
"Sampai bersih kinclong gitu rantangnya." sindir Naya melihat makan siang yang dibawakannya untuk Lio bersih tak bersisa, "Katanya gak doyan makanan kampung, tapi habis juga ternyata, enak banget ya masakan Naya."
Memang yang Naya masak masakan rumahan sieh seperti sayur asem, tempe, tahu dan ikan goreng dan lengkap dengan sambal terasi, entah memang masakan Naya yang enak atau Lionya yang kelaparan atau bisa jadi dua-duanya sehingga tanpa sadar semua habis tak bersisa.
Dan yang namanya Lio gengsi donk mengakui kalau masakan Naya enak, makanya dia berkilah, "Biasa aja."
Naya mendengus, "Biasa aja tapi sampai sebutir nasipun gak bersisa."
"Itu karna makanan yang lo bawain buat gue sedikit ya langsung habislah." kilahnya.
Naya tidak menanggapi, dia memilih menyusun rantang yang sudah kosong tersebut karna dia akan pulang.
"Lo dianter pak Ridwan kemari."
"Iya." menjawab singkat.
Dan setelah semuanya dibereskan, Naya pamit pulang, "Naya pulang dulu ya mas." Naya meraih tangan Lio dan menciumnya layaknya istri berbakti.
"Ihhh, padahal aku sudah cium tangannya, kenapa dia gak bilang hati-hati dijalan, seenggaknya meskipun bukan dari hatinya, tapi gak apa-apakan hanya basa-basi doank bilang begitu." desis Naya dalam hati karna tidak ada respon sama sekali dari Lio.
Naya berjalan menuju parkiran dimana pak Ridwan tengah menunggunya disana, namun Lio malah mengikutinya bukannya masuk ke kantor.
"Kenapa mas malah ngikutin Naya."
"Gue mau nganterin lo."
"Ohhh." lirih Naya singkat difikirnya Lio hanya mengantarnya hanya sampai parkiran saja, tapi begitu sampai diparkiran.
"Pak, bapak pulang saja duluan, biar Naya saya yang anterin." ujar Lio pada pak Ridwan.
"Baik tuan."
"Mas mau nganterin Naya pulang." Naya memastikan.
"Iya."
"Naya pulangnya sama pak Ridwan saja mas, lagiankan mas harus kerja."
"Gampanglah itu, ntar Rafa yang ngurus kerjaan gue."
"Gak bisa gitu donk mas, kasihan mas Rafanya, kerjaannya mas Rafa jadi numpuk kalau harus mengerjakan pekerjaan mas juga."
"Guekan bosnya, jadi itu memang tugasnya Rafa menghandle pekerjaan gue kalau gue ada pekerjaan lain."
"Pekerjaan lain." ulang Naya heran.
"Ya nganterin istri salah satunya adalah pekerjaankan, dan bukan hanya pekerjaan biasa, tapi itu pekerjaan muliakan."
Gak bermaksud menggombal sebenarnya, tapi pipi Naya jadi bersemu gitu mendengar kalimat Lio, "Bisa aja mas Lio." lirih Naya malu dan senyum-senyum.
"Jadi bagaimana ini tuan, apa non Naya pulangnya sama tuan." pak Ridwan mengintrupsi.
"Iya, pak Ridwan balik duluan saja."
"Baik tuan."
Begitu mobil yang dibawa oleh pak Ridwan keluar dari parkiran, Lio melangkah menuju mobilnya.
"Kenapa masih berdiri disitu, ayok." tegur Lio karna melihat Naya belum beranjak dari tempatnya berdiri.
"Kemana."
"Ya pulanglah, gue anterin."
"Oh iya." Naya menyusul Lio.
"Bisakan buka pintu mobilnya." canda Lio melihat Naya terlihat ragu membuka pintu mobil mahal miliknya.
"Bisa mas."
__ADS_1
Begitu mereka sudah duduk dengan nyaman ditempat masing-masing, Lio memperingatkan,
"Pakai juga seatbelnya, itu penting untuk keselamatan."
"Pakai apa mas, bel, untuk apa bel dipakai." Naya salah tangkap.
"Seatbel Naya, ini nieh." Lio meraih seatbel yang ada disamping kursinya.
"Ohh, sabuk pengaman toh maksud mas Lio."
"Bisakan makainya."
"Bisalah."
"Baguslah, gue fikir harus ngajarin lo dulu cara pakainya."
"Mas gak perlu ngelakuin itu, karna Naya udah diajarin sama mas Rafa." beritahu Naya sambil menarik seatbelt tersebut melingkari tubuhnya.
"Yang benar donk masangnya, jangan meleyot leyot begini." Lio mendekat memperbaiki, setelah memakaikannya dengan benar dia berkata, "Nah, ini baru benar, cara yang diajarin Rafa itu salah."
"Naya tahu mas, Nayakan mau memperbaikinya tadi, tapi keduluan sama mas." ujar Naya membela Rafa.
"Bisa aja lo ngejawabnya."
Sebelum menjalankan mobilnya, Lio terlebih dahulu menelpon Rafa.
"Raf, lo handle pekerjaan kantor dulu deh."
Dari seberang terdengar suara keberatan Rafa, "Lo pasti mau ketemu Cleokan, kalau lo melakukan hal itu, gue kagak mau, masak lo pergi happy-happy gue malah kerja rodi dengan segudang pekerjaan yang seharusnya jadi tanggung jawab lo."
Meskipun Naya tidak bisa mendengar suara Rafa, namun Lio memberi peringatan pada Rafa, "Kecilin suara lo begok, saat ini gue tengah bersama Naya."
Sehingga mendengar ucapan Lio Naya bertanya, "Kenapa mas."
"Gak apa-apa."
"Anjirr lo ya, mau mati."
Naya nimbrung lagi mendengar kata mati, "Innalillahiwainnailahirojiun, siapa yang mati mas."
Lio membalas kesal, "Gak ada yang mati, lo bisa gak diam aja, jangan nyambung melulu kayak XL."
"Maaf mas."
Lio kembali ke pembicaraanya dengan Rafa, "Gue mau nganterin Naya begok, makanya gue nyuruh lo ngehandle pekerjaan gue."
Akhirnya Rafa berkata, "Baiklah kalau begitu, tapi jangan lama-lama, jangan nyetak anak dulu baru lo balik ke kantor."
"Mesum aja fikiran lo."
"Lagian lo tumben banget, biasanya cuek setengah hidup sama Naya, sekarang lo pakai sok-sok nganterin, padahalkan Naya datangnya dengan sopir, kenapa gak lo biarin Naya diantar balik oleh sopir."
"Gue gak perlu jawab pertanyaan lo kan." tandas Lio.
"Tapi....."
"Udah ah, lo jangan banyak protes, lo lakuin aja apa yang gue suruh."
"Yahhh." Nada Rafa terdengar pasrah, "Gue bisa apa, kalau gue nolak ntar gaji gue lo potong."
"Nahhh, baguslah kalau paham."
Setelah menyelsaikan memberikan titah maha penting pada tangan kanannya itu, Lio mulai menjalankan mobilnya.
"Mas Rafa sepertinya keberatan mas."
"Meskipun dia keberatan dia bisa apa, guekan bosnya jadi bebas main perintah."
"Gak boleh gitu lho mas." Naya menasehati, "Memanfaatkan jabatan untuk menindas orang lain dosa."
__ADS_1
"Duhhh, susah memang kalau bicara sama gadis polos dan alim, selalu bawa-bawa dosa, jadi takut matikan gue." batin Lio, yang dia lisankan adalah, "Iya iya, tapi inikan kondisinya beda, guekan harus nganterin lo karna berhubung gue udah nyuruh pak Ridwan pulang, sekarang gak mungkinkan gue nurunin lo disini."
"Iya juga sieh."
Lio memencet tombol dimobilnya, dan secara otomatis atap mobilnya terbuka, sehingga Naya yang baru pertama kali melihat mobil yang atapnya bisa terbuka begitu beraksi heboh, "Aaa." tunjuknya antusias, "Kok bisa kebuka mas, ya ampun keren banget." Naya sampai berdiri gitu saking takjubnya.
Lio menarik tangan Naya supaya terduduk kembali, "Duduk, jangan malu-maluin gue."
"Maaf mas, hehe." Naya melihat sekelilingnya, kepadatan jalan raya dan gedung bertingkat yang sangat jelas dikiri kanan jalan.
Naya memejamkan mata menghirup udara sebanyak-banyaknya, "Sejuk ya mas, kayak naik mobil pick up gitu."
"Sejuk apaan, udara penuh polusi itu yang lo bilang sejuk."
Namun Naya tidak mengindahkan kalimat Lio karna dia lebih fokus melihat kiri-kanan jalan dengan antuias melihat pemandangan kota Jakarta yang ditanami oleh bangunan-bangunan pertokoan dan gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi.
Lio menghentikan mobilnya diparkiran sebuah toko.
"Kenapa berhenti mas." tentu saja Naya bertanya.
"Ada sesuatu yang mau gue beli." jawabnya, "Lo mau turun atau nunggu disini."
"Naya ikut mas." membuka pintu mobil dan menyusul Lio.
Lio berjalan diantara deretan rak yang memajang berbagai macam barang, sedangkan Naya disampingnya memegang keranjang. Lio menjangakau satu pak rokok dan meletakkanya dikeranjang yang dibawa oleh Naya.
Naya meraih rokok itu, memandang Lio sebelum mengajukan pertanyaan, "Kenapa beli rokok sebanyak ini."
"Sebagai persedian." menjawab acuh.
"Kata guru biologi Naya, ngerokok itu bisa bikin paru-paru rusak dan cepat mati."
"Gue tahu."
"Kenapa masih ngerokok."
Jawab Lio simpel, "Ngerokok mati, gak ngerokok mati, jadi mending ngerokok aja sampai mati."
Naya hanya mendelik kesal mendengar jawaban yang dilontarkan Lio.
"Gak ada yang mau lo beli gitu, pembalut atau obat nyeri haid." ujarnya melihat Naya tidak mengambil apapun.
"Gak, lagian yang dibeliin mas Rafa waktu itu masih banyak."
"Lo gak mau beli yang lain kalau gitu."
"Mas yang bayarinkan."
"Iya."
Naya kemudian mengambil beberapa macam cemilan dan menaruhnya dikeranjang yang dibawanya.
Karna gak ada lagi yang dibutuhkan, Lio berniat untuk kekasir membayar belanjaanya, namun langkahnya terhenti ketika bola matanya tertuju pada botol kecil yang didepannya tertulis, "Minyak urut."
Dan tanpa fikir panjang Lio mengambil sepuluh botol sekaligus.
"Itu buat apa mas." tanya Naya.
Lio mendekatkan bagian depan botol didepan mata Naya, "Lo bisa bacakan, ini minyak urut." tekan Lio.
"Naya tahu mas, tapi untuk apa minyak urut sebanyak ini."
Lio mengeluarkan senyum evilnya sebelum menjawab, "Kayaknya badan gue lebih sering pegel-pegel sekarang, dan lo sepertinya bakalan punya tugas mijitin gue setiap saat."
"Aku ini istrimu mas, bukan tukang pijit." protes Naya.
"Istri merangkap tukang pijit."
****
__ADS_1