Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
ACARA SYUKURAN


__ADS_3

"Ukhhh sialan, benar-benar ya sik Lio itu, dia benar-benar mengabaikan aku sekarang, apa sieh hebatnya gadis kampung itu dibanding aku." geram Cleo kesal dikamarnya.


Cleo begitu sangat kesal karna Lio selalu merijek panggilannya dan tidak menggubris setiap pesan yang dia kirim untuk bertemu.


"Kamu benar-benar membuat aku marah Lio, lihat saja, aku tidak akan tinggal diam, aku akan membalas semua perlakuanmu dengan sangat menyakitkan."


Saat ini Cleo tengah memegang foto Lio yang merangkul Naya, Cleo memandang foto itu untuk sesaat sebelum tangannya merobek-robek foto tersebut sampai menjadi serpihan-serpihan kecil, "Aku akan menghancurkan kalian seperti ini."


Cleo membuang serpihan-serpihan kertas itu ke udara, "Hahaha, tunggu pembalasanku Lio."


****


Saat ini Lio dan keluarga kecilnya tengah menikmati waktu bersantai ditaman belakang. Bulan duduk lesehan beralaskan rumput hijau ditemani oleh Bintang dan tedy boneka kesayangannya, ditangannya ada sebuah kertas gambar yang tengah dia coret-coret dengan tangan mungilnya, entah apa yang digambar oleh gadis kecil itu.


Tidak lama Naya datang membawa nampan berisi teh dan kue sebagai cemilan, dia duduk dikursi kosong yang tersisa, Naya melambai ke arah Bulan yang sesekali menoleh ke arahnya.


"Terimakasih sayang." ucap Lio meraih cangkir teh dan mengarahkannya ke bibirnya.


"Sama-sama mas."


"Aku senang mas melihat Bulan, dia tampak semangat dan ceria, berbeda saat pertama kali aku melihatnya dipantai asuhan." Naya mengingat saat pertama kali melihat Bulan di panti, Naya langsung tertarik untuk mengadopsi Bulan.


"Itu karna kamu sayang, kamu yang begitu menyayanginya dan telah menganggapnya sebagai anak sendiri sehingga membuatnya bahagia seperti sekarang."


"Itu karna mas juga, maskan juga menyayangi Bulan seperti Naya."


Lio mengangguk, dia yang awalnya menolak usulan kakeknya untuk mengadopsi anak, kini begitu bersykur karna Bulan membuat hidupnya dan Naya lebih berwarna.


Bulan berlari ke arah orang tua angkatnya, kedua tangannya disembunyikan dibalik punggungnya, dia sepertinya tengah membawa sesuatu.


"Bunda, ayah." senyum lebar tercetak dibibir mungil Bulan, dibelakangnya mengekor kucing kesayangannya.


Ngeong


Ngeong


Mungkin itu kalimat sapaan yang diucapkan Bintang dalam bahasa kucing, entahlah hanya Tuhan yang tahu.


"Kenapa sayang." tanya Naya.


"Bulan mau mau menunjukkan sesuatu sama ayah dan bunda."


"Ohhh ya, apa itu."


"Tadaaa." dari balik punggungnya Bulan mengeluarkan kertas yang terdapat sebuah gambar, gambar anak kecil yang digandeng oleh dua orang dewasa, dan disekelilingnya terdapat gambar-gambar orang dewasa lainnya.


Melihat gambar tersebut, Naya tahu apa yang ingin disampaikan oleh Bulan.


"Ini ayah, ini bunda, dan yang ini Bulan." jelas Bulan memberitahu siapa orang yang ada didalam gambarnya tersebut, "Ini kakek buyut, ini bi Darmi, mbak Wati, dan yang ini pak Ridwan."


"Ini Bintang dan ini Tedy, dan karna adek bayi belum lahir, jadinya adek bayi gak ada dalam gambar." ujar Bulan menjelaskan.


"Terimakasih ya ayah, terimakasih ya bunda karna telah menjadi ayah dan bunda yang baik untuk Bulan, Bulan bahagia sekali."


Naya tersenyum dan mengelus puncak kepala anak angkatnya tersebut, "Dan terimakasih juga ya sayang karna kamu telah menjadi putri kami."


"Iya bunda." ibu dan anak itu berpelukan.


Lio memperhatikan hasil gambar anak angkatnya, gambar yang bagus menurutnya, Bulan termasuk anak berbakat untuk anak seusianya.


"Anak ayah sangat berbakat, bagus banget gambarnya." puji Lio.


"Terimakasih ayah."


"Tapi sayangnya keluarga kita tidak lengkap ya, nenek gak disini."


Mendengar ucapan ayahnya, Bulan hanya nyengir, "Hehe, habisnya nenek jahat ayah, suka marahin Bulan, makanya Bulan tidak mau masukin nenek digambar Bulan, padahal Bulan tidak nakal lho ayah, tapi nenek tetap saja marah."


Mendengar clotehan Bulan, Lio hanya terkekeh dan saling melempar pandangan dengan Naya.


"Kenapa ya ayah nenek jahat." tanya Bulan dengan segala kepolosannya sebagai seorang anak kecil.


"Bulan sayang, nenek itu tidak jahat kok."


"Kalau nenek tidak jahat, kenapa nenek suka-suka marah."


Naya berusaha untuk mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Bulan, "Itu karna nenek lagi kurang sehat saja sayang, kalau orang lagi sakit itu ya memang bawaannya marah-marah terus." jelas Naya dilisan dan berharap Bulan mengerti dengan penjelasannya, "Mama mertuaku memang tidak sakit secara fisik, tapi mungkin hatinya yang sakit, jadi bawaanya ingin marah-marah melulu." tambahnya dalam hati.


"Nenek marah-marahnya hampir setiap hari, jadi nenek sakitnya setiap hari ya bunda." Bulan bener-bener anak yang kritis.

__ADS_1


"Ehh itu..." nah lho, Naya tidak bisa menjawabkan, "Ehmmm iya." jawabnya agar Bulan tidak bertanya lagi, "Maafkan bunda ya nak yang harus berbohong padamu, kamu masih kecil dan belum mengerti, nanti ketika kamu sudah besar, kamu akan mengerti kenapa nenekmu tidak menyukai kita."


"Kalau begitu, bawa saja nenek ke dokter ayah, agar nenek tidak sakit lagi dan tidak marah-marah lagi."


"Nenek tidak perlu dokter sayang, yakin ya sama ayah, suatu saat nanti nenek tidak akan marah-marah lagi sama Bulan, dan nenek pasti akan menyayangi Bulan."


"Hmmm, begitu ya ayah."


"Kamu lebih baik bermain lagi sana sama kucing kamu." Lio terlalu malas menyebut nama Bintang karna itu merupakan nama pemberian Boy, makanya dia hanya menyebut sik kucing untuk memanggil kucing betina milik Bulan.


"Oke ayah." Bulan berlari menjauh diikuti oleh Bintang dibelakangnya.


"Sepertinya aku harus bicara sama mama supaya merubah sikapnya sama Bulan, kalau mama terus-terusan marah tanpa sebab, itu tidak baik untuk perkembangan mental Bulan." cetus Lio saat Bulan sudah tidak bisa mendengar kata-katanya.


"Bukan hanya sama Bulan mama marah-marah mas, tapi sama aku juga, ibu mas Lio tidak menyukaiku dan sering menghinaku dibelakang mas Lio." kata-kata yang hanya diucapkan dalam hati, Naya bukanlah tipe perempuan pengadu yang menceritkan hal-hal seperti itu kepada suaminya, dia memilih menyimpannya sendiri karna dia tidak ingin hubungan antara Lio dan mamanya menjadi tidak baik.


"Nay."


"Kenapa mas."


"Tapi Aku dan kakek berencana mengundang anak-anak panti asuhan kasih bunda ke rumah, kita gelar pengajian dan memberikan sedikit santunan untuk anak-anak itu sebagai tanda syukur karna Allah telah menitipkan calon buah hati kita diperut kamu."


"Yang benar mas." Naya tentu saja bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Lio.


"Iya sayang, kapan sieh aku pernah bohong."


"Bulan juga pasti senang kalau bertemu dengan teman-temannya dan ibu pengurus panti yang telah membesarkannya."


"Apa kita perlu memasak atau menyiapkan ini itu mas, Naya pasti akan membantu." ucap Naya heboh.


"Tidak perlu Nay, kita cukup pesan ketering saja, biar gak repot, biar mbak Wati dan bi Darmi juga gak capek dan yang pastinya kamu juga gak capek."


"Ohh, itu juga bagus kok mas."


"Ohh ya mas, bolehkan aku ngundang mbak Leta kemari."


"Pastinya boleh donk, Rafa juga aku suruh kemari untuk bantu-bantu, tante dan om juga akan datang." maksudnya adalah papa dan mama Rafa dan Leta.


Naya terlihat begitu senang, itu terlihat dari raut wajahnya yang berbinar.


****


"Leta, ayok nak cepetan, sebentar lagi kakakmu datang lho menjemput kita, katanya dia sudah dalam perjalanan." mama Rina mengetuk pintu kamar anak perempuannya.


"Mama dan papa saja yang pergi, Leta gak ikut ma, Leta sibuk banyak tugas." sahut Leta dari dalam.


Intinya, Leta tidak mau ketemu sama Naya, hatinya terasa sesak begitu melihat Naya, perempuan yang dicintai oleh laki-laki yang dia cintai, makanya setiap ada acara yang ada hubungannya dengan Naya, Leta selalu memiliki alasan untuk tidak ikut, ya sakitlah, dan sekarang alasannya banyak tugaslah, padahalkan aslinya tidak ada, tadi juga Naya menelponnya, tapi malas dia jawab, dan pesan Naya yang memintanya datang ke acara syukuran itupun dia abaikan, pokoknya dia gak mau datang titik.


Mendengar jawaban putrinya, mama Rina mendorong pintu dari luar, dia melihat putrinya tengah berbaring ditempat tidur sambil bermain HP.


"Astaga anak ini, katanya banyak tugas, kenapa kamu malah main HP."


"Iya ma, bentar lagi Leta kerjain kok."


"Kamu bohongin mama ya, tugas hanya alasan kamukan supaya tidak ikut ke acaranya tuan Handoko." ternyata mama Rina bisa mengendus kebohongan putrinya.


Percuma saja mengelak, Leta yakin mamanya pasti tahu kalau dia berbohong, jadinya dia berkata, "Memang gak ada sieh ma, hanya saja Leta malas aja keluar."


"Ayoklah Ta, kamu ikut, tuan Handoko itu sangat baik sama keluarga kita, bisa dibilang keluarga kita berhutang budi sama beliau, kalau bukan karna dia, kita mungkin tidak bisa hidup enak begini, tuan Handokolah yang membantu papa membuka usaha, dan tidak hanya sampai disana tuan Handoko membantu keluarga kita, begitu kakakmu lulus kuliah, dia langsung mempekerjakan Rafa diperusahaannya tanpa melalui wawancara, dan kamu tahu, tuan Handoko juga berencana menarik kamu untuk bergabung diperusahaannya yang saat ini dipimpin oleh Lio begitu kamu lulus kuliah nanti, jadi kurang baik apa beliau sama keluarga kita Leta, ayoklah kita ke rumah beliau hanya untuk sekedar mendoakan calon cicitnya yang masih berada dalam kandungan Naya." jelas mama Rina panjang lebar, "Lagian kamu ini kenapa sieh, bukannya kamu bersahabat ya dengan Naya, kenapa untuk datang ke acaranya saja kamu malas."


"Kalau seandainya Naya bukan wanita yang disukai oleh Boy, Leta tentu saja akan dengan senang hati datang ke acara syukuran itu." karna tidak mungkin mengatakan hal itu, makanya Leta hanya melafalkan kalimat tersebut dalam hati.


"Leta malas aja ma, mager."


"Ayoklah sayang, kita datang ke acara mereka, kita hanya duduk dan berdoa bersama yang lain, hal inikan tidak sebanding dengan apa yang diberikan oleh tuan Handoko pada keluarga kita." mama Rina mencoba membujuk putrinya.


Leta datang atau tidak, ya pastilah acara akan tetap berlangsung, tapi pasalnya, mama Rina tidak enak saja pada tuan Handoko dan keluarganya kalau salah satu dari anggota keluarga mereka tidak ikut karna tuan Handoko sudah mewanti-wanti untuk meminta semuanya keluarga Rafa untuk hadir karna tuan Handoko sudah mengganggap keluarga Rafa seperti keluarganya sendiri.


"Iya udah deh ma Leta ikut kalau gitu." siapa yang tahan coba kalau masalah balas budi sudah diungkit-ungkit, makanya Leta akhirnya memutuskan untuk ikut ke acara syukuran tersebut.


"Nahh begitu donk sayang."


"Kenapa mama masih disini, keluar donk ma, Letakan mau ganti baju."


"Duhh kamu itu kayak sama siapa saja, kalau mau ganti ya ganti saja, kenapa pakai malu segala ganti baju didepan mama, kamu gak inget apa, waktu masij kecil mama yang mandiin kamu dan cebokin kamu."


"Risih ma, Letakan sekarang udah gede, butuh privasi, bukan anak kecil lagi."


"Iya iya, mama keluar kalau gitu."

__ADS_1


Begitu mamanya keluar, Leta berjalan menuju lemari pakaiannya dan mencari baju yang sopan untuk ke acara syukuran kehamilan Naya, "Malas banget deh gue ikut, ketemu Naya pasti dada gue bakalan sesak, guekan kesel dan gak terima, kenapa Naya gadis kampung dengan tampang pas-pas'an itu yang dicintai oleh Boy, sedangkan gue tidak dilirik sama sekali sama dia, malah gue sengaja lagi deket-deket sama Alvin supaya dia cemburu, ehh, dia malah kelihatan baik-baik saja." sambil memilih baju yang akan dia kenakan, Leta terus saja merutuk.


***


Seperti yang telah direncanakan, rumah besar telah ramai oleh anak-anak panti asuhan beserta dengan para pengurus panti lainnya yang sudah datang atas undangan Naya dan Lio. Anak-anak panti yang biasa hidup sederhana dan tinggal dipanti yang bangunannya sederhana melongo melihat rumah besar yang kini ditinggali oleh salah satu teman mereka yaitu Bulan.


Anak-anak polos itu tidak henti-hentinya mengagumi rumah besar kediaman keluarga Rasyad.


"Rumahnya besar dan bagus, Bulan sangat beruntung diadopsi oleh keluarga kaya raya."


"Iya, beruntung sekali Bulan, dia pasti sangat bahagia tinggal disini dengan orang tua angkatnya."


"Bulan seperti tuan putri sekarang karna tinggal diistana semegah ini."


Itu beberapa clotehan anak-anak itu.


"Teman-teman." teriak Bulan begitu melihat temen-temenya dan para pengurus panti berkumpul diruangan tempat akan dilangsungkannya acara.


"Itu Bulan." tunjuk salah satu anak tersebut.


"Wahh kucing siapa itu yang digendong, menggemaskan sekali."


"Pasti kucingnyalah, orang tua angkatnyakan kaya, pasti mereka yang membelikannya."


Dengan senyum lebar Bulan mendekat ke arah teman-teman lamanya saat dipanti.


Bulan terlihat begitu senang bertemu dengan teman-teman lamanya, anak itu terlihat begitu antusias berbagi cerita dengan teman-teman lamanya.


"Hai teman-teman, aku senang bisa melihat kalian lagi." sapanya ceria.


"Hai Bulan, kami juga senang bertemu dengan kamu, sudah lama ya kita tidak bertemu, kamu kelihatan sehat dan bahagia sekarang." ujar Emi anak berumur 7 tahun.


"Iya aku bahagia, sangat bahagia malah, ayah Lio dan bunda Naya sangat menyayangiku, tidak hanya mereka, kakek buyut dan semua orang dirumah besar menyayangiku." ucap gadis kecil itu dengan penuh semangat bercerita, "Kecuali nenek Renata yang tidak menyayangiku, dia orangnya jahat seperti tukang sihir di buku cerita snow white dan tujuh kurcaci."


Yah yang namanya anak-anak kalau bertemu dengan teman-teman seusianya pasti nyambung banget deh ghibahin orang.


"Ohhh ya, masak sieh nenek angkat kamu itu seperti penyihir." sambung teman Bulan yang bernama Ipah.


"Iya, soalnya nenek Renata itu kerjaannya marah-marah tiap hari."


"Dia mirip nenek-nenek jahat difilm snow white tidak Bulan, apa kamu dikasih makan apel untuk meracuni kamu."


Duhh, anak-anak kalau pada berkumpul begini deh, daya imajinasinya begitu tinggi.


"Tidak."


"Apa dia jelek dengan hidung kepanjangan dan gigi kuning karna tidak pernah sikat gigi."


"Tidak."


"Kamu bisa menunjukkan dimana orangnya."


Mendengar pertanyaan itu, Bulan mengedarkan matanya ke sekeliling ruangan untuk mencari orang yang tengah dighibahin oleh sekumpulan bocil-bocil tersebut, dan matanya terhenti pada sosok berpakaian hitam dengan kerudung hitam dengan wajah masam duduk dipojokan sana, kebanyakan orang berpakaian serba putih mama Renata malah sebaliknya, berpakaian serba hitam seperti orang yang tengah berduka cita saja, kalau difikir-fikir, dia lagi berduka cita sieh, diakan tidak suka dengan kehamilan Naya apalagi pakai acara syukuran begini, dia berada disini juga atas paksaan papanya tuan Handoko.


"Itu dia, nenek Renata." tunjuk Bulan memberitahu teman-temannya yang penasaran.


Mata-mata polos itu mengikuti arah telunjuk Bulan dan mereka melihat dengan jelas sosok yang diceritakan oleh Bulan.


"Itu nenek sihirnya, nenek sihir itu cantik sebenarnya kalau dia tidak memberengut."


"Iya, coba kalau dia senyum sedikit, pasti dia mirip mak lampir." lha, kok makin parah sieh ini.


Mendengar banyolan teman mereka, sekumpulan anak-anak itu tertawa termasuk Bulan.


Saat anak-anak tengah membahas tentang mama Renata yang katanya seperti nenek sihir, orang-orang dewasa tengah membicarakan hal yang bisa dibilang lebih berfaedah, termasuk juga Naya yang kini tengah berbincang dengan ibu panti yaitu ibu Wahidah, pengurus panti tempatnya mengadopsi Bulan.


"Selamat ya mbak Naya atas kehamilannya, saya turut bahagia, semoga mbak Naya selalu diberikan kesehatan dan sik bayi didalam perut dan dilancarkan proses persalinannya nanti." doa tulus ibu Wahidah.


"Amin, terimakasih ya bu atas doanya."


"Sudah masuk berapa mbak Naya usia kehamilannya."


"Baru tiga bulan bu."


"Ohhh, pantas saja perutnya mbak Naya masih rata."


"Iya bu."


****

__ADS_1


__ADS_2