Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
102


__ADS_3

Mendengar orang yang menggedor pintu dengan keras, Ariana langsung pergi ke luar.


"Siapa?"


Reko tidak menjawabnya, malahan dia kembali menggedor pintunya dengan lebih keras lagi.


Jika tidak ada orang yang membuka pintu itu, maka dia akan mendobraknya, yang terpenting adalah menyelamatkan Kenzie.


Ariana menjadi cemas mendengar pintu di gedor dengan keras. Mungkin Siska sudah mengetahui keberadaannya, dan akan meminta uang padanya, atau mungkin juga Daniel. Memikirkan ini Ariana menjadi bingung dan cemas. Dia langsung memberi tahu Reva, Revi dan juga Deffan yang barusaja datang untuk bersembunyi dan tidak ada yang boleh bersuara, mereka tidak boleh keluar.


Revi mengerjapkan matanya kemudian berlari ke tempat tidur, merasa kurang aman, kemudian dia berlari lagi membuka lemari pakaian dan bersembunyi di dalamnya seperti anak kucing.


Sementara Reva yang tampak bingung lalu bertanya dengan Ariana.


"Mama, mengapa harus bersembunyi? Memangnya siapa yang menggedor pintu seperti itu?"


Deffan juga tampak terkejut.


Ariana yang tidak punya waktu lagi untuk menjelaskannya dan buru-buru mendorong Reva dan juga Deffan untuk bersembunyi di dalam kamarnya.


"Bersembunyi cepat, harus nurut dan jangan keluar, oke."


Baru saja dia selesai berbicara dan menutup pintu kamarnya, pintu sudah di dobrak dengan keras, dan pintu itu pun terbuka.


Reko menyentuh bahunya, mengambil napas dalam-dalam sambil matanya melihat ke pintu yang sudah rusak. Dia tidak menyangka pintu yang terlihat lapuk itu sangat keras, hingga membuat bahunya sakit.


Melihat Reko, Ariana melebarkan matanya serta menutup kedua mulutnya yang sedang ternganga dan saat itu pula Reko melihat kearahnya dan sama-sama saling pandang. Mereka berdua sama-sama terkejut.


Ha ....


"Reko, kau .... Mengapa kau ada di sini?"


"Dokter Messa?"


Reko mengernyitkan keningnya menatapnya dengan cermat.


"Kau, apakah kau tinggal di sini?"


Ariana merasa malu dan juga gugup dengan kedatangan Reko secara tiba-tiba ini.


"Ya, iya. Silahkan duduk."


Reko memperhatikan keadaan rumah itu dengan cermat. Cat rumah ini keseluruhannya sudah mengelupas, plafonnya juga sudah semerawut dimana-mana. Reko kemudian berjalan dan duduk di sofa.


"Aku melihat Kenzie keluar menyelinap dari jendela, maka dari itu aku datang kemari mengikutinya."

__ADS_1


Kenzie?


Yang tadi barusan pulang adalah Deffan, bukan Kenzie!


Aduh gimana ini!


Sulit untuk menjelaskannya, Reko juga tidak mudah untuk di bohongi, dia tidak akan percaya dengan omongannya, lebih baik begini saja.


Beritahu saja dia kebenarannya, mungkin Reko bisa memegang rahasia ini.


"Lalu di mana Kenzie?"


Ariana berdiri dan berjalan kearah kamar dimana anak-anak bersembunyi tadi. Tidak lama kemudian Reva dan Deffan keluar.


Reko menatap Kenzie dengan khwatir.


"Kenzie, kenapa kau tidak mengatakan kalu kau ingin menemui dan mencari dokter Messa? Aku kan bisa mengantar mu. Sangat berbahaya bagi seorang anai kecil yang dengan diam-diam datang kesini seorang diri, apakah kau mengerti?"


Deffan mengangguk tanpa bersuara.


Dalam hatinya berkata: 'aku terlalu ceroboh. Tadi buru-buru keluar hanya memikirkan cara pulang, aku benar-benar tidak memperhatikan paman Reko yang juga diam-diam mengikuti ku dari belakang.'


Deffan mengangkat kepalanya dan menatap Ariana seolah-olah sedang meminta maaf atas kesalahannya.


Diam-diam Reko merasa takut kalau dia sudah mengetahui keberadaannya, apakah tidak akan menjadi masalah bagi Mamanya nanti?


"Paman mu menghawatirkan mu. Cepat berterima kasih kepadanya." perintah Ariana dengan penuh ketegasan.


"Terimakasih banyak Paman."


Deffan tampak senang dan mengulum bibirnya tersenyum melirik Reko. Begitu mendengar dan melihat ekspresi Kenzie, mata Reko tampak terbelalak.


Reko berjalan menghampiri Kenzie kemudian mengulurkan tangannya mencubit wajah kecilnya.


"Sepertinya kau yang sekarang terlihat lincah dan sangat ceria, sangat menyenangkan. Berapa lama kau akan bertahan dengan sifat seperti ini, sebelum kembali menjadi wajah yang dingin dan kaku kembali?


Deffan mengerjapkan matanya dengan polos. Orang pertama yang merasakan adanya perubahan mental pada dirinya adalah Reko, jadi tak ada gunanya dia menjelaskan apapun padanya, biarkan dia berpikir seperti itu saja.


Setelah melihat Kenzie yang tidak bergeming untuk menjawab kata-katanya, Reko kembali duduk dan menatap Ariana.


"Dokter Messa, kau adalah seorang dokter junius yang terkenal secara internasional. Bisakah kau melakukan akupuntur untuk penyakit Kenzie?"


"Penyakit?"


Ariana menatapnya dengan heran, kenapa Reko berkata seperti itu? Deffan yang sehat secara pisik dan juga mental, mengapa dia dikatakan sakit?

__ADS_1


Penyakit Kenzie juga sudah sembuh!


Reko terbatuk, lalu bangkit dengan hati-hati menatap dokter Messa.


"Dokter Messa, Kenzie mengalami sakit mental yang serius sekarang. Kau dapat memeriksanya nanti, jika Kenzie sembuh kakak ku pasti akan memberimu banyak hadiah sebagai tanda terima kasihnya kepadamu!"


Ariana pun menjadi ikut cemas seketika.


Deffan melihat ketakutan dari wajah Ariana dan dengan cepat dia menjelaskannya kepada Reko.


"Itu adalah kesalahan diagnosis oleh dokternya dukun, Kenzie tidak sakit mental, aku pun masih normal!"


Ariana menarik Deffan kesamping, "aku akan memeriksanya."


Reko mengangguk dengan rasa terimakasih.


"Terima kasih dokter Messa."


Di kamar tidur, Ariana menatap Deffan dengan cemas.


"Katakan dengan Mama, ada apa ini?"


"Ma, begini sebenarnya ....." 'Deffan menjelaskan dengan detail bagaimana kejadiannya hingga Paman dan juga yang lainnya mencurigai penyakitnya itu'


Ariana menganggukkan kepalanya beberapa kali, dia baru paham sekarang. Kenzie dan Deffan memang mirip dalam segi apa pun, hanya sikap dan karakter mereka saja yang berbeda. Jadi mereka menyangka semuanya adalah Kenzie, dan hanya Kenzie yang memiliki wajah serupa dengan Daniel. Mereka memang tidak tau kalau mereka kembar.


Beberapa saat kemudian, Ariana menarik tangan Deffan untuk keluar. Reko yang tampak khwatir menunggu dengan cemas.


"Bagi mana? Apakah bisa di sembuhkan?"


Ariana tersenyum lalu menggeleng dengan pelan-pelan sambil duduk di sofa.


"Anak-anak memang seperti itu, mereka cenderung nakal, menangis kemudian tiba-tiba tertawa, mereka juga kadang ramah dan terkadang juga tidak ingin bicara dan tidak ingin ganggu. Kenzie normal-normal saja, tidak ada gangguan mental."


Reko tampak berpikir, ucapan dokter Messa ada benarnya juga. Saat sedang memikirkan itu, tiba-tiba ponselnya berdering, kepala pelayan rumah Daniel menelponnya.


"Tuan kedua, mainan kapal-kapalan yang kau berikan kepada Tuan muda itu, dia mengatakan mau membuang semuanya, aku benar-benar tidak bisa menghentikannya, menurut mu ...."


"Membuangnya?"


Reko mengangkat matanya dan melirik Kenzie yang ada di depannya.


Keponakan sulungnya itu sedang bersamanya, dan dia terlihat sangat patuh, bagai mana mungkin ..., atau Kenzie tadi menelpon dan mengatakan bahwa mainan-mainan itu harus di buang?


"Ya, tuan muda, ribut sekali. Dia mengatakan kalu rumahnya tidak boleh menyimpan barang-barang yang kau berikan. Kau lihat saja, apakah aku akan membawanya kembali atau menyimpannya di tempat lain atau ...."

__ADS_1


"Apa maksud mu? Kenzie sedang bersama ku sekarang, kamu jangan mengada-ada! Apakah kau dengan sengaja ingin merusak hubungan ku dengan keponakan ku itu?"


__ADS_2