
"Boy boy, cukup, lo udah minum terlalu banyak." Renal salah satu sahabat Boy sejak SMA yang kini tengah menamani Boy di club menahan tangan Boy yang akan menenggak minuman beralkohol, sudah tidak terhitung berapa gelas minuman haram itu sudah masuk ke lambung Boy sehingga membuatnya teler.
Boy menepis tangan Renald, "Apaan sieh lo, gue mau minum." Boy kembali menegak minuman tersebut.
Renal menggeleng, mereka bersahabat lumayan lama, sedikit tidaknya Renal tahu penyebab Boy seperti ini.
"Apa Boy di tolak oleh Naya ya." fikir Renal.
Renal tahu tentang Naya, karna sebagai sahabat, Boy selalu bercerita banyak hal padanya, termasuk saat dirinya tengah menyukai seorang wanita.
Renal tahu, hanya masalah wanitalah yang membuat sahabatnya ini sampai lepas kendali dengan mengkonsumsi alkohol begini.
"Boy, sudah cukup sialan, gue tidak sanggup menggendong elo kalau sampai pingsan." Renal mengambil paksa gelas minuman yang ada ditangan Boy dan menjauhkannya dari jangkauan Boy.
"Serahin minuman gue sialan, gue membutuhkan minuman itu."
Namun Renal tidak mempedulikan ocehan Boy.
Saat seperti itu, dibalik suara berisik club dan hingar bingar suara musik yang berdentum kencang, Renal samar-samar mendengar suara deringan ponsel milik Boy dari saku jaketnya.
Tanpa minta izin Renal merogoh kantong jaket Boy dan mengambil ponsel milik sahabatnya itu.
Keningnya mengerut saat melihat nama Leta tertera dilayar.
"Leta." gumamnya, tadi Renal berfikir yang menelpon adalah mamanya Boy, "Ngapain Leta nelpon Boy jam segini."
Meski agak bingung, Renal menjawab panggilan Leta.
"Boy."
"Hai Leta, ini gue Renal."
"Renal, kenapa lo yang ngejawab telponnya Boy, Boynya mana, dan lo pada ada dimana sieh, kok berisik." tanya Leta bertubi-tubi.
"Kami ada club Ta, Boy....." Renald melirik sahabatnya itu sejenak sebelum menjawab pertanyaan Leta, "Tuhh anak teler."
"Astagaaa, apa yang terjadi sampai Boy seperti itu Re."
"Patah hati sepertinya." jawab Renal enteng tanpa sadar apa pengaruhnya bagi Leta.
"Patah hati." ulang Leta.
"Ini cuma dugaan gue doank sieh, karna sepanjang gue kenal sama Boy, hanya masalah perempuanlah yang membuatnya sampai minum-minum diluar batas begini."
"Boy patah hati karna siapa Re." suara Leta terdengar agak sedih saat mengetahui Boy minum-minum karna cewek.
"Sepertinya sieh oleh wanita bernama Naya."
__ADS_1
"Mbak Naya." suara Leta terdengar kaget.
"Ta, sudah dulu deh ya, gue mau bawa sik Boy balik ke apartmennya dulu sebelum dia keburu tidak sadarkan diri."
"Ohh oke."
*****
Lio tidak bisa memejamkan matanya, padahal jam digital diponselnya sudah menunjukkan angka 01.30.
"Sialan, gue gak akan bisa tidur sebelum mengelus perut Naya." rutuknya frustasi.
Dibalik gelapnya kamar, matanya terus menatap ke tubuh Naya yang terbaring ditempat tidur.
"Naya sudah tidur belum ya." tanyanya pada diri sendiri.
"Nayy." panggilnya untuk memastikan.
Karna tidak ada sahutan, Lio meyakini kalau Naya sudah tidur, dia bangun dari sofa dan dengan langkah pelan berjalan ketempat tidur, dorongan untuk tidur seranjang dan memeluk Naya begitu kuat sehingga dia nekat untuk menghampiri Naya yang saat ini tengah tertidur lelap.
Lio menyingkap selimut dengan pelan dan masuk ke dalam selimut.
"Maafkan aku Nay, tapi aku hanya ingin memelukmu dan mengelus perutmu." bisiknya sebelum melingkarkan tangannya dipinggang Naya.
Naya menggeliat pelan saat merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya, tapi hal itu tidak sampai membuatnya bangun.
"Tidurlah, aku akan menjagamu dan anak kita Naya." janji Lio sambil mengelus perut Naya dibalik baju tidurnya.
Lio tersenyum bahagia karna keinginannya terwujud, kini dia bisa berada didekat anaknya dan diapun bisa tidur nyenyak.
****
Naya memakai gaun putih cantik selutut, flower crown melingkar dikepalanya, Naya berada disebuah tempat yang tidak dia kenali, sebuah tempat yang indah dan dipenuhi oleh berbagai jenis bunga.
"Aku ada dimana." bingung Naya melihat sekelilingnya.
"Bundaaa." teriak suara anak kecil memangilnya.
Ditengah kebingungannya itu, dua anak kecil, laki-laki dan perempuan dengan pakain serba putih dan dengan senyum mengembang berjalan menghampirinya, dua anak kecil, cantik dan tampan itu berjalan sambil bergandengan tangan.
Salah satunya dari kedua anak kecil itu Naya kenal, "Bulan." gumamnya melihat anak angkatnya tersebut, gadis kecil itu begitu cantik dengan gaun putih yang membalut tubuh mungilnya.
"Bundaaa." sapa kedua anak itu kompak saat mereka berada di dekat Naya.
Naya tersenyum hangat menyambut kedua anak itu, dia duduk berjongkok untuk mensejajarkan dirinya dan kedua anak imut itu.
"Hai sayangg." Naya mengelus kepala kedua anak itu, Naya menatap anak laki-laki tampan yang datang menghampirinya bersama Bulan, tanpa bisa dijelaskan, Naya tiba-tiba merasa sangat menyayangi anak laki-laki itu, "Sayang, siapa anak laki-laki yang kamu gandeng ini." tanyanya pada Bulan tanpa memutus kontak pada anak laki-laki tampan yang kini ada dihadapannya, Naya merasa anak laki-laki itu mirip dengan seseorang.
__ADS_1
"Bunda, masak bunda tidak kenal, dia dedek yang ada dalam perut bunda." jelas Bulan.
"Ini aku bunda, masak bunda tidak kenal."
"Anakku." Naya menyentuh pipi anak itu dan meraihnya dalam pelukannya, "Anakku, ini kamu sayang, maafkan bunda yang tidak mengenalimu."
"Nayaaa." suara familiar itu membuat Naya terpaksa melepas pelukannya, dia menoleh ke arah sumber suara yang memangilnya, suara yang begitu sangat familiar ditelinganya.
"Mas Lio."
Naya melihat Lio berpakaian serba putih seperti dirinya, Lio membawa buket bunga mawar putih, Lio begitu sangat tampan dalam balutan pakaian serba putih yang dia kenakan.
Naya berdiri.
"Kamu sangat cantik Naya." puji Lio dan itu membuat Naya tersipu sehingga membuat pipinya memerah.
Lio lalu menyerahkan buket bunga yang dibawanya pada Naya, yang diterima dengan rasa haru oleh Naya.
"Ini buat Naya mas."
Lio mengangguk dan meraih tangan Naya dan menggenggamnya, "Naya." panggilnya dengan suara lembut.
Dipanggil dengan begitu lembut membuat Naya merinding, perlahan dia memberanikan diri menatap mata suaminya itu, Lio menatapnya dengan tatapan penuh cinta, pandangan itu membuat jantung Naya berdetak cepat, dia rasanya ingin meleleh, apalagi saat Lio mendekatkan tangannya dibibirnya.
"Nayaaa, aku mencintaimu, maukah kamu hidup bersamaku dan menemaniku sampai maut memisahkankan."
Naya menganga, tidak pernah membayangkan kalau Lio akhirnya mengatakan kalimat itu, Naya mau tentu sangat mau.
"Kita akan hidup bahagia dengan anak-anak kita yang lucu-lucu."
Naya otomatis menoleh pada kedua anaknya yang menatap mereka dengan senyum mengembang.
Tanpa perlu berfikir Naya menjawab, "Aku mau mas, aku mau hidup bersamamu dan anak-anak kita sampai maut memisahkan."
Mereka berdua tersenyum lebar dan saling berpelukan, Naya merasa bahagia sangat bahagia, sampai dia meneteskan air mata.
Disaat momen indah seperti itu, Naya terbangun, dia merasa kecewa karna itu hanyalah sebuah mimpi, mimpi yang diluar kesadarannya membuat air matanya menetes, "Ya Allah, ternyata itu hanya mimpi, alangkah bahagianya aku kalau mimpi itu menjadi kenyataan." Naya menghapus air matanya, sampai ketika dia meraskan sebuah tangan kekar melingkar erat memeluk perutnya.
"Ini tangan......."
Naya berbalik, sinar bulan yang masuk dari balik celah gorden membuat Naya bisa melihat wajah teduh suaminya yang tengah terlelap.
"Mas Lio." gumam Naya karna tidak menyangka Lio akan memeluknya.
tangannya dengan sendirinya terangkat mengelus pipi suaminya yang agak kasar karna ditumbuhi oleh bulu-bulu halus, "Mas Lio, kenapa kamu tidur disini." gumamnya memandang suaminya lekat, "Apa kamu tidur sambil berjalan sampai membuat kamu tidur disini."
Naya agak merasa aneh karna dia tidak merasa mual, biasanyakan saat berada didekat Lio, dia pasti akan mual-mual dan muntah hebat, "Anehh, kok tumben aku tidak mual." herannya.
__ADS_1
Pandangan Naya kemudian terarah pada bibir suaminya, entah dorongan darimana sehingga dia mendekat dan mengecup bibir suaminya, mata Naya melebar karna bertepatan dengan itu, Lio membuka matanya.
*****