Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
68


__ADS_3

🌺 Vote 🌺


Melihat Daniel seperti sedang memikirkan sesuatu, kepala pelayan berkata: "Tuan tidak usah khwatir, kamera CCTV ada di mana-mana bahkan di dapur juga sudah di pasang. Ketika nona Messa sedang memasak juru masak dan saya mengawasinya dan tidak pernah pergi. Aku jamin itu bersih semuanya."


Benarkah?


Lalu mengapa dia ingin makan lebih banyak dan banyak lagi?


Daniel menyerahkan sebuah mangkuk bersih kepada pelayan.


"Setengah mangkuk bubur lagi."


"Baik Tuan."


Malamnya Kenzie menelpon Deffan dengan arloji ponselnya. Dia memberi tahu Deffan makanan yang paling banyak di makan oleh Papa, dan apa yang paling dia sukai.


Setelah menutup telponnya, Deffan memberi tahu Ariana, dan menjelaskan apa yang di katakan oleh Kenzie kepadanya.


Mendengarnya Ariana menyunggingkan senyumnya.


"Mama. Papa suka makan masakan mu."


"Dia itu ...."


Untuk sesaat Ariana juga tidak tau bagaimana menilai Daniel. Dia dan Daniel seperti memiliki jarak tak kasat mata.


"Mama, apakah kau kangen dengan Papa?" Deffan menatapnya, matanya berbinar cerah, seakan mencari-cari jawaban jujur di mata mamanya.


Ariana menoleh dan menyentuh kepala Deffan.


"Jangan asal bicara! Bagaimana mungkin Mama kangen kepadanya!"


Deffan tersenyum melihat wajah mamanya yang memerah seperti buah apel yang sangat di sukai oleh Revi.


Pagi harinya


Ariana membuat sarapan untuk ke tiga anaknya. Deffan yang melihat mamanya bolak-balik antara dapur dan ruang tamu tanpa henti, dia tau mamanya sedang buru-buru.


"Mama, aku akan mengantar Reva dan Revi ke taman kanak-kanak, kau tidak perlu mengantar kami."


"Jangan, Mama khwatir ...."


"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula sekolahan kami yang baru ini jaraknya juga dekat."


"Ya Mama, kami bertiga bisa pergi sendiri kok," Revi menambahkan yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.

__ADS_1


Mendengar anak-anaknya bersikeras untuk pergi sendiri, Ariana menjadi terharu.


Dia awalnya mau mengantar mereka lebih dulu ke taman kanak-kanak, setelah itu menjemput Kenzie dan mengantarnya juga ke TK Bangsawan. Dia benar-benar repot sebenarnya, tetapi dia juga tidak tega untuk ketiga anaknya ini.


Dengan pengertian ke tiga anaknya, waktu Ariana menjadi terbantu.


Ariana menatap ketiga anaknya.


"Apakah kalian bertiga benar-benar bisa pergi sendiri? Dan bisa memastikan akan baik-baik saja?"


"Jangan khwatir, Ma. Aku akan menjaga kedua adik ku, jika terjadi sesuatu aku akan segera menghubungi mu."


Ariana memandang mereka dengan lega. Sekolah mereka memang cukup dekat dari sekolahan sebelumnya, mereka cukup jalan kaki untuk pergi ke sekolah paling hanya beberapa menit.


"Baik. Nanti siang Mama akan memasak makanan yang enak untuk kalian bertiga."


"Oke!" Kali ini suara Revi yang paling keras menjawab.


Ariana bergegas pergi ke rumah mewah itu tanpa sarapan.


Daniel menatapnya dengan penasaran.


Pagi sekali dia datang, bukankah dia juga memiliki dua anak perempuan? Apakah mereka tidak perlu di urus oleh Ariana?


Daniel diam saja, tak ada satu pata kata pun, dia pokus dengan dokumen yang di dipegangnya. Namun tidak masalah baginya Daniel mau menjawab atau tidak. Ariana langsung berjalan ke dapur.


Kenzie yang masi di alam mimpi, mendengar suara Ariana, dia segera bangkit dari tidurnya, dan keluar dari dalam kamar dengan rambut yang masih berantakan.


Ariana berjalan ke arahnya dengan buru-buru.


"Ayo Kenzie, aku akan membantu mu untuk pergi mandi sekarang."


"Biarkan dia melakukan apa yang bisa dia lakukan sendiri." Daniel berkata sebelum Kenzie menjawabnya.


Ariana menghela napasnya, lalu pergi ke-dapur, sementara Kenzie melirik Daniel dengan wajah dingin, kemudian perlahan berjalan ke kamar mandi.


Saat Ariana ingin membuat sarapan. Kepala pelayan rumah tangga itu datang menghampirinya, dia tersenyum menatap Ariana.


"Dokter Messa, anda tidak perlu membuat sarapan lagi. Juru masak sudah menyiapkannya, tadi pagi Nyonya Maira mengatakan, kalau kau terlalu repot, kau hanya masak untuk siang hari dan juga memasak untuk makan malam saja."


Mendengar itu bibir Ariana sedikit tersenyum. Dia harus berterima kasih kepada Nyonya Maira karena sudah memahami itu.


Saat sarapan, Kenzie menaruh kembali sandwich tanpa menggigitnya sedikit pun.


Ariana menatapnya dengan sedih.

__ADS_1


"Kenzie, makanan apa yang kau mau? Aku akan membuatkannya lagi untuk mu."


"Membuatnya lagi? Kau bisa mengatur waktu tidak?"


Suara dingin Daniel itu terdengar kesal. Ariana melirik arloji di pergelangan tangannya. Dan memang sudah terlambat untuk membuatkannya lagi.


"Maaf, aku takut dia lapar dan kurang memperhatikan waktu."


Daniel menatapnya dalam-dalam kemudian dia tiba-tiba tersenyum sinis.


Saat Kenzie masih bayi, dia dengan tega meninggalkannya, sekarang berpura-pura mau menjadi seorang ibu yang penuh kasih. Dia mau memperlihatkannya pada siapa?


Ariana bingung melihat Daniel yang menatapnya sambil tersenyum sinis, dan juga tatapan jijik melihatnya.


"Terus saja berpura-pura."


Daniel bangkit dari duduknya kemudian melangkahkan kakinya menuju lantai atas.


Ariana menyadari kalau Daniel pasti menyangka kalau dia sedang berpura-pura berakting.


Daniel memang tidak akan pernah percaya dengan dirinya, Ariana sadar itu. Kemungkinan besar, dia tidak dapat membersihkan nama baiknya lagi di depan Daniel.


Sambil menghela nafas, Ariana pikir dia terlalu berlebihan berpikir seperti itu, biar kan saja Daniel berpikir seperti itu, untuk apa Ariana menghawatirkan pikiran Daniel.


Kenzie sudah berkemas, dan keluar dari dalam kamarnya dengan tas sekolah di punggungnya. Ariana segera menghampiri Kenzie, dan merapikan baju sekolah Kenzie yang terlihat masih belum rapi. Kemudian mereka berdua berjalan ke luar sambil menggandeng tangan kecil Kenzie.


Setelah masuk ke mobil, Ariana memandang Kenzie dengan sedih.


"Apa yang kau inginkan untuk sarapan? Atau lain kali Mama akan membuatnya terlebih dahulu dan membawanya untuk mu. Kau, Deffan, Reva dan Revi akan memakan sarapan yang sama, bagaimana?" tanya Ariana tidak sabaran.


Kenzie sebetulnya memang sangat penasaran dengan apa yang Deffan dan dua adik perempuannya makan saat sarapan. Dan ketika dia mendengar ucapan Ariana barusan, bahwa dia akan makan sarapan makanan yang sama dengan ketiga adiknya itu, dia sangat senang.


Kenzie langsung mengangguk menyetujuinya.


Mobil berhenti dengan mantap di depan pintu gerbang TK Bangsawan.


Kenzie segera keluar dari mobil, dan Ariana mengikuti turun, melihat Kenzie masuk.


Ariana mengulurkan tangannya ingi Kenzie mencium tangannya sebelum masuk, tapi Kenzie terlihat bingung. Ariana mengambil tangga Kenzie dan meletakkannya di kening kecilnya. Kenzie baru paham sekarang. Dia tidak pernah berbuat seperti itu pada siapapun, dan ini untuk yang pertama kalinya Ariana ajarkan. Kenzie melambaikan tangannya dan segera masuk.


Dia ingin memastikan kalau Kenzie benar-benar sudah masuk ke halaman sekolah, bibir Ariana tersenyum merekah saat melihat punggung Kenzie dengan tas menggelayut di punggung kecilnya. Setelah memastikan Kenzie sudah masuk, barulah dia akan pergi.


Ariana memang mengimpikan ratusan kali, mungkin ribuan, untuk mendapatkan kesempatan merawat dan mengurus Kenzie-nya, membalas waktunya yang selama ini tidak bersamanya, dia akan melakukan apapun, mewujudkan menjadi seorang Mama yang Kenzie impikan. Sekarang impiannya sudah terwujud.


Ariana segera bergegas menuju perusahaan Mahesa grup.

__ADS_1


__ADS_2