Istri Yang Tidak Diharapkan

Istri Yang Tidak Diharapkan
KAMU HARUS SEGERA MENIKAHI CLEO


__ADS_3

Dengan menggandeng tangan Bulan Naya berjalan dikoridor rumah sakit, berulangkali dia menyeka air matanya yang sudah siap meluncur, sesekali terdengar suara isakan yang tak mampu dia tahan.


"Ya Tuhann, bagaimana ini, rasanya ikhlas itu sangat sulit, mas Lio baru saja menyuapi Cleo dan aku sudah tidak kuat begini melihatnya, bagaimana kalau sampai aku menyaksikan pernikahan mereka nanti, apa aku akan sanggup."


Memang ya, hal yang paling sulit dilakukan oleh mahluk bernama manusia adalah ikhlas, apalagi bagi seorang wanita, meskipun Naya setengah mati berusaha untuk ikhlas, tapi dibagian hatinya yang paling dalam ada ketidakrelaan membagi seorang yang sangat dia cintai dengan gadis lain.


Bulan mendongak begitu mendengar suara isakan bundanya, gadis cerdas itu tahu kalau bundanya saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, sehingga hal itu mendorongnya untuk bertanya, "Bunda, bunda nangis ya, bunda nangis karna papa nyuapin tante itu."


"Ehhh." mendengar pertanyaan tersebut Naya langsung menghentikan langkahnya, otomatis Bulan juga menghentikan langkahnya karna tangan mungilnya berada dalam genggaman Naya, "Bunda gak nangis kok sayang, masak iya bunda nangis gara-gara ayah nyuapin tante tadi, ya gaklah sayang."


"Tapi Bulan lihat sejak tadi bunda nyeka air mata bunda terus, hidung bunda juga merah."


"Ini..." Naya berusaha untuk mencari alasan, "Ini hanya kelilipan kok sayang, tadi ada serangga kecil yang terbang ke arah mata bunda." bohongnya.


"Ohhh." Bulan sepertinya percaya.


"Ya udah yuk kita cari makan ya." mereka kembali berjalan.


"Bunda, kenapa ayah harus nyuapin tante itu, tante itukan sudah gede bisa makan sendiri, Bulan saja yang masih kecil tidak pernah minta disuapin sama ayah." pertanyaan polos itu meluncur dari bibir mungil Bulan.


"Kan tantenya lagi saki sayang, tubuhnya lemah, harus dibantu kalau mau makan."


"Tapikan ada nenek disana, kenapa harus ayah yang nyuapin, kenapa tidak nenek saja." Bulan bener-bener kritis deh anaknya, rasa ingin tahunya itu sangat besar.


"Itu karna...."


"Karna nenek gampang marah ya bunda, makanya tante itu tidak mau disuapin nenek dan maunya disuapin ayah." potong Bulan mengambil kesimpulan mengingat nenek angkatnya itu sering marah-marah.


"Iya seperti itulah." ujar Naya seadanya karna tidak mungkin menjelaskan yang sebenarnya pada Bulan yang masih kecil dan walaupun dijelaskan, Bulan pasti tidak akan mengerti kerumitan masalah orang dewasa.


Mereka tidak jadi ke cafetaria rumah sakit, Naya lebih memilih membeli nasi goreng dipinggir jalan, meskipun cafetaria rumah sakit juga menyediakan nasi goreng, Naya selalu yakin kalau jajanan yang dijual oleh abang-abang gerobakan jauh lebih enak.


****


"Hahaha, pasti gadis kampung itu cemburu, makanya dia buru-buru pergi karna tidak tahan melihat aku bermanja-manja sama Lio." dalam hati Cleo tertawa bahagia melihat penderitaan Naya.


Lio ingin mengejar Naya, dia tahu Naya sakit hati, meskipun tadi Naya sendiri yang menyuruhnya untuk menyuapi Cleo, tapi tidak bisa dipungkiri, tidak ada wanita yang suka melihat laki-laki yang dicintai memberikan perhatian sama wanita lain.


Saat Lio akan mengejar Naya, mama Renata yang melihatnya meletakkan mangkuk yang ada ditangannya langsung menahannya, "Lio, suapi Cleo sampai habis, Cleo makannya lahap kalau kamu yang menyuapinya, yang jadi fokus utama kamu saat ini adalah Cleo, bukan istri kamu yang sehat wal'afiat itu."


Lio mendengus, dengan terpaksa kembali meraih mangkuk bubur yang tadi dia letakkan, sedangkan Cleo tersenyum penuh kemenangan.


"Makasih ya Lio, aku kenyang banget." ucap Cleo manja saat bubur dimangkuk tersebut tandas dan berpindah ke perutnya.


"Hmmm." gumamnya resah karna memikirkan Naya.


"Lio, kamu harus segera menikahi Cleo, tidak baik untuk ibu hamil seperti Cleo tinggal sendirian, kalau dia ingin ini itu dia tidak tahu harus meminta tolong sama siapa, parahnya kalau sampai jatuh dan terjadi apa-apa, tidak ada yang bisa membantunya dengan cepat, dan yang paling penting, mama tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali, dan tadi untungnya Cleo menghubungi mama sehingga mama datang tepat waktu dan membawanya ke rumah sakit, kamu yang dihubungi malah mematikan ponsel karna sibuk senang-senang sama istri kamu itu." mama Renata mendesak Lio untuk menikahi Cleo.


"Hah, pernikahanku dan Lio dipercepat, yesss, semakin cepat semakin baik." tentu saja kata-kata mama Renata membuat Cleo tertawa bahagia, "Meskipun sakit, tapi ternyata, jatuhnya aku membawa berkah juga."


"Tapi...." Lio ingin membantah, tapi mama Renata tidak ingin mendengar bantahan.


"Gak ada tapi-tapian Lio, pokoknya bulan ini kamu sudah harus menikahi Cleo, lagian mama juga kesepian, dan kalau kamu menikah dengan Cleokan mama jadi ada temannya dirumah, dan juga kalau Cleo tinggal serumah dengan kita ada yang menjaganya."


"Ya gak bisa secepat itulah ma, mama fikir nikah perkara gampang apa, harus ngurus ini ngurus itu, hal seribet itu tidak mungkinlah bisa diurus dalam jangka waktu satu bulan." Lio hanya mencari-cari alasan saja.


"Gak usah besar-besaran juga nikahnya, nikah siri aja dulu, supaya Cleo bisa tinggal serumah dengan kita, mama khawatir kalau dia tinggal sendiri, mama takut kejadian ini akan terulang kembali, memangnya kamu tidak khawatir apa dengan bayi kamu."


Lio hanya menghela berat, tidak bisa menolak perintah sang mama, kepalanya jadi mumet dan defresi.


Sementara Lio terlihat frustasi, Cleo malah tersenyum bahagia, akhirnya keinginannya untuk menjadi nyonya Rasyad sebentar lagi akan terwujud, dan setelah dia dinikahi oleh Lio, dia harus memikirkan cara untuk menyingkarkan Naya.


****


Saat tengah berjalan melewati taman kecil diarea rumah sakit, Boy menghentikan langkahnya saat melihat seseorang yang tidak asing, meskipun pencahayaan tidak seterang siang hari, tapi dia mengenali gadis dan anak kecil yang duduk dibangku taman tersebut.


"Itu sepertinya Naya dan Bulan." beberapa saat Boy hanya mengamati dari jarak beberapa meter untuk benar-benar memastikan kalau yang dilihatnya adalah Naya dan Bulan.


Cinta tidak mudah dilupakan begitu saja, apalagi bagi Boy yang sulit jatuh cinta, sehingga melihat gadis berambut panjang yang dia yakini adalah Naya membuat jantungnya berdetak tidak normal, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, Boy sampai meletakkan tangannya diarea tepat dimana jantungnya berada, "Ternyata Naya masih membuat jantungku berdetak tidak karuan begini." gumamnya.

__ADS_1


Seharusnya Boy langsung saja masuk ke dalam rumah sakit supaya dia tidak perlu bertemu dengan Naya dan dengan begitu itu akan mempermudahnya untuk melupakan Naya, namun yang malah dia lakukan adalah membelokkan langkahnya untuk menemui kedua gadis berbeda umur tersebut yang dia yakini adalah Naya dan Bulan.


"Naya, Bulan." tegurnya begitu tiba didekat dua orang itu.


Naya dan Bulan menoleh secara bersamaan ke arah sumber suara.


Boy tersenyum lebar saat mengetahui kalau dua orang tersebut adalah beneran Naya dan Bulan.


"Ya Tuhan, gadis ini, boro-boro aku bisa melupakannya, setiap kali melihat matanya yang polos kayak kucing itu membuatku semakin jatuh cinta kepadanya." kini dia menyesali keputusannya menghampiri Naya.


"Om Boyyyy." Bulan berlari dan memeluk kaki Boy.


Karna sikap Boy yang friendly dan sayang sama anak-anak membuat Bulan nyaman sama Boy sejak pertama kali mereka bertemu, sehingga saat bertemu dengan Boy Bulan selalu dengan antusias menghampirinya.


Boy mengangkat tubuh keci Bulan dan menggendongnya, "Duhhh gadisku, kamu makin cantik saja."


Meskipun masih kecil, tapi Bulan tersipu saat dipuji cantik, "Terimakasih om Boy, om Boy juga tampan."


"Kamu adalah orang yang 999 yang mengatakan kalau om Boy tampan." ujarnya terkekeh.


"Ihhh om Boy narsis deh."


"Bukan narsis sayang tapi fakta, iya gak Nay."


"Iya, mas Boy memang tampan." Naya membenarkan.


"Tuhkan kamu dengar, bunda kamu bilang om Boy ini tampan."


"Tapi percuma saja tampan kalau jomblo." ledek Naya tersenyum tipis, sepertinya kehadiran Boy bisa sedikit menghiburnya.


"Jomblo itu apa bunda."


"Jomblo itu tidak laku sayang." jawab Naya ngasal.


Boy yang tidak terima dikatakan tidak laku mengintrupsi, "Aku bukannya gak laku Nay, hanya saja yahh." Boy mengangkat bahu, "Aku hanya susah jatuh cinta."


"Yang kayak kamu." Boy menjawab serius, namun Naya menyangka kalau Boy hanya bercanda dan itu berhasil membuatnya tertawa.


"Hahaha, mas Boy ini lucu juga ya kadang-kadang, bisa saja bercandanya."


Boy tidak berusaha menyangkal ucapan Naya, fikirnya, biar saja Naya menyangka kalau dia hanya bercanda, toh juga dia tidak mungkin bisa mendekati Naya.


"Ohh ya, mas Boy ngapain ke rumah sakit." kini berbicara normal.


"Aku cuma mau jengukin teman yang sakit, kalau kamu dan Bulan, kenapa bisa dirumah sakit juga dan duduk dibangku taman." Boy bertanya balik.


"Mmm." bingung juga Naya bagaimana menjelaskannya, tidak mungkinkan dia menjawab kalau dia tengah menjenguk calon madunya, "Kami menjenguk teman juga, lebih tepatnya temannya mas Lio." akhirnya kata temanlah yang keluar dari bibir Naya, "Karna Bulan lapar, makanya kami keluar cari makan dan duduk sebentar ditaman untuk menikamati indahnya malam." bohongnya, dia memang tidak mau lagi masuk ke dalam, meskipun berusaha untuk ikhlas membiarkan Lio menikahi Cleo, tapi melihat mereka berdua mesra membuatnya sakit hati juga.


Seketika angin malam berhembus, hembusannya tidak terlalu kencang tapi mampu membuat orang yang tidak mengenakan pakaian tebal seperti Naya menggigil kedinginan, sehingga dia mengelus lengannya.


"Diluar dingin Nay, kenapa tidak pakai jaket." ujar Boy, padahal dia ingin sekali melepas jaketnya begitu melihat Naya terlihat kedinginan.


"Akhhh iya, tadi lupa bawa jaket mas."


"Turun dulu sayang." Boy menurunkan Bulan dari gendongannya.


Boy melepas jaketnya karna tidak tega melihat Naya yang kedinginan, dia menyampirkan jaket hitam itu ditubuh Naya.


"Ehhh, apa yang mas lakukan."


"Pakai, kamu kedinginankan."


"Tapi mas Boy...."


"Aku kuat kok, akukan laki-laki."


Seketika Naya jadi ingat sama Wahyu, dulu juga Wahyu melakukan hal ini padanya dan mengatakan kalimar yang sama seperti yang dikatakan oleh Boy, namun ingat bukan berarti masih ada rasakan, hanya saja, saat orang melakukan hal tertentu pada kita, dan ada orang lain yang juga pernah melakukannya pada masa lalu, mau tidak mau membuat seseorang ingat akan masa lalunya itu.


"Terimakasih mas."

__ADS_1


"Sama-sama Nay." lisannya, "Jangankan jaket, apapun akan aku berikan kepadamu Nay." suara hati Boy.


****


"Naya dan Bulan kenapa belum kembali, jangan-jangan terjadi sesuatu sama mereka."


Lio terlihat cemas, dia gelisah dan fikiran negatif mulai mampir dikepalanya, matanya tidak lepas menatap pintu berharap pintu akan terbuka dan melihat Naya dan Bulan.


Karna takut terjadi apa-apa sama istri dan anaknya, Lio bangun dari duduknya dan berniat mencari mereka, dia melangkah tanpa mengatakan apa-apa sama mamanya dan Cleo.


Dan tidak mungkin bangetkan mama Renata diam saja tanpa bertanya melihat putranya itu pergi begitu saja, makanya dia mengajukan pertanyaan tepat saat Lio sudah meraih kenop pintu, "Lio, mau kemana kamu."


"Lio mau nyusul Naya dan Bulan ma, Lio khawatir karna mereka belum kembali juga."


"Huhhh, lagi-lagi gadis kampung itu yang dia khawatirin." desah Cleo tidak suka.


"Naya itu sudah besar Lio, dia bukan anak kecil lagi yang harus kamu khawatirin kalau dia belum kembali, dia tahu jalan."


"Naya itu tidak seperti Cleo ma, dia itu gadis rumahan yang jarang keluar, mama tidak ingat dia pernah tidak ingat jalan pulang saat pergi sendiri untuk membeli mi ayam."


Iya mama Renata ingat, saat itu dia benar-benar berharap kalau Naya hilang saja sekalian tidak perlu balik lagi ke rumah, tapi ternyata harapannya itu tidak terwujud karna Naya kembali dengan selamat dan utuh ke rumah.


"Dasar memang gadis kampung, kerjaannya bikin repot orang mulu." rutuk mama Renata tanpa suara, kalau dia terang-terangan mengatakan hal itu tentu saja Lio akan marah padanya.


"Kamu sebaiknya antar dia dan Bulan pulang, dan setelah itu kamu kembali kemari."


Lio berbalik saat mendengar kalimat terakhir yang dikatakan oleh mamanya, "Kenapa aku harus kembali ma."


"Ya karna Cleo gak ada yang jagain, mama juga akan pulang begitu kamu kembali kesini setelah kamu mengantar istrimu itu, biar kamu yang menjaga Cleo disini, kasihan Cleo gak punya keluarga."


Lio tidak mau, tapi dia tidak bisa menolak perintah mamanya, makanya tanpa menjawab dia langsung keluar begitu saja.


"Ingat ya Lio, kamu harus kembali."


Lio berjalan dengan langkah lebar, dia ingin marah tapi kepada siapa, dia seharusnya marah pada dirinya sendiri, karna dialah yang menyebabkan semua ini terjadi, dan kini dia kembali harus meninggalkan Naya sendiri demi untuk menemani Cleo.


Saat akan keluar dari pintu kaca, dia melihat Naya, rasa cemas langsung sirna begitu melihat Naya, namun Naya tidak sendiri, dia terlihat ngobrol dengan seseorang, "Naya ngobrol dengan siapa." dari jarak yang lumayan jauh dia tidak bisa mengenali Boy.


Lio berjalan dengan langkah lebar mendekati Naya, begitu sudah dekat, barulah dia tahu siapa laki-laki yang tengah bersama Naya.


"Nayaaa." tegurnya.


"Mas Lio."


Boy mengangguk sebagai kesopanan saat melihat Lio.


"Aku dan mas Boy tidak sengaja bertemu, dia katanya mau menjenguk temannya yang sedang sakit." Naya memberitahu.


"Ohhh." respon Lio dan melihat tidak suka pada jaket milik Boy yang tersampir dipundak Naya, tanpa menyapa Boy hanya sebagai sebuah sopan santun Lio malah langsung mengajak Naya pulang.


"Nay, ayok pulang."


"Kita pulang sekarang mas."


Lio mengangguk.


"Baiklah."


Namun sebelum beranjak, Lio mengambil jaket yang tersampir ditubuh Naya dan mengembalikannya pada pemiliknya, "Terimakasih, tapi lain kali kamu tidak perlu meminjamkan jaketmu untuk Naya." ketusnya memandang Boy tajam.


"Ayok Nay, ayok sayang kita pulang." dia meraih tangan Naya dan menggenggamnya, sementara tangan yang satunya menggandeng Bulan.


"Kami pulang dulu ya mas Boy." pamit Naya sebelum pergi.


Bulan juga pamit sembari melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan, "Dadah om Boy, sampai ketemu lagi."


Boy tersenyum melepas kepergian gadis yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya, dia memang telah berjanji untuk melupakan Naya, salah satu caranya adalah dengan tidak menghubunginya, namun takdir seperti mempermainkannya karna Tuhan selalu mempertemukannya secara tidak sengaja dengan Naya, dan hal tersebut membuatnya gagal total untuk move on.


****

__ADS_1


__ADS_2