejak pagi tadi langsung ngacir tanpa tahu kemana arah tujuannya tanpa memberi kabar sama sekali, sedangkan dia hanya wara wiri didalam rumah dan itupun untuk membantu bi Dijah dan mbak Wati didapur dan membujuk kakek minum obat, apa itu yang dinamakan keluyuran.


Naya berjalan menuju meja rias, bahkan dia sama sekali tidak menoleh ke arah Lio seolah-olah menganggap Lio tidak ada dikamar, Naya duduk di kursi, meraih kapas dan membersihkan wajahnya dengan susu pembersih.

__ADS_1


Lio jengkel, dia berkata dengan gusar, "Lo budek atau gimana sieh, kalau orang nanya tuh dijawab."


Nay memutar lehernya ke arah Lio, dia menatap Lio tajam, dia berkata dengan jengkel, "Aku habis bujuk kakek minum obat, dan setelah itu nonton TV diruang tengah, apa itu bisa dibilang keluyuran."


Lio tidak bisa membalas, di gak menyangka respon Naya akan segalak ini, Naya yang biasanya kalem dan polos.


"Apa yang telah merasukinya." batin Lio.


Setelah selesai dengan aktifitas membersihkan wajahnya, Naya membuka lemari dan meraih baju tidurnya, dan pergi kekamar mandi untuk mengganti bajunya.


Lio mendengus, "Padahal gue udah lihat luar dalam masih saja gak mau ganti didepan gue."


Gak lama Naya keluar, Lio mengarahkan matanya pada Naya, dan melihat baju tidur yang dikenakan Naya tak urung membuatnya bertanya, "Kapan lo beli baju itu, perasaan gue kemarin-marin lo masih pakai baju tidur usang lo itu deh."


"Makanya jadi suami jangan kerjaan sibuk cuek melulu, gak tahukan kalau istrinya punya baju baru." tandas Naya.


Lio bertanya-tanya dalam hati, "Kenapa sieh nieh anak, jutek mulu dari tadi, apa gue ada salah ya sama dia, perasaan gue gak ada deh."


Cowok emang gitu, gak peka, kesalahan sejelas itu masih saja bertanya.


Lio fikir Naya bakalan ditidur diranjang, tapi Naya malah menghempaskan tubuhnya disofa.


"Lo tidur disofa."


"Lo kenapa sieh sebenarnya, perasaan jutek mulu dari tadi."


"Tanya aja diri sendiri." tandas Naya langsung menutup seluruh bagian tubuhnya dengan selimut sebagai sebuah kode kalau dia gak mau lagi bicara.


Lio hanya menggeleng, dia meraih ponselnya dan mengirim pesan WA ke nomer Rafa, bunyinya seperti ini.


Menurut lo, kalau cewek jutek mulu kalau diajak ngobrol, apakah itu tandanya dia marah.


Hanya beberapa menit setelah terkirim, Lio mendapat balasan dari Rafa.


Bisa jadi, emang Cleo jutekin elo ya.


Bukan Cleo, tapi bini gue sik Naya.


Naya, jutekin elo, kok bisa.


Mana gue tahu, pulang-pulang gue dijutekin mulu sama dia.

__ADS_1


Emang apa yang lo lakuin ke dia.


Gak ada.


Gak mungkin gak ada, cewek gak mungkin jutekin elo kalau gak ada sebabnya.


Beneran gak ada, gue hanya pergi dan baru pulang, dia sempet nanya sieh gue mau kemana, gue jawabnya bukan urusan lo dan gue langsung pergi gitu aja.


Dasar tolol, pantas saja Naya jutek atau lebih tepatnya mungkin marah sama lo, lo jawabnya gitu, siapa yang gak marah coba.


Baper banget jadi cewek, gitu aja ngambekan.


Kayak Cleo gak aja, diakan dikit-dikit ngambek.


Terus gimana donk.


Gimana apanya.


Cara supaya bini gue gak marah lagi.


Lo mulai suka ya sama Naya.


Gaklah, gila lo.


Terus kenapa lo khawatir Naya marah.


Ya iyalah, guekan sekamar sama dia, ya gak enaklah perang dingin begini.


Hmmm.


Heh, jangan hem hem doank donk, kasih solusi kek.


Heh tolol, gue rasa lo lebih berpengalaman dalam menangani masalah cewek ketimbang gue.


Maksud lo, ngomong yang jelas kutu.


Begok, lokan udah sering tuh menjinakkan singa bernama Cleo kalau dia lagi marah, nah, Cleo dan Nayakan sama-sama cewek, gue yakin cara penanganannya sama.


Brengsek lo katain Cleo gue singa.


Emang singa, singa buas.

__ADS_1


****


__ADS_2