Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
129


__ADS_3

Reva memandang Daniel dengan raut wajah yang tidak suka, bagaimana pun dia tidak pernah mempunyai perasaan baik terhadap Daniel.


Saat mereka hendak pergi ke taman kanak-kanak, Daniel memutuskan bahwa Deffan akan pergi ke sekolah bersama Kenzie, sementara Reva dan Revi tetap bersekolah di tempat lama.


Revi menatapnya dengan mata yang kesal.


Ariana mengulurkan tangannya meraih tangan Revi.


"Ayo pergi ke sekolah!"


"Aku tidak ma! Aku juga mau sekolah du TK Bangsawan." Ucap Revi dengan merenggut.


Ariana merasa tidak enak hati, dia benar-benar tidak punya uang untuk menyekolahkan mereka kesana, sekolah yang begitu bagus. Dia menatap Daniel.


Daniel merasa ini sangat lucu. Untuk apa wanita ini menatapnya setelah Revi mengatakan 'tidak mau sekolah di sana'


Ini tidak ada urusannya dengan dirinya.


"Revi, kau dan Reva tetap sekolah di tempat yang lama, TK itu juga cukup bagus."


Reva berusaha menghibur Revi.


Revi menggerutu.


"Tapi ..., tapi."


"Revi, Mari kita pergi ke TK biasa-biasa saja, nanti setelah Mama punya uang, Mama akan memindahkan kalian ke sekolah yang lebih baik, oke."


Ariana mengelus kepala kecil Revi, dia mengakui bahwa uang memanglah sangat penting.


"Papa, lebih baik aku bertukar dengan Revi saja, biarkan Revi yang pergi ke sekolah TK Bangsawan, dan aku akan pergi ke TK ku yang lama."


Begitu mendengar ucapan Deffan, kening Daniel langsung mengernyit, dan memperlihatkan keberatan atas permintaan Deffan.

__ADS_1


"Tidak, kau tetap pergi bersama Kenzie, satu sekolah dengannya."


Sikap Daniel yang begitu tegas, dan tidak memberikan ruang untuk bernegosiasi.


Reva dengan arogan mendengus dingin.


"Revi, masihkah kau akan mengatakannya bahwa dia adalah bajingan baik!" Setelah bicara, Reva melangkahkan kakinya, mengambil tas sekolahnya dan berjalan ke luar.


Reva berjalan di depan Daniel dengan marah, Revi juga menyusul Reva berjalan di hadapan Daniel dengan tangannya di letakkan di pinggang yang gemuk.


"Kau, kau bukan bajingan baik!"


Ekspresi Daniel muncul di wajahnya yang dingin dan arogan itu.


Dalam hatinya menggerutu dengan kesal. Sudah tinggal di rumahnya, makan dan minum gratis, masih mengatakan kalu dia bukan bajingan baik ....


"Papa, kau tidak boleh memperlakukan mereka seperti ini."


"Papa, apakah kau kekurangan uang? Samapi tidak membiarkan mereka sekolah di TK Bangsawan bersama kami?"


Kenzie juga berkata dengan dingin, dan kemudian mengikuti Deffan keluar.


Daniel terdiam, apa yang telah terjadi?


Dia telah menjadi sasaran protes mereka semua!


Mereka harusnya berpikir, bahwa kedua gadis itu bukanlah tanggung jawabnya, kenapa dia harus mengurus anak orang lain untuk pergi ke TK Bangsawan?


Daniel beranggapan bahwa yang barusan Kenzie katakan adalah karena pengaruh dari Ariana, hingga dia bisa berkata seperti itu.


Aku perlu bicara baik-baik padanya.


"Setelah mengantarkan anak-anak itu, temui aku di ruang kerja."

__ADS_1


Ariana terpaku mendengar ucapan Daniel, dia menduga-duga apa yang akan dia katakan Daniel nanti! Dihatinya merasa cemas.


Daniel berprilaku tidak adil dengan kedua putrinya, tetapi dia juga sadar, bahwa Daniel memang tidak tau soal ini, jadi wajar saja dia berprilaku seperti itu.


Melihat kedua putrinya yang masih sekolah di tempat lama, Ariana merasa benar-benar tidak enak hati, dia merasa Mama yang tidak berguna bagi anak-anaknya.


Selesai mengantar mereka, Ariana kembali ke rumah Daniel dan menemuinya di ruang kerjanya. Dia melihat Daniel yang sedang memeriksa dokumen-dokumen penting perusahaannya, matahari menyinari kepalanya yang sedang tertunduk, setiap gerakannya terlihat begitu bermartabat dan tampan. Wajahnya yang dingin dan arogan itu terlihat sangat lembut dan memukau setiap wanita melihatnya. Ariana membayangkan sesuatu yang telah terjadi beberapa tahun yang lalu.


Dia begitu terpesona melihatnya hari ini sehingga jantungnya berdebar kencang.


Sudut bibirnya juga dia tak menyadari kalau dia tersenyum.


Daniel menengadahkan kepalanya tepat saat Ariana Sedang menyerigai. Senyumannya terlihat sangat indah dan ceria.


Melihat itu, Daniel menautkan kedua alisnya, dia merasa heran dan bahkan berpikir bahwa senyuman itu menyiratkan senyuman yang sangat jahat,


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"


Suara dinginnya menyadarkan lamunan Ariana. Ariana langsung menggelengkan kepalanya, mengingat sikapnya barusan wajahnya terasa panas dan merah.


Ariana sangat malu karena ketahuan sedang terpesona dengan bajingan satu ini, Sangat memalukan sekali!


"Apa yang sedang kau pikirkan?"


Daniel menatapnya dengan sinis dan menatapnya dengan curiga.


"Tidak, tidak apa-apa."


"Kenzie dan Deffan telah di pengaruhi oleh mu! Aku rasa sudah cukup menanggung dirimu dan juga kedua putrimu itu. Apakah kau mengerti apa yang aku maksud?"


Kata-kata itu seperti badai petir yang menyambar Ariana dan membuatnya tertegun dan ingin menangis.


Jika Daniel mengusirnya, apakah Deffan akan menerimanya? Tidak. Ini terlalu cepat.

__ADS_1


__ADS_2