Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
PERTEMUAN YANG MENYESAKKAN


__ADS_3

"Gak heran gue lo sayang banget sama anaknya, secara lo cinta banget sama emaknya." seru Renald menggoda Boy yang saat ini tengah menggendong Bulan.


Saat ini Boy dan Renald tengah menemani Bulan untuk mencari orang tuanya.


"Re, bisa gak lo kontrol bibir lo itu, jangan ngomong macam-macam didepan Bulan." peringat Boy, karna meskipun masih kecil, tapi anak itu mengerti pembicaraan orang dewasa.


Bulan saat ini tengah asyik menjilat es krim yang dibelikan oleh Boy, gadis kecil itu menyahut mendengar cletukan Renald, "Om Boy memang sayang banget sama Bulan, buktinya, om Boy beliin Bulan es krim, om Boy juga pernah menemani Bulan dan bunda beli kucing, dan om Boylah yang memberikan nama untuk kucing Bulan."


"Ohhh ya." sahut Renald tanpa mengindahkan peringatan Boy, dia malah makin senang menggoda, "Sayang banget donk ya om Boy ini sama Bulan, Bulan mau gak kalau om Boy yang jadi ayahnya Bulan."


Boy langsung menatap Renald tajam sebagai kode meminta sahabatnya itu untuk tutup mulut, namun tatapan itu tidak dihiraukan oleh Renald.


"Hmmm." gadis kecil itu terlihat berfikir, wajah polosnya terlihat menggemaskan, "Gak mau." jawabnya setelah beberapa detik berfikir.


"Lho, kok gak mau, katanya om Boy sayang banget sama Bulan."


"Bulankan sudah punya ayah Lio, om Boy jadi paman saja untuk Bulan."


Renald terkekeh mendengar jawaban gadis kecil itu dan menepuk punggung Boy, "Lo denger tuh Boy, lo cukup jadi pamannya saja, lo gak punya kesempatan untuk jadi bapaknya."


Boy mendengus, "Sekali lagi lo bertanya yang aneh-aneh sama Bulan, gue gampar lo Re."


Renald cengengesan, "Hehe, sorry sorry Boy."


"Itu bunda sama ayah." Bulan mengarahkan jari telunjuknya ke arah punggung Naya dan Lio.


Melihat arah yang ditunjuk oleh Bulan dan melihat tubuh Naya dari belakang, jantung Boy berdetak cepat, sebenarnya dia belum siap bertemu dengan Naya, tapi mau bagaimana lagi, keharusan mengantar Bulan membuatnya mau tidak mau terpaksa harus bertemu dengan Naya, sedangkan Renald terlihat begitu antusias karna dia ingin melihat wujud gadis yang membuat sahabatnya patah hati parah.


"Bundaaa, ayahhhhh." dengan suara imutnya Bulan berteriak memanggil Lio dan Naya.

__ADS_1


Boy terlihat membeku begitu melihat gadis yang dia cintai menoleh ke arahnya, hati bergetar sekaligus sesak melihat wajah yang dia rindukan kini berjarak beberapa meter dari hadapannya.


****


Keempat orang yang saat ini tengah mencari Bulan menoleh secara bersamaan saat mendengar suara panggilan tersebut.


"Bulan." gumam Naya dan tanpa aba-aba langsung berlari menghambur ke arah Bulan dengan lelehan air mata membasahi pipinya.


"Nay, jangan lari-lari." peringat Lio yang khawatir dengan kandungan sang istrinya.


Namun Naya tetap berlari dan mengabaikan peringatan Lio.


Sementara itu, hati Boy sudah tidak karuan rasanya saat Naya menghampirinya, menghampiri Bulan lebih tepatnya.


"Ohhh, ini yang namanya Naya, pantas saja Boy patah hati banget saat mengetahui Naya sudah menikah, gadis lugu dengan kecantikan natural beginikan memang tipenya Boy banget." gumam Renald dalam hati sembari meneliti Naya dari atas ke bawah.


"Bulan astagaaa." Naya langsung meraih Bulan dari gendongan Boy, dia memeluk dan mencium Bulan berkali-kali, "Kamu kemana saja sieh nak, bunda itu khawatir sekali dengan kamu." saking bahagianya Bulan ditemukan, Naya sampai melupakan orang disekitarnya.


Naya langsung menoleh ke arah Boy dan Renald yang terpaku ditempatnya, Naya menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum, "Terimakasih ya mas Boy, mas Renald karna telah mengantarkan Bulan, kalau tidak ada kalian, aku tidak tahu deh gimana jadinya."


Meskipun hatinya perih karna kenyataan Boy tidak bisa memiliki Naya, tapi dia seneng karna sedikit tidaknya dia bisa bermanfaat untuk orang yang dia cintai, dan meskipun rasanya susah untuk tersenyum, tapi dia berusaha untuk tersenyum, "Sama-sama Nay, lagiankan kita harus saling tolong menolong."


"Bener itu Nay." timbrung Renald sok akrab, "Lagian Boy akan melakukan apapun untuk kamu." ceplos Renald.


Boy langsung menginjak kaki sahabatnya untuk menghentikannya berbicara lebih banyak.


"Maksudnya." tanya Naya tidak mengerti maksud Renald.


Ditanya begitu, Renald gelagapan, "Ehh maksud aku itu....karna kalian temenan, makanya Boy akan melakukan apapun untuk membantu kamu." ujarnya ngeles, "Iya begitulah maksudku hehe."

__ADS_1


"Naya." tegur Lio yang datang menyusul Naya bersama dengan Rafa dan Leta, Lio langsung mengambil alih Bulan dari gendongan Naya karna ibu hamil tidak boleh membawa beban berat, "Lain kali jangan lari-lari begitu Nay, kalau sik bayi kenapa-napa gimana."


Naya langsung memegang perutnya, dia membenarkan ucapan suaminya, "Maafkan Naya mas, habisnya Naya sangat khawatir sama Bulan, dan Naya begitu lega saat mengetahui Bulan sudah ditemukan."


Leta dan Boy bertatapan sesaat sebelum sama-sama membuang pandangan.


"Hmmm." gumam Lio dan beralih untuk memberi peringatan pada putri angkatnya, "Bulan, lain kali jangan seperti ini lagi, pergi tanpa pamit, kamu tahu tidak, kamu pergi diam-diam membuat ayah dan bunda khawatir, kamu lihat itu bunda kamu sampai menangis saking khawatirnya sama kamu."


Gadis kecil itu menunduk dan meminta maaf, "Maafkan Bulan ayah, bunda karna telah membuat ayah dan bunda khawatir, Bulan janji lain kali tidak akan pergi diam-diam."


"Bagus, lain kali jangan diulangi lagi ya."


"Iya ayah."


"Sudah mas, jangan marahin Bulan, kasihan dia." seru Naya menyela.


Kini Lio beralih ke arah Boy dan Renald, "Saya sebagai suami Naya dan ayah dari Bulan" Lio bener-bener menekan kata-katanya, "Saya mengucapkan terimakasih karna kalian telah mengembalikan Bulan kepada kami." ujar Lio berusaha untuk bersikap ramah, karna bagaimanapun dia tahu kalau laki-laki bernama Boy itu menyukai istrinya dan Lio tidak suka akan hal itu, apalagi saat ini Boy tidak mengalihkan perhatiannya dari Naya, itu membuat Lio ingin menyemprotkan cairan cabe ke mata Boy supaya tidak bisa menatap Naya.


Mendengar ucapan terimakasih dari suami Naya, barulah Boy mengalihkan pandangannya dari Naya, sekaligus kalimat tersebut menyadarkannya kalau Naya adalah milik orang dan dia tidak punya hak untuk menatap Naya, dia hanya mengangguk sebagai jawaban dan menunduk.


Renaldlah yang menjawab, "Iya kak, sama-sama, kami senang bisa membantu."


"Mbak Naya sudah punya suami Boy, dia tidak mungkin bisa kamu miliki, tidak bisakah kamu melihatku saja yang selalu mengharapkan kamu sejak dulu." desah Leta dalam hati yang melihat tatapan Boy yang penuh cinta kepada Naya, Leta memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


"Karna ini sudah siang, sekaligus sebagai ucapan terimakasih kami karna kalian telah membawa Bulan kepada kami, bagaimana kalau kita makan siang bersama." saran Rafa mengajak Boy dan Renald bergabung bersama mereka.


Lio ingin menolak usulan Rafa, karna dia tidak ingin istrinya dipandang terus-terusan oleh laki-laki lain, tapi berhubung Boy sudah membawa Bulan kepadanya, jadinya, terpaksa dia dengan berbesar hati menerima usulan tersebut.


"Iya, kita makan siang bersama, sebagai ucapan terimakasih kami karna kamu telah membawa Bulan kepada kami, kalian mau ya mas Boy dan mas Renald, jangan menolak." ujar Naya penuh harap karna dia melihat Boy punya gelagat untuk menolak ajakan tersebut.

__ADS_1


Demi melihat Naya yang memohon begitu, mana tega Boy menolak, dia akhirnya mengangguk, "Baiklah."


****


__ADS_2