Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
KEDATANGAN CLEO


__ADS_3

"Lioooo."


Lio yang saat itu baru kembali ke ruang kerjanya dikagetkan dengan suara yang sangat familiar.


Dia menoleh ke arah pintu dan menemukan Cleo berdiri disana.


"Cleo." gumam Lio tidak mempercayai penglihatannya saat melihat gadis tersebut setengah berlari menghampirinya.


Dan barulah saat Cleo menubruk tubuhnya dan melingkarkan tangannya dipinggangnya, saat itulah Lio yakin sepenuhnya kalau gadis tersebut adalah Cleo bukan bayangan semu semata.


"Lioo." rengek gadis itu.


"Akhh, dia nyata ternyata." desah Lio saat wangi parfum Cleo menusuk hidungnya.


"Maafkan saya pak, saya sudah menahan.....oh." Rani yang merupakan asistennya langsung bungkam saat melihat adegan tersebut.


"Kan aku sudah bilang kalau aku itu pacar bos kamu, kalau aku suruh Lio mecat kamu baru tahu rasa kamu." bentak Cleo sewot karna asisten Lio tidak mengizinkannya masuk ke ruangan Lio.


"Maafkan saya, maafkan saya mbak, pak, saya bener-bener tidak tahu kalau mbaknya pacarnya pak Lio." takutlah Rani mendengar ancaman tersebut, karna apa yang dilihatnya saat ini cukup membuktikan kalau gadis tersebut merupakan pacar bosnya.


Lewat matanya Lio memberikan kode meminta asistennya tersebut untuk pergi.


"Sekali lagi maafkan saya pak, saya permisi." Rani menutup pintu.


Tadi Rani tidak membiarkan Cleo masuk meskipun Cleo mengatakan kalau dia adalah pacarnya Lio, ya jelaslah Rani tidak percaya mengingat bosnya itu sudah punya istri. Sampai ketika gadis itu mendorongnya dan menerobos masuk ke ruangan bosnya dan Rani harus melihat adegan mesra tersebut.


Dan kini Rani jadi kesal sendiri setelah melihat adegan pelukan didepan matanya itu, "Pak Lio selingkuh, astagaa, aku tidak bisa percaya ini, pak Lio ternyata hidung belang juga." clotehnya berpraduga, "Kasihan sekali istrinya pak Lio, ihhh, kesel gue meskipun bukan gue yang diselingkuhi, kasihan sekali istri pak Lio dia pasti sakit hati banget kalau tahu pak Lio main gila dengan perempuan lain, ihhh, semoga saja kehidupan rumah tanggaku nanti jauh dari yang namanya pelakor." ucapnya penuh harap sambil berjalan ke meja kerjanya.


Kembali ke pertemuan dua insan manusia yang sudah lebih satu minggu tidak pernah bertemu.


"Aku kangen kamu Lio, kamu jahat, kamu tidak mencariku, kamu mengabaikan telponku, kamu sudah bosan ya denganku." rajuk gadis itu manja.


Tanpa ragu Lio membalas pelukan kekasihnya, atau lebih tepatnya mantan kekasih karna mereka belum balikan. Meskipun beberapa hari ini Lio tidak terlalu ingat sama Cleo, tapi begitu berada dihadapan gadis tersebut, Lio merasakan kerinduan yang sangat.


"Aku tidak pernah bosan dengan kamu Cle, kamu sendiri yang memutuskan aku secara sepihak dan mengabaikan chat dan panggilanku." Lio membela diri atas tuduhan yang dilayangkan Cleo padanya.


"Itu karna kamu jahat sama aku, kamu tidak pernah menghubungiku selama kamu bersama istri kampungan kamu itu, dan aku berharap kamu mencariku dan meminta maaf, tapi kamu malah mengabaikan aku, apa kamu sudah mulai jatuh cinta dengan istri kamu itu."


"Iya iya aku minta maaf honey, bukannya aku mengabaikan kamu, hanya saja dikampung tidak ada sinyal, itu kenapa aku tidak pernah menghubungi kamu." Lio menjelaskan, "Dan aku cinta kamu, dan aku tidak akan pernah mencintai Naya."


"Benarkah, kamu tidak bohongkan."


"Kapan aku pernah bohong sama kamu." ucap Lio, "Kami berjanji akan bercerai setelah tahun pernikahan, selama itu, maukah kamu menungguku."


"Setelah itu apa kamu akan menikahiku."


Lio mengangguk, "Tentu."


"Tentu saja aku akan sabar menunggumu." lisan Cleo, "Karna kamu adalah tambang emasku, sampai kapanpun kamu tidak akan pernah aku lepaskan." tambahnya dalam hati.

__ADS_1


Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat melepas rasa rindu yang membuncah.


****


"Ini kantor ayah bunda." Bulan memandang takjub gedung bertingkat yang ada dihadapannya.


Naya tersenyum, Bulan persis dirinya saat pertama kali datang ke Jakarta, selalu takjub dengan apa yang dilihatnya, "Iya, ini kantor ayah sayang."


"Tinggi ya bunda."


"Iya." jawab Naya sabar, "Ayok Bulan kita masuk." ajak Naya mengulurkan tangannya untuk digandeng oleh Bulan.


"Ayok bunda, Bulan tidak sabar melihat ayah." semangat Bulan meraih tangan ibu angkatnya.


"Pak Ridwan, tunggu kami disini ya." Naya menoleh ke arah pak Ridwan.


"Baik nona."


Dengan tangan kanan menggandeng Bulan dan tangan kiri membawa rantang makan siang, Naya berjalan memasuki kantor suaminya, tadinya sieh Naya tidak berniat untuk membawakan Lio makan siang mengingat laki-laki itu selalu menolak bekal makan siang yang dibawakan olehnya, tapi atas desakan Bulan akhirnya Naya membawakan Lio bekal makan siang juga, dan Naya berharap Lio memakannya tanpa ada drama seperti sebelum-belumnya.


"Selamat siang bu Naya." sapa sekuriti sopan dan ramah begitu Naya dan Bulan akan memasuki pintu masuk.


"Siang pak." jawab Naya tidak kalah ramah.


"Ibu mau ketemu pak Lio." tanyanya basa-basi.


"Iya pak, mas Lionya adakan."


"Kalau begitu saya masuk dulu ya pak."


"Iya bu."


Naya dan Bulan keluar begitu lift yang membawa mereka ke lantai dimana ruangan direktur utama berada.


"Nahh, ini lantai dimana ruangan ayah berada." Naya memberitahu.


"Wahhh keren bunda, ayah ruangannya dilantai yang tinggi."


Rani yang berada dimejanya panik begitu melihat istri bosnya tiba-tiba datang.


"Ibu Naya, astagaaa, bagaimana ini."


Rani berdiri menyambut kedatangan istri bosnya, "Selamat siang bu." sapa Rani gugup saat Naya berdiri didepannya.


"Siang."


"Ibu cari bapak." padahal bukan dia yang melakukan kesalahan, eh kok malah dia yang tegang.


"Iya, mas Lionya adakan."

__ADS_1


"Ada bu tapi....."


"Nayaaa, hai." tegur Rafa saat melihat Naya.


"Mas Rafa." Naya tersenyum saat melihat sahabat suaminya tersebut.


"Dan gadis cantik ini pasti Bulankan." serunya melihat gadis kecil yang digandeng oleh Naya.


Gadis kecil itu terlihat malu-malu mendengar Rafa mengatakannya cantik, "Iya om, aku Bulan, kok om tahu."


Rafa menunduk supaya sejajar dengan Bulan, "Tahu donk sayang, tadi om lagi sama ayah kamu saat kamu nelpon dan ayah kamu menceritakan tentang putri cantiknya yang menggemaskan ini." ujar Rafa sembari mencubit pipi Bulan.


Wajah Bulan bersemu merah.


"Nah, lebih baik kita masuk sekarang menemui ayahmu anak cantik, om yaki ayahmu sudah tidak sabar bertemu denganmu"


"Baik om."


"Apa mau om gendong anak cantik." Rafa menawarkan.


Bulan menggeleng, "Bulan sudah gede, tidak mau digendong."


"Anak pintar."


"Ayok Nay kita temui Lio." ajaknya.


"Baik mas." mereka bertiga kemudian berjalan ke arah pintu ruangan Lio.


Rani terlihat frustasi, "Astagaaa, pasti bakalan ribut besar nieh kalau bu Naya memergoki suaminya selingkuh."


Tanpa mengetuk terlebih dahulu, Rafa langsung membuka pintu, dan pemandangan yang tidak diharapkan yang menyambut indra penglihatan mereka.


"Cleo." desis Rafa, matanya melebar, "Sejak kapan gadis itu ada disini."


Naya mematung melihat suaminya memeluk wanita lain didepan matanya dengan mesra, "Cleo, apa gadis itu Cleo, gadis yang dicintai oleh mas Lio." tanya Naya pada diri sendiri.


Sakit dan sesak, itulah yang dirasakan oleh Naya saat Lio memberitahunya kalau dia sudah punya kekasih dan berniat untuk menceraikannya, saat mengetahui hal itu, dia berusaha menerimanya dengan lapang dada, tapi melihat laki-laki yang masih berstatus sebagai suaminya itu berpelukan dengan wanita yang dia cintai didepan matanya sendiri, tentu saja sakitnya berkali-kali lipat seolah-olah ada ratusan paku berkarat yang menancap di hatinya. Meski begitu, Naya berusaha untuk menguatkan hatinya, "Yang kuat Naya, kamu harus kuat, kamu harus terbiasa menerima keadaanmu, terimalah kenyataan kalau suamimu mencintai wanita lain dan tidak akan pernah bisa mencintaimu."


"Ya Tuhan, bagaimana perasaan Naya melihat suaminya memeluk wanita lain." Rafa melirik ke arah Naya, Rafa tahu Naya sakit melihat hal tersebut, dan melihat wajah Naya yang terlihat tenang, Rafa yakin Naya berusaha untuk terlihat baik-baik saja.


Disaat Naya dan Rafa tidak ada yang memberitahu kedatangan mereka, Bulanlah yang memilih buka suara dan meneriakkan kata, "Ayahhhh."


Dua orang yang saling berpelukan tersebut langsung memisahkan diri saat mendengar suara anak kecil.


"Naya, Bulan." desis Lio langsung menatap mata Naya, bola mata hitam polos itu terlihat terluka, dan entah kenapa hal itu membuat Lio merasa bersalah terhadap Naya.


Sedangkan Bulan, anak kecil dan polos yang tidak mengerti apa-apa itu dengan riangnya berlari ke arah Lio dan merentangkan tangannya untuk memeluk ayah angkatnya tersebut, Lio berjongkok dan menyambut kedatangan Bulan.


Bulan langsung menubruk tubuh ayah angkatnya dan mengalungkan tangan mungilnya dileher ayahnya, Lio mengangkat tubuh Bulan dan menggendongnya.

__ADS_1


****


__ADS_2