
❤️ vote ❤️
Di sore hari
Daniel kembali ke kantor dan langsung masuk ke ruang Ariana dengan marah.
Melalui kaca jendela yang bening, dia bisa melihat Ariana yang sedang menyalin dokumen-dokumen itu sedikit demi sedikit.
Wanita ini mengerti bahasa negara A dan perusahaan sangat membutuhkannya. Dia akan membiarkan wanita ini tetap bekerja di sini apa bila dia masih bersikeras untuk tetap bekerja.
Tetapi dia tidak akan membiarkan dia mendekati Kenzie lagi.
Daniel yang sudah membulatkan keputusannya, langsung membuka pintu ruang kerja Ariana dengan kasar.
Melihatnya masuk tiba-tiba, Ariana terkejut dan langsung berdiri. Apakah dia masuk untuk memeriksa dokumen tulisan tangannya?
Ariana mengambil dokumen yang baru saja selesai dia salin, dan menyerahkannya kepada Daniel yang berdiri di depannya.
"Saya tidak tau bagaimana menulis ini, ini lihatlah, apakah pak Daniel puas dengan hasilnya?"
Ariana berkata menatapnya dengan penuh hormat.
Daniel mengernyit serta menerima dokumen itu, melihatnya dengan cermat. Wanita ini benar-benar menuliskannya dengan rapi dan ini sungguh sempurna, dia tidak menyangka, tulisannya begitu bagus. Sangat menarik sekali.
Tetapi ....
Matanya yang dingin menyipit dan dengan tega merobek salinan dokumen yang sudah susah payah Ariana salin.
Bret ..., bret ..., bret ....
Dengan gampang sekali merobeknya. Bola mata Ariana seakan ingin melompat ke luar. Dadanya langsung bergetar hebat, tidak percaya akan apa yang dia lihat.
"Tidak sesuai, dan ini tidak lulus. Tulis ulang!"
"Tapi ...." Mata Ariana nanar menatap sobekan kertas yang sudah berhamburan di lantai.
Ariana yang sedari tadi belum makan siang, melihat dia merobek kertas salinan dokumen yang susah payah dia tulis tangan, begitu gampangnya dia mengatakan seperti itu. Ariana mengepalkan tangannya, dan hatinya penuh dengan amarah.
__ADS_1
Ketika dia ingin mengatakan sesuatu. Daniel yang brengsek itu mendahuluinya berkata lagi.
"Mulai hari ini, kau tidak perlu menjadi pengasuh Kenzie lagi, kedepannya kau jangan mendekati atau bertemu dengan putraku!"
Nada yang memerintah itu terdengar dengan sangat jelas dan tegas!
Dia menunjukkan perintah yang tidak mau dilawan.
Ariana terkejut, seketika keningnya berkerut bingung.
"Kenapa?"
Daniel menatapnya dengan rasa jijik dan mencibir.
"Mengapa? Kau tau sendiri apa alasannya. Kau pura-pura bodoh atau memang kau bodoh? Kau pikir dengan memperalat Kenzie, maka kau akan mendapatkan semua yang kau mau? Jangan harap!"
Daniel berkata dengan sinis serta wajahnya berubah kelam.
"Kapan aku memperalat Kenzie? Aku meminta Kenzie melakukan apa? Daniel apa maksud mu?"
Daniel mendengus dingin. Bibirnya yang tipis terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman yang mengejek.
Suara Daniel semakin tinggi. Ariana ketakutan mendengar nada suaranya yang melengking dengan wajah yang merah padam.
"Pak Daniel, kapan saya memberi tahu Kenzie? Aku tidak pernah memberitahunya, tidak pernah!"
Daniel terlalu malas mendengarkan apa pun yang di katakan Ariana. Matanya menatap tajam ke arahnya, seperti memberikan sebuah isyarat tidak ingin di bantah lagi. Lalu dia membalikkan badannya, pergi dengan langkah yang lebar, kemudian membanting pintu dengan sangat keras.
Ariana memejamkan matanya saat pintu ruangan kerjanya terbanting dengan keras.
Di kantor sudah sengaja mempersulit, dan sekarang masih memintanya untuk menjauhi Kenzie? Daniel bajingan itu memang sengaja ingin menyusahkan nya. Sangat-sangat tidak punya hati sama sekali.
Napas Ariana naik turun dengan begitu cepat, tangannya terkepal erat, menatap lembaran kertas yang sudah di hancurkan oleh laki-laki tanpa perasaan itu. Memikirkan itu hati Daniel serasa di tusuk.
"Daniel, aku harap akan ada balasan yang setimpal dengan perbuatan mu ini, kau sudah benar-benar kelewatan. aku harap, walaupun bukan aku yang membalasnya, suatu waktu nanti, kau akan merasa tertindas seperti ku, mungkin lebih dari ini!"
Ariana berkata dalam hatinya, serta mengeraskan rahangnya, tangannya terkepal erat tiba-tiba memukul meja dengan keras. untung saja mejanya bukan dari kaca, kalau tidak, mungkin meja itu akan pecah berkeping-keping.
__ADS_1
Ariana tau dia tidak bisa berbuat apa-apa sekarang. Selain mengikuti alur pria gila itu. Jika dia bersikeras untuk melawan Daniel dia tau apa konsekuensinya.
Tadinya, untuk bekerja di sini sudah di atur oleh Nyonya Maira, Daniel memperlakukannya begini, sepertinya sudah menemukan cara untuk menghadapi mamanya itu, jadi dia pun tidak menganggap dan peduli lagi dengannya.
Tapi, bagaimana dengan Kenzie? Dia masih membutuhkan mamanya untuk merawatnya.
Di malam hari
Ketika Kenzie pulang dari sekolah, dia dengan wajah kaku dan tanpa ekspresi, menatap dengan sedih ke bangau kertas yang telah di buat Ariana untuknya, Ariana melipat kertas itu sebelumnya. Dia juga tidak mau bicara.
Kepala pelayan rumah tangga itu tau bahwa Tuan muda mereka merindukan sosok dokter Messa. Dia menghela nafas dalam-dalam dan membawakan Kenzie lego terbaru yang suka dia mainkan.
Dengan hati-hati sekali, pelayan itu mendekati Kenzie, rasa iba yang tak tertahankan melihat anak kecil berwajah sedih.
"Tuan muda, aku temani kau bermain Lego ya, ini aku bawakan lego terbaru untuk mu. Kau biasanya suka membuat kapal layar."
Kenzie seolah-olah tidak mendengarkan dia bicara. Bahkan dia tidak meliriknya sama sekali, lalu dia berdiri dan pergi ke kamarnya.
Kepala pelayan itu menatap sedih punggung kecil Kenzie yang menghilang di balik pintu kamarnya.
Sebaik-baiknya Lego, apakah ada yang lebih baik dari mamanya?
Kenzie duduk di tepi tempat tidurnya. Matanya menatap kosong ke arah jendela kaca. Pada siang hari, Mama di suru kerja lembur, dan Mama tidak dapat menjemputnya ke sekolah taman kanak-kanak. Pada malam hari Mama juga tidak datang ke sini! Ini pasti ulah Papa.
Papa sangat keterlaluan!
Kenzie dengan kesal membaringkan tubuhnya di kasur. Saat itu dia mendengar suara Daniel memanggilnya untuk makan malam. Tetapi dia dengan keras kepala tidak ingin menuruti perintahnya.
"Tuan, kau lihat tadi siang, Tuan muda tidak mau makan, dan sekarang juga tidak mau makan malam. Dia tidak boleh terus menerus menolak makan."
Mata Daniel tampak sedikit keruh. Apakah Kenzie berencana untuk terus protes dengan cara mengancamnya untuk tidak makan? Demi Ariana?
"Tidak usah pedulikan dia. Dia juga akan makan nanti, jika sudah lapar!"
Pelayan rumah tangga itu tau persis tempramen Daniel. Sifat kedua Ayah dan anak ini sama-sama keras kepala, benar-benar menyulitkan.
Tuan muda masih begitu kecil dan dia membiarkannya untuk terus-menerus tidak makna, mana boleh seperti itu, dia takut akan mempengaruhi masa pertumbuhannya.
__ADS_1
Ikuti terus kisahnya ya, cerita serunya akan segera di mulai.
🌺 jangan lupa dukung karya author ini 🌺