Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERTOLONGAN BOY


__ADS_3

Kini setelah agak tenang, Cleo bisa berfikir jernih, mengenakan jubah mandi dengan rambut basah dan berdiri didepan kaca rias untuk melihat pantulan dirinya disana, sebuah senyum licik terukir dari bibirnya yang sensual.


Dia menglus perutnya yang masih rata, berbicara dengan pantulan dirinya dicermin, "Bodohnya aku, kenapa aku harus menjerit histeris, harusnya kehamilanku ini bisa aku jadikan senjata untuk membuat Lio kembali padaku."


"Hahaha." Cleo tertawa bahagia, "Aku tidak menyangka, ternyata kehamilanku yang tidak pernah aku harapkan ini bisa menjadi berkah, Lio, kamu pasti bisa aku dapatkan kembali, dan akan aku buat bertekuk lutut."


Oleh karna itu, langkah pertama yang Cleo lakukan untuk mewujudkan keinganannya tersebut dalah menghubungi Lio.


***


"Perhatiin jalan yang kita lewati dengan teliti Raf." ujar Lio pada Rafa saat dalam perjalanan mencari Naya, "Jangan sampai terlewat."


Sejak pergi dari kantor, Rafa tidak putus-putusnya memandang keluar jendela dengan harapan dia bisa menemukan Naya, tapi sampai dua jam lebih mencari keliling Jakarta, pencarian mereka tampaknya belum membawa hasil, begitu juga dengan orang-orang suruhan Dimas yang diminta untuk mencari keberadaan Naya, mereka sama sekali tidak ada tanda-tanda menemukan keberadaan Naya, buktinya sampai saat ini Lio belum mendapatkan kabar sama sekali dari orang-orang suruhan Dimas tersebut.


Ponsel Lio berdering, dengan cepat Lio meraihnya dengan harapan bahwa sik penelpon adalah orang yang disuruh untuk mencari keberadaan Naya dan tentu saja Lio berharap mendengar kabar baik.


Namun dia mendesah kecewa saat mengetahui kalau panggilan itu berasal dari orang yang tidak pernah dia harapkan, yaitu Cleo, "Mau apa sieh dia nelpon gue lagi." batin Lio.


Tanpa berfikir Lio merijek panggilan dari mantan kekasihnya itu, setelah merijek panggilan tersebut, dengan kasar Lio kembali meletakkan ponselnya.


"Siapa." tanya Rafa penasaran.


"Gak penting." jawabnya acuh tak acuh.


Sadar kalau suasana hati sahabatnya itu tengah kalut, Rafa tidak berusaha bertanya lebih lanjut.


Namun sedetik kemudian, ponsel Lio kembali berdering dan itu berasal dari orang yang sama.


"Mau apa sieh dia." dengus Lio dengan raut wajah kesal.


Lio menjawab, tujuannya adalah untuk meminta mantannya itu untuk berhenti mengganggunya.


"Cleo, kita sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi, jadi stop kamu hubungin aku." ucap Lio langsung begitu panggilan tersambung, dia bahkan tidak mau basa-basi hanya sekedar mengatakan halo, atau hanya sekedar menanyakan kabar Cleo.


"Ohhh, ternyata Cleo." gumam Rafa membatin saat mendengar Rafa menyebut-nyebut nama Cleo.


"Lio, aku ingin ketemu sama kamu." cetus Cleo tanpa menghiraukan apa yang diucapkan oleh Lio, "Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan kamu."


"Maafkan aku Cleo, tapi aku gak bisa ketemu lagi sama kamu."


"Tapi ini penting Lio."


"Oke, katakan sekarang."


"Aku tidak bisa mengatakannya lewat telpon, aku ingin kita bertemu langsung."


"Maafkan aku Cleo, tapi aku gak bisa."


karna malas meladeni Cleo, Lio langsung memutus sambungan secara sepihak, intinya disaat seperti ini dia benar-benar tidak ingin diganggu.


"Itu Cleo." meskipun sudah tahu, tetap saja Rafa bertanya.


"Hmmmm."


"Mau ngapain dia."


"Ngajakin gue ketemu."


"Terus."


"Ya gak ada, gue gak mau ketemu sama dia lagi, hubungan kami sudah berakhir." tandas Lio, "Lo sebaiknya perhatiin jalan deh Raf, jangan banyak tanya."


"Iya iya, memangnya sejak tadi gue ngapain saja."


****


Mama Renata tiba dirumah sore itu, agak bingung saat melihat seluruh penghuni rumah kecuali Lio dan Naya saat ini pada berkumpul diruang tamu.


Mama Renata tahu ada yang tidak beres, dia berjalan ke ruang tamu dan bertanya, "Ada apa ini, kenapa semuanya berkumpul disini."


Bulan yang melihat nenek angkatnya yang pernah memarahinya tanpa alasan yang jelas terlihat ketakutan, dia beringsut mendekat pada kakek Handoko dan melingkarkan tangan mungilnya dilengan kakek Handoko.


"Nona Naya hilang nyonya." bi Darmilah yang memberi jawaban.


"Hahh, hilang." kagetnya, bukan kaget karna khawatir, tapi lebih kepada reflek saja mendengar berita itu, "Kok bisa hilang." tanyanya lagi.


"Nona pergi dari rumah tanpa sepengetahuan orang rumah." kini mbak Wati yang menjawab.


Mama Renata duduk disofa dan berkata, "Gitu saja pada panik, diakan sudah gede, ntar juga dia balik."


"Tapi nona tidak tahu seluk beluk kota Jakarta nyonya, dan kemungkian nona Naya tidak tahu jalan pulang sehingga sampai sekarang dia belum balik."


Sumpah, mama Renata tertawa ngakak dalam hati mendengar penjelasan ARTnya, "Dasar gadis kampung, jalan pulang saja tidak tahu, tapi baguslah, sekalian saja dia tidak pernah pulang."

__ADS_1


Kakek Handoko hanya diam, sedikitpun dia tidak merespon kata-kata putrinya, dalam hatinya tidak putus-putusnya berdoa supaya tidak terjadi apa-apa dengan Naya dan cucu menantunya dan dia sangat berharap Naya secepatnya ditemukan.


"Pa, papa sebaiknya istirahat dikamar." saran mama Renata melihat wajah tua sang papa tergurat rasa khawatir yang tidak bisa disembunyikan, meskipun masih kesal sama papanya gara-gara pertengkaran mereka dimeja makan, tapi tetap saja Renata tidak tega melihat kesedihan diwajah papanya itu.


"Papa mau disini saja, papa mau menunggu Lio yang membawa pulang Naya."


Meskipun dalam hati mama Renata benar-benar tidak berharap Naya ditemukan, tapi dia berusaha untuk menghibur papanya itu, "Nunggu dikamarkan sama saja papa, nanti kalau Naya ketemu, Lio pasti akan memberitahu papa."


"Papa tidak mau Renata, jangan paksa papa." kakek Handoko ngeyel.


"Ahhhh orang tua ini masih saja keras kepala, untung papaku, kalau bukan, mungkin aku sudah hilang kesabaran menghadapinya."


"Ya sudahlah terserah papa." desah mama Renata malas untuk membujuk papanya, dan dia memilih untuk ke kamarnya untuk membersihkan diri, ogah banget dia diruang tamu.


****


Sementara itu disebuah tempat dipinggir jalan, Naya dan Wahyu berdiri menunggu jajanan yang dipesan oleh Naya, maklum orang hamil bawaannya lapar melulu, apalagi tadi dia muter-muter dengan dibonceng Wahyu untuk mencari jalan pulang, sayangnya Naya sama sekali tidak ingat jalan yang dia lewati.


Naya duduk memakan telur gulung yang dibelinya dipedagang keliling, bukannya Naya tidak panik atau gimana karna dia sama sekali tidak tahu jalan pulang, hanya saja dia harus mengisi perutnya supaya otaknya bisa berfikir dan mengingat-ingat setiap jalan yang tadi dilewati saat abang ojol mengantarnya.


"Mas Wahyu mau." Naya menawarkan.


Padahal Naya yang punya masalah, tapi disini Wahyu yang lebih panik, dia benar-benar khawatir karna sampai sekarang Naya benar-benar tidak ingat jalan pulang, ehh ini malah Naya kok sempat-sempatnya ingin makan ini, makan itu dalam perjalanan saat Wahyu membantu Naya untuk mencari rumah suaminya.


"Inget inget Nay, tadi kamu lewat jalan mana." tanya Wahyu saat Naya sudah menghabiskan dua puluh tusuk telur gulung.


"Ahhh Naya tidak inget mas, mas Wahyukan tahu kalau Naya paling payah dalam hal ingat mengingat." jawabnya dengan wajah polosnya.


"Terus sekarang ini bagaimana Nay, sudah sore lho ini, pasti suami kamu itu khawatir sama kamu."


"Iya, mas Lio pasti khawatir, aku harus gimana mas."


Dua orang itu tengah kebingungan saat ini, sama-sama tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.


****


Berjam-jam sudah Lio dan orang suruhannya mencari Naya, tapi satupun tidak ada yang menemukan Naya, malah Boy yang saat ini baru pulang dari kampus yang tidak sengaja melihat Naya dengan seorang laki-laki yang Boy ingat pernah Naya kenalkan sebagai temannya dari kampung. Dan begitu melihat Naya, Boy langsung menghentikan mobilnya.


"Itukan Naya, ngapain dia disini." tanyanya pada diri sendiri sambil berjalan menghampiri Naya.


Disaat dia sudah berniat untuk melupakan Naya, ini malah dia dipertemukan dengan Naya, alhasil dia jadi gagal move on deh, ingin mengabaikan Naya, tapi dia gak tega apalagi melihat wajah Naya yang terlihat kebingungan seperti orang yang butuh pertolongan.


"Naya, kamu ngapain disini." tanya Boy saat sudah berada didekat Naya.


"Mas Boy, ya Tuhan terimakasih, engkau mengirimkan penolong untuk hambamu ini." Naya yang tadinya sudah putus asa terlihat bersemangat.


Boy mengerutkan kening tidak mengerti saat melihat Naya begitu bersyukur bertemu dengannya.


Menyadari kebingungan Boy, Naya menjelaskan, "Naya pergi mencari pedagang yang menjual mi ayam diantar oleh ojol, dan Naya tidak inget jalan pulang mas." tutur Naya, "Dan untungnya Naya bertemu dengan mas Wahyu yang nemenin Naya, kalau Naya tidak bertemu dengan mas Wahyu, kemungkinan Naya sudah nangis-nangis deh kebingungan sendirian dikota yang padat ini."


"Astaga, kok ada sieh wanita yang begitu polos dizaman seperti ini, jalan pulang saja dia tidak tahu, Naya Naya, lucu banget sieh kamu, bikin aku gemes saja." Boy menahan senyumnya.


"Kenapa kamu tidak menelpon suami kamu Nay untuk jemput."


"Kalau ponsel Naya tidak mati, Naya pasti sudah melakukannya sejak tadi."


"Berarti aku adalah orang yang diutus untuk menyelamatkan kamu."


Naya terkekeh, "Yahh, begitulah kira-kira."


"Ya udah kalau gitu, ayok aku anterin."


"Aku yang akan membawa Naya, kamu tingal mengarahkan saja dari depan dan aku akan mengikuti dari belakang." sahut Wahyu yang sejak tadi diam.


"Pakai motor." komen Boy melihat sebuah motor terparkir didekat mereka, bukannya merendahkan, hanya saja fikir Boy, Naya yang saat ini tengah hamil lebih aman jika ikut bersamanya yang mengendarai mobil.


"Memang kenapa kalau pakai motor." ketus Wahyu salah mengartikan pertanyaan Boy.


"Saya tidak bermaksud gimana-gimana." Boy mencoba untuk menjelaskan, "Saya hanya berfikir kalau Naya yang saat ini tengah hamil muda lebih aman naik mobil."


Wahyu membenarkan dalam hati, meskipun agak tidak rela melihat Naya bersama laki-laki lain, tapi toh dia berbesar hati juga membiarkan Naya pulang diantar oleh Boy, "Baiklah, tapi aku akan ikut mengantar Naya dengan mengendarai motorku." meskipun Boy adalah teman Naya dan tidak akan berbuat jahat sama Naya, tapi Wahyu hanya ingin memastikan keselamatan Naya sampai rumah.


"Baiklah, kalau itu yang kamu inginkan."


"Ya udah kalau gitu, lebih baik kita pulang sekarang, sebelum orang rumah pada heboh." sela Naya.


Padahal memang saat ini orang-orang rumah sudah pada heboh, sejak mengetahui Naya tidak ada dirumah, orang rumah, lebih-lebih Lio sudah uring-uringan saat mengetahui kalau istri pergi sendirian, Lio bener-bener takut terjadi apa-apa sama Naya.


Dan kini mobil Boy melaju membelah kepadatan jalan raya, melaju bersama kendaraan bermesin lainnya meramaikan jalanan kota Jakarta, dibelakangnya motor Wahyu mengikuti.


Dan Boy hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai dikediaman keluarga Rasyad.


Naya begitu lega begitu dia tiba dirumah setelah seharian ini dia berada diluar karna kebingungan tidak tahu jalan pulang.

__ADS_1


"Akhirnya aku tiba juga dirumah." desahnya lega begitu melihat bangunan kokoh yang berdiri menjulang dihadapannya, rumah yang selama hampir satu tahun ini menjadi tempat tinggalnya.


Wahyu tidak berkedip memandang bangunan megah yang berdiri menjulang dihadapannya, dia tidak seperti Naya yang katrok dan kampungan yang sampai melongo saat melihat rumah besar bak istana tersebut, hanya saja dia benar-benar tidak menyangka kalau suami Naya sebegitu kayanya.


"Aku tidak pernah menyangka ternyata suami Naya sekaya ini, Naya benar-benar beruntung menikah dengan laki-laki kaya." gumam Wahyu dalam hati sambil tidak lepas memandangi rumah besar itu.


"Ayok mas Boy, mas Wahyu, masuk dulu." ujar Naya sekaligus mengalihkan perhtian Wahyu.


Dua laki-laki itu mengangguk menerima tawaran Naya.


Naya memencet bel, Naya bisa mendengar suara derap langkah dari dalam rumah, dan lima detik kemudian, pintu besar rumah itu terbuka, dan demi melihat nona majikannya berdiri dihadapannya, mbak Wati yang membukakan pintu heboh.


"Nona Naya, ya Tuhan nona, nona kemana saja seharian ini, kenapa perginya tidak bilang-bilang, kami semua khawatir dengan nona, dan kenapa juga nona tidak mengaktifkan ponsel nona, nona tahu tidak, tuan Lio sampai marah-marah sama saya dan pak Ridwan karna kami tidak tahu nona perginya kemana." mbak Wati sekalian curhat deh tuh.


Belum sempat Naya menjelaskan, mbak Wati berteriak heboh, "Tuan besar, nona kecil, nona Naya sudah kembali, nona ada disini diluar." suara mbak Wati dijamin bisa bersaing dengan toa masjid saking kencengnya.


Naya, Wahyu dan Boy reflek menutup telinga mereka dengan kedua tangan karna tidak mau kena resiko gangguan pendengaran dini.


"Aduhhh mbak Wati, kenapa mbak teriak-teriak begini sieh." protes Naya menjauhkan kedua tangannya dari telinga saat mbak Wati berhenti berteriak.


"Hehe, maafkan saya nona, habisnya saya begitu senang melihat nona telah kembali."


Mata mbak Wati teralih pada dua sosok laki-laki yang berdiri dibelakang Naya, dia yang penasaran langsung bertanya, "Nona, mereka itu siapa."


"Ohh iya, jadi lupa aku." Naya mengetuk keningnya, "Ini mas Boy dan mas Wahyu, mereka berdua temanku mbak, merekalah yang telah membantuku sampai dirumah."


"Ohhh, ini mas Boy yang temannya non Leta itu bukan non, yang pernah kemari bersama dengan nona Leta saat menjenguk nona Naya."


"Iya mbak, saya temannya Leta." Boy membenarkan.


"Ohhh." mbak Wati ber oh ria.


"Ayok nona, lebih baik nona masuk, ayok mas mas masuk dulu." ajak mbak Wati sopan mempersilahkan dua laki-laki yang telah membantu nona mudanya kembali ke rumah.


"Ayok mas masuk." ajak Naya.


Naya masuk diikuti oleh Wahyu dan Boy dibelakang.


****


"Bunda." teriak Bulan berlari menghampiri Naya, gadis kecil itu begitu bahagia saat melihat ibu angkatnya sudah pulang.


Naya tersenyum, dia duduk berjongkok menyambut Bulan yang beralari mengahampirinya, Bulan langsung menubruk tubuh Naya dan memeluk Naya dengan erat dan dia berulangkali mencium pipi Naya, "Bunda kemana saja sieh, Bulan kangen tahu, saat Bulan pulang sekolah dan tidak menemukan bunda dikamar, Bulan takut, Bulan takut bunda kenapa-napa." mata bocah kecil itu sampai berkaca-kaca, jiwa polosnya begitu sangat takut jika terjadi apa-apa dengan sang bunda, Bulan hanya tidak ingin kehilangan sosok wanita yang menggantikan ibu kandungnya yang tidak pernah dia kenal sebelumnya.


"Bunda tidak kemana-mana sayang, bunda disini kok, dan bunda baik-baik saja, kamu lihat sendirikan." Naya mengelus puncak kepala Bulan untuk membuat gadis kecil itu tenang.


Bulan mengangguk, "Lainkali kalau bunda pergi, bilang-bilang ya supaya Bulan dan semuanya tidak khawatir."


"Iya sayang, bunda minta maaf ya karna telah membuat kamu khawatir."


Bulan mengangguk, dia benar-benar gadis yang baik.


"Hai Bulan, om Boynya gak disapa nieh." tegur Boy.


Saking bahagianya melihat Naya, Bulan baru menyadari ada dua sosok laki-laki berdiri dibelakang Naya, satunya tentunya dia kenal yaitu Boy, sedangkan satunya tidak dia kenal.


"Hai om Boy, maaf tadi Bulan tidak melihat om Boy."


"Bulan tidak mau memeluk om Boy gitu."


Bulan tersenyum malu, dengan langkah pelan berjalan mendekati Boy yang menunduk dan membawa Bulan dalam gendongannya, "Kamu sudah semakin besar dan cantik sekarang." Boy menjawail hidung Bulan gemes.


"Ini anak angkatnya Naya." gumam Wahyu yang hanya sekedar jadi pengamat.


"Makasih ya om Boy, dan om yang Bulan tidak tahu namanya karna telah membantu bunda pulang ke rumah."


"Sama-sama sayang." balas Boy.


"Sama-sama." ujar Wahyu juga


"Kalian jangan hanya berdiri saja disana, ayok duduk." kakek Handoko mengintrupsi obrolan mereka.


"Ahh iya, ayok mas duduk." sahut Naya.


"Wati, tolong kamu buatkan minum untuk tamu-tamu kita ini."


"Baik tuan." mbak Wati bergegas menuju dapur.


Kakek Handoko benar-benar berterimakasih atas bantuan Boy dan Wahyu, "Saya secara pribadi sebagai kakek mertua Naya sangat berterimakasih karna kalian telah membawa Naya pulang ke rumah dengan selamat, kalau bukan karna kalian, mungkin sampai saat ini Naya belum bisa ditemukan."


"Itu sudah menjadi kewajiban kami untuk saling membantu satu sama lainnya kek, jadi kakek tidak perlu berlebihan begitu." jawab Wahyu.


****

__ADS_1


__ADS_2