Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
142


__ADS_3

Revi membujuk Ariana untuk tinggal di villa Green View ini, dia sudah tertarik dengan keindahannya, jadi dia berusaha membujuk Mama.


"Ma, jika kit tidak jadi tinggal disini, bukankah itu Mama menuruti keinginannya?"


Reva mengingat sikap kasar Daniel tadi dia juga merasa kesal.


"Benar, Mama, kau tidak perlu takut kepadanya. Mama jika kau tidak jadi pindah kesini Deffan akan merasa sedih."


Dalam hati Ariana sangat memahami bahwa anak-anak sangat menyukai tempat ini, karena tempat ini sangat baik untuk mereka tinggali.


"Baiklah, kalau begitu besok kita akan pindah ke sini?"


Reva dan Revi langsung tersenyum lebar, mereka berdua saling pandang, bujuk rayuannya kepada Mama berhasil.


"Terimakasih Mama." kedua putrinya saling memeluk mamanya.


Ariana melihat dan memperhatikan anak-anak. Kenzie dan Deffan sedang asik bercerita. Sementara Reva dan Revi masih mengagumi keindahan villa itu dengan wajah yang berseri-seri.


Deffan dan Kenzie terlihat berbisik-bisik. Tidak lama kemudian dia memanggil Ariana dan juga Daniel.


Daniel mendekati mereka berdua, sementara Ariana begitu malas berjalan kearahnya, karena melihat ada Daniel di sana.


"Mama, ayo sini, ada yang ingin kami bicarakan."


Ariana mengeryitkan keningnya, sementara Daniel juga terlihat terkejut dengan sikap kedua bocah ini. Daniel tak dapat menebak apa yang mau dikatakan bocah ini?


"Papa, kemarin kau sudah berjanji akan mengajak kami ke taman di akhir pekan, dan Mama juga ikut bersama."


"Apa? Aku dan dia? Tidak kau pilih salh satunya." ucap Daniel yang terlihat keberatan jika pergi bersama dengan Ariana.


"Papa, kau kan sudah berjanji sebelumnya."


"Itu dulu, sekarang ...."


Daniel menoleh kepada Ariana , dia merasa tidak nyaman dan seperti ada rasa jijik yang tersembunyi.


Reva dan Revi melihat sikap Daniel seperti itu, dia mendekati Mama.


"Deffan, Kenzie, jadi orang harus menepati janjinya. Kau tenang saja, Mama akan membawa kita kesana."


"Pa, bukankah kau sering mengatakan kalau jadi orang itu harus menepati janjinya?"


"Kalu begitu, mari kit pergi sekarang." Daniel berkata seakan-akan kesal dengan desakan anak-anak.


Reva berbisik kepada Reva.


"Jangan khwatir, jika dia ingin mengganggu Mama, aku akan melakukan sesuatu untuknya."

__ADS_1


Revi mengangguk dengan penuh semangat.


Reva menyentuh alat kosmetik yang baru saja di belinya itu dan senyum jahat pun muncul di bibir kecilnya.


Daniel yang sudah membeli tiket dan membawa anak-anak masuk ke taman. Ariana membagikan popcorn kepada anak-anak.


"Jangan dimakan." Daniel menegur anak-anak.


"Kenapa?" Ariana menoleh dan menatap Daniel.


Daniel tidak menjawab kata-kata Ariana, dan Ariana langsung mengambil popcorn itu kembali dari tangan anak-anaknya.


"Jangan makan dulu, pergilah bermain."


Keempat anak itu mengangguk dan pergi bermain sambil berlarian.


Daniel melirik popcorn yang ada di tangan Ariana.


"Buang popcorn itu." perintahnya mengejutkan Ariana.


"Kenapa dibuang? Ini kan di beli dengan uang."


"Kau tidak mengerti bahwa anak-anak tidak boleh makan?"


"Iya aku mengerti, tetapi tidak perlu membuangnya juga, kan?"


"Jangan khwatir, popcorn ini akan habis aku makan, dan anak-anak tidak akan memakannya."


Daniel menatapnya dengan mata yang tertunduk, dia menatapnya dengan aneh.


Ariana menutup matanya, menghabiskan satu bungkus popcorn dan membuka bungkus yang lainnya lagi.


"Tolong, menjauh lah dari ku." Daniel berkata sambil melihat ke arah lain.


"Mengapa?" Ariana membuka kedua matanya.


Daniel pergi menjauh dari Ariana.


Kenzie dan Deffan melihat Mama dan Papa berjauhan. Dia pun berjalan kearah Daniel.


"Papa, kami ingin bermain pistol air!" Rengek nya kepada Daniel.


Sementara Kenzie menarik tangan Ariana untuk ikut bermain pistol air.


Daniel menatap Kenzie yang sedang manarik tangan Ariana untuk ikut, dalam hatinya sangat senang, karena dia jarang sekali melihat Kenzie bersemangat dan lincah seperti ini.


Reva dan Revi saling pandang.

__ADS_1


"Kami juga mau bermain bersama Mama."


"Tidak, itu tidak adil. Hey gemuk, kau bergabunglah bersama kami!" Daniel sedikit berteriak agar Revi mendengar ucapannya.


Dibandingkan dengan Reva Daniel lebih memilih Revi untuk bergabung dengan tim mereka.


Mendengar panggilan Daniel terhadap adiknya itu, Reva menoleh dan menatap Daniel dengan wajah yang menggerutu.


Beraninya dia memanggil dengan sebutan si gemuk! Benar-benar kasar sekali.


Revi memandang Daniel dan berteriak: "Kau jangan memanggilku dengan si gemuk!"


Ha ...


Daniel merasa kehilangan kata-kata.


Setelah berganti pakaian mereka menegang pistol air masing-masing. Kejadian Ariana yang selalu menentangnya muncul silih berganti di benak Daniel.


"Ariana, kau tunggu saja, aku akan membuatmu basah kuyup, lihat saja nanti." Daniel melirik Ariana, dalam hatinya muncul ide jahat untuk menindas Ariana.


Ketika mereka saling tembak, air mengalir di atas kepalanya seperti air hujan deras dan Ariana tentu saja membalasnya.


Keempat anak itu melihat kehebatan Papa dan mamanya, mereka pun bertepuk tangan dengan gembira.


"Sudah lah, aku tidak ingin bermain dengan mu lagi!" Ariana berteriak kepada Daniel, namun Daniel tidak mengindahkan ucapannya, di terus saja mengarahkan pistol air itu kepada Ariana hingga membuat bajunya basah.


Daniel tertawa terbahak-bahak melihat Ariana basah kuyup, tetapi dia heran melihat Ariana yang tidak melawan sama sekali, biasanya wanita ini akan membalas perbuatannya.


Tapi ini ....


"Papa, cukup. Kau tidak boleh memperlakukan Mama seperti itu!" Kenzie datang menghentikan Daniel.


Daniel menatap Kenzie dengan ekspresi yang tidak dapat di tebak.


"Kenzie, kenapa kau begitu membelanya?"


"Dia adalah Mama ku, Mama yang sudah melahirkan aku, kau tidak boleh menyakitinya lagi!"


Daniel merasa bahwa Kenzie akan menentangnya suatu saat nanti.


"Kenzie, bukan seperti itu, ini kan sebuah permainan, jadi kau tidak boleh marah jika Papa memenangkan pertarungan ini!"


Kenzie tidak mendengarkan ucapan Daniel, di berjalan menghampiri Ariana dan memberikan handuk kepadanya.


Daniel melihat itu merasa iri dan benci. Anak yang selama ini dia besarkan, lebih memihak kepada wanita itu dari pada papanya yang sudah membesarkannya.


Daniel terlihat sedih dan berjalan ke parkiran.

__ADS_1


__ADS_2