
Ariana dan kedua putri kecilnya sudah hampir tiba di sebuah desa terpencil dimana dia akan memulai hidup baru di sana. Ariana berharap dia dan kedua putrinya bisa dengan cepat beradaptasi dengan lingkungan barunya.
Sesekali Ariana memandang ke samping kiri dan kanan pedesaan itu, tampak sejuk dan alami. Bibirnya tampak tersenyum, dia menyukai alam yang indah.
Butuh 4 jam untuknya bisa sampai di desa itu. Ariana meraih ponselnya lalu mencari nama ibu Tuti yang kemarin menghubunginya.
Tidak lama telpon tersambung dan terdengar suara ibu-ibu yang kemarin menelponnya.
"Halo buk, ini Ariana saya sudah sampai di desa ... 'Ariana tampak melihat-lihat sekeliling dengan memanjangkan lehernya' Ini saya sudah di perempatan jalan dari arah timur, lalu saya harus kemana lagi, Bu?"
tanya Ariana.
"Oh sepertinya kamu kelewat sedikit, klinik Arma sebelum perempatan jalan sebelah kanan, kamu putar balik aja, ibu tunggu di depan, yah." Ujar ibu itu dengan ramah.
"Baik, Bu saya akan segera ke sana."
Setelah memutuskan panggilan teleponnya, Ariana menoleh kebelakang, melihat kedua putrinya yang masih terlelap.
"Reva, Revi, ayo bangun, sayang. Kita sudah sampai!" Ariana berkata sedikit keras agar kedua putrinya itu bangun.
Kedua bocah perempuan itu tampak membuka matanya, mereka menggeliatkan tubuh kecilnya.
"Mama, kita sudah sampai?" Reva tampak mengerjapkan matanya lalu melihat kesekliling. Begitu pula dengan Revi, dia tampak menggosok-gosok matanya yang bulat dan besar sembari berseru:
"Mama, kita di mana?"
"Kita sudah sampai," jawab Reva mendahului Ariana.
"Iya, Kalian bangunlah kita sudah sampai."
"Wah indah sekali!" di seberang sana ada sawah dan sebelah kiri terlihat kebun jagung.
"Mama, kita boleh Kesawan itu tidak?"
Revi tampak penasaran dengan sawah, karena sejauh dia hidup, dia hanya melihat persawahan itu lewat televisi dan gambar saja.
"Iya, lain kali saja, kita harus istrahat dulu setelah sampai. Dan ingat, jangan sembarang melakukan apa pun, yah? Kita belum tau seperti apa orang-orang di sini. Mau apa pun kalian harus minta izin Mama dulu, kalian mengerti?"
__ADS_1
"Mengerti Mama!" Jawab mereka serentak.
Mobil Ariana berhenti tepat di depan klinik Arma. Di sana sudah menunggu seorang ibu-ibu yang terlihat masih agak muda, mungkin umurnya perkiraan 47 tahun.
Ariana turun dari mobilnya, dan langsung menghampiri ibu itu.
"Ibu Tuti, yah?"
Sapa Ariana. Ibu itu tersenyum ramah sambil mengangguk.
"Kamu Ariana?"
"Iya, Bu saya Ariana."
Ariana mengulurkan tangannya dan ibu Tuti menyambut uluran tangan Ariana dengan senang hati.
"Ibu Tuti." Ucap ibu itu menyebutkan namanya.
"Mari silahkan ibu tunjukkan tempat tinggal mu. Nanti mobil kamu masukkan saja ke sana." Ujar ibu Tuti menjelaskan kepada Ariana.
Ariana memarkirkan mobilnya tepat di samping klinik Arma. Dia tampak senang sekali melihat tempat tinggalnya bersebelahan dengan klinik tempatnya bekerja. Jadi tidak takut telat kerja, soal sekolah anak-anak itu bisa di pikirkan setelah mereka sudah santai.
"Ayo Reva, Revi, turun." Ariana membuka pintu mobil untuk kedua anaknya.
"Ariana, ibu sudah menyuruh petugas kebersihan untuk membersihkan tempat tinggal mu, jika merasa masih kurang bersih, kamu bisa membersihkannya lagi."
"Iya, Bu terimakasih banyak sudah membantu ku."
"Eh .., ini anak kamu?" Tanya ibu Tuti terlihat senyumannya yang begitu senang melihat kedua putri Ariana.
"Iya, Bu. Mereka anak-anak ku."
"Wah .., lucu sekali! Siapa nama kalian?" Ujar Bu Tuti menatap kedua bocah itu.
Reva dan Revi mengulurkan tangannya seperti Ariana tadi, kemudian mencium punggung tangan Bu Tuti serta menyebutkan namanya: "aku Reva Nenek! Dan aku Revi." Kedua bocah itu tersenyum menatap ibu Tuti yang tampak kaget di panggil Nenek.
"Nenek?"
__ADS_1
"Iya, bukankah kami seharusnya memanggil mu Nenek." Ibu Tuti menggaruk belakang kepalanya, sejauh ini belum ada yang memanggilnya Nenek, tapi kedua bocah ini ...?
Berani sekali mereka memanggilku Nenek? wajah ibu Tuti terlihat masam.
"Panggil Ibu, ibu belum setua itu untuk di panggil Nenek. Lagipula ibu belum memiliki cucu, anak ibu saja masih SMA." Ujar Bu Tuti.
Ariana terkekeh.
"Bu Tuti, Maafkan anak-anak saya, nanti akan saya kasi tau mereka." Ujar Ariana.
"Tidak apa-apa, aku gemes melihat mereka."
"Hey bocah kecil, besok-besok mainlah ke rumah ibu, rumah ibu ada di atas sana."
"Baik Nenek." Ujar mereka berdua. Lagi-lagi mereka memanggilnya Nenek.
Ha ....
Mereka memanggil Nenek lagi?
"Ariana, anak-anak mu nakal juga, yah?" Ujar ibu Tuti masam, wajahnya terlihat tidak terima di panggil Nenek.
Ariana tersenyum kaku.
"Anak-anak ayo masuk dan istirahatlah."
Reva dan Revi menuruti kata-kata Ariana. Mereka berdua langsung masuk ke tempat tinggal mereka berdua.
"Bu Tuti, maafkan anak-anak saya, mereka belum terbiasa saja."
"Ngk apa-apa, sekarang aku mau pulang dulu, besok pagi kau berikan data-data mu beserta pormulir kepada kepala bagian."
"Baik, Bu. Sekali lagi terimakasih banyak sudah merepotkan ibu."
"Sama-sama Ariana."
Setelah ibu Tuti pergi, Ariana melanjutkan aktivitasnya membereskan barang-barangnya, menyusunnya dengan rapi. Tempat tinggalnya jauh lebih baik dari sebelumnya. Kamarnya besar, memiliki ruang tamu yang luas, dapur juga lebih luas dari pada dapurnya di villa. Kamar mandinya juga besar, terasnya lebar. Pemandangan di depan tempat tinggalnya juga sungguh menyejukkan mata.
__ADS_1