Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
AKU GAK BOLEH CEMBURU


__ADS_3

Sepanjang hari itu keluarga kecil tersebut menghabiskan waktu dengan bersenang-senang, mengabadikan setiap momen membahagiakan tersebut dalam sebuah foto.


Bulan seperti yang dia katakan saat sebelum berangkat, dia bermain pasir dan membuat istana pasir, mencari kerang dan membentuknya menjadi sebuah kalung dan gelang.


Sedangkan Naya hanya memperhatikan putri angkatnya dari jarak beberapa meter dengan duduk lesehan ditikar yang memang sudah dibawa dari rumah, sesekali Bulan melambaikan tangan ke arah bundanya dan mengangkat-ngangkat sebuah kalung kerang yang belum sepenuhnya jadi sempurna seolah-olah menunjukkan hasil karyanya.


Sedangkan Lio suaminya sejak setangah jam yang lalu entah kemana keberadaannya Naya tidak tahu.


Naya sangat menikmati indahnya pemandangan laut yang terbentang luas sejauh mata memandang, hembusan halus angin laut menampar lembut pipinya dan menerbangkan rambutnya, hatinya begitu damai dengan suasana yang begitu sangat tenang. Ditengah menikmati indahnya ciptaan Tuhan, Naya merasakan ada sesuatu yang tiba-tiba berada diatas kepalanya, dia mendongak dan menemukan senyum mengembang dari wajah Lio yang menunduk menatap ke arahnya, tangan Lio memasang sebuah mahkota dari bunga liar yang dia rancang sendiri.


"Mas Lio." Naya meraba mahkota bunga yang terpasang dengan sempurna dikepalanya.


Lio kemudian duduk disamping istrinya.


"Ini......"


Lio meraih tangan Naya dan mengarahkannya ke bibirnya, "Kamu adalah ratu dihatiku, ratu tercantik yang tidak akan pernah tergantikan sampai kapanpun."


Wajah Naya jadi bersemu gitu mendengar kata-kata manis dari sang suami, "Aku mencintaimu Nay."


"Aku juga mencintaimu mas."


Mereka terlihat begitu bahagia, seakan-akan dunia hanya milik mereka berdua, dan untuk sesaat mereka melupakan masalah yang tengah mereka hadapi.


Dan saat menjelang sore hari, Lio memutuskan untuk mengajak keluarganya kembali ke Jakarta karna tidak ingin kemalaman dalam perjalanan.


Bulan tertidur dikursi belakang, dia sepertinya kelelahan karna seharian bermain air dan berlarian kesana kemari, kalung dan gelang kerang hasil karyanya tersimpan rapi dalam tas kecil miliknya.


Sebelum menstater mobilnya, Lio mengaktifkan ponselnya yang dia matikan selama menikmati waktu berharganya dengan keluarga kecilnya, dia mematikan ponselnya karna tidak mau kebersamaannya dengan Naya terganggu, baik oleh urusan pekerjaan, (Biasalah bos, meskipun hari minggu tapi ada saja hal yang harus dia urus berkaitan dengan pekerjaan.) dan lebih-lebih lagi Lio tidak ingin diganggu oleh rengekan Cleo, pasalnya gadis itu sejak tadi pagi memborbardirnya dengan mengirim pesan bertubi-tubi, dia ingin inilah, ingin itulah dengan mengatasnamakan bayi yang tengah dikandungnya, pokoknya keinginannya tidak ada habis-habisnya deh, tapi pesan-pesan tersebut diabaikan oleh Lio.


Dan saat Lio mengaktifkan ponselnya, lebih dari puluhan pesan menyerbu masuk ke ponselnya, Lio mengabaikan karna yakin pesan itu dikirim oleh Cleo, pesan yang tidak penting fikir Lio.


"Mas, HPmu bunyi terus, kenapa malah kamu cuekin." komen Naya saat melihat suaminya itu meletakkan ponselnya didasbord tanpa membaca pesan-pesan masuk tersebut.


"Gak penting Nay." jawabnya santai.


"Ya dilihat dulu donk mas, siapa tahu gitu penting, mas Lio belum lihat kok sudah menyimpulkan kalau itu tidak penting."


Lio yakin pesan-pesan itu tidak penting karna memang semuanya dikirim oleh Cleo.


"Beneran tidak penting kok Nay, percaya deh sama aku." Lio meyakinkan.


"Emang itu pesan dari siapa sieh."


"Chat dari grup teman-teman kuliahku." jawabnya bohong karna dia tidak mau Naya sedih saat dia menyebut-nyebut nama Cleo, "Yahh palingan mereka hanya membahas tentang kapan reunian."


"Ohhh."


Saat Lio akan menstater mobilnya, ponselnya yang dia letakkan didasbord kembali berbunyi, kali ini bukan pesan masuk melainkan nadanya lebih panjang yang artinya itu merupakan panggilan masuk, Lio menarik tangannya dari kunci dan menoleh hanya untuk melihat siapa yang menghubunginya, karna kalau yang menelpon adalah Cleo, Lio tidak akan mau menjawabnya, namun ternyata yang menelpon adalah mamanya.


"Mama, ngapain mama nelpon." gumamnya begitu melihat nama sang mama terpampang dilayar.


"Siapa mas."


"Mama."


"Mama, coba angkat mas."


Lio mengangguk, dia menggeser simbol telpon berwarna hijau dan mengaktifkan pembesar suara supaya Naya bisa mendengarkan percakapannya dan mamanya.


"Kenapa ma."


"Kamu di mana Lio." suara mamanya tinggi melengking.


"Mmmm, Lio masih dipantai ma, Lio habis ngajakin Naya dan Bulan jalan-jalan, ini kami baru mau pulang."

__ADS_1


"Astagaa, kamu itu sibuk jalan-jalan bersama gadis kampung itu ternyata sampai tidak mengaktifkan HP segala." kini suara mama Renata terdengar sangat marah.


Naya menunduk sedih mendengar mama mertuanya masih saja mengata-ngatainya gadis kampung, memang kenyataannya sieh Naya gadis kampung, dan Naya tidak malu akan hal itu, tapi cara mama Renata mengatakan kalimat 'Gadis kampung' itu dengan nada menghina dan merendahkan.


"Ma, bisa gak mama jangan mengata-ngatai Naya, dia istriku ma." Lio tentu saja tidak suka mendengar sang mama merendahkan istrinya.


Dan mama Renata tidak mendebatkan tentang hal tersebut karna ada hal yang lebih penting yang ingin dia sampaikan pada putranya saat ini, "Kamu lebih baik cepat balik ke Jakarta dan langsung ke rumah sakit Pelita Harapan." perintahnya.


"Mama sakit."


"Bukan mama, tapi Cleo, dia jatuh dikamar mandi dan membuatnya sampai pendarahan, dan sekarang dia sedang ditangani oleh dokter." suara mama Renata terdengar khawatir, dia mengkhawatirkan cucunya yang berada dalam perut Cleo, mama Renata tentu saja tidak mau terjadi apa-apa sama calon cucunya yang kini dikandung oleh Cleo, gadis yang sangat dia harapkan sebagai menantunya.


"Apa." Lio kaget, "Cleo jatuh dikamar mandi dan mengalami pendarahan." Lio memang sudah tidak menyukai Cleo, tapi mendengar berita tersebut membuatnya panik, bukan Cleonya yang dia cemaskan, tapi bayinya, biar bagaimanapun bayi yang saat ini dikandung oleh Cleo adalah bayinya, dan sebagai laki-laki yang telah menyebabkan janin itu terbentuk tentu saja dia tidak ingin sik bayi kenapa-napa, itulah yang disebut dengan kasih sayang seorang bapak.


"Astagaa." Naya membekap mulutnya, "Kasihan sekali Cleo." Naya juga kaget mendengar berita tersebut.


Mungkin kalau wanita lain pasti akan senang mengetahui kalau perempuan yang dihamili oleh suaminya mengalami pendarahan dan sudah pasti mengharapkan sik perempuan keguguran, tapi Naya tidak, dia juga ikut khawatir mendengar berita tersebut, dalam hati dia berharap kalau Cleo dan bayinya akan baik-baik saja.


"Teruss, gimana keadaanya sekarang ma, keadaan bayinya gimana." tuntut Lio.


"Mama masih belum tahu, dokter yang menangani Cleo masih belum keluar, mama berharap Cleo dan bayinya selamat." ujarnya, "Lio, lebih baik cepat kamu ke rumah sakit, Cleo membutuhkanmu."


"Baik ma, Lio akan segera ke rumah sakit."


Lio mengakhiri sambungan telpon, wajahnya terlihat tegang, melihat raut wajah suaminya, Naya mencoba untuk menenangkan, "Mas, tenangkan dirimu, Cleo pasti akan baik-baik saja."


"Bukan Cleo yang aku khawatirin Nay, tapi bayinya, biar bagaimanapun dia adalah bayiku, dan aku tidak ingin terjadi apa-apa sama bayi itu." Lio mengungkapkan kecemasannya.


Naya mengelus tangan Lio untuk menenangkannya, Lio otomatis menoleh ke arah Naya, wajah Naya yang teduh membuatnya sedikit lebih tenang, "Percayalah mas, saudara anak kita." sambil mengelus perutnya, "Akan baik-baik saja."


Lio mengangguk, dalam keadaan genting seperti ini, Naya selalu bisa menenangkannya.


Dan setelah agak tenang, barulah Lio menjalankan mobilnya menuju rumah sakit Pelita Harapan.


****


Sementara Lio turun duluan untuk menjawab panggilan mamanya yang memberitahu dimana kamar tempat Cleo saat ini dirawat.


Bulan mengucek-ngucek matanya dan memperhatikan area rumah sakit dari jendela mobil, "Kita sudah sampai rumah bunda, kok rumah kita jadi berbeda begini, ladi lebih luas." ocehnya tidak menyadari dimana dia berada.


Naya hanya terkekeh, "Bukan sayang, kita tidak pulang ke rumah, tapi kita ke rumah sakit."


"Rumah sakit bunda, bunda sakit."


Naya menggeleng, "Bukan bunda, tapi..." Naya terdiam sesaat memikirkan jawaban yang diberikan pada Bulan, "Tapi teman ayah yang sakit." akhirnya dia memilih kata teman supaya lebih bisa dipahami oleh Bulan.


"Ohh, teman ayah."


"Ayok Nay, ayok sayang turun." Lio kembali dan membukakan pintu untuk Naya dan Bulan.


Mereka bertiga memasuki lobi rumah sakit dan berjalan menuju ruang dimana Cleo saat ini berada.


Setibanya didepan sebuah pintu yang merupakan kamar dimana Cleo berada, saat Lio akan menarik kenop pintu, Naya berkata, "Mas Lio, Naya dan Bulan tunggu disini saja ya, kami tidak ikut masuk."


"Kamu harus ikut masuk Nay."


"Mmmm, tapi nanti kami ganggu mas dan Cleo...."


"Kamu ngomong apa sieh Nay, jelaslah kamu gak ganggu." potong Lio, dia tidak suka mendengar kata-kata Naya yang menyebut kalau dirinya adalah pengganggu, padahal pengganggu yang sebenarnya dalam hubungan mereka adalah Cleo.


"Kami tunggu disini saja deh mas, takutnya Cleo nanti tidak menerima kehadiran kami."


"Kalau kamu gak ikut masuk, aku juga tidak akan masuk." Lio sudah tidak secemas tadi dengan kondisi Cleo karna lewat telpon tadi mamanya mengatakan kalau Cleo dan sik bayinya bisa diselamatkan oleh dokter, dan saat ini katanya Cleo tengah istirahat.


"Ehhh, tidak bisa begitu donk mas, mas harus masuk untuk melihat kondisi Cleo."

__ADS_1


"Ya udah kalau kamu mau aku masuk, maka kamu juga harus ikut masuk."


Bulan hanya jadi penonton perdebatan orang tuanya.


"Iya sudah deh, kami ikut masuk kalau gitu." gumamnya pada akhirnya.


Setelah mendengar Naya mau ikut masuk bersamanya, barulah Lio mendorong kenop pintu, dia menemukan mamanya yang tengah memaksa Cleo untuk memakan sesuatu, tapi sepertinya gadis itu tidak mau karna dia terlihat menggeleng.


Perhatian Cleo dan mama Renata langsung beralih ke arah pintu, Cleo tersenyum lemah saat melihat kedatangan Lio, namun senyum itu langsung lenyap saat melihat Naya berada dibelakang Lio.


"Ukhhh, kenapa sieh Lio pakai ngajak gadis kampung itu segala kesini, bikin aku bete saja." suara hati Cleo.


"Lio akhirnya kamu datang juga." ucap mama Renata saat melihat putranya memasuki ruang tempat dimana Cleo dirawat.


Mama Renata menatap tidak suka pada Naya dan Bulan, melihat pandangan angker dari mata sang nenek membuat Bulan refleks bersembunyi dibelakang tubuh Naya, anak itu takut, takut seolah-olah nenek angkatnya itu akan menerkamnya.


"Kasihan Bulan, dia ketakutan melihat mama, akhhh mama, meskipun dia tidak menerimaku sebagai menantunya, tidak bisakah dia sedikit baik sama Bulan, dia masih lecil dan tidak mengerti apa-apa." batin Naya mendesah berat melihat perlakuan mama mertuanya pada Bulan.


"Malam ma, malam Cleo." meskipun dua wanita itu menatapnya tidak suka, tapi Naya tetap bersikap ramah dan mengulas senyum sebagai sebuah sopan santun, "Bagaimana keadaan kamu dan sik bayi Cleo." Naya bertanya tulus.


"Seperti yang kamu lihat, aku masih lemah begini, dan syukurnya bayiku bisa diselamatkan." jawabnya ketus, dalam hatinya berkata, "Dasar gadis kampungan munafik, didepan saja sok lugu dan pura-pura baik, padahal pasti dia senang banget tuh aku kecelakaan, dan pasti dia mengharapkan aku keguguran" Cleo berburuk sangka.


"Syukurlah, aku senang mendengarnya."


"Bener-benar munafik gadis ini."


"Lio, dari tadi Cleo tidak mau makan, katanya dia mau disuapi sama kamu." ujar mama Renata menunjuk mangkuk berisi bubur ditangannya.


"Cleokan bisa makan sendiri ma, kenapa harus disuapi segala, manja banget." tolak Lio mendengar ucapan mamanya.


"Aku tidak bisa makan sendiri Lio, aku masih lemah." itu hanya alasan saja, meskipun kondisinya dalam keadaan lemah begitu, hanya sekedar makan sieh Cleo bisa, tapi memang dasar sik Cleo, kecelakaan yang dia alami dijadikan ajang untuk bermanja-manja sama Lio dan mumpung Naya ikut, dia sekalian ingin memanas-manasi Naya.


"Cuma nyuapin Cleo saja kamu keberatan, ngajak gadis kampung itu jalan-jalan sampai sore kamu kamu jabanin." mama Renata menyela.


"Ma." tegur Lio dengan suara ditekan mendengar hinaan mamanya.


Lio bersiap menegur mamanya, namun sebelum dia sempat membuka bibirnya, Naya mengelus lengannya sebagai sebuah isyarat supaya Lio tidak membalas ucapan mamanya, Naya tidak mau Lio malah bersitegang dengan mama Renata hanya gara-gara masalah sepele.


"Mas lebih baik suapin Cleo saja ya, kasihan Cleonya masih lemah tidak bisa makan sendiri." bujuk Naya dengan suara halus.


"Benar-benar pinter ya gadis kampung itu cari muka didepan Lio." Cleo masih saja berburuk sangka.


Karna Naya yang nyuruh, dengan terpaksa Lio menuruti, "Baiklah kalau kamu yang nyuruh aku Nay." dia mengambil alih mangkuk berisi bubur tersebut dari tangan mamanya, sebelum nyuapin Cleo, Lio menoleh ke arah Naya, wajah Lio memampangkan rasa bersalah meskipun dia melakukan hal ini atas suruhan Naya.


Naya tersenyum dan mengangguk untuk memberitahu bahwa dia tidak apa-apa, dan jelas itu bohong, Naya sebenarnya kenapa-napa, rasanya sesak gitu melihat suami menyuapi wanita lain didepan mata sendiri.


"Aku gak boleh cemburu, aku gak boleh cemburu, biar bagaimanapun Cleo juga butuh perhatian dari mas Lio, dalam rahimnya ada anaknya mas Lio juga, aku gak boleh egois hanya memikirkan diriku sendiri." Naya berusaha menguatkan dirinya sendiri.


"Aku mau minum." suara Cleo manja.


Lio meraih gelas berisi air putih dan menyodorkannya ke bibir Cleo.


Sesak rasanya melihat adegan itu, Naya yang sudah tidak kuat lagi memutuskan untuk pergi saja dari sana.


"Mas Lio, Bulan katanya lapar, aku bawa dia cari makan dulu ya dicafetaria rumah sakit." bohongnya membawa-bawa nama Bulan.


Bulan yang masih polos itu membantah, "Bunda, bulan tidak lapar."


"Duhhh Bulan, tidak bisakah kamu bekerjasam dengan bunda." batin Naya saat mendapatkan penyangkalan, "Tadi katanya lapar, udah yuk kita cari makan ya." Naya menarik tangan Bulan cepat-cepat, takut anaknya itu membantah lagi.


"Nayyy...." panggil Lio.


"Kami perginya cuma sebentar kok mas, bentar juga balik." ujarnya tanpa menoleh karna bendungan sudah tercipta dipelupuk matanya.


****

__ADS_1


__ADS_2