
Kenzie ingat waktu pertama kalinya dia bertemu dengan dokter Messa, dia memiliki tanda sebesar jempol di pipinya, dan dia sangat jelek sekali.
Ternyata itu semua demi untuk merawat dirinya, dan karena takut dengan papanya, maka karena itu dia menyamar seperti itu.
Dia juga ingat, beberapa kali dia berdebat dengan papanya saat melakukan pengobatan demi melindungi dirinya.
Teringat, demi menyelamatkan dirinya, kakinya terluka.
Ingat mamanya membawa dirinya ke toko kue dan membelikan kue kesukaannya, juga membawanya ke tempat bermain.
Itu berarti Mama memang benar menyayangi dan mencintai dirinya.
Dia bukan anak yang tidak di inginkan dan sengaja di tinggalkan, itu semua demi diriku, berupaya menjadi seorang dokter junius untuk mengobati ku, dan itu berhasil dia lakukan. Mama benar-benar menyayanginya.
Memikirkan itu, perlahan Kenzie berjalan ke arah Ariana selangkah demi selangkah, lalu meraih tangannya menahan tangis, lalu berteriak memanggil Ariana.
"Mama ...."
Saat dia berteriak memanggil nama ' Mama ' dua tidak bisa menahan tangisannya lagi, seolah-olah mengeluarkan dan melampiaskan semua rasa sakit dan sedih, yang
di deritanya selama dalam beberapa tahun ini.
Ariana menariknya dalam pelukannya.
"Kenzie, maafkan Mama sayang, Mama sudah membuat mu menderita selama ini, Mama sudah sangat bersalah padamu, maafkan Mama ...."
Tangis kedua ibu dan anak itu pecah, mereka saling memeluk dan saling merindukan. Ketiga anaknya juga ikut meneteskan air matanya. Mereka terharu melihat Mama dan Kenzie saling menangis.
"Kenzie jangan bersedih lagi ya, Mama ada di samping mu sekarang," Ariana menghapus air mata Kenzie.
"Mama sangat sayang sama Kenzie." Ariana kembali memeluknya, ketiga anaknya mendekat dan ikut memeluk.
Ariana memeluk keempat anak-anaknya.
"Mama menyayangi kalian semua." Berucap seperti itu, Ariana kembali menangis.
Deffan dan kedua adiknya senang melihat Mama dan Kenzie bersatu.
Ariana menatap keempat anaknya satu persatu, kemudian tersenyum lembut.
"Selanjutnya, Kenzie adalah anak pertama Mama, kakak sulung kalian. Kalian harus saling menyayangi, oke."
"Jadi Kenzie adalah kakak ku?" Mata Deffan membulat sambil tersenyum antusias. Dia tidak menyangka kalau Kenzie adalah kakaknya, dan dia menjadi adik sekarang!
"Kakak!"
"Kakak!"
"Kakak!"
Mendengar mereka mengatakan kakak pada dirinya, dia merasa senang serta menampilkan sebuah senyuman kecil di bibir mungilnya.
Berarti dia mempunyai adik laki-laki dan perempuan! Dia harus lebih kuat dari pada mereka, karena harus menjaga Mama dan juga adik-adiknya.
__ADS_1
Kenzie begitu senang, perasaannya sudah sangat tenang, bermain dengan adik-adiknya, serta ada Mama yang menemani mereka. Makan masakan Mama untuk yang pertama kalinya, Kenzie terlihat bersemangat melahap masakan Ariana.
"Bagaimana sayang, apakah suka dengan masakan Mama?" Ariana bertanya pada Kenzie dengan senyuman khasnya. Kenzie langsung mengangguk.
"Suka, masakan Mama tiada tandingannya."
Kenzie berucap sambil tersenyum kecil, sekarang dia sudah bisa memuji walaupun masih dalam keadaan kaku. Tapi Ariana mengerti, sifat Daniel memang di turunkan pada Kenzie, dan juga sifat putrinya Reva hampir sama seperti Kenzie.
Seketika Ariana merasa, bahwa keputusan untuk melahirkan keempat bayinya waktu itu adalah keputusannya yang paling tepat.
Ariana memandang keempat anaknya yang sedang bermain bersama itu dengan senyum puas di wajahnya. Baginya, kebahagiaannya sudah lengkap.
Sudah beberapa hari Kenzie ikut bersamanya, dengan pengobatan akupuntur dan obat herbal Tiongkok yang di minum setiap hari, kesehatannya semakin membaik.
Saat mereka nonton televisi bersama, ada wawancara keuangan, dan Daniel muncul di layar televisi. Kenzie menatap lurus ke layar TV, mata kecilnya terlihat basah.
Papa terlihat lebih kurus dari sebelumnya.
"Kau kangen Papa?" Deffan bertanya serta menatap Kenzie.
Kenzie mengangguk. "Aku ingin pulang!"
"Kau ingin tinggal bersama Papa?" Deffan bertanya lagi.
"Jika aku tidak ada, Papa akan kesepian. Aku harus pulang beberapa hari untuk menemaninya."
"Kau benar, Papa tampak kesepian. Asal Mama dan papa bisa berbaikan kembali, maka keluarga kecil kita ini akan bersatu dan bahagia."
Kenzie menatap Deffan, seperti ada ide di kepalanya.
"Aku juga sedang berpikir begitu. Mari kita berkerja sama untuk menyatukan keluarga kita!"
Mereka saling pandang dan berjanji. Lalu saling melempar senyuman.
Kenzie memberitahu Mama bahwa dia akan kembali.
"Kenzie, Mama mengerti kau sangat merindukan papa mu, kau ingin sekali pulang. Kesehatan kamu juga sudah membaik, nanti jika kamu pulang, jangan lupa untuk memberitahu papa mu, kalau kamu sudah harus masuk sekolah,"
Kenzie mengangguk dengan semangat.
"Baiklah, Ma."
Dia memang ingin sekali pergi ke taman kanak-kanak.
Lebih baik lagi jika pergi ke taman kanak-kanak bersama Deffan dan dua adik perempuan yang lainnya. Jadi mereka dapat bertemu setiap hari.
Di rumah mewah
Daniel pulang mengendarai mobil marsedez, kepala pelayan rumah tangga langsung menyambutnya dengan gembira.
"Tuan ada kabar baik, Tuan muda sudah kembali!" Pelayan itu mengatakan sambil berbinar-binar.
Daniel menatapnya dengan wajah bingung, takut dia salah dengar.
__ADS_1
"Kamu bilang Kenzie ...."
"Papa ...."
Kenzie berteriak sambil berlari ke arahnya. Daniel terpaku mendengar suara bocah yang sangat dia rindukan itu, dia langsung memutar tubuhnya, dan melihat Kenzie berlari ke arahnya.
Daniel tersenyum sangat lebar, sambil merentangkan kedua tangan besarnya untuk memeluk sang putra kesayangan.
"Kau pergi kemana saja!" Suara itu terdengar lirih, matanya sudah basah sambil memeluk putranya dengan erat.
Ha .... Bahkan sosok yang tampan arogan itu bisa menangis?
Kepala pelayan tidak menyangka akan menyaksikan suasana haru ini. Beberapa hari ini, tak ada Kenzie di sampingnya, dia merasa hidupnya tak bernyawa.
Dia bahkan telah mengerahkan seluruh keluarga dan juga anak buahnya untuk mencari keberadaan putranya, namun belum sempat mereka menemukannya, putranya sudah kembali dengan selamat.
"Papa, jangan marah kepadaku, aku pergi untuk berobat. Lihat aku sekarang!" Kenzie menampilkan tubuhnya, mengangkat kedua tangannya ke atas, kaki kecilnya bergerak cepat seperti dia sedang berlatih bela diri.
Setelah menggerakkan tubuhnya, dia berkata:
"Aku sudah sembuh dan sehat sekarang, kata Mama, aku seharusnya sudah bisa masuk TK."
Kenzie berucap sambil membekap mulutnya, tanpa sadar dia mengucapkan kata-kata Mama di depan Daniel.
"Mama?"
Daniel menatap lurus pada Kenzie, tatapannya begitu dalam, ekspresi wajahnya sangat sulit di tebak.
Kenzie tau ini .... Wanita sialan itu sudah memberi tahunya. Seketika wajah Daniel berubah, kedua tangannya terkepal.
Kenzie takut papanya akan berbuat sesuatu yang akan menyakiti mamanya lagi.
"Papa! Kau jangan marahi Mama lagi! dokter Messa itu adalah Mama ku, dia memperlakukan aku dengan sangat baik, jangan menyalahkan Mama ku!"
Daniel mengendurkan genggaman tangannya. Sekarang dia mengembalikan Kenzie, apa dia sedang memperalat Kenzie untuk mendapatkan sesuatu atau ....
"Kenzie! Wanita sialan itu bukan Mama mu, kau harus menjauh darinya, dia wanita licik yang sangat berbahaya, kau tidak boleh bertemu dengannya lagi!"
Kenzie menatap Daniel dengan rasa kecewa, kenapa papanya begitu membenci dokter Messa, hingga ingin memisahkan dirinya dengan Mama kandungnya sendiri.
Penting di baca ya👇
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Tugas pembaca hanya memberi dukungan, like dan komen, memberi vote dan hadiah, juga bintang lima di penilaian. Karena tugas author sangat berat, dari pada kalian yang hanya membaca. jadi tolong saling mengerti untuk saling menyemangati. yuk mulai dari sekarang
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
vote setiap akhir pekan ☑️
__ADS_1
komen jika ada kritik dan saran☑️
dan jangan lupa follow akun author