
"Jorok amet sieh lo." protes Lio melihat ulah Galuh yang menyemburkan minuman yang ada dimulutnya.
"Maaf mas, habisnya pahit banget." lirih Naya.
"Emangnya minuman apaan sieh yang dibawain bi Dijah."
Naya menggeleng, "Gak tahu mas."
"Coba sini gue lihat."
Naya menyodorkan gelas yang berisi setengah dari jamu pengantin tersebut, "Minuman apaan sih ini." iseng-iseng Lio mencicipi tuh minuman, dan selanjutnya yang terjadi adalah,
"Hoek." menjulurkan lidahnya kayak orang muntah, "Anjirr pahit banget." dia langsung meneguk air putih yang tersedia samping tempat tidur.
"Buang." perintah Lio.
Naya hanya mengangguk.
Karna kecapean dengan serangkain acara pernikahannya dari pagi sampai malam, setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih nyaman, Lio membanting tubuhnya ditempat tidur empuknya.
"Matiin lampu." perintah Lio.
"Matiin lampu, apa maksud mas Lio nyuruh aku matiin lampu, apa dia akan melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami." khawatir dalam hati, Naya sangat tahu kewajibannya sebagai istri yaitu melayani suaminya, tapi fikirnya tidak bisakah Lio membiarkannya beradaptasi dulu sebelum menyerangnya.
"Heh, lo budek apa, matiin lampu." ujar Lio gak sabaran.
Naya gemetaran, "M..as, tidak bisakah kita menundanya dulu."
"Nunda gimana, gue udah kebelet ini."
"Eh, tapi mas aku belum siap."
"Belum siap gimana maksud lo, lo tinggal berjalan menghampiri seklar lampu dan teken deh tuh tombolnya."
"Aku, aku."
"Jangan bilang lo gak bisa matiin lampu."
"Bisa mas."
"Ya udah matiin sana, gue mau tidur, gue gak bisa tidur dengan lampu menyala." yang dimaksud kebelet barusan adalah kebelet ingin tidur.
__ADS_1
"Eh, maksud mas, lampunya bener-bener dimatiin gitu."
"Dasar begok, jadi dari tadi lo gak nangkap apa yang gue omongin, berapa sieh nilai bahasa indonesia lo."
"Maksud aku mas, mas bukannya ingin begitu kan." Naya malu mengungkapkan kalimat tersebut.
"Begitu gimana maksud lo, ngomong yang jelas."
"Ya itu mas, melakukan hubungan suami istri."
Lio mengernyitkan keningnya, "Lo fikir gue bakalan nidurin lo gitu."
Naya mengangguk polos.
Lio tertawa, bukan tertawa karna ada yang lucu, ini jenis tawa yang sifatnya meremehkan, "Meskipun lo berstatus sebagai istri gue, jangan harap gue bakalan cinta sama lo, asal lo tahu, gue nikahin lo karna kakek, bukan karna gue mau, lihat diri lo, gadis kampungan." ujar Lio pedas.
Naya menunduk sedih, dia sudah menerima nasibnya dan sudah menerima dengan lapang dada pernikahannya, dia juga sangat berusaha keras menghilangkan perasaannya sama Wahyu, karna dia tahu mencintai laki-laki lain ketika memiliki suami itu dosa.
"Dan satu lagi yang lo perlu tahu, gue punya kekasih, dan lo gak ada apa-apanya dibandingin kekasih gue, jadi, buang jauh-jauh harapan lo ingin disentuh sama gue."
Air mata Naya menggenang dipelupuk matanya, dia tidak menyangka dimalam pertama pernikahannya dia mendapat rasa sakit ini, Naya fikir Lio akan seperti dirinya yang menerima perjodohan ini dengan lapang dada dan menerima dirinya. Saat ini yang Naya perlu sadari kalau setiap orang itu berbeda.
Setelah mengucapkan kalimat menyakitkan itu, Lio kembali tidur tanpa merasa bersalah sedikitpun, namun dia kembali bangun ketika menyadari dirinya melupakan sesuatu.
Mengalir deras bulir-bulir bening yang sejak tadi ditahan oleh Naya, karna tidak ingin Lio melihatnya menangis, dia buru-buru menuju seklar dan mematikan lampu, Naya nangis dalam diam ditengah gelapnya kamar pengantinnya.
*****
Sedikit tidaknya, setelah bangun tidur membuat perasaan Naya lebih baik, seperti kebiasaannya, Naya bangun jam lima shubuh, disini jelas berbeda dengan dikampungnya, dikampung jam segitu terdengar lantunan merdunya azan shubuh yang memanggil penduduk desa untuk menghadap rabnya, sekaligus untuk memulai hari yang baru yang membawa harapan baru.
Naya beranjak dari sofa dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhi guna melaksanakan kewajibannya. Begitu selesai memanjatkan doa dan mengusap kedua telapak tangannya, Naya melirik ke arah tempat tidur dimana laki-laki jahat yang berstatus sebagai suaminya tidur pulas.
Naya berjalan menghampiri Lio? "Wajahnya sieh emang ganteng, tapi hatinya kayak setan." lirih Naya tidak melepaskan pandangannya pada Lio yang tengah terlelap dalam buaian mimpi.
"Bangun kan tidak ya." Naya menimbang, "Tapi kalau dia marah gimana." Naya ragu, "Bodo amet ah, aku lebih takut Allah yang marah daripada dia." atas pemikiran tersebut Naya membangunkan Lio, "Mas, bangun sholat shubuh dulu." Naya membangunkan dengan nada yang halus, dan ternyata itu tidaklah berpengaruh, jangankan bangun, bergerak saja Lio kagak, "Mas, bangun mas, sholat lebih baik daripada tidur." dengan volume suara yang agak meninggi, "Mas, mas." menowel-nowel lengan Lio, masih gak ada respon, sepertinya Lio adalah tipe penganut tidur kebo.
"Ihh, kebo banget sieh mas Lio."
Naya punya inisiatif lain, dia mengambil air dari kamar mandi kemudian memercikkannya diwajah Lio.
Perlahan tapi pasti Lio mulai membuka matanya, difikirnya kamarnya bocor, namun dia langsung berang setelah mengetahui kalau itu adalah kerjaannya Naya.
__ADS_1
"Apa yang lakukan hah." bentaknya langsung terduduk.
Naya menunduk, "Maaf mas, habisnya mas susah dibangunin, terpaksa Naya memercikkan air ke wajah mas."
"Ngapain lo bangunin gue segala, gak punya kerjaan banget sieh lo, pagi-pagi buta begini bikin tensi darah gue tinggi saja." setelah marah-marah begitu Lio kembali membaringkan tubuhnya setelah dengan susah payah Naya membangunkannya.
"Eh mas, kenapa tidur lagi."
Dengan kejengkelan level 5 Lio berkata, "Terus, gue harus apa, dan saat ini gue tengah cuti gara-gara nikahin elo, jadi gue manfaatinlah waktu gue untuk tidur sepuas-puasnya."
"Hmmm, sholat mas."
"Sholat." ulang Lio seakan-akan pertama kalinya mendengar kata sholat.
"Iya, sholat shubuh mas."
Selama ini tidak pernah ada yang mengingatkannya tentang sholat, ini untuk pertama kalinya ada yang memperingatkannya.
"Malah bengong, sana mas ambil wudhu dulu ntar keburu waktu shubuh habis lagi."
Tanpa protes Lio melakukan apa yang disuruh oleh Naya.
****
Karna Naya orangnya tidak bisa diam, setelah misi membangunkan Lio berhasil, kini dia beralih ke dapur, begitu dia sampai didapur, dia menemukan bi Ijah yang tengah sibuk-sibuknya menyiapkan sarapan.
"Pagi bi." sapa Naya.
"Eh, nona muda, pagi juga, kok sudah bangun non." heranlah bi Dijah, pasalnya semua majikan dirumah besar itu jarang yang bangun shubuh-shubuh begini.
"Iya bi, udah kebiasan dikampung soalnya." ujar Naya, "Ada yang bisa Naya bantuin gak." Naya menawarkan bantuan.
"Gak perlu non, nona mending duduk saja."
"Gak apa-apa ko bi, dikampung Naya biasa bantuin ibu masak, masak Naya tega ngebiarin bibik yang sudah tua ini kerja sendirian sementara Naya duduk-duduk saja."
"Tapi sekarangkan beda non, non Naya sekarang kan sudah jadi Nyonya rumah, jadi wajarlah kalau nona duduk-duduk saja."
"Naya tidak melihat perbedaannya bi, Naya tetaplah Naya yang mau membantu bi Dijah masak."
"Ya sudah kalau nona memaksa."
__ADS_1
****