Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
FOTO PERNIKAHAN


__ADS_3

"Lo kenapa sieh, sejak tadi kerjaan lo marah-marah gak jelas, padahal gak ada yang ngelakuin kesalahan, bahkan laporan dari masing-masing devisi semuanya oke, sesuai dengan target yang ingin dicapai oleh perusahaan." Rafa mendekati Lio saat meting selesai, kini tinggal mereka berdua yang ada diruang meting.


Melihat sahabatnya yang uring-uringan saat memasuki ruang meting, Rafa menebak sahabatnya itu pasti bermasalah dengan hal yang menyangkut perasaan, dan dalam hal ini tentu saja disebabkan oleh Naya karna dialah wanita yang saat ini berpotensi membuat Lio uring-uringan dan marah-marah gak jelas.


"Naya ngambek." ucap Lio memberitahu penyebab suasana hatinya yang memburuk.


"Sudah gue duga." batin Rafa.


Ternyata hal sepele semalam, (Itu menurut Lio, tapi bagi perempuan, termasuk Naya, saat mengetahui sang suami dihubungi oleh mantan meskipun suami tidak merespon tetap saja hal itu membuat perempuan kesal.) dan gara-gara hal itu ternyata masih membuat Naya ngambek sampai sekarang, buktinya tadi pagi, saat Lio akan memeluk dan menciumnya saat akan berangkat ke kantor Naya menolak, ditambah lagi Naya mengabaikan setiap panggilan dan pesan yang dikirim oleh Lio.


"Dia ngambek hanya gara-gara Cleo nelpon gue semalam, ya wajar kalau dia ngambek kalau gue menjawab, ya ini, gue gak menjawab bahkan gue merijek panggilan dari Cleo, dan dia sampai sekarang masih ngambek dan nyuekin gue." curhat Lio memijit keningnya.


"Astaga sik kampret ini ternyata benar-benar dibuat bucin sama Naya, hahaha, rasain deh lo, pening pening deh tuh kepala lo menghadapi Naya yang tengah ngambek." Rafa malah mensyukuri dalam hati penderiataan sahabatnya.


"Kok lo jadi pusing gini sieh, lo tinggal ajak Naya jalan-jalan, beliin tas mahal, sepatu mahal, parfum mahal, beliin dia baju, beliim emas berlian, pokoknya manjain di deh, kelar deh urusan." Rafa memberi masukan.


"Lo fikir Naya sama seperti Cleo yang bisa dibujuk dengan benda-benda seperti itu, Istri gue begitu sangat sederhana dan berbeda, dia tidak membutuhkan barang-barang seperti itu."


"Ahh iya gue lupa, Naya itukan gadis istimewa yang tidak silau dengan harta kekayaan lo yang tidak habis sampai hari kiamat." ledek Rafa menahan senyumnya, senang juga dia melihat Lio yang kelabakan begini karna tidak tahu bagaimana cara membujuk Naya.


"Daripada lo ngeledek gue kayak gitu, mending lo bantuin gue mikir bagaimana caranya supaya Naya tidak ngambek lagi."


"Ogah ya gue bantuin lo mikir, lebih baik gue main game daripada gue harus susah-susah nyari jalan keluar untuk bantuin lo." ucapnya tanpa beban, "Selamat nyari jalan keluar sendiri Lio, gue doain semoga lo berhasil menemukan sebuah cara untuk membuat Naya kembali tersenyum sama lo." Rafa tertawa sambil meninggalkan Lio sendiri diruang meting.


"Dasar sahabat laknat."


****


Beginilah kalau jadi istri hamil dari seorang pengusaha kaya, kerjaannya hanya berdiam diri dirumah, kalau gak tidur ya main HP, nonton TV, hanya itu rutinitas Naya selama masa kehamilannya, dan itu membuatnya bosan. Lio memang mengizinkannya untuk melakukan apa yang membuat dirinya senang, seperti memasak, ikut mengantar Bulan ke sekolah, tapi sayangnya saat mengetahui Lio mengizinkan istrinya melakukan hal itu, kakek Handoko yang benar-benar mengkhawatirkan Naya yang tengah hamil dengan tegas melarang Naya melakukan hal-hal itu, kakek Handoko menginginkan calon cicitnya sehat dan kuat, untuk itu, dia meminta Naya untuk banyak-banyak beristirahat. Naya sieh bisa merengek kalau sama Lio dan hal itu biasanya berhasil meluluhkan pertahanan Lio dan membuatnya selalu mengiyakan keinginan Naya, tapi sayangnya, Naya tidak bisa melakukan hal itu pada kakek Handoko, jadi dia dengan sangat terpaksa melakukan apa yang diperintahkan oleh kakek Handoko yaitu berdiam diri dikamar.


Dan karna dilarang melakukan ini dan itu, Naya hanya mendekam dikamarnya, dan saat ini Naya tengah membaca sebuah novel untuk menghilangkan rasa jenuhnya, dan novel yang dibacanya adalah sebuah novel tentang rumah tangga yang hancur gara-gara pelakor, bagi perempuan, masalah pelakor, baik didunia nyata ataupun didunia khayalan bisa membuat ketar-ketir dan emosi sendiri meskipun tidak mengalami secara langsung, seperti yang terjadi pada Naya, saat membaca kata perkata yang tersusun pada novel tersebut, dia langsung deh membayangkan yang tidak tidak-tidak.


"Apa Cleo itu sering ya menghubungi mas Lio, apa dia berniat merebut mas Lio kembali, bagaimana kalau mas Lio tergoda dan kembali merajut cinta dengan mantannya itu, apalagi mantannya itu sangat cantik dan seksi, tidak menutup kemungkinan mas Lio akan suka kembali." fikirnya berlebihan, "Iihh, pokoknya tidak akan aku biarkan itu terjadi, tidak akan, awas saja kalau sampai mas Lio punya niatan untuk kembali sama Cleo dan meninggalkanku begitu saja, aku tidak akan tinggal diam." Naya jadi geram sendiri sambil mencengkaram ujung bantal dengan kuat.


"Ihhh aku kesal banget, kenapa sieh ada yang namanya pelakor di dunia ini, kok bisa-bisanya mereka bahagia diatas penderitaan orang lain." sambil membaca Naya terus saja merutuk, dia gemes sendiri dengan kisah pada novel yang dibacanya.


Naya berhenti membaca, karna untuk saat ini, fikir Naya, kisah tentang pelakor dan laki-laki yang berselingkuh itu tidak baik untuk hati dan mentalnya karna hal itu membuatnya jadi berfikir negatif sama suaminya.


Sekarang Naya malah memilih untuk menonton TV, mungkin dengan menonton TV bisa sedikit menghiburnya, namun berita diTV kebanyakan menayangkan berita tentang perselingkuhan dan KDRT, dan itu membuat Naya mendengus kesal dan kembali mematikan TV.


"Bosannya aku." desahnya membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar, "Coba kalau didesa, tentu aku tidak akan sebosan ini, aku bisa melakukan banyak hal meskipun dalam kondisi hamil muda begini, wanita desakan fisiknya kuat-kuat, bisa melakukan banyak hal meskipun tengah hamil. Aku juga kuat, hanya saja suami dan kakek mertuaku saja yang lebay tidak memperbolehkan aku melakukan ini itu, disuruh minum vitamin yang banyak, minum susu tiap hari tiap malam, padahalkan orang-orang desa tidak ada yang minum ini itu, mereka hanya minum air putih, tapi bayi-bayi mereka sehat-sehat." Naya jadi membandingkan wanita-wanita didesa dengan wanita-wanita yang dihidup dikota, "Yahh, aku seharusnya tidak mengeluh, seharusnya aku bersukur karna bisa menikah dengan orang kaya seperti mas Lio yang selalu memperhatikan aku, tapi ya kalau lagi bosan begini siapapun bisa mengeluh juga." Naya bercloteh sendiri.


"Uhhh, jadi kangen pengen pulang kampung deh, tapi mas Lio pasti tidak akan mengizinkan, dia pasti bilang, kampung kamu itu jauh Nay, jalannya rusak dan berlubang, melakukan perjalanan jauh tidak baik bagi ibu hamil dan bla bla bla." Naya menirukan gaya bicara Lio dan kemungkian apa yang akan dikatakan oleh Lio kalau seandainya dia beneran minta izin pulang ke kampung.


Karna saking boringnya, akhirnya Naya memilih untuk memejamkan matanya, kalau dia tidak boleh melakukan apapun didunia nyata, mungkin dia bisa berjalan-jalan di dunia mimpi saja.


Tapi sepertinya, jalan-jalan didunia mimpi saja tidak bisa dia lakukan karna suara ponselnya yang berdering, tanpa perlu melihat Naya tahu siapa yang menghubunginya, siapa lagi kalau bukan Lio, karna masih kesal gara-gara Cleo yang menghubungi Lio semalam, dan Naya bertambah kesal sama suaminya saat membaca novel tentang pelakor tadi, makanya Naya kembali mengabaikan panggilan tersebut. Bisa dibilang sikap Naya benar-benar tidak masuk akal, mau heran tapi itu perempuan, jadinya sampai sekarang Naya malas untuk menjawan telpon dari sang suami dan juga membalas pesan-pesannya, pesan-pesan yang dikirim oleh Lio hanya sekedar dibaca doank.


Deringan itu berhenti, tapi kemudian disusul dengan bunyi pesan masuk, hanya sekedar untuk mengetahui apa bunyi pesan tersebut Naya meraih ponselnya.


Bunyi pesan yang dikirim oleh Lio adalah.


Sayang, sudah siang, jangan lupa makan ya, makan yang banyak ya kesayanganku, jaga kesehatan kamu dan calon bayi kita. Love you.


"Nyuruh makan mulu dari tadi, kalau aku gemuk gimana, kalau gemukkan aku jadi jelek dan itu pasti membuat kamu berpaling sama mantan kamu itukan." tuhkan Naya jadi berfikiran negatif, padahal Lio maksudnya baik lho.


****


Sore hari saat jam kantor berakhir, Rafa dengan wajah cerahnya menghadang Lio yang baru keluar dari ruang kerjanya.


Lio yang masih kesal dengan Rafa karna meledeknya tadi siang membentak Rafa yang memblokir jalannya, "Mau apa lo."


"Eitsss, jangan marah dulu donk Lio."


"Minggir lo ah, jangan menghalangi jalan gue, gue mau balik."

__ADS_1


"Duhhh galak banget dah tuan besar, nieh, gue cuma mau ngasih ini ke elo." Rafa memperlihatkan sebuah benda datar yang cukup besar yang dibungkus dengan kertas berwarna coklat yang kini dipegang dengan kedua tangannya.


"Apa itu."


"Yang jelas ini adalah sesuatu yang bisa membuat bini lo tidak ngambek lagi."


"Jangan membuat gue penasaran Rafa, kasih tahu itu apa."


"Udah deh lo gak usah banyak tanya, ntar juga lo tahu sendiri saat tiba dirumah, yang jelas benda yang ada didalam kertas ini akan membuat lo semakin dicintai sama bini lo."


"Niehhh." Rafa menyerahkan benda tersebut pada Lio.


Meskipun penasaran dan sangat ingin tahu apa yang terbungkus didalam kertas berwarna coklat tersebut, namun Lio memilih untuk tidak bertanya lagi, karna percuma saja, karna Lio yakin Rafa tidak akan menjawab rasa penasarannya, "Lo kalau mau ngebantu jangan setengah-setengah, sekalian juga donk lo bawain ke mobil." ini meminta tolong atau memerintah.


Rafa mendesah berat, "Ya salam, gue sudah berniat baik membantunya, dia malah memanfaatkan kebaikan gue, ya nasib ya nasib." protes yang hanya Rafa ucapkan dalam hati dan melakukan apa yang disuruh oleh Lio.


****


Sesampainya dirumah, Lio mengambil benda misterius yang katanya bisa membuat Naya berhenti ngambek yang diletakkan Rafa dibagasi.


"Duhhh berat banget, apaan sieh ini sebenarnya." keluh Lio saat mengeluarkan pemberian Rafa dari bagasi mobilnya.


"Tuan, apa tuan butuh bantuan." pak Ridwan yang melihat tuan mudanya tengah kesusahan mendekat dan menawarkan bantuan.


"Mmm, tidak perlu pak, saya bisa sendiri." ingin bangetlah sebenarnya meminta pak Ridwan untuk membawakannya benda tersebut masuk kedalam, tapi demi mengingat kata-kata Rafa yang mengatakan bahwa benda yang didalam bungkus coklat itu bisa membuat naya berhenti ngambek, makanya dia menolak pertolongan pak Ridwan, karna Lio berharap, kalau dia yang membawa benda tersebut dan menyerahkannya secara langsung kepada Naya itu akan membuat Naya terharu begitu melihat perjuangannya.


"Tapi itu kelihatan berat tuan."


"Tidak apa-apa pak Ridwan, saya bisa kok sendiri."


"Baiklah kalau begitu tuan." pak Ridwan akhirnya menyerah menawarkan bantuannya.


"Tuan muda sudah pulang, apa yang tuan bawa itu." bi Darmi bertanya begitu Lio sudah berada didalam.


"Nona sepertinya sekarang dikamar tuan setelah tadi menamani tuan besar bercengkrama dibelakang."


Setelah mendapat informasi tersebut, Lio bergegas menemui Naya dikamarnya, saat dia masuk dia menemukan Naya tengah sibuk dengan ponselnya.


Naya reflek mendongak begitu mendengar suara pintunya terbuka, dan melihat suaminya membawa sebuah benda yang terbungkus dengan kertas berwarna coklat, karna ceritanya Naya masih ngambek, meskipun penasaran dengan apa yang dibawa oleh Lio, Naya pura-pura cuek.


Meskipun di buat jengkel sejak tadi pagi karna dia di cuekin habis-habisan oleh Naya, tapi demi melihat bibir cembrut Naya yang menggemaskan tak urung membuat Lio tersenyum, rasa lelahnya dan rasa keselnya menguar begitu melihat wajah Naya meskipun dia di sambut dengan wajah masam.


"Kamu gak penasaran aku bawa apa." sok-sok'an bertanya padahal dia sendiri tidak tahu apa yang ada dikertas coklat tersebut.


"Gak." jawab Naya acuh tak acuh padahal penasaran bangetlah dia.


"Yahhh, aku jadi kecewa, padahal aku sudah bersusah payah lho mau bikin surprise untuk kamu, dan bahkan aku membawanya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain padahal ini sangat berat."


"Memang itu apa."


"Kalau kamu penasaran, makanya kamu buka donk sayang."


"Hmmm." gumamny menutupi rasa penasaranny.


Dengan langkah pelan Naya mendekati Lio dan membuka apa yang dibawa oleh Lio.


Terbuka separuh, Naya sudah tahu apa yang ada dibalik kertas coklat tersebut, dia semakin antusias merobek bungkus tersebut.


Dan begitu kertas tersebut sudah terbuka sempurna, terpampanglah apa yang sejak tadi membuat Naya dan Lio penasaran, sebuah figura indah yang berwarna coklat tua berisi foto pernikahan mereka, memang mereka tidak memiliki satupun foto pernikahan dikamar mereka, bahkan di ponsel masing-masing sepertinya juga tidak ada, malah Rafa yang menyimpan foto-foto pernikahan mereka berdua.


Naya sampai membekap bibirnya melihat hal tersebut, "Ini...ini foto pernikahan kita mas." Naya terlihat takjub.


Jangankan Naya, Lio saja takjub, "Kok bisa-bisanya Rafa punya pemikiran cerdas begini, gue saja sama sekali tidak pernah berfikir untuk melakukan hal ini." Lio melirik ke arah Naya, dan benar apa yang dikatakan oleh Rafa, ternyata figura berisi foto pernikahan mereka itu membuat aksi ngambek Naya berhenti, itu terbukti dari binar matanya yang tampak bahagia.


"Makasih mas, Naya suka." Naya kini memeluk Lio.

__ADS_1


Lio tersenyum, "Iya sayang." dalam hati dia benar-benar berterimakasih pada sahabatnya itu, oleh karna itu dia berencana menaikkan gaji Rafa, "Kamu sudah tidak marah lagikan sama aku."


Naya mengangguk, matanya tak lepas memandangi foto pernikahannya dengan Lio.


"Kamu begitu sangat cantik difoto itu." puji Lio melihat Naya yang tersenyum manis dengan rambut di sanggul dengan mengenakan kebaya putih, Naya benar-benar tampak cantik dan anggun, saat itu Lio terpana melihat Naya yang awalnya kucel berubah seketika karna make up.


"Mas juga tampan meskipun senyumnya terpaksa."


Lio terkekeh, dia mengeratkan tangannya merangkul pinggang Naya, "Iya jelaslah aku senyumnya terpaksa, siapa yang bisa tersenyum manis saat menikah karna dipaksa, kalau seandainya dulu aku menolak pilihan kakek, mungkin aku akan menyesal seumur hidup." ungkap Lio dalam hati sambil mengingat saat-saat dirinya dengan sangat terpaksa menerima perjodohan konyol yang dilakukan oleh sang kakek.


"Ohh ya mas, ini bagusnya diletakkan dimana ya." Naya melihat sekelilingnya untuk mencari tempat yang sesuai untuk meletakkan foto berharga itu.


Lio juga melakukan hal yang sama, matanya menjelajah setiap sudut kamarnya untuk mencari tempat yang pas untuk meletakkan figuran foto pernikahan mereka itu.


"Bagaimana kalau di dinding atas tempat tidur kita sayang, sepertinya itu tempat yang cocok."


"Iya, Naya setuju mas, sepertinya memang itu tempat yang cocok."


Setelah foto itu terpasang dengan manis di dinding dengan dibantu oleh pak Ridwan, kini dua pasutri memandang diri mereka sendiri dalam balutan pakaian pernikahan, pernikahan yang awalnya dilakukan secara terpaksa, dan siapa yang bisa menduga kalau mereka pada akhirnya saling mencintai satu sama lain.


"Bagus banget ya mas."


"Iya sayang." balas Lio, "Nanti kalau bayi kita sudah lahir, kita foto berempat ya, aku, kamu, dan kedua anak kita."


"Iya mas."


****


Saat ini Rafa tengah menikmati indahnya malam dengan latar pemandangan kerlap-kerlip lampu dari dari padatnya perumahan penduduk di Jakarta, dari balkon apartmennya Rafa bisa menikmati indahnya pemandangan malam ditemani oleh secangkir kopi. Semilir angin malam berhembus membelai wajahnya yang sudah mulai ditumbuhi cambang-cambang halus karna dia belum bercukur.


Rafa menyeruput kopinya, Rafa tengah menikmati suasana malam yang tenang saat ponselnya yang diletakkan dimeja didepannya berbunyi singkat.


Ternyata itu adalah pesan masuk dari sik bos alias Lio.


Naya suka hadiahnya, bener kata lo, dia langsung menghentikan aktifitas ngambeknya saat melihat foto pernikahan kami.


"Dasar ya lo Lio, gengsian banget hanya untuk mengucapkan terimakasih." cetus Rafa karna Lio bukannya berterimakasih terlebih dahulu malah langsung mengatakan intinya.


Sama-sama Lio, gue senang sudah membantu lo dan membuat Naya tidak marah lagi sama lo.


Rafa menyindir.


Terimakasih.


"Terimakasih doank, gak ada embel-embelnya gitu, seperti karna lo udah bantuin gue, gaji lo gue naikin."


Harapannya itu dituangkan dalam bentuk tulisan.


Lo gak berniat naikin gaji gue nieh.


Meskipun memang Lio berniat menaikkan gaji Rafa, tapi dia berniat mengisengi Rafa dengan membalas.


Gak ikhlas banget ya lo bantuin teman sendiri, ternyata lo bantuin karna ada udang dibalik bakwan.


Iya gue ikhlas, dihh, lo pakai nyeramahin gue lagi.


Tapi gue mempertimbangkan sieh untuk menaikkan gaji.


Ujar Rafa.


Wahhh, yang benar, ya udah naikin donk.


Rafa menunggu balasan dari Lio, tapi ternyata sahabatnya itu tidak membalas, "Memang kampret sik Lio, PHPin gue aja." rutuknya sambil menyeruput kopinya.


***

__ADS_1


__ADS_2