Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
70


__ADS_3

"Bam ...."


Pintu tertutup.


Ha ....


Emosinya tinggi sekali!


Daniel yang duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar kursinya dengan kaki yang bergoyang-goyang. Wajahnya menunjukkan kegembiraan yang amat sangat.


Dia menatap sinis ke arah pintu yang tertutup. Dia pikir dengan gampang dia mendapatkan pekerjaan dengan caranya yang begitu licik.


Adakalanya kau harus mengalah juga!


Ariana kembali ke ruangan. Dengan kesal dia berteriak dan membanting dokumennya di meja. Hatinya penuh dengan amarah, dadanya seperti air yang sedang mendidih.


Daniel sialan! Kau benar-benar licik b*****n, Ariana mengutuk Daniel dari jauh. Ariana sedikit banyaknya sudah tau apa yang ada di dalam pikirannya, setelah ini, laki-laki sialan itu pasti belum puas mempersulitnya, dan Ariana yakin, setelah ini akan ada laki cara dan trik licik darinya. Mungkin dia akan meminta Ariana untuk menulis secara terus-menerus tanpa henti.


Apakah dia harus pasrah dengan perbuatan Daniel yang semakin membuatnya kesal?


Ariana menatap kedua dokumen di depannya dan menghela napas, harus bagai mana ini?


Dengan kasar Ariana mengambil dokumen itu kembali dan menatapnya dengan perasaan yang sangat jengkel.


Dia mulai menulis dengan tangannya. Wajahnya tidak terlihat baik.


......................


Saat tiba waktunya pulang sekolah. Kenzie melihat bahwa orang yang menjemputnya bukanlah mamanya melainkan Paman Reko, melihat itu wajahnya langsung berubah cemberut.


"Mengapa kau yang datang menjemput ku?"


Reko melihat wajah Kenzie berkata dengan dingin, dia paham, ini adalah Kenzie yang biasanya.


Kenzie yang tidak punya perasaan angkuh dan sombong.


"Papa mu yang memintaku untuk menjemputmu. Kalu buka dia yang menelpon, aku juga tidak mau menjemput mu!"


Reko dengan sengaja meniru sikapnya dan mendongakkan kepalanya setelah berbicara, dan memberikan tatapan dingin.


Kenzie malas untuk memperhatikannya, dia masuk kedalam mobil dengan cepat.


"Ayo cepat pulang!"


Kenzie berkata serta melirik.


"Secepatnya? Mobil ku tak bisa melaju secepat yang kau inginkan. Aku yang menentukan mau pulang cepat atau tidak!"

__ADS_1


Kenzie memutar matanya ke arah Reko. Tempramen Reko akhir-akhir ini jelas sekali. Itu karena Deffan terlalu baik padanya hingga membuatnya seperti ini.


Melihat Kenzie tidak lagi memprotes, Reko oun melajukan mobilnya ke rumah mewah dengan kecepatan tinggi.


Begitu sampai di rumahnya, Kenzie langsung berjalan masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu.


Reko semakin merasa bahwa anak ini pasti memiliki sesuatu rahasia, jadi dia harus memperhatikannya.


Kenzie mengeluarkan arloji ponselnya, lalu segera menghubungi Deffan.


"Deffan, mengapa Mama tidak menjemput ku? Apakah telah terjadi sesuatu pada Mama?"


Kenzie bertanya dengan khwatir.


"Aku juga bingung, Mama belum pulang sejak siang tadi, dia bilang dia sedang lembur, jadi dia meminta kami bertiga pulang dan memasak mie."


"Sedang lembur?" Kenzie mengernyitkan keningnya, lalu mengingat-ingat apa yang di katakan Reko tadi.


"Tadi Reko bilang, Papa meminta Reko menjemputnya? Jadi pasti ada hubungannya dengan Mama yang sedang lembur."


"Jadi, Papa pasti menyulitkan Mama!"


Saat Kenzie sedang bicara dengan Deffan, tiba-tiba dia mendengar suara mobil Daniel, papanya pasti sudah pulang.


"Deffan, Papa sudah pulang, aku tutup dulu telponnya." Kenzie langsung menutup telponnya, dan langsung menyembunyikan ponselnya di bawah bantal.


Daniel masuk dan melalui ruang tamu. Dia melihat Reko yang menatapnya begitu serius.


"Kak, tadi saat Kenzie sampai di rumah, dia langsung mengunci kamarnya. Aku curiga dia pasti sedang menyimpan sebuah rahasia."


Setelah selesai bicara, tatapannya beralih, dia takut Daniel akan marah dan dia pun langsung pergi.


Mata dingin Daniel sedikit menyipit. Dia langsung melangkahkan kakinya ke atas, berjalan ke kamar Kenzie dan langsung mengetuk pintu.


"Kenzie, ini papa! Keluarlah untuk makan siang?"


Kenzie tidak menyahut. Daniel segera mengeluarkan kunci serap dan langsung membuka pintu kamar putranya. Dia melihat Kenzie menyembunyikan sesuatu dengan tergesa-gesa.


Daniel tidak salah melihat, Kenzie menyembunyikan arloji ponselnya.


Daniel mencurigai Kenzie, beberapa pertanyaan melintas di kepalanya. Siapa yang Kenzie telpon? Dan Kenzie terlihat takut kalau dia mengetahuinya.


"Kenzie, ayo makan."


Daniel dengan tenang memanggilnya dan Kenzie begitu malas mengikutinya dari belakang dengan wajah yang cemberut dan kepala tampak terkulai lemas.


Sampai di meja makan, Kenzie menatap makanan dan langsung mengeluh.

__ADS_1


"Aku tidak mau memakan makanan ini!"


Daniel menatapnya.


"Hari ini, hanya ada ini, jadi makan yang ini saja."


Daniel mengambil sumpit bambu, membayangkan makanan -makanan yang enak di buat oleh Ariana. Dia juga merasakan bahwa makan di depannya semuanya terasa hambar.


Meskipun dia memegang sumpit yang terbuat dari bambu itu, tetapi tangannya juga tidak bergerak. Dia tidak tau harus memilih dan memakan makanan yang mana, tiba-tiba selera makannya sudah menurun.


Kenzie melirik Daniel sambil menghela napasnya.


"Jika kau tidak meminta Mama untuk bekerja lembur, kuta tidak perlu memakan makanan seperti ini! Dan juga tidak perlu meminta Reko untuk menjemput ku ke sekolah."


Daniel menatapnya heran, dari mana Kenzie tau kalu dia yang meminta wanita sialan itu untuk bekerja lembur?


"Siapa yang memberitahu mu kalau dia lembur?" Daniel bertanya dengan menatapnya dengan seksama.


Ketika dia menelpon Deffan tadi. Deffan mengatakan kalau Mama belum bisa pulang dengan cepat.


Tetapi Kenzie tidak akan mungkin mengatakannya pada Daniel. Dia mengingat saat Ariana mengatakan kalau Danie tidak boleh mengetahui hal ini.


Dia membeku tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Daniel mengernyitkan dahinya. Dia berpikir mengingat kejadian tadi saat pintu kamar dia di dorong terbuka, dia melihat Kenzie menyembunyikan arloji ponselnya.


Mungkinkah Ariana yang mengadu kepada Kenzie dan dia takut Daniel mengetahuimnya.


Daniel memicingkan kedua matanya. Wanita ini seperti dengan sengaja mengadu domba mereka berdua. Apakah dia ingin Kenzie tau kalau dirinya mempersulitnya.


Bagus sekali!:


Ariana lihat saja nanti! Aku akan membuat perhitungan dengan mu.


Melihat wajah Daniel yang semakin muram, Kenzie tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya menundukkan kepalanya dan meminum, kuah sup.


Setelah makan satu suap, Kenzie memuntahkannya lagi. Dia juga tidak menyentuh sendok makan pun. Dan dia mengatakan kalau dia sudah Kenyang. Kenzie bangkit dan berdiri, dia melangkahkan kakinya menuju ke arah kamarnya dengan marah.


Daniel melihat punggung kecil itu naik ke atas, lalu dia pun merasa tidak nyaman.


Apakah dia sedang memprotes dengan tidak ingin makan.


Dalam benak Daniel mengira, Ariana berpikir kalau Kenzie terus-menerus tidak mau makan, maka dia tidak perlu bekerja sampai lembur.


Jika dia bermaksud memperalat Kenzie untuk mencapai sesuatu tujuannya. Setelah menyembuhkan penyakit Kenzie, lalu dia ketergantungan kepadanya setahap demi setahap.


"Tidak, aku tidak boleh membiarkan Ariana mendekati Kenzie lagi?

__ADS_1


__ADS_2