Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
136


__ADS_3

Maira menatap Daniel.


Apa yang di katakan Daniel ini benar? Maira terlihat ragu-ragu. Tapi begitu dia mengingat kata Reko waktu itu, dia menyipitkan matanya menatap Daniel lebih serius lagi.


Sementara Daniel sudah memikirkan Reko. Anak itu benar-benar berani bermain-main dengannya!


Maira langsung menelpon putra bungsunya.


"Mama, aku baru saj ingin menghubungi mu, gawat, Ma. Hubungan kakak dan nona Ariana benar-benar rumit, mereka selalu bertengkar dan kakak selalu menyulitkan Nona Ariana.


Begini saja ma, begitu membelikan aku mobil sport, kau dan Papa bisa kembali berlibur lebih lama lagi, nanti setelah kalian pulang, aku jamin ...."


"Di jamin tubuhmu tinggal tulang belulangnya saja, dan sisakan nyawamu untuk pergi ke luar negeri mengurus cabang perusahaan di sana."


Reko langsung tertegun mendengar suara Daniel yang secara tiba-tiba berbicara di dalam ponsel Mama. Lalu bagaimana Daniel bisa berbicara langsung kepadanya?


"Adikku sayang, mobil sport mewah yang ku inginkan itu mudah di atur, kau datanglah ke rumah ku sekarang, mari kita bersama membicarakan keinginan mu itu!"


Rumah kakak?


Jadi Mama sudah kembali!


Reko tampak panik dan cemas, dia hendak menutup telponnya, dan ketika itu mendengar suara yang dalam. "Reko, kakek juga ingin bertemu dengan mu."

__ADS_1


"Kakek! Kakek juga ikut pulang?" Reko terlihat sangat senang ketika me MB mengetahui kakeknya juga ikut pulang.


"Ya, kau datanglah."


"Baik kakek." Serunya dengan wajah yang senang. Tapi seketika mengingat kata-kata Daniel dan mamanya, di kembali murung. Apa yang akan dia lakukan? Bagaimana menghadapi Mama dan kakaknya yang dingin dan arogan itu?


Wajah Reko tampak sedih. Otaknya bekerja mencari sebuah ide yang cemerlang. Setelah cukup lama memikirkannya, akhirnya bibirnya tersenyum kecil. Dia buru-buru pergi ke suatu tempat. Semoga saja ini membantu ku.


Kakek Hamsyah menatap Daniel, kemudian menghela nafas.


"Dani, apakah kau benar-benar tidak pernah memikirkan sebuah pernikahan?"


"Kakek, aku tidak mau terbebani hanya gara-gara sebuah pernikahan."


"Dia tidak tertarik dengan wanita, Pa. Makannya dia tidak menikahi-menikah." Maira berkata dengan kesal.


Begitu Maira mau bicara lagi, kakek Hamsyah mengajak Daniel pergi duduk di teras.


"Dani, kau sudah tidak muda lagi, dan kau berkata bahwa pernikahan tidak penting?"


Daniel hanya tersenyum kecil mendengarkan kata-kata kakeknya.


"Dani, saatnya kau memikirkan masa depan mu. Kau harus bisa bangkit untuk memulainya dari sekarang. Sampai kapan kau akan tenggelam bersama wanita masa lalu mu itu? Dia tidak mungkin kembali lagi, yang jelas kau harus memperjuangkan hidup mu. Jangan selalu terpaut dengan wanita yang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Kakek tidak meremehkan perasaan mu, Kakek mengerti itu, tapi ini menyangkut masa depan mu sendiri."

__ADS_1


"Kakek, aku tidak bisa melupakannya. Tidak ada wanita yang bisa memperlakukan aku seperti dia! Dia benar-benar tidak ada duanya. Sikapnya seperti itu tidak aku temui dengan wanita-wanita lainnya."


"Dani, aku tau perasaan kamu, tapi kamu harus memikirkan Kenzie, Kenzie juga butuh seorang ibu."


Deg ....


Hati Daniel bergetar ketika mendengarkan Kenzie butuh seorang ibu. Dia langsung mengingat mamanya Kenzie, yaitu Ariana si wanita yang selalu menentangnya itu.


Tiba-tiba muncul adegan Ariana yang merawat Kenzie dan Deffan. Mungkin itu yang dinamakan kasih sayang seorang ibu?


Tapi Ariana adalah wanita yang memiliki suami, jadi tidak mungkin merawat mereka sepenuhnya seperti itu.


"Dani, kau harus bisa melupakan masa lalu mu, itu hanya sebuah perjalanan sebuah kehidupan. Dan kau harus bisa melaluinya. Jika tidak, berarti kau menganggap hidupmu hanya sebatas itu saja."


Daniel mendengarkan nasihat dari kakeknya ini. Dalam hatinya berpikir bahwa apa yang di katakan kakeknya ini memang benar.


Masa lalu itu tidak akan bisa kembali lagi.


"Jika kau tidak mencobanya, kau tidak akan tau ada wanita yang mungkin lebih baik dari masa lalu mu itu. Kau berkata seperti itu karena kau belum mencobanya. Kakek yakin, jika kau mulai mendekati wanita lagi, perasaan itu akan muncul dengan sendirinya."


Kakek Hamsyah menambahkan kata-katanya lagi.


"Baiklah kek, aku akan mencobanya, yang Kakek katakan memang benar."

__ADS_1


__ADS_2