
Setelah berjuang dengan susah payah dan mengetes kelayakan rasa supaya aman untuk istri dan calon bayinya, kini Lio dengan bangga menghidangkan seporsi nasi goreng dengan telur ceplok yang masih mengepulkan uap panas diatas meja.
"Nasi goreng spesial untuk istri dan calon bayiku tersayang." serunya meletakkan sepiring nasi goreng dihadapan Naya.
Lio sebelumnya tidak pernah memasak dan dia pastinya tidak bisa memasak, tapi demi untuk Naya dan calon buah hatinya, dia berusaha keras dan sampai melihat tutorial cara membuat nasi goreng di youtube.
"Yeeyyyy." Naya bertepuk tangan sembari memandang nasi goreng yang masih panas itu dengan penuh minat, perutnya semakin meronta-ronta ingin segera minta diisi.
Naya menjilat bibirnya, "Kelihatannya enak mas."
Dengan tidak sabar Naya meraih sendok dan bersiap menyuapkan nasi goreng tersebut ke mulutnya, namun sebelum sendok itu menyentuh bibirnya, Lio menahannya, "Jangan buru-buru, masih panas itu Nay." Lio kemudian mengambil alih sendok yang ada ditangan Naya dan mendekatkan sendok berisi nasi goreng itu ke bibirnya dan meniupnya, "Di tiup dulu agar tidak panas."
Naya terharu melihat perlakuan Lio, matanya jadi berkaca-kaca.
"Aaaaa." Lio kemudian mengarahkan sendok tersebut ke mulut Naya setelah dirasa aman untuk lidah.
Dengan patuh Naya membuka bibirnya menerima suapan dari suaminya.
"Gimana rasanya." tanya Lio harap-harap cemas, dia berharap Naya menyukai nasi goreng buatannya. Meskipun tadi sudah mencicipi sendiri rasanya dan menurutnya rasa nasi goreng buatannya enak, tapi tidak menjaminkan Naya akan menyukainya karna tiap orang memiliki indra pengecap yang berbeda.
"Enak mas." ucap Naya tanpa berfikir, "Mas pinter juga masaknya."
"Syukurlah kamu suka." desah Lio lega, "Aku sempat was-was lho tadi kalau kamu gak suka."
"Aku suka kok mas, makasih ya karna mas Lio telah bersusah payah tengah malam buta begini membuatkan Naya nasi goreng."
Lio tersenyum, "Tidak perlu berterimakasih Naya, itu sudah jadi tugasku menjadi suami yang siaga saat kamu hamil begini."
Naya mengangguk, saat ini dia benar-benar merasakan bagaimana rasanya diperhatikan dan disayang oleh suami.
"Ayok habiskan nasi gorengnya." Lio kembali mengarahkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Naya.
Naya kembali membuka bibirnya, meskipun dia bisa makan sendiri, tapi untuk saat ini, dia ingin bermanja-manja dan membiarkan Lio yang menyuapinya.
****
Besok paginya saat masuk waktu shubuh, Naya berusaha membangunkan Lio yang tidur sambil memeluknya dari belakang.
"Mas." Naya membangunkan dengan suara halus dan mesra sambil menggerakkan tangan Lio yang melingkari perutnya, "Ayok bangun sholat shubuh."
"Hmmm." Lio hanya menggeliat dan malah semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Naya.
"Mas Lioooo, ayok bangun mas."
Dengan suara serak Lio menjawab, "Aku masih ngantuk Nay, lima menit lagi ya." tawarnya.
"Gak bisa mas, ayok bangun sekarang, kita sholat shubuh berjamaah."
Dengan berat hati Lio bangun dengan mata terpejam dan berkata, "Baiklah." tapi cium dulu supaya ngantukku hilang." pintanya.
"Ehhh, apaan sieh mas, jangan aneh-aneh deh." wajah Naya memerah mendengar permintaan suaminya.
__ADS_1
"Astagaa, apanya yang aneh sieh, mencium suami sendiri itu tidak aneh sayang, itu sesuatu hal yang wajar." seru Lio, "Ayok cium dulu."
Meski malu, tapi Naya melakukan apa yang diminta oleh Lio, dengan cepat dia mengecup pipi suaminya.
"Bukan yang itu Nay, tapi yang ini." Lio menunjuk bibirnya.
"Aduhhh mas Lio ada-ada saja." desis Naya menggaruk tengkuknya karna malu.
"Tunggu apa lagi Nay."
"Hmmm." dengan ragu Naya mendekat dan menempelkan bibirnya dibibir Lio, saat dia akan menarik bibirnya, Lio malah menahan tengkuknya dan memperdalam ciumannya, mata Naya melebar, tapi itu hanya sesaat sebelum dia memejamkan matanya dan membalas ciumannya suaminya.
Nafas Naya tersenggal begitu Lio mengakhiri ciuman tersebut, Lio tersenyum dan menyentuh bibir Naya, "Tiap pagi bangunkan aku dengan cara seperti ini supaya aku bangun dengan penuh semangat."
Wajah Naya blushing, dia seperti gadis remaja yang pertama jatuh cinta saja, selalu malu-malu dengan pipi memerah saat mendengar Lio mengucapkan kata-kata mesra.
"Ya sudah yuk, kita sholat shubuh berjamaah sekarang." Lio mengajak Naya dengan menarik tangan Naya turun dari tempat tidur.
*****
"Sini mas aku bantuin pakai dasinya." ucap Naya mengambil alih dasi dari tangan suaminya saat Lio tengah bersiap-siap pergi ke kantor.
Lio tersenyum dan meraih pinggang Naya supaya menempel ditubuhnya, dia kemudian mengecup pipi istrinya dengan mesra.
"Mas Lio, apaan sieh." Naya bersemu malu saat dicium begitu.
Lio terkekeh dan mengacak-ngacak puncak kepala istrinya, "Kamu kenapa selalu menggemaskan gini sieh sayang, jadi pengen aku kotakin dan bawa ke kantor."
"Aku tidak akan dicekik lagikan seperti waktu itu."
Naya terkekeh mengingat kejadian saat pertama kali dia memasangkan dasi untuk Lio, "Naya sudah bisa mas."
Dan benar saja, Naya bisa memasang dasi itu dengan sempurna dikerah kemeja suaminya, "Nahh, sudah selesai mas."
"Hmmm." Lio merapatkan tubuhnya dan memeluk Naya, "Aku malas pergi ke kantor, aku ingin dirumah saja Nay bersama kamu." gumamnya manja.
"Kalau mas tidak ke kantor, siapa yang ngurus perusahaan."
"Kan ada Rafa, anak itu selalu bisa diandalkan."
"Kasihan mas Rafanya mas kalau mas Lio ngelimpahin beban pekerjaan mas kepadanya."
"Benar juga."
Kini mereka benar-benar terlihat seperti pasangan suami istri yang berbahagia dan saling mencintai.
"Sayang." ujar Lio, "Bolehkan aku manggil kamu sayang."
Naya mengangguk malu, "Boleh mas."
"Aku akan menemui Cleo hari ini, untuk mengakhiri hubunganku dengannnya."
__ADS_1
"Cleo pasti akan sakit hati mas."
"Sepertinya begitu, tapi setelah aku menjelaskan semuanya, dia pasti akan mengerti."
Naya mengangguk, "Bicara baik-baik ya mas, jangan sampai kalian bertengkar."
"Iya." jawab Lio pasti.
"Apa kamu mau nitip sesuatu Nay, kamu mau makan apa gitu yang mau aku bawain setelah aku pulang kantor nanti."
"Aku hanya ingin mas pulang dengan selamat."
"Itu pasti sayang, aku akan pulang untukmu dan dedek bayi yang ada disini." Lio mengelus perut Naya.
"Mas, ayok kita turun sarapan sekarang, aku sudah lapar." intrupsi Naya, saat hamil dia jadi gampang kelaparan.
Lio mengangguk, dan menggandeng tangan istrinya untuk turun ke bawah, begitu mereka tiba didepan tangga Lio berkata, "Nay, sepertinya kita perlu pindah kamar deh."
"Memangnya kenapa mas." tanya Naya heran mendengar usul suaminya itu.
"Aku hanya tidak mau kamu kelelahan karna naik turun tangga setiap hari, apalagi saat ini kandunganmu rentan keguguran."
"Insaallah Naya dan dedek bayi sehat dan kuat mas, jadi mas Lio tidak perlu khawatir oke, hanya turun naik tangga kami akan baik-baik saja."
"Beneran kamu tidak akan kenapa-napa."
"Iya mas, percaya deh sama Naya." Naya mencoba menyakinkan.
"Apa aku buat lift saja ya."
"Astaga mas Lio, itu tidak perlu."
Setelah diyakinkan sedemikian rupa oleh Naya, akhirnya ide pindah kamar atau membuat lift tidak jadi, namun karna rasa khawatirnya dengan Naya dan bayinya tidak urung nembuat Lio menggendong Naya untuk turun ke bawah, meskipun Naya menolak, tapi Lio yang keras kepala tidak mendengarkan penolakan Naya.
Saat mereka tiba dimeja makan dengan Lio yang masih menggendong Naya, tentu saja membuat seisi rumah yang sudah berkumpul dimeja makan bertanya dengan khawatir.
"Naya kenapa Lio, apa dia sakit atau terjadi apa-apa dengan kandungannya." pertanyaan dari kakek Handoko khawatir.
"Bunda, bunda sakit ya." Bulan mengulangi pertanyaan kakek buyutnya.
Sedangkan mama Renata menatap tidak suka melihat adegan tersebut, "Apa-apaan anak itu, kenapa dia harus menggendong gadis kampung itu segala, memangnya dia tidak bisa jalan apa pakai digendong segala." desah mama Renata.
Naya yang menjawab kekhwatiran kakek Handoko dan anak angkatnya begitu Lio mendudukkannya, "Naya tidak apa-apa kakek, mas Lionya saja yang lebay, masak hanya turun tangga doank mas Lio fikir Naya akan capek."
Namun ternyata kakek Handoko memiliki fikiran yang sama dengan cucunya, "Lio benar juga, kamu memang tidak boleh capek Naya, naik turun tangga begitu bisa membuat kamu kelelahan, dan kalau kamu kelelahan itu bisa berpengaruh sama kandungan kamu, dan kakek tidak mau terjadi apa-apa sama calon cicit kakek, kalian harus pindah ke bawah."
"Astagaa, cucu dan kakek sama-sama lebaynya." gumam Naya dalam hati.
"Itu juga yang aku katakan sama Naya kek, tapi Naya bersikeras bilang tidak apa-apa dan tetap tidak ingin pindah kamar."
Lagi-lagi Naya harus menjelaskan kalau dia baik-baik saja bahwa dia tidak akan kenapa-napa meskipun kamar mereka ada dilantai dua dan mereka tidak perlu pindah kamar, dan pada akhirnya kakek Handoko bisa diyakinkan.
__ADS_1
****