
"Deffan, mamamu hanya bercanda." Daniel mengelus kepala kecil Deffan.
"Papa, tidak mudah bagi Mama untuk membesarkan ku. Mama sudah banyak menanggung beban, bahkan menjual darahnya. Demi putramu yang telah di besarkan olehnya dengan sepenuh hati sampai sebesar dan selucu ini, kau harus bersikap baik padanya."
Mata jernih Deffan terlihat memohon.
Sementara tatapan aneh melintas di mata Daniel.
Menjual darah?
Seorang wanita seperti Ariana yang tega meninggalkan darah dagingnya sendiri dapat membuat pengorbanan seperti itu untuk putranya?
Dia hanya meninggalkan Kenzie waktu itu, kenapa dia tidak meninggalkan Deffan juga?
Bukankah lebih baik untuk dirinya jika meninggalkan keduanya? Maka mereka akan menjalani hari-hari bahagianya?
Wanita itu terkadang melakukan banyak hal yang sangat membingungkan.
"Papa, apakah kau baik-baik saja?"
Deffan berkata dengan sangat manja, menarik lengan bajunya.
Daniel yang tersadar dari lamunannya kemudian mengangguk, "Papa tahu."
"Kalau begitu, nanti akhir pekan Papa dan Mama harus membawa kami ke taman bermain yah, oke?"
"Akhir pekan?" Daniel terlihat ragu-ragu.
Teringat waktu itu, saat mereka membawa anak-anak keluar bersama Ariana. Ariana dengan kasar mengkritiknya, lalu meninggalkannya begitu saja. Dia benar-benar takut nantinya dia akan merasakan hal yang serupa.
"Papa, berjanjilah! Kenzie juga ingin ikut. Kami mendengar anak-anak lain yang mengatakan bahwa mereka akan pergi dengan papa dan Mama mereka dan kami merasa sangat iri."
"Papa akan mempertimbangkannya. Sekarang pergilah bermain lagi, Papa masih ada pekerjaan."
"Papa, ayolah berjanji dengan Deffan."
Deffan pun mengulurkan jari kelingkingnya minta di sentuh oleh Daniel agar mereka terlihat sudah melakukan sebuah perjanjian yang sah, dan tidak boleh mengingkarinya.
Daniel menatap mata jernih putranya itu, lalu menyentuh kelingking Deffan dan mengaitkannya.
"Sudah, ayo pergilah."
Deffan tersenyum cerah lalu naik kepangkuan Daniel, kemudian memeluk lehernya memberikan sebuah kecupan hangat di pipinya.
"Papa adalah Papa yang terbaik di dunia."
Daniel memandang Deffan dengan terkejut. Dia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini dari Kenzie. Hanya Deffan yang bisa melakukannya. Tetapi Daniel juga sangat menyayangi putranya itu. Senyum pun terukir di wajah Daniel yang dingin dan arogan itu.
Apa yang dikatakan Deffan tadi memang benar, Ariana sudah membesarkan seorang putra yang lucu dan menggemaskan untuknya.
__ADS_1
Ya dia harus mengakuinya.
Deffan sudah tidak sabar untuk memberi tahu Kenzie, dia langsung turun dari pangkuan Daniel dan berlari ke kamarnya.
Saat mau sarapan, anak-anak sudah terlihat duduk di kursinya masing-masing. Hanya Reva yang belum kelihatan batang hidungnya. Reva memang selalu datang terlambat kalau pagi-pagi begini, dia sibuk bersolek sebelum keluar dari kamarnya.
Tidak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki kecil datang dari tangga. Revi buru-buru mengambil susu dan meminumnya dua tegukan, lalu mengambil udang goreng memasukkannya ke dalam mulutnya dengan terburu-buru.
Melihat Reva semakin dekat, dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dan membalikkan punggungnya, mengunyah udang goreng itu beberapa kali lalu menelannya.
Reva duduk dengan mengernyitkan keningnya. Melihat Revi seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Melihat wajah Reva yang sudah mulai berubah, Deffan memandangi wajah mereka satu per satu, mereka pasti akan bertengkar lagi.
"Ada hal penting yang mu ku katakan pada kalian. Mama dan Papa akan membawa kita ke taman bermain akhir pekan, coba kalian bantu untuk berpikir, bagaimana untuk menyatukan mereka? Nanti malam kita akan membicarakan ini lagi, kalian katakan ide kalian semua, oke."
Ketika Deffan selesai bicara, Reva mendengus dingin.
"Mengapa kau mu menyatukan orang jahat itu kepada Mama? Mama pantas mendapatkan yang lebih baik."
"Yang lebih baik itu memang bukan papa kita saja, satu hal yang harus kau tau, lebih baik menyatukan Papa dan Mama dari pada menutupkan orang lain."
Reva melirik Revi.
"Revi, kau memperlakukannya seperti papamu, tetapi dia tidak memperlakukan kita sebagai putrinya. Kau lihat, dia membawa Deffan dan Kenzie ke sekolah terbaik, sementara kita, dia tidak mengizinkan, bukankah kau sendiri mengatakan kalu dia bukan bajingan yang baik?"
Revi mencerna ucapan Reva. Yang dikatakan Reva ada benarnya. Revi memandang Reva dengan serius.
"Tida, Mama hanya bisa bersama Papa."
Deffan juga memandangi kedua adik perempuannya itu.
"Itu benar, Mama dan Papa masih terlihat sangat cocok, bagaimana jika kalian menemukan orang yang lebih jahat?"
"Daniel adalah orang jahat! Orang lain yang jahat juga tidak sejahat dia!"
Reva meletakkan gelas susunya di atas meja dan menatap Deffan dengan raut wajahnya yang kesal.
Sebelum Deffan bisa menjawab, dia mendengar suara lembut dan magnetis.
"Bisakah kau mengatakan alasannya bahwa aku adalah orang jahat?"
Keempat anak itu menoleh dan melihat Daniel berdiri tidak jauh dari mereka.
Ini bukan pertama kalinya dia mendengar Reva mengatakannya orang jahat. Daniel benar-benar penasaran, apakah dia pernah menyinggung perasaan gadis kecil ini?
Reva berdiri tanpa rasa takut. Dia berjalan mendekati Daniel, menatapnya dengan penuh kebencian dan berkata dengan marah.
"Jika aku mengatakan kau adalah orang jahat, berarti kau memang orang jahat."
__ADS_1
Setelah mengatakan itu, Reva memutar badannya dan berjalan ke atas.
Alasan macam apa ini?
Wajah Daniel berubah dan memandang ketiga anak yang masih berada di meja makan itu.
"Kalian tidak boleh seperti dia ya, paham?"
"Ehem .., Papa, kau juga ya."
Daniel mencibir. "Aku selalu menilai orang lain dengan ...."
"Pak Daniel selalu menilai orang lain berdasarkan prasangka yang telah dia pikir sebelumnya. Misalnya, jika dia berpikir bahwa seseorang memiliki masalah, maka apa pun yang orang itu lakukan akan dia anggap jahat dan memiliki maksud lain, iya kan?"
Ariana menatapnya lurus.
Daniel menghela napas. "Aku memang memiliki pendapat tentang seseorang, tetapi pendapat itu adalah fakta, bukan prasangka, kan?"
Ariana mencibir. "Prasangka atau bukan, waktu yang akan membuktikannya. Penilaian mu terhadap Reva juga waktu yang akan membuktikannya."
Daniel mengernyit.
"Kalu begitu biarkan waktu yang menjawab dan membuktikannya."
"Tak masalah."
Dia adalah bajingan yang sudah memperlakukan putrinya sendiri dengan buruk. Dan dia akan menyesalinya nanti. Lihat saja. Suatu saat nanti, kedua putrinya itu akan ikut bersama Ariana untuk memarahi dan mencacinya. Membayangkan itu bibir Ariana tersenyum kecut.
"Mama, apakah kau sudah berbicara dengan Papa? Sudah waktunya pergi ke sekolah."
"Ayo, Mama akan mengantar kalian ke sekolah."
Ariana dan keempat anak itu telah pergi, Daniel pergi ke meja makan dan melihat semua sarapan tak tersisa di piring. Kemudian dia berjalan ke dapur dengan wajah yang menggerutu.
Wanita itu ..., apakah dia sengaja membuat sarapan dengan menghitung jumlah orangnya, hingga tidak ada makanan yang tersisa.
Daniel berjalan ke luar. Dengan kesal Daniel masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sebelum sampai di perusahaan, ponselnya berdering, ekspresi terkejut di wajahnya saat melihat ID pemanggil itu.
"Dani, apakah kau sibuk hari ini?"
"Aku lagi dalam perjalanan, kakek, katakan saja jika kau ada yang ingin di bicarakan."
"Kakek sudah kembali ke kota ini, orang tua mu juga bersama kakek. Tiga jam lagi kami akan sampai di rumah mu. Apakah kau punya waktu siang ini?"
"Kakek, aku akan kembali ke rumah sekarang juga untuk menunggu mu."
"Dani, pekerjaan lebih penting, jangan demi diriku malah mempengaruhi pekerjaan mu."
__ADS_1
"Jangan khwatir kakek, tidak apa-apa."