Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PEMBICARAAN DI DEPAN TOILET


__ADS_3

Sepanjang makan siang tersebut, kumpulan orang-orang itu mengobrol tentang banyak hal, lebih tepatnya sieh Naya, Rafa, Renald dan Bulan yang banyak bicara, Bulan meskipun masih kecil, tapi gadis kecil itu pintar dan nyambung dengan pembicaraan orang dewasa, kadang dia bercloteh menceritakan tentang Tedy boneka beruangnya dan Bintang kucing betina peliharaannya, dan meskipun apa yang diceritakan oleh Bulan tidak penting, orang-orang itu senang mendengar cerita gadis kecil itu, dan hal itu membuat Rafa gemes dan mencubit pipi chabi Bulan berkali-kali.


Sedangkan Lio, Boy dan Leta tidak terlalu banyak bicara, apalagi Leta, gadis itu berusaha menguatkan hatinya saat melihat laki-laki yang dicintai beberapa kali melirik ke arah Naya, sementara itu Lio yang tidak luput memperhatikan Boy mengepalkan tangannya untuk meredam kekesalannya saat mengetahui Boy melirik istrinya, dia mulai menyesali keputusannya untuk mengiyakan ajakan makan bersama yang diusulkan oleh Rafa.


"Aduhhh, kamu kok gemes banget sieh Bulan, anak siapa sieh kamu." Rafa membuat suaranya seimut mungkin untuk menirukan suara Bulan.


"Anaknya ayah Lio dan bunda Naya donk om." jawab Naya dengan suara imutnya.


"Jadi anak om Rafa saja ya Bulan." Rafa menggoda Bulan.


"Gak mau." jawab Bulan tanpa berfikir.


"Lho kok gak mau, kalau jadi anak om, om bisa beliin boneka yang banyak buat Bulan."


"Ayah juga bisa beliin boneka yang banyak untuk Bulan, benarkan ayah." tanya Bulan pada Lio.


"Iya sayang, kamu beli sama pabriknya juga ayah akan belikan."


"Pabrik itu apa ayah."


"Itu tempat membuat boneka sayang." Naya yang menjawab


"Oooo." bibir mungil gadis kecil itu membulat sebagai tanda kalau dia mengerti dengan penjelasan ibu angkatnya, "Tuh om Rafa denger, ayah itu baik banget, saking baiknya pabrik bonekanya mau dibeli sama ayah untuk Bulan."


"Yahh, kalau ayah kamu sudah bawa-bawa harta, om nyerah meminta kamu jadi anak om, secarakan om kalah jauh sama ayah kamu."


Naya terkikik, "Mas Rafa kalau mau punya anak nikah saja."


"Lo denger tuh kata-kata bini gue, lo kalau mau anak nikah sana, jangan anak gue yang lo bujuk untuk jadi anak lo."


"Hmmm iya, gue akan nikah, tapi nanti." dengus Rafa, dia paling sensitif deh kalau sudah membahas masalah pernikahan.


"Mas, aku permisi mau ke toilet dulu ya." pamit Naya berdiri dari kursinya.


"Aku temenin ya Nay."


"Gak usah mas, mas disini saja." tolak Naya.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama."


"Iya." dan setelah itu Naya langsung pergi menuju toilet.


"Aku juga permisi mau ke toilet dulu." ujar Boy berdiri dan langsung pergi begitu saja.


Leta hanya menatap punggung Boy yang menjauh sampai Boy menghilang dari pandangannya, Leta mendesah berat, "Bisakah aku melupakannya."


****


Boy memang ke toilet, tapi bukan karna panggilan alam, tapi lebih kepada panggilan hati, dia berdiri disamping pintu toilet perempuan menunggu Naya keluar dari dalam toilet, dia hanya ingin berbicara berdua dengan Naya meskipun hanya sebentar.


Pintu ditarik dari dalam dan kemudian menyusul Naya keluar dari toilet.


"Naya." panggil Boy lembut begitu melihat sosok Naya melangkah keluar dari toilet.


"Astagaaa." Naya yang tidak tahu kalau Boy berada didekat pintu tentu saja kaget, dia memegang dadanya, "Ya Tuhan, mas Boy ini bikin kaget saja."


Boy tersenyum tipis menanggapi protes Naya, "Sorry ya Nay kalau aku bikin kamu kaget."


"Mas Boy kenapa berdiri didekat pintu begini sieh." tanya Naya heran.


"Aku nungguin kamu."


"Ehh, nungguin aku."


"Iya."


"Mas Boy ada perlu sama Naya."


"Pengen lihat kamu saja." lisan Boy, Boy menambahkan dalam hati, "Mungkin untuk yang terakhir kalinya."


Naya mengerutkan kening tidak mengerti, "Maksud mas Boy apa sieh."


"Gak ada maksud apa-apa kok Nay, jangan bingung gitu, tapi kamu terlihat imut sieh kalau bingung begitu." ujarnya berusaha untuk bercanda.


"Apaan sieh mas Boy ini, ada-ada saja."


"Apa dia baik sama kamu."


"Siapa."

__ADS_1


"Suamimu itu." wajar saja Boy menanyakan hal itu mengingat dimalam saat dirinya mengantar Naya pulang Lio memperlakukan Naya dengan kasar didepan matanya.


"Mas Lio maksud mas."


"Memangnya suami kamu siapa."


"Iya, mas Lio baik kok, dan memang sudah seharusnya dia baik sama Naya, mas Liokan suamiku mas."


"Ahh, syukurlah." desahnya, "Kalau suatu saat dia memperlakukanmu dengan tidak baik, kamu bisa mencariku Nay, aku akan selalu ada untukmu."


Naya semakin bingung dengan sikap Boy yang menurut Naya agak aneh, "Mas Boy ini sebenarnya kenapa sieh, kok jadi aneh begini, tiba-tiba berada didekat pintu dan bilang ingin melihatku, dan bilang kalau dia akan selalu ada untukku." tidak mau memikirkan keanehan Boy, Naya memilih untuk berkata, "Ahh iya, terimakasih ya mas karna mas Boy sangat baik, tapi Naya yakin kok kalau mas Lio tidak akan menyakiti Naya."


"Mudah-mudahan seperti itu." Ujarnya, "Karna aku tidak mungkin tega melihat kamu disakiti." kata-kata yang hanya diucapkan dalam hati oleh Boy.


"Ohh ya Nay, selamat ya atas kehamilannya waktu itu aku belum sempat ngucapin, aku berdoa semoga kamu dan sik bayi selalu diberi kesehatan." saat mengucapkan hal tersebut, Boy mengusahakan untuk tersenyum.


"Terimakasih ya mas." jawab Naya tersenyum pula.


"Aku selalu suka melihat kamu tersenyum Nay, senyummu itu seperti mentari pagi yang menghangatkan hatiku dan membuatku suasana hatiku menjadi lebih baik, mungkin setelah ini aku tidak akan bisa lagi melihat senyummu itu lagi."


"Ohh ya mas, mbak Leta itu kenapa ya, sejak tadi aku perhatiin dia kok kayak diam gitu, tidak seperti biasanya mbak Leta seperti itu."


Boy yang tidak memperhatikan Leta berkata, "Aku gak tahu Nay, mungkin dia lagi ada masalah dengan pacarnya kali." Boy menjawab sekenanya padahalkan dia yang membuat anak orang patah hati sampai murung begitu, "Atau gak, mungkin dia lagi sakit gigi sampai membuat dia malas untuk ngomong."


"Bisa jadi."


Terdengar suara derap langkah yang berjalan ke arah mereka, baik Naya dan Boy menoleh ke arah sumber suara, dan pemilik suara langkah itu ternyata adalah Lio, wajah Lio mengeras dengan tatapan dingin saat melihat Naya dan Boy tengah ngobrol didepan toilet, dia tahu istrinya tidak mungkin macam-macam dengan Boy, tapi entah kenapa dia kesel melihat Naya dan Boy berduaan begitu.


"Mas Lio." gumam Naya begitu melihat kalau yang datang adalah suaminya, "Kenapa mas Lio kesini."


Lio tidak langsung menjawab pertanyaan Naya, dia merangkul Naya begitu berada didekat Naya untuk memberitahu secara tidak langsung kepada Boy kalau Naya adalah miliknya, tentu saja Boy mengarahkan matanya ke arah lain melihat hal tersebut.


"Gimana aku gak nyusulin kesini, kamu lama banget, aku fikir terjadi apa-apa sama kamu, gak tahunya kamu disini tengah asyik ngobrol dengan Boy."


"Ah iya maafin kami mas kalau lama, kami tidak sengaja bertemu didepan toilet dan ngobrol sebentar."


"Memang apa yang kalian bicarakan sampai bicara didepan toilet begini." Lio tanpa sadar tidak bisa menyembunyikan kesinisan dalam nada suaranya.


"Gak ada mas, hanya ngobrol biasa."


"Kalau ngobrol biasakan bisa dimeja makan."


"Sebaiknya kita kembali ke meja makan, takutnya yang lain khawatir kalau kita lama-lama disini." saran Naya.


"Kamu duluan Nay, ada yang ingin aku bicarakan dengan Boy."


Naya memandang suaminya heran, "Mas mau membicarakan apa dengan mas Boy."


"Masalah laki-laki." jawab Lio supaya Naya tidak bertanya lagi, "Kamu sebaiknya kembali ke kedalam."


"Ya sudah kalau begitu." ucap Naya, sebelum pergi, terlebih dahulu Naya pamit sama Boy, "Mas Boy, Naya duluan ya."


Boy hanya mengangguk sebagai jawaban.


Setelah itu Naya berlalu meninggalkan suaminya dan Boy.


Begitu Naya sudah tidak terlihat, tanpa basa-basi, Lio langsung pada intinya, "Gue tahu lo suka sama istri gue."


Boy yang tadi menatap ke arah lain menatap Lio tepat dimanik matanya begitu mendengar kata-kata Lio, namun dia tidak menjawab, dia menunggu kata-kata Lio berikutnya.


"Gue tahu sejak pertama kali bertemu dengan lo, mata lo sangat jelas mengatakannya, dan istri gue yang polos tidak menyadari akan hal itu."


Boy masih diam.


"Lo tahukan, Naya itu sudah punya suami, dan suaminya itu yang saat ini tengah berbicara sama lo, dan sebagai seorang laki-laki, gue meminta sama lo, lupain Naya karna lo tidak akan bisa untuk memilikinya karna dia adalah milik gue." Lio menegaskan secara lisan.


Boy sadar, kata-kata itu memang benar, tapi entah kenapa emosinya tersulut saat mendengar ucapan Lio tersebut, dengan berani dia menatap mata Lio dengan tajam dan berkata, "Naya memang milik elo, dan lo sangat beruntung bisa memilikinya, tidak seperti gue yang hanya bisa gigit jari dan terpaksa mengubur keinginan gue untuk memilikinya, saran dari gue, jaga Naya dengan baik, jangan sakitin dia, karna kalau lo berani nyakitin Naya, gue bakalan merebut Naya dari elo." setelah mengatakan hal yang membuat hati Lio dipenuhi oleh emosi, Boy melangkah pergi begitu saja meninggalkan Lio yang mengepalkan tangan saking geramnya, Lio bener-bener tidak menyangka Boy akan mengatakan hal itu, "Bocah brengsek, berani-beraninya dia mengatakan hal itu sama gue."


***


Disebuah cafe dipusat kota, seorang gadis cantik dengan wajah murung tengah duduk menunggu kedatangan seseorang, gadis cantik itu terlihat melamun sambil mengaduk-ngaduk minuman digelasnya tanpa berniat untuk meminumnya, gadis itu adalah Cleo mantan kekasih Lio.


"Halo Cleo." sapa seseorang yang sejak tadi ditunggunya.


Cleo mendongak begitu mendengar sapaan tersebut, "Tante." gumamnya begitu melihat orang yang ditunggu kini berdiri dihadapannya, orang itu adalah mama Renata mamanya Lio.


"Maaf tante terlambat."


Cleo menanggapi dengan senyum tipis, ternyata diputuskan oleh Lio membuatnya tidak bisa tersenyum lebar, siapa juga yang bisa tersenyum lebar kalau sumber pemasukan utama kini sudah memutuskannya, meskipun dia punya pacar yang lain, tapi laki-laki itu tidak seroyal Lio yang selalu memberikan apapun yang dia inginkan, yahh begitulah Cleo, dia hanya sedih karna tidak memiliki sumber pemasukan bukan karna sedih karna dia benar-benar tulus mencintai Lio.

__ADS_1


Cleo berdiri dan cupika cupiki dengan mama Renata, "Ayok duduk tante."


Mama Renata mengangguk dan mengambil tempat duduk berhadapan dengan Cleo.


"Bagaimana keadaanmu." tanya mama Renata melihat wajah mendung gadis tersebut.


"Seperti yang tante lihat, sejak putra tante memutuskan aku dan lebih memilih istri kampungannya itu, aku jadi seperti ini tan, hancur berkeping-keping dan tidak punya semangat hidup." lapornya berlebihan.


"Anak itu benar-benar keterlaluan, dia lebih memilih wanita kampung itu daripada kamu yang cantik dan berkelas ini, apa sieh yang ada difikiran Lio itu." mama Renata jadi emosi jika membicarakan tentang Naya menantunya.


"Padahal dulu Lio memohon-mohon memintaku untuk menunggunya tan, tapi coba apa yang dia lakukan sekarang, dia mencampakkan aku begitu saja tan, Lio benar-benar tega." Cleo pura-pura menitikkan air matanya supaya dia semakin mendapat simpati dari mama Renata, "Padahal aku sangat tulus mencintainya, tapi inikah balasannya untukku, hiks hiks."


Mama Renata berpindah duduk didekat Cleo, dia merangkul Cleo berusaha untuk menenangkan gadis tersebut, "Sudah sudah, kamu jangan menangis, tante akan meyadarkan Lio dan meyakinkannya kalau kamu yang terbaik untuk dia, bukan gadis kampungan itu."


"Hahaha, ektingku berhasil, tante Renata percaya kalau aku patah hati banget ditinggalin sama putranya, dan dia akan membantuku untuk kembali sama Lio, aku bener-bener bener-bener berbakat, kenapa kamu tidak jadi aktris saja ya." Cleo tertawa dalam hati, "Iya tante, tolong sadarkan Lio ya, karna aku bener-bener tulus mencintainya."


"Kamu tidak perlu khawatir, pokoknya tante akan membantu kamu supaya bisa kembali dengan Lio, kamu bisa memegang janji tante."


"Terimakasih tante."


****


Naya mendudukkan tubuhnya ditempat tidur dan bersandar disandaran tempat tidur begitu tiba dikamar, baru terasa tubuhnya terasa pegal-pegal setelah seharian jalan-jalan, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan, barulah Lio menyusul Naya ketempat tidur dengan duduk disamping Naya, Lio memeluk istrinya yang dibalas oleh Naya dengan melingkarkan tangannya dipinggang suaminya, disaat merasa lelah seperti ini, memang pelukan dari orang tersayang merupakan obat ampuh pengusir lelah.


"Kamu capek." tanya Lio penuh perhatian.


Naya mengangguk, "Kaki Naya rasanya pegal-pegal mas."


Demi mendengar pengakuan sang istri, Lio melepaskan pelukannya dan beringsut ke arah kaki Naya, yang dia lakukan adalah memijat kaki Naya.


"Apa yang mas lakukan."


"Mijitin kaki kamu sayang."


"Gak perlu mas, mas tidak perlu melakukan hal itu."


"Sudah diam saja, nikmati saja sensasi pijitan tangan ajaib suami kamu ini."


Naya terkekeh mendengar banyolan suaminya.


"Gimana, enakkan pijitanku."


"Enak mas, mas Lio pinter mijitnya, kenapa tidak jadi tukang pijit saja."


"Aku cukup jadi tukang pijit untuk kamu saja, nanti kalau aku megang kaki wanita lain, kamu cemburu lagi."


Naya terkikik, "Ah iya mas Lio benar juga, Naya pasti cemburu melihat mas Lio deket-deket dengan wanita lain."


"Naya."


"Hmmm."


"Kenapa kamu mau bertahan denganku."


"Maksud mas Lio." agak bingung juga Naya dengan pertanyaan Lio yang tiba-tiba begini.


"Kamu tahukan, awal-awal pernikahan, aku selalu bersikap kasar kepadamu, dan yang paling parah, aku tidak pernah menganggap kamu sebagai istriku, kenapa kamu bisa bertahan menghadapi kelakuanku itu, selama kamu bersamaku, apa kamu tidak pernah punya niatan untuk pergi."


"Ohh itu." gumam Naya mengerti, "Ketika mas Lio mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan Allah, wali dan keluarga dan para saksi, disaat itulah Naya berusaha untuk mencintai mas Lio dan memilih melupakan mas Wahyu."


Meskipun Lio tahu Naya mencintainya dan sudah melupakan mantannya, tapi tetap saja perasaan Lio agak gimana gitu saat mendengar nama sang mantan terucap dari bibir sang istri, masih ada rasa-rasa sedikit tidak suka.


"Karna pernikahan itu adalah suatu hal yang suci, bukan untuk dipermainkan, Naya takut Allah marah sama Naya saat seorang laki-laki telah mengucapkan janji suci pernikahan, tapi hati Naya malah untuk laki-laki lain, oleh karna itu Naya berusaha untuk mencintai mas Lio."


Nyesel deh Lio menanyakan pertanyaan tersebut kalau pada akhirnya membuatnya tertohok, dia tidak memikirkan tentang dosa waktu itu, yang dia fikirkan hanya dia tidak mencintai Naya dan akan menceraikan Naya dan akan menikahi Cleo yang kini telah menjadi mantannya.


"Meskipun mas Lio bersikap tidak baik dan tidak suka sama kehadiran Naya, tapi mas Lio tetap suami Naya dan Naya memiliki kewajiban untuk selalu berbakti sama mas Lio dan bertahan dengan mas Lio dalam keadaan apapun."


"Naya benar-benar gadis yang baik, beruntungnya aku mendapatkannya, meskipun aku telat menyadarinya." gumamnya dalam hati.


"Nay, aku benar-benar minta maaf atas perbuatanku dimasa lalu, aku berjanji sama kamu akan menebusnya." wajah Lio bener-bener menyiratkan penyesalan atas perbuatannya kepada Naya dimasa lalu.


Naya tersenyum dan menjawab, "Sudahlah mas, itu hanya sebuah masa lalu, Naya bahkan sudah melupakannya dan memaafkan mas Lio sebelum mas meminta maaf, yang sekarang perlu kita lakukan adalah, menata masa depan kita bersama anak-anak."


Lio mengangguk, "Iya, aku pasti akan membahagiakan kamu dan anak-anak kita, aku berjanji."


Naya tersenyum bahagia mendengar janji suami yang sangat dia cintai.r


****

__ADS_1


__ADS_2