Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
JAMU PENGANTIN DAN OBAT KUAT


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang Naya tampak murung, perubahannya itu tentu saja disebabkan karna perbincangannya dengan Wahyu sang mantan, rasa bersalah karna meninggalkan Wahyu masih dirasakannya sampai sekarang.


"Kenapa." Lio bertanya mengingat tadi istrinya itu terlihat ceria dipesta pernikahan sahabatnya, wajah Naya berubah mendung setelah kembali bersama dengan Eli.


Mereka pulang berdua terlebih dahulu karna ibunya bapak Naya masih ingin berlama-lama dipesta pernikahan anak sahabatnya itu untuk bantu-bantu.


"Gak ada apa-apa mas." gak mungkin jujur donk kalau penyebab wajahnya mendungnya adalah karna sang mantan pacar, bisa-bisa Lio  marah lagi.


"Kalau gak kenapa-napa kenapa wajah lo mendung gitu, apa yang terjadi saat lo pergi sama sahabat lo itu." Lio tentu saja tidak percaya begitu saja dengan jawaban yang diberikan oleh Naya, Lio sudah berpengalaman dengan wanita, mana mungkin mood wanita berubah kalau tidak ada apa-apa.


"Itu...gak ada mas." bohongnya, sebenarnya Naya paling tidak suka berbohong, karna bohong itu dosa apalagi bohong sama suami sendiri, namun dia tidak mungkin juga jujur dengan mengatakan kalau dia habis melakukan panggilan vidio sama mantan kekasihnya dan itu membuatnya sedih dan merasa bersalah karna meninggalkan sang mantan kekasih, "Aku hanya sedih karna entah kapan bisa ketemu lagi sama Eli kalau kita sudah kembali ke Jakarta." ujarnya memberikan alasan yang cukup masuk akal.


Dan Lio percaya dengan alasan Naya, karna setahunya memang wanita suka begitu, suka berlebihan dalam menanggapi hal sepele.


"Kitakan tidak hidup dizaman batu, kalau lo kangen, lokan bisa VC sama sahabat lo itu."


"Akhh iya benar."


Mobil berjalan pelan dan agak bergoyang, hal ini disebabkan karna jalanan yang tidak rata dan berlubang disana-sini, kenyataan tersebut membuat Lio kembali mengeluh tentang kondisi jalan dikampung Naya, "Ukhh, nieh jalan kapan sieh diperbaiki, rusak parah begini tapi tidak ada niatan apa untuk diperbaiki, inikan bisa membahayakan keselamatan pengendara, apa saja sieh yang dilakukan oleh pejabat-pejabat disini, jalan rusaknya parah begini tidak dijadikan prioritas, sibuk memperkaya diri kali mereka."


"Gue heran deh, orang-orang dikampung disini kok pada gak protes gitu dengan kondisi jalan begini."


"Yahh orang kampung mah sudah terbiasa mas dengan kondisi jalan begini sejak zaman dahulu kala, gak suka ngeluh seperti mas, mereka selalu bersyukur dengan kondisi yang ada."


"Bersyukur sieh bersykur, tapi tidak pasrah juga kali."


"Akhh tahu deh mas, malas Naya bahas malah beginian." tandas Naya ogah membahas jalanan dikampungnya.


Lio diam, tidak lagi membahas tentang jalanan rusak yang saat ini mereka lewati, saat ini di fokus untuk nyetir dengan selamat sampai rumah.


"Wahyu itu siapa." tanya Lio kembali bersuara.


"Mas Wahyu."


"Iya, teman-temanmu itu menyebut-nyebut nama Wahyu tadi, siapa dia, mantan pacarmu." tebaknya dan tebakannya memang benar.


"Mmmm, iya mas." jawab Naya agak ragu.


"Hmmm, gimana orangnya."


"Mas Wahyu itu orangnya baik, sopan, ramah, lembut, tidak pernah marah…."


Ckk


Lio berdecak mendengar istrinya memuji cowok lain, padahal dia sendiri yang nanya dia yang kesel mendengar jawaban Naya, Nayakan cuma menyampaikan kebenarannya saja. Meskipun bisa dibilang perasaannya biasa saja sama Naya, tapi entah kenapa Lio tidak suka Naya memuji-muji cowok lain, apalagi cowok tersebut adalah mantan pacarnya.


"Tapi lebih ganteng guekan." sergahnya.


"Sebenaranya, kalau menurut Naya sieh, lebih gantengan mas Wahyu." jawab Naya polos.


"Heiii." Lio mendelik mendengar jawaban Naya.


"Tampan itu relatifkan mas."


"Akhhh, sudahlah, memang susah ngomong sama gadis kampung yang seleranya rendah."


Naya mendengus.


****


"Ukkhh." keluh Lio memukul-mukul bahunya pelan.

__ADS_1


"Kenapa mas." tanya Naya melihat suaminya.


"Punggung gue pegel-pegel karna tidur dikasur lo yang keras, kenapa tidak beli yang baru sieh Nay kayak tempat tidur dirumah gue."


"Mas, bisa tidak mas itu bersyukur, jangan dikit-dikit ngeluh dan sakit, ingat mas, diluar sana banyak orang tidur hanya beralas tikar, bahkan banyak orang yang tidur diemperan-emperan toko."


"Iya iya, lo itu ya, gue ngomong ini lo ceramahin, gue ngomong itu lo ceramahin, kayak gue ngelakuin dosa besar saja."


"Iya itukan tugas Naya mas buat ngingetin mas, supaya jangan sedikit-dikit ngeluh gitu, kata pak ustadz kalau dalam urusan dunia itu kita lihatnya kebawah jangan lihat ke atas."


"Busett, panjang nieh ceramah." batin Lio kesel.


"Iya gue mengerti, sekarang, mending lo pijitin gue deh."


"Mas itu selain pengeluh juga manja, dikit-dikit minta pijit, Nayakan mau istirahat mas, Naya juga capek."


"Lo gak mau mijitin gue, lo mau jadi istri durhaka.."


"Iya iya Naya pijitin." desis Naya ogah-ogahan, diakan gak bisa berkutik kalau Lio bawa-bawa tentang istri durhaka.


Naya mengambil balsem dan meminta Lio untuk tengkurap setelah terlebih dahulu Lio membuka bajunya.


Tok


Tok


Tok


Disaat Naya akan memulai aktifitasnya, pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Naya." panggil ibu Naya dari luar kamar anaknya.


"Sebentar ya mas." Naya turun dari kasur dan berjalan ke arah pintu.


Ibunya Naya tersenyum cerah melihat putri semata wayangnya, dia  melongokkan wajahnya sedikit melewati bahu Naya dan melihat menantunya tidur tengkurap tanpa mengenakan pakain bagian atas.


"Ini waktu yang tepat, sepertinya mereka akan melakukannya malam ini." simpul sik ibu dalam hati.


"Bu, ada apa." ulang Nanya karna tidak mendapat jawaban.


"Ohh ini." ibu Naya memberikan gelas berisi minuman berwarna kuning kecoklatan, peris dengan minuman yang pernah diberikan bi Darmi saat malam pertamanya.


"Ini…" tunjuk Naya pada gelas yang dibawa oleh ibunya.


"Jamu pengantin sekaligus jamu penyubur." bisik ibunya.


Naya memandang ibu dengan dahi berkerut, fikir Naya buat apa dia meminum jamu pengantin dan penyubur kalau dia tidak akan melakukan hubungan suami istri dengan Lio, tapi ya gak mungkin mengatakan hal itu juga sama ibunyakan.


Salah mengartikan tatapan putrinya, ibunya kembali berbisik, "Supaya suami kamu, ekhemm puas." jelas sang ibu, karna sik ibu menyangka putrinya masih polos.


"Dan ini." ibunya kembali menyerahkan dua bungkus plastik pada Naya dan entah apa isinya.


"Ini bubuk jamu pengantin, kamu bisa menyeduhnya sendiri." Ibunya menunjuk bungkus plastik yang lebih besar, "Dan ini." menunjuk plastik yang lebih kecil, "Ini obat kuat buat suami kamu, agar bertahan lama diranjang, kalau kalian sering melakukannya, itu akan mempercepat proses kehamilan kamu Naya."


Naya hanya menganga mendengar penjelasan ibunya, tidak menyangka ibunya sampai segitunya sampai bela-belain memberikannya jamu pengantin dan obat kuat buat suaminya.


"Ibu  mendapatkan ini dari ibu Hasna, ibunya Eli, katanya dia dulu dan pak Parto suaminya sering meminum jamu pengantin ini dan pak Parto rutin meminum obat kuat." ibu Naya terkekeh, "Tidak heran ya Eli punya lima saudara, orang ibu dan bapaknya rajin olahraga tiap malam."


"Dan ibu Hasna juga tentu saja memberikan jamu dan obat kuat ini untuk Eli dan menantunya."


Setelah sempat tercengang mendengar mendengar penjelasan ibunya, Naya mendapatkan suaranya kembali, "Ehh bu, Naya dan mas Lio tidak perlu hal beginian." tolak Naya halus, pasalnya dia minum berbungkus-bungkus hal beginian juga tidak mungkin bisa membuatnya hamil mengingat dia hanya sekali melakukannya dan sepertinya Lio juga tidak punya niat untuk menyentuhnya kembali.

__ADS_1


"Tidak perlu beginian bagaimana, kamu sudah satu bulan menikah tapi gak ada tanda-tanda hamil, bapak dan ibukan juga ingin cepat menimang cucu Nay."


Naya mendesah berat, "Tapi bu…"


"Sudah kamu jangan banyak protes, cepat sana kamu masuk dan ingat suruh Lio meminum obat kuatnya ya, biar kalian bisa melakukannya sampai lima ronde sekaligus."


"Ibu…"


Ibu Naya terkekeh, "Selamat bekerja ya nak, buatkan ayah dan ibu cucu yang banyak." setelah menggoda putrinya ibunya berlalu.


"Akhh ibu ada-ada saja."


Naya kembali masuk dan menutup pintu.


"Buruan pijitin gue, lama amet sieh, emang apa yang lo bicarain dengan ibu sampai bisik-bisik begitu." Lio melirik ke arah istrinya yang meletakkan gelas berisi air kuning kecoklatan dimeja. Lio bangun dari posisi tengkurapnya.


"Itu." tunjuknya mengingat minuman yang diletakkan Naya dimeja, dia ingat minuman tersebut, minuman yang sama yang pernah diberikan oleh bi Darmi pada Naya saat awal malam pernikahan mereka.


"Jamu pengantin sekaligus jamu penyubur." jawab Naya, "Dan ini." memperlihatkan plastik berisi obat kuat, "Kata ibu ini adalah obat kuat."


"Apa, obat kuat, untuk apa."


"Kata ibu supaya mas kuat diranjang."


"Heiii, gue gak perlu obat-obat begituan, ibu fikir aku loyo apa."


"Iya memang gak perlu, maskan gak pernah melakukannya." tandas Naya telak.


"Emang lo mau."


"Ehh." ditembak begitu Naya jadi salting.


"Kalau gitu ayok kita lakukan." goda Lio iseng melihat Naya salting.


"Apaan sieh mas bercandanya gak lucu." wajah Naya memerah, "Katanya mau pijit, ayot tengkurep." seru Naya untuk menutupi rasa gugupnya.


"Kalau pijit yang lain maukan." Lio makin iseng menggoda Naya.


"Pijitiin sendiri ajalah, ogah Naya." langsung tidur dan menutup seluruh tubuhnya untuk menutupi rasa malunya.


Lio hanya terkekeh melihat kelakuan istrinya yang masih lugu dan polos.


****


Paginya saat sarapan, ibu dan ayah Naya saling lirik satu sama lain, orang tua Naya tersenyum satu sama lain saat melihat rambut anak mereka basah.


"Ada apa seih pak bu, kok senyum-senyum gitu." heran Naya.


"Gimana semalam nak, manjur tidak jamu dan obat yang ibu berikan." tanyaya antusias.


"Ibu…" desah Naya malu, untungnya Lio masih dikamar mandi, kalau tidak bisa malu dia kalau Lio mendengar kata-kata ibunya.


"Bu, sudah jangan tanya aneh-aneh, lihat itu putri kita, jadi tidak nyamankan dia." sela sik bapak menyelamatkan Naya.


"Akhh sik bapak, ibukan cuma ingin tahu saja."


"Ingin tahu sieh ingin tahu bu, tapi ingin tahu dalam konteks yang wajar, lagian ibu ada-ada saja, bertanya urusan ranjang Naya, ya jelas putri kita malulah membeberkan urusan ranjangnya meskipun kita orang tuanya"


"Iya iya pak, ibu tidak akan bertanya-tanya lagi, puas pak."


Naya bersyukur karna diselamatkan oleh ayahnya, dia jadi tidak perlu meladeni pertanyaan iseng ibunya lagi.

__ADS_1


****


__ADS_2