
"Mas Wahyu." gumam Naya begitu Wahyu sudah ada dihadapannya.
Wahyu tersenyum, senyum tulus, dia tidak membenci Naya sama sekali, meskipun Naya meninggalkannya, Wahyu tahu Naya melakukan itukan karna terpaksa.
"Kamu apa kabar Nay." tanyanya dengan sorot mata penuh kerinduan yang terpencar jelas dari kedua bola matanya.
Naya malah sesenggukan, "Maafkan aku mas, maafkan aku, hiks hiks." kedua pipinya kini sudah menganak sungai.
Wahyu menepuk bahu Naya pelan, "Sudah Nay, berhenti merasa bersalah, aku tidak pernah menyalahkan kamu apalagi membenci kamu, ini adalah takdir yang sudah ditetapkan oleh yang maha kuasa."
Mendengar kata-kata Wahyu mampu membuat Naya sedikit tenang.
"Sudah ya Nay, jangan nangis lagi, sayang lho bedaknya luntur kalau nangis." Wahyu berusaha untuk bercanda.
Naya tersenyum kecil, "Mas Wahyu memang laki-laki yang baik, dia tidak pernah membenci dan pendendam, semoga mas Wahyu mendapat yang jauh lebih baik dari aku kelak." harap Naya dalam hati.
"Aku tidak nyangka bisa ketemu sama kamu lagi Nay."
"Naya juga tidak menyangka mas, ternyata kita bertemu kembali."
"Aku senang bisa melihat kamu lagi, Nay." ujar Wahyu, dia tidak menyangka ternyata bisa bertemu dengan wanita yang pernah dia cintai yang pernah berjanji untuk menunggunya kembali, namun ternyata takdir tidak mengizinkan mereka untuk bersama.
"Aku juga mas."
Mereka sama-sama tersenyum satu sama lain.
"Naya, walaupun kita tidak bisa bersama, bisakah kita menjadi teman."
Naya mengangguk, "Iya mas, Naya setuju."
"Oh ya mas, mas ngapain disini." tanya Naya.
"Kamu tidak lihat seragam aku."
"Mas Wahyu kerja disini."
Wahyu mengangguk, "Yang bersama dengan kamu itu suami kamu, tampan ya Nay." simpul Wahyu.
"Bukan mas, itu cuma teman, mas Lio suami aku masih dikantor."
"Ohhh."
"Naya."
"Iya."
"Apa kamu bahagia."
"Iya mas." bohong Naya, mana bisa dia bahagia kalau suaminya mencintai wanita lain, tapi tidak mungkin jugakan dia curhat masalah rumah tangganya sama mantannya, "Naya bahagia." ucapnya dengan nada yang meyakinkan.
__ADS_1
"Syukurlah, aku ikut bahagia kalau kamu bahagia Nay." ucapnya tulus dari lubuk hati yang paling dalam.
"Apa mas sudah punya pacar."
Wahyu terkekeh, "Mana ada gadis kota yang mau sama pelayan kayak aku Nay, gadis-gadis kota tidak seperti gadis dikampung, gadis kota menginginkan laki-laki kaya, pekerja kantoran seperti suami kamu."
"Jangan bilang begitu mas, tidak semua wanita menyukai laki-laki karna hartanya, mas memiliki hati yang baik dan tulus, Naya yakin mas Wahyu akan mendapatkan wanita yang benar-benar mencintai mas Wahyu."
"Amin"
Terdengar suara derap langkah mendekati mereka.
"Naya, kamu ngapain disini, aku sejak tadi nungguin kamu lho, aku fikir terjadi apa-apa dengan kamu." itu adalah Boy yang datang menyusul Naya karna tidak kunjung kembali.
Naya langsung menghapus sisa air matanya begitu Boy datang menghampirinya, hal tersebut tidak luput dari perhatian Boy yang membuat perhatiannya kemudian terarah pada laki-laki yang saat ini tengah bersama dengan Naya.
"Dia siapa Nay, apa dia berbuat jahat sama kamu sampai buat kamu nangis begini." tunjuk Boy suudzon, wajarlah dia bertanya begitu melihat mata Naya yang sembab, kelihatan jelas kalau Naya habis menangis.
Wahyu memandang Boy tidak suka, apalagi dia langsung dituduh begitu.
"Mmm bukan mas, ini mas Wahyu, dia.." Naya terdiam sesaat, karna tidak mungkin mengatakan kalau Wahyu adalah mantan kekasihnya, jadinya Naya berkata, "Mmm, mas Wahyu ini teman Naya dari kampung dan dia bekerja direstoran ini." Naya mencoba menjelaskan, "Dan yah aku agak terharu saja bertemu dengan teman kampung di kota besar, makanya sampai menitikkan air mata, hehehe." bohongnya untuk mengelabui Boy.
Dan Boy percaya dengan apa yang dikatakan oleh Naya, "Ohh, teman, aku fikir yahh, tadii...maaf ya."
"Gak apa-apa." jawab Wahyu.
"Saya Wahyu."
"Senang bertemu dengan kamu Wahyu."
"Hmmm." respon Wahyu merasa apa yang dikatakan oleh laki-laki bernama Boy hanya sekedar basa-basi saja.
Boy beralih pada Naya, "Nay, mending kita balik sekarang."
"Iya mas."
"Mas Wahyu, aku pamit ya."
Wahyu mengangguk, dan menatap ke arah Boy, "Boy, titip Naya ya."
"Dia siapa sieh sebenarnya, kayak dia pacarnya Naya saja pakai nitip-nitip segala." selidik Boy, namun akhirnya dia berkata, "Iya, jangan khawatir, Naya akan aku antar sampai selamat."
"Aku pergi dulu mas." pamit Naya.
"Hati-hati Nay."
Naya mengangguk dan berjalan meninggalkan Wahyu yang terpaku ditempatnya menyaksikan kepergian Naya.
"Ya Allah." desahnya dengan dada sesak, "Berikanlah hambamu ini keikhlasan melepas gadis yang hamba cintai hidup bersama dengan laki-laki lain."
__ADS_1
****
"Nay, laki-laki yang tadi itu sebenarnya siapa." Boy kembali bertanya karna yakin antara Naya dan Wahyu bukan hanya sekedar teman biasa.
Dengan jawaban yang sama Naya kembali menjawab, "Teman mas."
"Beneran cuma teman, atau dia itu..."
"Cuma teman mas." tandas Naya penuh penekanan berharap Boy mengerti kalau dia tidak mau membahas tentang Wahyu karna itu hanya membuatnya sedih.
"Ohh."
Meskipun tidak percaya, namun Boy tidak berusaha lagi mencecar Naya, dia cukup tahu diri dan ingat batasan.
Dan sepanjang jalan mereka lebih banyak diam sampai tidak terasa sekarang sudah sampai didepan gerbang besar rumah keluarga Rasyad.
"Makasih mas, mas sebaiknya pulang, udah malam." ucap Naya sebelum turun.
Bukannya pulang seperti yang dikatakan oleh Naya, tidak disangka, Boy juga ikutan turun.
"Mas mau ngapain." tanya Naya karna melihat Boy ikutan turun, Naya fikir Boy akan langsung pulang, karna sudah malam, jadi tidak mungkin untuk menawarkan Boy untuk mampir, takut jadi fitnah nantinya.
Mengabaikan pertanyaan Naya, Boy berkata, "Iya aku ngerti Nay, sudah malam, jadi gak baik jugakan mampir, takutnya nanti digrebek warga karna difikir berbuat yang gak gak." serunya seolah-olah bisa membaca fikiran Naya.
"Iya mas." Naya membenarkan.
"Tapi kapan-kapan aku bolehkan mampir."
Sebelum Naya sempat menjawab, pendar lampu mobil yang berhenti tidak jauh didepan mereka menyorot wajah Naya dan Boy, membuat Naya memicingkan mata karna biasnya yang menyilaukan.
"Mas Lio." desis Naya begitu mengetahui pemilik mobil tersebut.
****
Lio membuka pintu mobil dengan kasar dan membantingnya, sejak kemarin moodnya memburuk gara-gara kata putus yang dideklarasikan secara sepihak oleh Cleo, hari inipun moodnya tidak lebih baik mengingat dia mencoba saran dari Rafa yang ternyata malah menyiksa batinnya, dan ditambah lagi yang membuat amarahnya memuncak adalah melihat perempuan yang berstatus istrinya berduaan dengan laki-laki lain didepan mata kepalanya sendiri. Seharusnya sieh Lio tidak perlu marah mengingat dia tidak mencintai Naya, apalagi Naya tidak melakukan hal-hal aneh dengan Boy, mereka murni hanya ngobrol, tapi entah kenapa, Lio hanya ingin melampiaskan amarahnya pada seseorang, dan kebetulan melihat Naya ngobrol bersama dengan laki-laki yang tidak dia kenal, Lio fikir wajar kalau dia marah sama Naya sebagai suaminya.
Dengan langkah lebar dan wajah mengeras karna menahan amarah Lio mendekati Naya.
"Mas Lio...."
Belum selesai Naya menyelsaikan ucapannya, lengannya dicengkram dengan sangat kuat oleh Lio, perlakuan Lio yang cukup kasar tentu saja menyakiti Naya, Naya hanya bisa meringis manahan sakit merasakan kuku Lio dikulitnya.
"Dari mana saja kamu hah, jam segini baru pulang, pergi berdua bersama laki-laki lagi." bentak Lio.
"Aku, aku hanya..."
Beranggapan kalau laki-laki yang kini ada dihadapannya adalah saudara Naya, Boy mencoba untuk menjelaskan, "Maaf mas, sebenarnya kami tidak pergi berdua, kami pergi bertiga bersama Leta, dan kami tidak ngapa-ngapain."
****
__ADS_1