
Suasana hati yang buruk karna diputuskan secara sepihak oleh Cleo tentu saja berdampak pada urusan pekerjaan, sejak kedatangannya dikantor sampai siang ini, Lio terus saja marah-marah pada karyawannya yang hanya melakukan kesalahan kecil.
"Dasar gadis bodoh, hal sekecil ini saja kamu bisa salah ketik, heran saya, siapa seih yang menerima kamu kerja disini." amuknya pada karyawannya yang hanya salah ketik berkas yang akan dia tanda tangani.
"Maafkan saya pak, saya akan memperbaikinya." karyawan wanita tersebut berusaha menahan tangisnya karna dia dibentak sedemikian rupa seolah-olah telah menggelapkan uang perusahaan dengan nominal milyaran, padahal dia hanya melakukan kesalahan kecil saja.
Lio membanting berkas yang tadi diperiksanya dengan kasar dimeja membuat sik karyawan itu berjengit kaget, "Kamu memang harus memperbaikinya kalau tidak ingin dipecat secara tidak hormat."
"Ba baik pak, saya akan segera memperbaikinya." sik karyawan mengambil berkas yang dilempar oleh bosnya itu dengan tangan gemetar.
"Apalagi yang kamu tunggu, cepat keluar dari ruangan saya."
"Iya pak saya permisi." begitu berbalik, gadis yang rapuh itu tidak bisa lagi menahan air matanya, dia menunduk sembari mengusap air matanya dengan punggung tangan, hal tersebut tidak luput dari perhatian Rafa yang kebetulan berpapasan dengan gadis tersebut saat dirinya akan memasuki ruangan Lio.
Rafa menggeleng, dia yakin Liolah yang menyebabkan sik gadis menangis gara-gara suasana hati sik bos yang tengah galau.
Tanpa mengetuk Rafa langsung masuk ke ruangan direktur utama, indra penglihatannya langsung disambut oleh wajah bosnya yang merah padam, kentara sekali kalau Lio habis marah-marah.
"Lo marahin karyawan tadi sampai membuatnya menangis begitu, memang apa sieh yang dia lakukan sampai lo marahin dia sampai nangis begitu, fatal kesalahannya." tembaknya begitu memasuki ruangan itu.
Lio mendengus kasar, "Dia memang seharusnya gue marahin, melakukan hal kecil saja dia tidak becus."
"Hanya karna hal kecil lo marahin anak orang sampai nangis begitu, astagaa Lio, lo itu bener-bener deh."
"Justru itu, hal kecil saja dia gak becus, apalagi kalau melakukan hal yang lebih besar lagi, kapan majunya perusahaan kalau karyawan tidak kompten begitu."
Rafa mendesah berat, tahu penyebab sahabatnya begini hanya karna Cleo, masalah kecil jadinya dibesar-besarin, "Lio, tolong deh, urusan pribadi lo jangan dibawa ke kantor, profesional donk lo." nasehat Rafa memposisikan dirinya sebagai sahabat dan memanggil Lio dengan panggilan lo gue saat berdua.
Mendengar kalimat Rafa membuat Lio menjadi berang, "Jangan ikut campur lo Raf, lo itu karyawan disini, bawahan gue, jangan sok-sok nasehatin gue, lagian gue marahin karyawan tadi itu tidak ada hubungannya dengan masalah pribadi gue."
Kalimat yang cukup menyakitkan, namun Rafa menarik nafas, berusaha untuk bersikap tenang dan tidak emosi menanggapi ucapan sahabatnya tersebut, 10 tahun bersahabat dengan Lio membuatnya sedikit banyak mengenal Lio yang sering meledak-ledak jika memilki masalah, dan hebatnya seorang Rafa adalah, dia bisa tenang menghadapi amarah Rafa dan tidak membalas dengan amarah, "Oke, sorry kalau gue terkesan menasehati lo." nahkan, dia memilih mengalah daripada harus adu mulut dengan sahabatnya tersebut.
Mendengar balasan Rafa itu membuat Lio sedikit menyesal karna telah membentak sahabatnya itu, Lio mengakui apa yang dikatakan oleh Rafa benar adanya, tidak seharusnya dia mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan masalah pribadi, tapi entah kenapa dia tidak bisa mengontrol emosinya, apalagi saat ini Cleo tidak bisa dihubungi, kenyataan tersebut semakin membuatnya uring-uringan.
"Lo gak salah Raf, lo benar, gue tidak seharusnya membawa masalah pribadi dalam urusan pekerjaan, terimakasih karna telah memperingatkan gue." ujarnya mengakui kesalahannya.
"Nope, gue ngerti kok."
Lio menyandarkan kepalanya disandaran kursi direktur kebanggaannya, merebahkan kepalanya yang terasa berat karna dipenuhi oleh permasalahan tentang Cleo.
"Cleo masih belum bisa dihubungi sampai sekarang." Rafa duduk dikursi yang berhadapan dengan Lio.
Lio mengangguk lemah, "Dia sepertinya bener-bener ingin ninggalin gue Raf, apa yang harus gue lakuin, gue bener-bener cinta sama dia, gue gak ingin kehilangan dia."
"Lo sudah benar-benar dibutakan oleh gadis bernama Cleo Lio." dengus Rafa dalam hati.
"Lio, apa gue boleh ngasih lo saran."
"Hmmm, katakanlah Raf."
"Selama ini lo yang selalu ngejar-ngejar Cleo dan saat kalian bertengkar, lolah yang selalu meminta maaf meskipun Cleo yang salah, kentara sekali lo itu cinta mati sama Cleo."
__ADS_1
"Gue memang cinta mati sama dia." potong Lio membenarkan ucapan Rafa
"Tapi lo sadar atau tidak, cinta lo yang berlebihan itu membuat Cleo merasa diatas angin dan seenaknya sama lo, dia tahu saat dia bilang putus, lo akan mengejarnya dan mohon-mohon minta balikan."
"Memang itu yang akan gue lakukan."
"Denger dulu Lio, jangan potong ucapan gue." jengkel Rafa karna sejak tadi Lio terus memotong ucapannya, "Sekali-kali lo cuekin dia, lo jangan nyari dia dan jangan mohon-mohon untuk minta balikan sama dia."
"Jangan nyaranin yang aneh-aneh deh lo."
"Lo coba saja dulu saran gue Adelio, gue yakin, dia yang akan berbalik nyariin lo."
"Ohh ya, kenapa lo bisa berfikiran begitu."
"Ya karna selama inikan lo selalu menuruti apapun yang dia inginkan, tidak ada laki-laki diluar sana yang seroyal lo, lo beliin dia apertmen, barang-barang mewah, bahkan langitpun kalau dijual lo akan beliin untuk dia, jadi, gue yakin, gadis seperti Cleo, tidak mungkin melepas lo begitu saja, ini hanya akal-akalannya saja yang sok-sok'an mutusin lo."
"Kata-kata lo itu mengindikasikan kalau Cleo itu seolah-olah mencintai gue karna harta."
"Memang itu kenyataannya sapi, lo aja yang terlalu cinta sampai tidak bisa melihat hal itu." kalimatnya yang hanya diucapkan dalam hati mengingat mengatakan kenyataan ini secara langsung pasti akan menyakiti Lio, Rafa hanya memperhalus kalimatnya, "Yahh itu wajar, mengingat hampir semua cewek menginginkan calon pendamping yang mapan, yang bisa memenuhi kebutuhannya."
"Hmmm." Lio terlihat berfikir.
"Jadii Lio, bagaimana."
"Gue akan mencoba saran lo, gue tidak akan menghubungi Cleo beberapa hari meskipun itu berat."
"Itu adalah langkah yang tepat Lio, gue yakin, Cleolah yang akan nyariin lo terlebih dahulu." ucap Rafa dengan penuh keyakinan.
****
"Jadi orang tua itu tidak enak ya Naya, hanya bisa berbaring dan merepotkan saja." desah kakek Handoko dengan keadaannya.
"Siapa bilang kakek merepotkan, memang kakek diusia senja begini sudah waktunya banyak istirahat dan dilayani, dan Naya akan selalu siap untuk melayani kakek kapanpun kakek butuhkan." sambil memijit-mijit tangan kakek Handoko lembut.
Kakek Handoko tersenyum tipis mendengar jawaban cucu menantu kesayangannya, dia bersyukur karna telah memenuhi janjinya untuk menjodohkan cucunya dengan cucu almarhum sahabatnya, karna Naya selain cantik juga memiliki kecantikan yang berasal dari dalam, menurut kakek Handoko sieh, Naya itu paket komplit, "Terimakasih ya cucuku."
Naya melirik pada kakek Handoko, "Terimakasih untuk apa kakek."
"Semenjak ada kamu dirumah, kakek jadi tidak kesepian lagi, kakek ada teman untuk ngobrol, ada yang mendengarkan cerita kakek, dan pastinya ada yang perhtian sama kakek."
"Kan ada mas Lio dan mama Renata kek sebelum Naya ada disini."
"Akhhh, Renata dan Lio, mereka itu lebih sayang sama pekerjaannya daripada kakek, mereka jarang dirumah, hanya khawatir saat jantung kakek kumat." curhatnya seperti anak kecil.
"Jangan ngomong begitu kek, mas Lio dan mama Renata itu pasti sangat menyayangi kakek melebihi siapapun, hanya saja mungkin mereka tidak bisa meninggalkan pekerjaan mereka, tapikan sekarang ada Naya yang nemenin kakek kapanpun kakek butuhkan, jadi, kakek jangan bersedih ya." Naya mencoba menghibur laki-laki tua yang terlihat murung itu.
"Hmmm, kakek akan tambah bahagia kalau kamu punya anak Naya, rumah besar ini akan ramai oleh tawa anak kecil."
Kalau sudah mengungkit masalah anak, tentu saja Naya tidak bisa berkutik.
"Jadi, kamu kapan rencananya dan Lio akan pergi ke pantai asuhan untuk mencari anak untuk diadopsi."
__ADS_1
"Itu..." Naya terdiam sesaat, "Terserah mas Lionya saja kek, mungkin nanti kalau mas Lio sudah tidak sibuk kami akan ke panti."
"Besok."
"Besok apa kek." tanya Naya tidak mengerti.
"Besok kamu dan Lio harus pergi ke panti, makin cepat makin baik." putus kakek Handoko tanpa bisa dibantah.
****
Leta tersenyum lebar begitu melihat Boy melambaikan tangan ke arahnya, cowok itu beridiri didepan sebuah mobil diarea parkiran.
Melihat cowok tersebut, Rani dan Ayu yang merupakan teman seangkatan Leta menggoda, "Heii siapa cowok tampan itu, dia cowok lo Ta." tanya Rani begitu melihat Boy.
"Bukan, hanya teman." jawab Leta dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
"Teman tapi mesra nieh maksudnya." goda Ayu melihat senyum mereka dibibir Leta.
"Kalian jangan menggodaku." Leta malu-malu.
"Cieee Leta, wajahnya memerah tuh."
"Cieee yang sebentar lagi punya pacar."
Makin heboh deh tuh Rani dan Ayu menggoda.
"Akhh kalian."
"Ehh di kesini nieh."
"Sudah mending kalian pergi sana."
"Lhaa, kok kami diusir, lo gak mau ngenalin calon pacar lo nieh ke kita."
"Iya nanti, belum saatnya, kalian sebaiknya pergi." usir Leta, tidak mau keberadaan dua sahabatnya itu mengganggunya dengan Boy.
"Oke deh, sepertinya lo gak mau diganggu, oke deh kalau gitu Ta, kami duluan."
Rani dan Ayu berjalan menjauh sambil melambai.
"Hai." sapa Boy saat didepan Leta.
"Haii boy, lo ngapain dikampus gue."
"Ngapain lagi, jemput lolah, gue mau ngajak lo jalan."
"Ngajak gue jalan." sumpah Leta tidak bisa menyembunyikan rasa antusiasnya, hal itu membuatnya mengutuk diri sendiri dalam hati, "Astaga Arleta, lo jangan terlihat banget gitu deh senengnya diajak jalan sama Boy, ntar dia kegeeran lagi."
"Iya, lo keberatan ya."
"Gak gak, gue gak keberatan."
__ADS_1
"Baguslah."
****