Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
INSTING SEORANG IBU


__ADS_3

Di saat seperti itu ponsel Naya berdering, karna posisinya cukup jauh dari nakas dan ditambah kondisinya tubuhnya yang lemah, Naya melalui sorot matanya meminta tolong sama Lio mengambilkannya, Lio yang paham menggeser tubuhnya untuk meraih ponsel milik Naya. Raut wajah Lio berubah gusar begitu melihat nama yang tertera dilayar ponsel milik Naya, dia ingin merijeknya saja, namun niatnya diurungkan dan menyerahkan ponsel tersebut kepada Naya.


"Niehh."


Naya mengambil ponselnya yang disodorkan oleh Lio. Tidak langsung mengangkatnya, dengan agak takut Naya melirik ke arah Lio, meminta izin apakah boleh menjawab atau tidak.


"Angkat saja." ujar Lio tidak bisa menyembunyikan keketusannya.


Meskipun bilang angkat, tapi dengan nada ketus begitu, tentu saja Naya paham kalau itu artinya Lio keberatan kalau dirinya menjawab panggilan dari Boy.


"Gak deh, lagian juga gak penting." Naya menggeletakkan ponselnya begitu saja disampingnya.


Merasa tidak enak karna karna suaranya yang ketus menyebabkan Naya urung menjawab panggilan dari Boy, selain itu, saat ini dia tengah dalam tahap menebus kesalahan, jadi fikirnya, tidak apa-apa Naya menjawab panggilan dari teman laki-lakinya, atas pemikiran tersebut, Lio dengan suara lunak kembali berkata, "Jawab saja, tidak apa-apa Nay, diakan juga teman lo."


"Beneran tidak apa-apa, mas tidak akan marah." tanya Naya memastikan.


"Iya angkat saja."


"Tapi aktifkan pembesar suaranya, gue ingin tahu apa yang akan dikatakan sama bocah itu."


Naya mengangguk, menggeser simbol telpon berwarna hijau.


"Selamat pagi Naya." terdengar suara lembut Boy dari seberang.


Lio mendengus mendengar suara Boy yang menurutnya sok lembut, dari sini saja Lio yakin kalau cowok itu memiliki rasa sama istrinya, entah kenapa, fakta ada laki-laki lain yang menyukai istrinya membuatnya tidak suka.


"Pagi juga mas Boy." balas Naya.


"Nay, kamu baik-baik sajakan."


Tentu saja tidak baik, Naya sakit, tapi jawabnya begini, "Naya baik mas."


"Akhh syukurlah, aku lega dengernya, aku kefikiran kamu tahu gak , ingin nelpon sejak tadi malam tapi aku gak enak. Apa itu, masmu itu tidak berlaku kasar sama kamukan, kamu tidak diapa-apainkan sama dia."


Naya melirik ke arah Lio yang wajahnya mengeras.


"Tentu saja aku diapa-apain, laki-laki jahat ini menyakitiku." lagi-lagi karna tidak mungkin curhat dengan apa yang terjadi padanya semalam, Naya memberi jawaban bohong, "Gak kok mas, mas Lio... yahh begitu, dia tidak ngapa-ngapain aku kok."


"Ohhh baguslah, aku merasa sangat bersalah sama kamu Nay."


Percakapan itu jelas saja menunjukkan betapa perhatiannya Boy sama Naya, dan itu membuat Lio kesal.


"Tidak apa-apa mas, bukan salah mas."


Karna tidak enak melihat wajah Lio yang seperti menahan amarah, Naya menyudahi pembicaraanya dengan Boy.


"Dari mana sieh lo mengenal cowok bernama Boy Boy itu, kenapa dia perhatian banget sama lo." Lio berusaha bertanya dengan suara yang dibuat biasa saja.


"Kan sudah Naya bilang mas, mas Boy itu temannya mbak Leta, dan karna mbak Leta temannya Naya, jadinya mas Boy juga nganggep Naya temannya."


"Hmmm, temannya Leta ya." gumamnya.

__ADS_1


Karna tidak mau membahas tentang sik Boy karna bisa berpotensi membuatnya badmood, Lio meminta Naya untuk istirahat, "Istirahat, gue akan ke kantor." Lio kembali mengambil HP Naya dan meletakkanya dinakas.


Naya mengangguk.


"Kalau perlu apa-apa, minta sama mbak Wati atau bi Darmi."


Naya kembali mengangguk.


Baru saja HP Naya kembali diletakkan dinakas, HP Naya kembali berdering, berfikir laki-laki tadi yang menelpon, membuat Lio tanpa persetujuan menjawab panggilan tersebut dengan berang.


"Apa lagi, pagi-pagi lo udah ganggu orang saja, kayak tidak punya kerjaan saja." jawabnya emosi membuat Naya sampai berjengit kaget mendengar suara Lio.


Sedetik kemudian, Lio yang tadinya menjawab dengan marah-marah terlihat merasa bersalah, dan berulangkali meminta maaf setelah mengetahui siapa yang menelpon, "Maafkan saya, saya bener-bener tidak tahu kalau Ayah yang menelpon."


"Ayah." desis Naya mendengar nama ayah yang diucapkan oleh suaminya.


"Iya Ayah, Naya ada, iya iya."


Lio kemudian kembali menyerahkan ponsel milik Naya.


"Dari ayah."


"Aslamulaikum ayah."


"Walaikussalam anakku." suara menenangkan itu tiba-tiba saja membuat mata Naya berkaca-kaca mendengar suara ayahnya, laki-laki yang melakukan apapun untuk kebahagiaannya, laki-laki yang tidak pernah menyakitinya.


"Kamu sehat nak."


"Naya sehat ayah." bohongnya supaya keluarganya didesa tidak khawatir.


Dan memang perasaan orang tua tidak pernah salah, semalam memang terjadi apa-apa sama Naya, dan jelas Naya tidak ingin memberitahu hal tidak mengenakkan itu pada ayahnya karna tidak mau ayahnya khawatir, yang penting saat ini adalah semuanya sudah baik-baik saja meskipun memang agak sedikit sakit, tapi sejauh ini dia tidak apa-apa.


Mendengar pembicaraan antara orang tua dan anak itu kembali membuat rasa bersalah dibenak Lio menyeruak, orang tua Naya telah menitipkan putri mereka padanya, namun dia malah menyakiti Naya sedemikian rupa, tidak hanya menyakiti hatinya tapi juga menyakiti fisiknya.


"Bapak dan ibu tidak perlu khawatir, Naya baik kok."


"Oh ya nak, ini lho ibumu ingin bicara, sejak tadi narik-narik lengan baju ayaj melulu."


Naya terkekeh mendengar kalimat ayahnya.


"Halo Naya, anakku." ibunya yang kini menyapa.


"Iya ibu."


"Lho, kenapa suaramu serak gitu nak, kamu sakit." itulah kelebihan seorang ibu, hanya mendengar suara bisa menebak kalau anaknya sakit.


Karna percuma berbohong sama ibunya, Naya mengaku, "Iya ibu, cuma demam biasa."


Dan yang namanya seorang ibu, meskipun anaknya sakit biasa tetap saja heboh dan khawatir berlebihan, apalagi dia tidak bisa mengurus sang anak secara langsung karna berjauhan, "Astagaa, kenapa bisa sakit nak, kamu sudah minum obat."


Naya terkekeh, ibunya itu suka lebay karna terpengaruh oleh sinetron yang tiap hari ditontonnya, "Ibu jangan khawatir, Naya baik-baik saja, cuma demam biasa, Naya sudah makan bubur dan minum obat, Naya hanya perlu istirahat supaya cepat sembuh."

__ADS_1


"Bagaimana ibu tidak khawatir Naya, kamu jauh, kami tidak bisa mengurus kamu."


"Tenang saja ibu, mas Lio mengurus Naya dengan baik kok."


"Ohh syukurlah, ibu tahu dia suami yang baik."


Lio merasa tertohok mendengar ucapan ibu mertuanya yang mengatakan kalau dia suami yang baik, padahal kenyataannya dia selalu memarahi Naya dan kadang berlaku kasar sampai membuat Naya jadi sakit begini, dan Naya juga tidak pernah menjelekkanya, Naya selalu membelanya dan menceritakan hal-hal yang baik tentangnya dihadapan siapapun.


"Naya, kasih telponnya sama nak Lio, ibu mau ngomong."


"Mas, ini ibu mau ngomong." menyodorkan ponselnya pada Lio.


Lio meraih ponsel yang disodorkan oleh Naya, menonaktifkan pembesar suara dan berjalan menuju balkon supaya pembicaraanya tidak didenger oleh Naya.


Melihat kelakuan suaminya membuat Naya mengerutkan kening, "Kenapa mas Lio pakai menjauh segala sieh." desisnya.


Dari tempat tidurnya Naya hanya melihat Lio mondar-mandir dan kadang mengangguk-angguk.


"Ibu ngomong apa sieh sama mas Lio." tanya Naya pada diri sendiri.


Beberapa menit kemudian, Lio kembali masuk dan meletakkan ponsel Naya ditempat semula.


"Ibu ngomong apa mas."


"Gak ada, cuma bilang kamu harus istirahat supaya cepat sembuh." jawab Lio sekenanya.


"Terus."


"Itu saja."


"Masak sieh, mas kan lama ngomongnya."


"Sudah jangan bawel, sekarang istirahat."


Naya memberengut karna rasa ingin tahunya tidak terpuaskan, namun dia menuruti perintah Lio, dia membaringkan tubuhnya sementara Lio berjalan ke arah kamar mandi untuk bersiap-siap pergi ke kantor.


Lio kini sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan siap pergi ke bekerja. Dia memandang Naya yang tengah berbaring dengan mata terpejam dengan nafas naik turun, gadis polos itu begitu terlihat damai dalam tidurnya.


Melihat wajah polos itu membuat Lio mengutuk dirinya atas apa yang dilakukannya pada Naya semalam, dia merasa menjadi laki-laki brengsek, apalagi gadis polos berstatus sebagai istrinya itu tidak terlihat marah atau membencinya sama sekali atas apa yang dilakukannya semalam.


Sebenarnya, Lio ingin dirumah dan mengurus Naya untuk menebus kesalahannya, tapi mengingat dia ada pertemuan penting yang tidak bisa diwakili dan harus dihadiri olehnya membuatnya terpaksa harus ke kantor. Entah karna rasa bersalah atau memang keinginannya sendiri, Lio berjalan ke tempat tidur, mengelus rambut hitam Naya yang tengah terlelap, "Istirahatlah, gue akan segera pulang." janjinya dan perlakuan manisnya tersebut diakhiri dengan kecupan dikening.


****


Dilain pihak, disebuah hotel dengan kamar mewah, seorang gadis terlihat uring-uringan dan beberapa kali mengumpat.


"Sialan, berani-beraninya dia mengabaikan aku seperti ini, seharusnya dia mencariku dan bertekuk lutut meminta maaf dan memohon-mohon untuk balikan denganku."


Gadis itu adalah Cleo, kekasih, lebih tepatnya mantan kekasih Lio karna Cleo telah memutuskan Lio.


Dia yang memutuskan Lio dan kini malah dia yang uring-uringan karna Lio tidak ada tanda-tandanya mencarinya seperti yang biasa Lio lakukan saat dirinya ngambek.

__ADS_1


Dia tidak tahu saja kalau Lio sejak kemarin tersiksa setengah mati karna terpaksa mengikuti saran Rafa untuk tidak mencari ataupun menghubungi Cleo, hal itu dilakukan untuk mengetahui apakah Cleo bener-bener mencintainya atau hanya sekedar mencintai hartanya. Karna menurut Rafa, kalau Cleo hanya menginginkan uang Lio, gadis itulah yang akan memohon untuk kembali padanya.


****


__ADS_2