
"Orang tua mu harus datang. Datang dan minta maaf kepada siswa yang kamu pukuli tadi. Kau dan orang tua mu harus minta maaf kepada orang tuanya siswa itu, dan kami akan mengeluarkan siswa yang bermasalah seperti mu! TK Bangsawan ini adalah taman kanak-kanak untuk anak-anak dari kalangan keluarga yang terpandang dan terhormat. Dan anak-anak dari kalangan seperti mu tidak pantas bersekolah di sini. Orang tua mu pun masih berani menyekolahkan mu di sini, benar-benar tidak tau diri!"
Deffan sangat senang melihat ibu guru berkata seperti itu. Dia tidak sabar menunggu Daniel datang ke sekolah TK Bangsawan, dan melihat reaksi papa saat mendengar ibu guru ini mengatainya orang yang bodoh!
Di sisi lain, Daniel terkejut mendapatkan telpon dari guru wali kelas Kenzie. Mendengar nada bicara guru itu, dia tau kalau Kenzie pasti telah membuat masalah besar di sekolahnya.
Melihat Kenzie seperti ketakutan, Bu guru itu tidak berpikir panjang lagi untuk segera melaporkan dan memanggil wali murid yaitu papanya Kenzie.
Daniel pun segera bergegas menuju TK Bangsawan dengan cepat.
Setelah tiba di sekolah TK Bangsawan. Daniel segera turun dan melangkah cepat masuk ke dalam. Setelah mengetahui di mana kelas Kenzie berada, Daniel pun segera kesana dengan tidak sabar.
"Papa!" Kenzie berteriak dengan air mata. Dia langsung berlari dan memeluk kaki Daniel yang masih berdiri di ambang pintu.
Daniel menatap putranya dan melihat ada dua memar di wajahnya, tangannya terulur mengelus wajah kecil putra kesayangannya. Lalu menggendong putranya menuju gurunya yang sedang duduk menghadapi anak-anak muridnya. Mungkin ini masih suasana belajar.
Daniel menurunkan Kenzie. Lalu menatap Bu guru yang duduk tegap di kursinya.
"Apa yang terjadi dengan anak saya? Dan apa yang telah dia lakukan hingga wajahnya memar seperti ini?"
Daniel bertanya tanpa mengalihkan pandangannya.
Kenzie terluka. Dan dia juga merasa sakit hati melihat anaknya sudah dua kali terluka di sekolah ini. Bagai manapun, dia adalah anak kesayangan yang dia rawat dan dia besarkan!
Guru itu menatap Daniel dari atas sampai ke bawah. Dia tidak menyangka bahwa seorang siswa yang bermasalah seperti Kenzie memiliki ayah yang luar biasa tampan!
Wajah yang sempurna.
Memiliki aura yang tidak dapat di hindari.
Ya tuhan, ini seperti pangeran, ketampanan seperti ini selalu didambakannya dalam imajinasi.
Jika saja dia mengetahuinya sejak dari awal, mungkin saat dia berbicara lewat telepon tadi tidak akan berkata galak. Tadi dia berkata seperti tidak ada ketangguhan sebagai seorang wanita, dan itu benar-benar akan merusak citranya.
"Kau benar, papanya Kenzie?" Guru itu bertanya seperti ragu.
"Ya benar, kenapa? Apa yang terjadi?"
"Papa .., mereka tadi mengeroyok dan memukul wajah ku," Kenzie berkata dengan sedih.
Mengeroyok dan memukul?
__ADS_1
Mendengar itu, wajah Daniel langsung berubah dingin, dia kembali menatap guru itu dengan wajahnya yang gelap.
"Tidak, tidak. Sebenarnya begini, Kenzie memukul orang dan melukai beberapa teman sekelasnya. Dan aku memanggil mu untuk hadir di sini agar dapat menyelesaikan masalah ini!"
"Beberapa orang? Jadi benar beberapa teman sekelasnya memukul anak ku? Ini adalah pengeroyokan, lalu kau sebagai guru ingin aku yang menyelesaikan masalah ini?"
Nada bicara Daniel dingin dan seperti mencari sesuatu dalam pikiran guru di depannya ini.
Setelah mendengar Daniel berkata seperti itu, guru itu terdiam sesaat.
"Bukan Kenzie yang terluka parah. Tapi siswa yang lainnya di pukul parah oleh nya. Jadi saya harap, kamu bisa meminta maaf kepada orang tua siswa yang lainnya. Karena mereka pasti tidak akan terima melihat anak-anaknya terluka seperti itu."
Daniel menatap Bu guru itu dengan memicingkan matanya. Bola matanya naik turun menatapnya begitu ekstrim. Bagaimana bisa dia berkata seperti itu!
"Bu guru yang terhormat, anda kira saya terima dengan keadaan anak saya seperti ini? Saya lebih tidak terima dengan melihat luka di wajah anak saya. Kalau begitu, katakan. Saya ingin tau mengapa mereka memukul anak saya!"
"Ini ...."
Belum sempat bu guru itu menjelaskan, Deffan dengan cepat berkata: "Papa, itu karena mereka memarahi dan mengejek Mama! Dan bu guru mengatakan Mama ku dan juga aku sama-sama memiliki masalah dan tidak masuk akal."
Daniel mengernyit. Dia tidak peduli jika wanita yang bernama Ariana di marahi atau tidak.
Tapi guru ini berani mengatai Kenzie seperti itu dan dia tidak terima.
Guru itu terkejut dan tidak tau harus menjawab apa. Dia juga mengernyit mantap Kenzie.
"Tidak hanya itu Papa ...."
Deffan mendongak menatap Daniel yang menjulang. Daniel juga tidak sabaran ingin mendengarkan apa lagi yang mereka lakukan pada putranya.
"Apa lagi, katakan semuanya sama Papa, jangan takut!" Ucap Daniel dengan angkuh dan sombong.
Deffan melirik gurunya yang menatap ke arahnya, dia ingin tau apa lagi yang akan di katakan Kenzie setelah ini.
"Papa, tadi Bu guru juga berkata, Papa adalah orang yang bodoh! TK Bangsawan adalah taman kanak-kanak khusus untuk anak-anak dari kalangan keluarga terhormat, dan aku tidak pantas sekolah di sini, Bu guru juga mengatakan kalau Papa masih berani menyekolahkan aku di sini, dan katanya benar-benar tidak tau diri!"
Daniel mendengarkan dan mengernyit serta mengangkat kedua alisnya yang hitam dan tebal.
Orang bodoh?
Tak tau diri?
__ADS_1
Ha ....
Tidak ada orang lain yang berani mengatainya, kecuali Ariana sialan itu!
Guru itupun terlihat serba salah, dia melebarkan bola matanya yang seperti ingin keluar, dia tidak percaya dengan kepolosan anak ini.
Begitu pula dengan Daniel, dia terkejut dan menatap lurus ke arah Bu guru itu dengan pandangan yang dingin, lalu dia bertanya dengan nada suara yang rendah namun menggetarkan hati bu guru itu.
"Benarkah begitu Bu guru?"
Semakin tenang sikapnya, namun semakin dingin auranya.
Sudah sampai tahap ini, guru itu menyadari bahwa tidak perlu mempertahankan citranya di depan seseorang seperti ayahnya Kenzie. Lagi pula dia berpikir, apa yang dikatakannya itu memang sesuai dengan kenyataan. Tetapi Bu guru ini tidak membuka matanya meski dia melihat Daniel dan Kenzie yang berdiri di hadapannya.
Bu guru itu bangkit dari duduknya dan kemudian berjalan kedepan menyandarkan bokongnya di meja dengan sedikit duduk di ujung meja sambil melipat kedua tangannya.
"Benar sekali! Dari perilaku seorang anak saja, sudah dapat di lihat kwalitas orang tuanya seperti apa! Sekolah ini tidak cocok dengan anak anda. Silahkan pindah ke sekolah lain. Dan satu lagi, Anda harus meminta maaf kepada orang tua siswa yang di pukuli anak anda, kalu tidak, saya tidak bisa menjelaskan kepada orang tua mereka nanti."
Daniel menatap dingin serta menyipitkan kedua matanya.
"Sombong sekali, bahkan berani berkata seperti itu kepada saya! Seorang guru seperti anda, apa pantas menjadi seorang guru untuk anak saya?" Daniel tersenyum tipis seperti mengejek.
"Kamu ...."
Belum sempat guru itu berbicara, Daniel segera berbicara duluan.
"Bagus sekali! Kalu begitu jelaskan kepadaku terlebih dahulu, mengenai anak ku yang di keroyok oleh sekelompok anak-anak itu, kalau tidak ...."
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Ikuti terus ya, jangan lupa follow akun author.
Ikuti terus kisahnya ya.
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
komen jika ada kritik dan saran☑️
__ADS_1
dan jangan lupa follow akun author