Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
61


__ADS_3

Deffan sudah tidak sabar pergi ke suatu tempat persembunyian, untuk menelpon dan mengabari Kenzie bahwa rencana mereka akan segera di mulai.


"Tampaknya Kakek dan Nenek sangat menyukai Mama. Dan mereka secara tidak langsung telah membantu rencana kita!"


Deffan bercerita dengan antusias.


"Aku sangat senang mendengarnya." Kenzie tiba-tiba tersenyum.


"Kenzie, kita berdua harus bertukar posisi lagi. Karena besok Mama akan pergi ke rumah dan merawat mu."


"Kapan kita akan bertukar posisi dan di mana?"


"Nanti sore saja. Nanti sore aku akan melihat keadaan dan menelpon mu."


"Baiklah."


Setelah menelpon, Deffan keluar dari persembunyiannya.


"Kenzie, kamu dari mana saja sih? Kok baru kelihatan?" Reko bertanya serta meliriknya sekilas.


Deffan menggaruk kepala kecilnya.


"Tadi aku kebelakang, pipis."


Deffan tersenyum menatap Reko.


"Ayo kita pergi, kita mengantar dokter Messa dahulu, setelah itu kita langsung pergi, oke."


Deffan mengangguk setuju. Dia langsung pamit kepada Maira dan juga Mahesa. Setelah itu masuk ke mobil Reko bersama Ariana.


Setelah mengantar Ariana. Johan langsung membawa Deffan pergi.


"Paman, kita mau kemana?"


"Em ...."


Reko diam setelah mengucapkan kalimat 'em'


Deffan melirik Reko dengan jengkel, dia tidak dapat menemukan pertanyaannya dari Reko.


"Paman ...."


Deffan memelas.


"Jangan tanya terus. Ini rahasia. Nanti setelah sampai kau akan mengetahuinya, pasti kau juga akan menyukainya."


Rahasia?


Deffan sangat penasaran.


Mobil sport itu melaju di jalan raya. Deffan merasa khwatir, jika terlalu jauh, Deffan takut Kenzie tidak akan menjangkaunya.


Untung tidak terlalu jauh, mobil sport milik Reko terparkir dengan sempurna. Reko menatapnya dengan sebuah senyuman yang mengembang di bibirnya.


"Kau pasti belum pernah kesini sebelumnya, Kan?"


Reko berkata dengan mengedipkan sebelah mata.

__ADS_1


Deffan menatapnya dengan teliti. Beberapa hari sebelumnya, dia mendengar dari temannya kalau disini tempat bermain yang sangat menyenangkan. Tadinya dia berpikir akan meminta Mama untuk membawanya ke sini jika punya waktu.


Tak menyangka kalau Paman Reko akan lebih dulu membawanya ke sini.


Deffan terlihat senang, matanya yang jernih berbinar terang.


"Paman, kau benar-benar Paman terbaik sedunia."


Mendengar pujian Kenzie, Reko sangat senang. Dia langsung menggendong Deffan.


"Ayo, Paman akan menggendong mu."


Deffan merangkul leher Reko dengan erat, lalu mencium pipinya dengan ganas.


Reko menatapnya dengan kesenangan yang tak terkira. Keponakan sulungnya ini sangat menggemaskan.


Hari ini aku akan membuat bocah cilik ini bersenang-senang dengan puas!


Dia bergegas masuk dengan menggendong Kenzie.


Setelah berganti pakaian, mereka mendayung bersama sambil bermain pistol air.


Deffan bermain air dengan sangat gembira, permainan ini lebih menyenangkan dari pada bermain di taman.


Melihatnya bahagia, Reko lebih bahagia, tak peduli Kenzie mau bermain apa, yang terpenting dia akan menurutinya.


Tidak lama kemudian, Deffan teringat kalau mereka akan bertukar posisi dengannya. Dia sudah bermain dengan cukup puas, sekarang giliran Kenzie untuk bermain.


Sesaat dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk menelpon Kenzie.


Setelah itu, sambil menunggu Kenzie datang, dia kembali bermain dengan Reko.


Kenzie mengernyitkan keningnya saat melihat jaket anti air itu, dia tak ingin memakannya. Tapi dia terpaksa harus memakainya sekarang!


"Masuklah, aku akan pulang untuk menemani Mama."


Deffan mengucapkan selamat tinggal pada Kenzie.


Kenzie mengangguk dan pergi ke taman air.


Baru saja dia masuk, dia melihat Reko menegang dua pistol air di tangannya, menikmati permainan itu.


Dia terlihat lebih senang dari anak-anak lainnya.


"Tak waras!" Kenzie berkomentar dengan serius. Lalu berjalan menuju Reko dan menatapnya dengan tatapan tanpa ekspresi.


"Kenzie, kau sudah kembali? Cepat sekali. Mari kita bermain lagi!"


"Pulang!" Kenzie berkata dengan sangat kaku.


Reko mengernyitkan keningnya, dia kira pendengarannya salah.


"Apa yang kau katakan?"


Aneh sekali, wajah Kenzie ini ..., tampak sedang sangat kesal. Apa yang terjadi dengannya?


Reko dengan cepat bangun dan mendekatinya, dia menghawatirkan keadaan Kenzie. Tetapi ketika dia mendekati Kenzie, dia tiba-tiba menyambar pistol air yang di tangannya dan mulai menembaki wajah pamannya dengan pistol air.

__ADS_1


Air menyembur ke wajahnya tanpa di duga, dan Reko dengan cepat membalikkan badan menghindarinya.


"Kenzie, anak ini ..., kenapa kau menyemprot wajahku?"


"Suka-suka aku!" Kenzie berkata dengan tidak berhenti menyemprotkan air ke arahnya. Melihat Reko membalikkan badannya, dia menyemprotkan air itu ke kepalanya.


"Kenzie!" Melihat dia tidak ingin berhenti menyemprotkan air ke arahnya, Reko juga mengambil pistol air yang lainnya dan mulai menyemprotkan kearah Kenzie.


Kenzie tiba-tiba melempar pistol air itu ke arahnya, dan dia berlari ke samping.


"Awh ...."


Tiba-tiba pistol air yang berat itu mengenai pinggangnya, dan Reko mengeluh kesakitan sambil memegangi pinggangnya.


"Anak ini ...! Apa kau benar-benar sudah gila!"


Ketika dia mendongakkan kepalanya, Kenzie sudah tidak terlihat lagi.


"Kenzie ...! Kenzie ...!" Reko berteriak sambil melihat ke sekeliling.


Deffan yang lupa mengambil liontin yang tertinggal mendengar suara Reko yang berjalan ke arahnya.


"Paman ada apa?"


"Bocah ini ..., jangan asal berlarian, awas nanti hilang!"


Deffan mengangguk dengan patuh, kemudian menatap pamannya dengan aneh.


"Paman, apakah kau jatuh ke kolam? Kenapa rambut mu basah kuyup?"


Jatuh ke kolam?


Reko meliriknya dan mencibir: "Bukankah ini kerjaan mu barusan? Kau membuat pinggang ku sakit sekali!"


Mata jernih Deffan mengerjap sejenak. Ini pasti kerjaan Kenzie!


Bagaimana dengan Kenzie?


Dia melihat ke sekeliling tetapi tidak menemukan bayangan Kenzie sedikit pun. Disini begitu banyak orang, jadi dia menghawatirkan nya.


"Paman, tunggu sebentar, aku akan mengambilkan mu handuk!"


Dengan menggunakan alasan itu, Deffan mulai mencari Kenzie.


Beberapa menit kemudian, Kenzie meminta bantuan kepada seseorang kakak laki-laki. Dan keduanya kembali dengan pistol air yang lebih besar, dan itu terlalu erat baginya, jadi dia membawanya dengan cara menyeretnya.


Menyeret pistol yang tidak jauh dari Reko, dan meminta kepada kakak laki-laki itu untuk menggendongnya dan meletakkan pistol air itu ke rak yang lebih tinggi, kemudian mulai menyemprot menembaki Reko.


"Aduh ..., siapa yang berani menyemprot ku dengan air? Apakah dia tidak ingin hidup lagi?"


Ketika Reko menoleh, dia melihat Kenzie dengan sangat bersemangat menyemprotnya dengan pistol air.


Tetesan air itu jatuh mengenai kepalanya yang seperti hujan yang sangat lebat.


Melihat penampakan Reko yang seperti itu, Kenzie langsung berseru dan berteriak: "Reko! Apakah kau menikmatinya?"


Ha ..., Reko?

__ADS_1


Beraninya bocah tengil ini memanggilnya dengan namanya saja? Sangat tidak sopan di dengar oleh Reko.


Reko yang tidak sabar ingin marah, dia berjalan ke arah Kenzie ingin menarik tangannya dan serasa ingin memukulnya sekarang juga.


__ADS_2