Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
MATI LAMPU


__ADS_3

Begitu tiba dibekas kamarnya, Naya membuka jendela kamarnya untuk membuat akses cahaya matahari masuk sebagai pencahayaaan, sehingga apa yang terdapat dikamar Naya terlihat dengan jelas.


Rumah Naya memang sederhana, apalagi kamarnya yang bisa dibilang kecil, dengan tempat tidur gak terlalu besar tapi cukup untuk ditiduri oleh suami istri seperti mereka, karna keluarga Naya sederhana, jadi tidak mengherankan semua yang berada dikamar Naya sederhana, lemari kayu sederhana yang terdapat dipojok kamar, meja belajar, dan termasuk seprai tempat tidur yang sudah agak usang tapi bersih.


Melihat tempat tidur tak urung membuat Lio yang terbiasa dengan kemewahan berkomentar, "Itu tempat tidur lo."


"Menurut mas."


"Kok sepreinya buluk begitu, gue yakin pasti banyak kumannya, kalau gue tidur disitu, bisa gatal-gatal badan gue."


"Ini bukannya buluk mas, tapi agak usang karna udah kelamaan, tapi sepreinya bersih lho mas sudah dicuci sama ibu." Naya menjelaskan, agak jengkel juga sieh dia dengan perkataan Lio barusan.


"Pokoknya gue gak mau tidur disitu.".


Naya mendengkus kasar, "Terus kalau gak mau tidur disini, mas mau tidur dimana, mas mau tidur dilantai beralas tikar gitu."


"Ya gaklah, gue bakalan nelpon Rafa nyuruh kurir datang kemari bawain gue kasur empuk biar gue bisa tidur nyaman."


"Ada ada saja mas Lio ini, kerjaannya bikin repot orang mulu."


"Itulah keuntungannya memiliki duit banyak."


"Sombong."


Lio mengeluarkan ponselnya, niatnya tentu saja menyuruh Rafa untuk membawakannya apa yang diinginkan melalui jasa kurir.


Tapi sayangnya, nomer yang dituju tidak nyambung, sampai Lio melihat layar ponselnya dan langsung mengumpat, "Sialan, pantas saja tidak nyambung, gak ada sinyal." Lio mengangkat tangannya yang memegang ponsel dan menggoyang-goyangkannya berharap dengan begitu sinyal bisa didapatkan.


"Mas lagi ngapain."


"Nyari sinyal."


"Disini sinyalnya lemah, kalau mau dapat sinyal bagus, mas harus naik pohon dulu atau gak kebukit pinggir desa tuh."


"Astagaa, kampung lo primitif amet, masak nyari sinyal saja gue harus berubah jadi monyet dulu."


Naya terkikik geli mendengar kalimat Lio, "Ya udahlah mas, untuk sementara ini mas mending gak usah main ponsel-ponsel dulu, nikmati hidup tanpa benda itu." ujar Naya.


"Ya gak bisalah, masak iya gue harus hidup tanpa ponsel bisa mati bosan gue."


"Lebayy banget."


Lio masih berusaha menggoyang-goyangkan tangannya, berharap dia mendapat keajaiban berupa sinyal, namun setelah beberapa saat melakukan hal tersebut namun tidak mendapatkan sinyal, dia akhirnya pasrah.


"Jadi gimana nieh."


"Gimana apanya."


"Gue tidur dimana.".

__ADS_1


"Ya tidur disinilah mas, repot amet sieh."


"Seprei lo beneran bersihkan, gak bikin gatal-gatal."


"Iya, Naya jamin."


Akhirnya karna tidak punya pilihan lain, Lio dengan sangat terpaksa mendekat ke arah tempat tidur, dia meraba seprei itu terlebih dahulu untuk mengetes apakah beneran tuh seprai tidak bikin gatal-gatal, karna merasa tangannya baik-baik saja, Lio mendudukkan bokongnya.


"Gak gatal-gatalkan kulitnya." Gumam Naya langsung berbaring dengan nyaman.


"Heh, apa yang lo lakuin."


"Istirahat mas, capek."


"Ohh capek ya, lo kerjaannya ngorok disepanjang jalan dan lo masih bilang capek, apa kabarnya dengan gue yang harus nyetir dari Jakarta ke kampung lo, mana jalannya jelek lagi."


"Makanya tidur mas, istirahat, katanya capek, ini malah ngomel gak jelas."


"Maksud gue, gak punya inisiatifkah elo mijitin gue."


"Aduhhh, nanti saja ya mas, Naya istirahat dulu sebentar."


"Gak bisa, lo harus mijitin gue titik."


Naya yang sudah membayangkan indahnya alam mimpi terpaksa harus mengubur keinginannya dan harus menuruti keinginan Lio.


****


Dan yang namanya dikampung, jika sudah isya suasannya sunyi dan sepi karna para penduduk desa pada istirahat setelah beraktifitas seharian disawah, berbeda dengan dikota yang tetap ramai dua puluh empat jam, hal tersebut membuat Lio yang duduk diberanda rumah Naya berkomentar, "Busettt sepi amet kampung lo, kayak dikuburan aja."


"Iya beginilah kampung mas, jam segini penduduk kampung pada istirahat supaya besok badan mereka fit untuk kembali bekerja."


"Gue heran, kok lo betah sieh hidup dikampung terpencil seperti ini."


"Kalau disuruh milih mas, apakah hidup dikota atau dikampung, ya Naya jelas milih hidup dikampunglah, bebas dari polusi, dan yang jelas penduduknya ramah-ramah, gak kayak dikota."


"Kalau gue sieh ogah, gue lebih memilih hidup dikota."


"Hmmm." karna malas berdebat Naya hanya menggumamkan hmm doank.


Angin malam berhembus yang meninggalkan rasa dingin dikulit, sehingga Naya mengajak Lio untuk masuk kedalam, "Mas, masuk yuk."


Lio mengangguk.


"Bikinin gue kopi donk."


"Iya." Naya melangkah menuju dapur.


"Gue tunggu dikamar ya."

__ADS_1


Namun begitu tiba kamar, lampu tiba-tiba padam, bukannya takut gelap sieh, tapi saat karna kaget lampu mati begitu saja membuat Lio reflek berteriak, "Akkkkhhh."


Teriakannya membuat seisi rumah langsung berhamburan ke sumber suara, ayah dan ibu mertuanya datang tergopoh-gopoh dengan membawa senter, jelas saja mereka khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Lio.


"Ada apa, kenapa, apa yang terjadi mantu." runtutan pertanyaan dari ayah Naya sambil mengarahkan senter ke arah Lio.


Sumpah Lio merasa sangat malu, dia tadi reflek berteriak begitu lampu padam, "Ehh, itu gak apa-apa kok, cuma tadi saya kaget saja karna lampu tiba-tiba padam."


"Ohh begitu, tak fikir ada apaan." ujar ibu Naya lega.


"Disini memang begitu mantu, sering terjadi pemadaman listrik bergilir." ayah Naya menjelaskan.


"Apa yang terjadi mas." Naya yang baru datang bertanya, tangan kanannya membawa lampu senter sedangkan tangan kirinya membawa gelas berisi kopi.


"Tidak apa-apa Nay, nak Lio hanya kaget saja karna tidak terbiasa dengan suasana gelap begini."


"Ohh, kirain."


"Ya udah, ibu ambilkan lilin dulu supaya tidak gelap."


"Iya bu."


****


Besoknya.


"Mas, ngapain bengong sieh, ayok mandi sana, ntar kita telat lagi ke nikahannya Eli."


Lio memandang sumur yang ada didepannya, iya untuk mandi dia harus menimba terlebih dahulu, selama kurang lebih dua puluh empat jam banyak hal diluar dugaan yang dialaminya, mulai dari tidur tanpa AC dan digigit banyak nyamuk, sholat berjamaan dimasjid kampung yang membuatnya jadi pusat perhatian orang kampung yang selalu berkata, "Itu suami Naya, kasep pisan." tentu saja kalimat itu membuatnya bangga merasa dirinya paling ganteng dikampung, dan saat ini dia harus nimba, Lio bener-bener merasa kembali kezaman primitig dimana manusia dalam melakukan apapun hanya mengandalkan tenaga tanpa menggunakan listrik.


Lio menunjuk katrol penarik gayung, "Nimba gitu."


"Ya iyalah, kalau mas punya kekuatan pengendali air seperti Katara mas gak perlu nimba, cukup gerak-gerakin saja tangan mas, bussss, langsung deh tuh air muncratt ke atas ." Naya bercanda.


"Gue lagi gak dalam mode bercanda." tandasnya kesal.


"Iya maaf."


Lio mendekati sumur, mencoba melihat kedalam, "Dalam juga nieh sumur, kalau kecemplung kayaknya kecil kemungkinan bakalan selamat." ujarnya membatin.


"Ini gimana caranya."


Naya menepuk keningnya, "Dasar orang kota, nimba aja gak bisa."


Seseuatu hal yang wajar sebenarnya mengingat Lio yang dibesarkan dengan kemewahan, dan dirumah besarnya hampir semua aktifitas mengandalkan tenaga listrik.


"Gini mas." Naya mencontohkan, tangannya diletakkan ditali untuk menurunkan timba, "Nah, setelah airnya terisi, mas tinggal tarik talinya, seperti ini." sambil menarik tali untuk mengangkat timba berisi air.


"Nahh seperti, bisakan mas." ujarnya begitu dia berhasil menimba.

__ADS_1


"Kelihatannya sieh gampang."


****


__ADS_2