Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
KE BIOSKOP


__ADS_3

Leta dan Boy berjalan menuju parkiran kampus dimana mobil Boy terparkir.


"Jadi, lo mau pindah ke kampus mana Boy." tanya Leta dalam perjalanan menuju mobil.


"Hmmm, gue mempertimbangkan untuk pindah ke kampus lo ini deh kayaknya Ta."


"Hah, yang bener lo Boy." Leta memandang Boy tidak percaya.


"Iya, selain ini kampus terbaik dikota ini, alasan gue ingin kuliah dikampus ini juga agar gue bisa ketemu tiap hari sama lo."


"Apa, salah satu alasan Boy ingin kuliah dikampus gue supaya dia bisa bertemu dengan gue, apa Boy suka ya sama gue." batin Lea penuh harap dan berbunga-bunga.


"Kapan lo mulai masuk." tanyanya berusaha bersikap biasa.


"Secepatnya setelah semua urusan administrasi selesai."


Leta jadi tidak sabar, kalau mereka satu kampuskan mereka bisa bertemu setiap hari seperti yang dikatakan oleh Boy, membayangkan hal tersebut membuat Leta senyum-senyum sendiri.


"Oh ya Ta, ajakin Naya donk." saran Boy saat tiba didepan mobil.


"Ehh, ngajakin mbak Naya."


"Iya agar seru, kan seru kalau rame."


"Nagapain Boy nyuruh gue ngajakin mbak Naya segala sieh, kan gak seru kalau perginya bertiga."


"Ta, ayok telpon Nayanya, ajakin ikut sama kita." ulang Boy tidak bisa membaca keengganan Leta yang tercetak jelas diwajahnya.


"Ehh iya deh, gue telpon ya, tapi jangan berharap ya Boy, soalnya mbak Naya jarang mau kalau diajak keluar gitu." dalam hati sieh Leta benar-benar berharap kalau Naya sibuk banget dan tidak mau diajak pergi.


"Ya tidak ada salahnyakan dicoba."


"Hmmm." Leta kemudian mendial nomer Naya.


****


Ponsel Naya yang diletakkan dinakas samping tempat tidur kakek Handoko berdering nyaring.


Naya berhenti memijit tangan kakek Handoko dan meraih benda pipih tersebut, "Sebentar ya kek, Naya angkat dulu."


"Dari Lio ya."


"Bukan kek, ini dari mbak Leta adiknya mas Rafa." beritahu Naya.


Kakek Handoko mengangguk karna kenal dengan Leta yang sudah dianggapnya sebagai cucu sendiri.


"Iya mbak Leta."


Kekek Handoko meminta Naya mengaktifkan pembesar suara yang dituruti oleh Naya.


Terdengar sahutan dari seberang, "Mbak Naya, mbak Naya lagi apa."


"Gak ada mbak, Naya cuma lagi mijitin kakek saja."


"Ohh."

__ADS_1


"Mbak Leta kok tumben nelpon, ada apa nieh."


"Gak ada yang penting sieh mbak Naya, hanya mau ngajak mbak jalan-jalan saja."


"Maaf mbak, Naya gak bi...."


"Iya Leta, Naya akan pergi." sambar kakek Handoko.


"Ohh selamat siang kakek, gimana kabar kakek." sapa Leta begitu mendengar suara kakek Handoko menyahut.


"Kondisi kakek baik-baik saja karna ada cucu menantu kesayangan kakek yang selalu memperhatikan dan merawat kakek dengan baik."


Naya mendengar kalimat kakek Handoko tersipu sekaligus merasa tersanjung.


"Syukurlah kalau begitu kakek."


"Bagaimana kabar keluargamu Leta, sudah lama kalian tidak pernah datang ke rumah kakek lagi."


"Kami semua baik kek, papa dan mama memang ada rencana untuk menjenguk kakek, mungkin besok atau lusa."


"Baguslah, kakek fikir mereka telah melupakan kakek yang sudah tua renta ini."


Leta terkekeh, "Akhh kakek ada-ada saja, ya tidak mungkinlah kami melupakan kakek yang telah berjasa memberikan kehidupan yang layak buat keluarga kami."


"Oh ya kakek, Leta mau ngajakin Naya pergi keluar, bolehkan kek."


"Kalau kamu mau ngajakin Naya keluar, ada syaratnya."


"Syarat, syarat apa kek."


Leta kembali terkekeh mendengar syarat kakek Handoko, "Kalau masalah itu, kakek tidak perlu khawatir, mbak Naya akan Leta pulangin dengan utuh, karna kalau sampai mbak Naya kenapa-napa, bisa digantung Leta sama mas Lio kek."


"Baguslah kalau begitu, kakek bisa melepaskan kepergian Naya dengan tenang."


"Terimakasih kakek, sebentar lagi Leta dan teman Leta akan datang menjemput Naya."


Dan setelah pembertahuan tersebut, Leta menyudahi pembicaraannya.


"Kek, kalau Naya pergi, kakek sama siapa dirumah."


"Darmi ada, Wati ada, Ridwan ada." absen kakek Handoko, "Jangan khawatirin kakek, pergilah bersama Leta agar kamu tidak bosan dirumah, seharusnya Lio yang ngajak kamu jalan-jalan, tapi anak nakal itu selalu saja beralasan sibuk, padahal waktu kakek yang memimpin perusahaan, kakek tidak sesibuk dia, kakek selalu menyempatkan waktu untuk mengajak almarhum nenekmu jalan-jalan ataupun liburan ke luar negeri."


Mendengar nama Lio disebut-sebut membuat Naya sedih karna kata per kata yang dilontarkan tadi malam kembali membuat dadanya nyesek.


"Mungkin pekerjaannya memang tidak bisa ditinggal kek, makanya mas Lio belum sempat ngajakin Naya jalan-jalan." meskipun disakiti tetap saja Naya membela Lio.


"Akhh sudahlah, kenapa kita membahas anak itu sekarang, sekarang kamu siap-siaplah, sebentar lagi Leta datang menjemputmu."


"Apa kakek tidak apa-apa ditinggalkan." tanya Naya ragu.


"Iya sayang, percaya kakek baik-baik saja, sudah sana siap-siap."


"Baiklah kakek, tapi kalau ada apa-apa, kakek telpon Naya ya."


"Iya kakek akan menelponmu."

__ADS_1


***


"Hai mbak Leta." tegur Naya begitu sudah didekat Leta yang menunggunya didepan rumah besar bersama dengan Boy.


"Hai mbak Naya." balas Leta.


Dua gadis itu kemudian berpelukan dan cupika-cupiki, Naya sudah terbiasa dengan budaya wanita Jakarta yang tiap ketemu selalu cupika-cupiki.


"Halo Naya." sapa Boy, "Gue juga gak dipeluk dan dicium nieh." godanya.


"Bukan muhrim mas." kekeh Naya menanggapi candaan Boy.


"Berarti kalau mau dipeluk, aku mesti halalin kamu dulu donk ya."


Leta tahu Boy hanya menggoda Naya, tapi kok dia tidak suka ya melihat Boy menggoda Naya.


"Naya sudah ada yang punya mas." jawab Naya jujur.


"Wahh, berarti aku tidak punya kesempatan nieh, belum apa-apa kamu sudah mematahkan hatiku Nay, sungguh tega." Boy berakting seperti laki-laki yang tengah patah hati.


Hal itu membuat Naya tertawa, "Mas kenapa tidak jadi aktor saja, bagus lho aktingnya."


"Hahaha." Boy malah tertawa mendengar saran Naya, "Aku jadi Boy sajalah, sik laki-laki biasa, nanti Reza Rahardian tidak laku lagi kalau aku jadi aktor."


"Akhh mas ini, narsis amet."


Leta merasa dikacangin oleh Naya dan Boy, "Mereka asyik sendiri, gue malah dicuekin." kesalnya dalam hati sembari memandangi Naya dan Boy bergantian.


"Ehh, mending ayok kita pergi sekarang." intrupsi Leta.


"Iya udah yukk."


Naya duduk dibelakang, "Kita mau kemana." tanya Naya begitu mobil berjalan.


"Kamu maunya kemana." Boy balik nanya.


"Bagaimana kalau kita nonton, ada film seru tuh, gimana Boy." sela Leta meskipun bukan dia yang ditanya.


"Nonton, nonton dibioskop gitu mbak maksudnya."


"Iya, dimana lagi."


"Yang tempatnya gelap itu."


"Iya." jawab Leta dengan sabar mengingat kenorakan Naya, "Gelap karna lampunya dimatiin saat filmnya dimulai."


"Tempat yang biasanya dijadikan tempat ciuman oleh pasangan kekasih itukan ya " seru Naya dengan segala kepolosannya, Naya memang tidak pernah nonton dibioskop, tapi menurut teman-temannya yang pernah nonton film dibioskop, suasana bioskop yang gelap membuat banyak pasangan muda-mudi memanfaatkan momen tersebut untuk bermesraan.


Boy sampai ngakak mendengar ucapan Naya yang begitu polos tanpa dibuat-buat, "Kok tahu sieh Nay, kamu sering ya ciuman dibioskop."


"Ehh, gaklah, ke bioskop saja baru kali ini."


"Baru kali ini." Boy mengulangi kalimat Naya tidak percaya, "Jadi kamu tidak pernah ke bioskop sebelumnya." herannya, kok ada orang yang tidak pernah nonton film dibioskop dizaman serba maju begini.


Naya menggeleng meskipun Boy tidak bisa melihatnya karna fokus nyetir, "Belum pernah mas, maklum gadis kampung."

__ADS_1


****


__ADS_2