Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
12


__ADS_3

"Aku sudah bilang! Mama mu sudah meninggal! Jangan tanya dia lagi!"


Ucapan Daniel yang dingin, membuat Ariana membeku dan kembali dalam kesadarannya.


Meninggal ....


Daniel benar-benar memberi tahu Kenzie, bahwa dia sudah meninggal.


Seketika itu juga, matanya Kenzie terlihat penuh dengan amarah.


"Tidak ..! Papa bohong! Mama ku tidak mati! Dia masih hidup!"


Setiap Kenzie menyebutkan mamanya, Daniel selalu emosi dan marah meluap-luap, seperti api yang membara di siram dengan bensin. Dengan aura wajahnya yang mendominasi yang berbahaya di seluruh tubuhnya.


"Jika aku bilang dia sudah meninggal ya sudah meninggal, Kenzie! kau sebaiknya nurut dan patuh! Kalau tidak ...."


Ariana langsung memotong kalimat kemarahan Daniel.


"Bagaimana bisa anda berbicara seperti itu kepada seorang anak kecil! Aku pikir, dia sakit pun itu karena anda yang tidak merawatnya dengan baik! Mana ada seorang ayah memarahinya seperti itu!" Ariana memarahi Daniel dengan sikap protektif.


Seluruh orang tertegun, sambil bergidik ngeri dalam hatinya.


Seorang Daniel di potong pembicaraannya, dan di tegur oleh seorang wanita, ini sangat mengejutkan Daniel.


Ariana tiba-tiba sadar, jika dia terlalu menggebu-gebu saat bicara tadi, kemudian Ariana menundukkan kepalanya dan mencoba untuk bicara dengan tenang.


"Maksudku, anak itu masih muda, anda harus bicara baik-baik padanya, tidak dengan cara seperti itu tadi."


Daniel menatapnya dengan curiga.


"Suaramu barusan ...."


"Aku barusan, terlalu mengikuti emosi. Biasanya, saat seseorang sedang emosi, suaranya akan sedikit berbeda, tidak akan sama seperti biasanya."


Ariana mencoba menjelaskan dan hatinya menegang ketika ia melihat, mata Daniel yang penuh dengan tanda tanya.


"Pak Daniel, jangan lupa untuk menyetujui syarat yang saya berikan, saya seorang dokter, dan saya mempunyai hak dalam memutuskan proses perawatan. Anda tidak di izinkan mengganggu, silahkan keluar terlebih dulu."


Daniel dengan hati-hati menatap dokter Messa yang berada di hadapannya sekarang. Meskipun ia masih agak heran, tetapi dia juga tidak menemukan apa-apa yang ....

__ADS_1


Melihat Daniel yang tidak kunjung pergi, Ariana kembali mendesak.


"Tolong kerja samanya pak Daniel!"


Daniel melirik sebentar ke arah putranya yang terbaring di tempat tidur, lalu berjalan pergi dengan wajahnya yang dingin.


Ariana yang memandang Kenzie yang menangis dengan sedih itu, Ariana juga merasa ikut sedih, ia ingin sekali menghiburnya.


Ariana tersenyum menatap Kenzie.


"Kenzie adalah anak laki-laki. Anak laki-laki tidak boleh menangis seperti ini,"


Suara Ariana yang lembut, membuat Kenzie menoleh dan menatapnya dengan enggan, ia menyeka air matanya yang mengalir.


Selain saat memikirkan Mama, Kenzie tidak pernah menangis.


Ariana membujuknya dengan sabar.


"Ken. Kenzie, adalah anak yang pandai, tentu saja tidak mau ada di rumah terus, kan? Kenzie mau bermain tidak, sama teman-teman misalkan?" Kenzie tampak mendengarkan apa yang di katakan Ariana.


Akhirnya Kenzie menganggukkan kepalanya lalu menjawab: "Iya aku mau."


"Baiklah, aku akan memulai melakukan pengobatan," ucap Ariana dengan senyum penuh pesona.


"Akan sakit tidak?"


Kenzie menatap Ariana dengan mendongakkan kepalanya keatas.


"Sakit. Tapi cuma sebentar. Ingat, Kenzie anak laki-laki yang kuat." ujar Ariana sambil mengisi obat melalui jarum perak.


Kenzie menggeleng dengan wajah cemberut. Tidak terasa air mata Ariana menetes, dengan cepat ia menghapusnya. Anak ini baru saja menangis dengan sedih, akan tetapi, saat jarum-jarum itu menembus tubuhnya kecil, Kenzie bisa menahan rasa sakitnya di tusuk dengan jarum.


"Kenzie sangat hebat!" Seru Ariana sambil tersenyum senang, saat menyelesaikan tusukan jarumnya yang terakhir.


"Tentu saja!"


Celotehan Kenzie membuat Ariana mengulurkan tangannya, menyentuh puncak kepala Kenzie yang kecil.


Biasanya Kenzie benci, kalu ada orang lain, yang menyentuh kepalanya. Entah, dengan wanita ini menyentuhnya, dia tidak ingin meneriakinya.

__ADS_1


"Kenzie, kedepannya, kau harus makan tepat waktu, kau tidak boleh memakan makanan yang pedas, dan ...."


"Sudahlah, kau sangat menyebalkan."


Ariana terkejut dengan kata-kata Kenzie barusan, namun ia cukup paham. Dokter Messa sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan bocah ini.


Melihat Kenzie sepertinya tidak suka mendengarkannya, Ariana tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Lebih baik bicara dengan Daniel daripada bicara dengannya.


Setelah keluar dari kamar Kenzie, Ariana menuliskan secara khusus, beberapa resep obat dan juga vitamin penyegaran tubuh. Ariana juga menjelaskan pada pengurus kepala pelayan, untuk memperhatikan diet ketat untuk Kenzie.


"Dokter Messa, saya sudah mengerti," jawab kepala pelayan itu.


"Oke, kalau begitu, saya akan kembali lagi besok."


Saat Ariana selesai bicara pada pelayanan, terdengar suara dingin dan arogan itu bertanya pada Ariana: "Apakah Kenzie membutuhkan akupuntur setiap hari?"


Ariana tertegun sebelum berucap, lalu: "Saya akan datang lagi besok untuk memeriksanya, untuk saat ini, saya sulit untuk memutuskannya."


Daniel menatapnya cukup lama, sepertinya butuh waktu yang lama untuk menjawabnya.


"Baik."


Setelah mendengar kata 'Baik' dari Daniel, Ariana memutuskan untuk pamit.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


Ariana melangkahkan kakinya dengan hati-hati, ia berusaha untuk tenang, ia ingin cepat-cepat keluar dari rumah mewah ini, ia sudah tidak tahan melihat ekspresi Daniel yang sulit di artikan.


Kira-kira Ariana sudah di halaman depan rumahnya, Daniel langsung melancarkan aksinya.


"Ikuti dia!" perintah Daniel yang tidak bisa di bantah oleh siapa pun.


"Baik Tuan."


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Ikuti terus kisahnya ya.


Dan jangan lupa dukungannya.

__ADS_1


maaf, author sangat berharap, kalian para pembaca mendukung penuh karyaku ini, caranya cukup mudah, dengan menekan like dan menulis sedikit di komentar, maka tidak akan merugikan kalian semua, malah akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda, Amin.


__ADS_2