
Naya melangkahkan kakinya memasuki lobi perusahaan besar suaminya, para karyawan berlalu lalang dilobi.
"Mas Lio ruangannya dimana ya." tanyanya kebingungan.
Dia ingin bertanya, tapi agak sungkan karna setiap orang seperti sibuk sendiri tanpa mempedulikan orang lain.
Tiba-tiba terdengar sebuah sapaan mampir digendang telinganya, "Cari siapa cantik."
Naya menoleh kearah sumber suara dan menemukan Rafa dengan senyum manisnya berada disampingnya.
Belum sempat Naya menyapa balik, karna Rafa kembali berkata, "Ini sebuah kebetulan atau mungkin ini kali ya yang namanya jodoh." crocos Rafa tidak mengenali Naya, "Baru setengah jam yang lalu aku lihat adikku memposting fotonya bersama dengan kamu, ehh, sekarang kamu ada dikantor aku, nyari siapa, jangan bilang mau nyari pacarnya."
"Mas Rafa kenapa sieh, kenapa ngomongnya ngaco begitu, apa dia gak kenal aku ya." Naya jelas saja heran melihat Lio menggodanya begitu, "Mas Rafa, ini Naya mas."
"Naya." ulang Rafa seolah tidak percaya, kemudian dia memperhatikan penampilan Naya dengan seksama, "Naya istrinya Lio."
"Iya mas."
Rafa menepuk keningnya, "Astagaaa, sumpah pangling aku sampai gak kenal, duhh jadi malu aku." Rafa jadi malu sendirikan karna tadi sempat menggoda Naya, "Sorry ya Nay."
Naya tersenyum tipis, "Gak apa-apa kok mas."
"Kata-kata aku barusan jangan biling ke Lio ya."
"Iya mas, emangnya Naya pengadu apa."
"Kamu udah pintar dandan ya sekarang, jadi cantik bangettt."
Namanya juga gadis kampung, apalagi Naya jarang sekali mendapat pujian, sehingga tidak heran dia tersipu malu yang membuat pipinya merona merah, "Belum mas, Naya masih dalam tahap belajar, ini Leta adik mas yang dandanin."
"Naya menggemaskan sekali sieh, apalagi kalau malu begini, beruntung sekali Lio mendapatkan gadis manis dan polos seperti Naya." batinnya terpaku memandang wajah Naya.
"Anak itu, memang bakatnya dalam bidang make up, gak heran kamu jadi cantik begini dibuatnya."
"Makasih mas."
"Mas, ruang kerjanya mas Lio dimana ya, Naya disuruh kakek bawain makan siang untuk mas Lio."
"Ruangan Lio ya, Lio ruangnya ada dilantai atas, aku anterin yuk."
__ADS_1
"Makasih mas." mengikuti Rafa dari belakang.
Lio berjalan menuju lift, "Ini lift jugakan mas namaya, Naya sering lihat disinetron-sinetron yang Naya tonton." tanyaya memperhatikan bagian dalam lift yang tidak terlalu luas itu.
"Iya, ini namaya lift juga, karna gedung ini lantainya banyak, jadi untuk memudahkan kita ke lantai atas kita harus naik lift." setelah menjelaskan Rafa menekan angka lantai yang dituju.
"Manusia hebat ya, bisa menciptakan hal-hal canggih begini."
Hanya membutuhkan waktu beberapa detik, lift kembali terbuka begitu sampai dilantai tujuan.
"Siang pak Rafa." sapa salah satu karyawan yang berlawanan dengan mereka sambil memperhatikan Naya yang berada disamping Rafa, dalam hati bertanya-tanya siapa gadis yang saat ini bersama dengan Rafa.
Rafa hanya memberi anggukan untuk membalas sapaan karyawan tersebut.
"Oh ya Ayu, kenalin ini adalah Naya, dia adalah istri pak Adelio Rasyad bos kita, jadi, meskipun Naya masih kecil, kamu harus memanggilnya ibu Naya." Rafa menjelaskan.
"Istrinya pak Lio ya." Ayu memperhatikan penampilan Naya, dan untungnya penampilan Naya tidak kampungan jadi Ayu tidak bisa mencelanya, "Saya Ayu bu, sekertarisnya pak Lio." gadis bernama Ayu itu memperkenalkan dirinya.
"Salam kenal ya Ayu." balas Naya ramah.
"Nah Ayu, inget dan simpen dimemori otak kamu, bagaimana bentuk wajah istri bos kita, agar nanti ketika lain kali dia datang lagi ke kantor perlakukan dia layaknya ratu."
"Ayok Nay, kebetulan sekali kamu datang, Lio sepertinya belum makan siang saking banyaknya berkas yang harus dia periksa."
Tok
Tok
Tok
Rafa mengetuk begitu tiba didepan ruangan Lio, terdengar sahutan dari dalam, "Masuk."
Rafa menarik kenop pintu, disana dibelakang meja kerjanya Lio sepertinya tengah sibuk memeriksa berkas-berkas penting sampai hanya untuk menolehpun dia tidak sempat.
"Sibuk sieh sibuk, tapi jangan sampai melalaikan kesehatan juga donk." tegur Rafa.
Barulah Lio mendongak mendengar kalimat Rafa, keningnya berkerut melihat seorang gadis kini tengah bersama Lio, dan sama seperti Rafa, ternyata Lio juga tidak mengenali istrinya sendiri.
"Mau apa lo, dan ngapain juga lo bawa tuh cewek ke ruangan gue segala." ujarnya tidak suka.
__ADS_1
Rafa tersenyum miring, "Perhatikan baik-baik donk makanya, gue gak bawa sembrang cewek ya masuk ke ruangan lo."
Lio memicingkan matanya berusaha untuk mengenali gadis yang saat ini bersama dengan Rafa, setelah membutuhkan waktu lima detik, barulah dia berkata, "Nayaaa." ujarnya antara yakin dan tidak, pasalnya Naya begitu sangat berbeda sama seperti ketika mereka menikah dulu.
"Lo kenal juga ternyata, kalau gadis cantik disamping gue adalah bini elo, gue aja gak kenal tadi saking panglingnya."
"Kenapa lo terlihat berbeda." tanyayanya.
Naya mendekati meja Lio, dia tersenyum yang membuatnya semakin manis saja, "Ini karna mbak Leta mas, dia dandanin Naya sampai terlihat cantik begini." sambil menaruh rantang berisi makan siang untuk Lio.
"Baguslah, seenggaknya penampilan lo gak malu-maluin gue." ujarnya pedas.
Naya jadi kesel mendengar kalimat suaminya, selalu saja menyakiti perasaannya kalau ngomong, tidak bisakah dia memilih kata-kata yang tidak menyakiti kalau ngomong, tapi dia memilih untuk diam, gak mau berdebat.
"Lo bawa makan siang buat gue." tanya Lio melihat rantang yang ditaruh Naya dimeja kerjanya.
Naya mengangguk, "Naya disuruh kakek, katanya sekalian agar Naya tahu kantor mas Lio."
"Kenapa lo pakai susah-susah segala bawain makan siang buat gue sieh, toh juga gak bakalan gue makan."
Dalam hati Naya merutuk kesal, "Tuhkannn, mas Lio tidak pernah menghargai usaha aku." Naya menjawab, "Kalau kakek gak nyuruh, Naya gak akan kesini, lagian kenapa sieh mas Lio gak mau makan masakan aku." balasnya dengan kesal.
"Gue sukanya makanan eropa, bukan masakan kampung."
"Tapi apa tidak bisa mas Lio menghargai Naya sedikit saja, Nayakan jauh-jauh datang kesini, kalau mas gak menghargai Naya, seenggaknya mas hargai kakeklah."
"Salah lo sendiri, kenapa lo mau disuruh-suruh sama kakek, gue lagi sibuk mending lo pergi sana." usirnya tanpa perasaan, "Dan satu lagi, lo bawa tuh rantang yang lo bawa, gue gak bakalan mau makan makanan kampung yang lo masak."
Mereka jadi bertengkarkan, Rafa mendekat, dia kasihan melihat Naya yang diperlakukan begitu oleh Lio, Rafa tahu sampai sekarang Lio belum bisa menerima pernikahannya dengan Naya, itu sebabnyalah Lio kadang sering bersikap dan mengeluarkan kata-kata kasar pada Naya.
Naya mengambil rantang yang dibawanya, hatinya terasa sakit, Lio sudah sering menyakiti hatinya, tapi ini yang paling parah, dengan sekuat hati Naya berusaha membendung air matanya, kalau gak ada Rafa mungkin dia sudah menangis.
Rafa menggeleng dan mendekat, "Kalau lo gak suka dengan masakan Naya, lo bisa ngomong baik-baikkan, gak perlu berkata kasar begitu."
Rafa mengambil alih rantang dari tangan Naya, dan memegang tangan Naya mengajaknya pergi dari ruangan Lio, "Ayok Nay, kita pergi."
Dengan patuh Naya mengikuti Rafa.
****
__ADS_1