
🌺Vote🌺
Jantung Reko berdetak cepat saat melihat ekspresi wajah Kenzie.
"Kenzie, apakah kau baik-baik saja?"
Mata jernih Deffan mengerjap beberapa kali, melihat Reko yang seperti ketakutan melihatnya. Dia tersenyum jahil, tentu saja Kenzie yang asli tidak akan pernah seperti itu, Kenzie bukanlah anak kecil yang jahil.
"Aku baik-baik saja?" Deffan mengedipkan matanya yang nakal.
Reko mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala Kenzie. Keningnya tidak hangat seperti terbakar.
Tapi ....
Bagaimana pun dia melihatnya tetap merasa ada yang salah. Tiba-tiba wajah Reko berubah dan punggungnya bergidik, tentu saja itu pasti serangan pada mental Kenzie lagi!
"Paman, ada apa dengan mu?"
"Tidak. Tidak apa-apa, kau bermain lah."
Setelah berbicara dengan Kenzie, Reko bergegas pergi ke luar dari kamar Kenzie, lalu menenangkan dirinya, duduk di sofa ruang tamu serta mengeluarkan ponselnya dan segera menelpon Daniel. Hatinya benar-benar tidak tenang.
"Kak, cepatlah pulang, ada sesuatu yang tidak beres dengan Kenzie!"
"Ada apa?"
"Kau akan tahu ketika kau kembali, dan melihatnya sendiri!"
Daniel tampak terkejut mendengar pernyataan Reko. Dia bergegas keluar dari kantor menuju ke parkiran dan mengendarai mobil marsedez nya.
Teringat Kenzie yang begitu keras kepala, dan tak mau makan siang, apakah Kenzie melakukan sesuatu yang aneh-aneh lagi?
Setelah sampai, Reko langsung menghampiri Daniel.
"Kak, kau jangan tanya apa-apa. Pikirkan saja bagaimana sikap Kenzie ketika kau mau pergi ke kantor tadi, dan lihat seperti apa sikapnya sekarang? Aku tidak akan mengatakan apa-apa, kau juga akan mengerti!"
Melihat Reko yang begitu serius, Daniel pun merasa bergetar, pikirannya mulai berpikir yang tidak jelas, kemudian pergi melangkahkan ke kamar Kenzie.
Begitu Daniel mendorong pintu, matanya langsung tertuju kepada Kenzie yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil bermain tablet.
Mendengar pintu kamarnya di dorong, Deffan mendongakkan kepalanya, melihat Daniel datang dengan menatapnya seolah-olah mencari sesuatu di dalam dirinya. Sementara Deffan yang mengingat mamanya tersayang yang terluka karenanya, dia menatap dan langsung mendengus kembali melanjutkan bermain dengan tabletnya lagi.
Mana ada yang salah dengan Kenzie-nya seperti ini?
__ADS_1
Bukankah Kenzie masih marah dengannya?
Daniel tiba-tiba berjalan ke arah Deffan dan duduk di sampingnya, Daniel menatapnya dengan mata yang lembut.
"Apakah kau lapar?"
Deffan yang sejak tadi merasakan perutnya perih karena lapar. Dia merasa bersikap ngambek seperti itu tida ada gunanya, jika bisa makan dan minum dengan baik lalu perutnya kenyang. Setelah itu, barulah kemudian bisa mengacaukan sistem jaringan perusahaannya dan itu baru dapat dikatakan puas.
"Aku lapar, lapar sekali! Aku ingin makan kaki ayam dan kepiting besar?"
Deffan berkata dengan suaranya yang sedih dan sedikit manja.
Daniel langsung mengernyitkan keningnya mendengar Kenzie berkata seperti itu, dia merasa heran.
Apakah Kenzie sudah tidak marah lagi padanya? Dan Kenzie tiba-tiba mau makan ceker ayam? Kenapa dia tiba-tiba menginginkannya? Apa mungkin sekerjanya sudah berubah? Memikirkan itu kepala Daniel agak sedikit pusing.
"Kenzie, apakah kau tidak marah dengan Papa? Dan menyalahkan ku lagi?"
Mata Deffan sedikit meliriknya dengan sudut matanya yang kecil, bagaimana dia tidak marah dengannya ketika dia memukul Mama dan melukainya! Deffan sebetulnya sangat marah, bagaimana mungkin dia tidak menyalahkan Papa!
Namun Deffan lebih berpikir jernih, kemarahan tidak akan menyelesaikan permasalahan. Budi dibalas budi, kebencian di balas dengan dendam. Tapi untuk apa aku marah dan kesal sampai tak mau makan, ini akan menyiksa diriku sendiri.
"Tidak. Aku pikir, untuk apa aku marah-marah, tidak ada gunanya. Papa, aku akan makan tepat waktu."
Apakah mungkin ....
Daniel berjalan keluar dari kamar Kenzie, dan kebetulan Reko yang baru saja tiba di lantai atas, melihat Daniel keluar, dia langsung menyeret Daniel ke ruang kerjanya. Reko memberi tahu Daniel bahwa sikap Kenzie yang dingin dan tiba-tiba menjadi hangat, serta keramahan Kenzie tadi yang tidak biasanya.
"Kak, ini benar-benar aneh, selama ini sikap Kenzie tidak seperti itu, kan? Apa lagi terhadap ku. Sejak kapan Kenzie memanggil ku dengan sebutan Paman? Itu tidak pernah aku dengar selama ini. Sikap Kenzie begitu cepat berubah, ekspresinya terkadang dingin dan terkadang hangat. Bukankah itu aneh? Apakah Kenzie benar-benar memiliki kelainan mental secara serius? Kak, lebih baik cepat bawa keponakan ku ke dokter, aku takut terjadi sesuatu dengannya. Dari pada terlambat, lebih baik mengobatinya secara cepat."
Melihat Daniel yang tidak menjawab kata-katanya, Daniel yang hanya terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Reko tidak bisa menebak apa yang sedang kakaknya itu pikirkan. Reko khwatir Daniel akan memarahinya, kemudian Reko menambahkan kalimatnya lagi.
"Dokter Al dari rumah sakit keluarga sehat sangat ahli dalam bidang ini, kau bisa memeriksa Kenzie kesana."
Setelah mengatakan itu, Reko bergegas pergi meninggalkan Daniel di ruang kerjanya.
Wajah Daniel menjadi gelap, dan ketika itu, ponselnya tiba-tiba berdering memperlihatkan nama gurunya Kenzie yang tertera di layar ponselnya. Daniel langsung mengangkatnya.
"Pak Daniel, sebelumnya saya minta maaf. Hari ini Kenzie tidak datang ke sekolah, apakah benar dia kurang enak badan? Saya hanya ingin memastikan, ada apa dengannya? Dan kenapa tiba-tiba tidak enak badan?"
Guru itu bertanya dengan sangat menghawatirkannya.
"Tidak ada apa-apa. Dia mungkin kecapekan saja."
__ADS_1
"Oh, syukurlah kalu begitu sudah lebih lega. Tapi ..., ada satu hal yang aku tidak tahu, apakah aku hanya ..., Kenzie, dia .., dia ...."
Gurunya seperti ragu-ragu dan sungkan untuk mengatakannya kepada Daniel. Daniel juga memahami gurunya itu.
"Tidak apa-apa, katakan saja. Ada apa?"
Setelah Daniel berkata seperti itu, gurunya merasa tidak ragu lagi untuk bicara, dia langsung mengatakan keseharian Kenzie ketika di sekolah. Sikapnya yang sering berubah-ubah. Terkadang Kenzie terlihat ramah, lincah dan banyak bicara. Tapi juga terkadang dia tampak dingin dan sombong, terlihat berbeda sekali.
Mendengar pernyataan gurunya ini, meskipun penyampaian informasi ini kurang jelas, namun Daniel sangat memahaminya. Sepertinya tidak hanya Reko dan dirinya saja yang merasakan sikap Kenzie seperti ini, tetap juga guru kelasnya. Daniel juga merasakan ketidaknormalannya ini.
Daniel tertegun memikirkan ini, setelah itu dia bergegas menemui Kenzie di meja makan. Dia melihat Kenzie yang sedang menggigit kaki ayam dengan semangat, sepertinya dia sangat menyukai kaki ayam itu. Sampai-sampai tulangnya masih ia gigit dengan menikmatinya.
Melihat itu, hati Daniel menjadi sedih dan kasihan. Apakah anaknya benar-benar sakit? Daniel duduk di hadapan Kenzie, menatapnya yang sedang menggigit tulang ayam yang tidak ada dagingnya itu. Daniel tidak ingin banyak bicara, ia menunggu Kenzie sampai menyelesaikan makannya.
"Kenzie, kita ke rumah sakit bersama Papa, ya?"
Kenzie yang baru saja membersihkan mulutnya dengan tisu, ia terkejut dan menatap Daniel.
"Siapa yang sakit? Dan untuk apa mengajak ku kesana?"
Deffan merasa khwatir, apakah ada sesuatu yang telah terjadi, tapi siapa? Dia sangat penasaran.
"Kita akan kerumah sakit untuk melakukan pemeriksaan kesehatan."
Deffan mengernyitkan keningnya.
"Papa, aku tidak sakit."
"Kenzie, kau harus melakukan pemeriksaan kesehatan, nurut sama Papa, ya." Daniel berusaha membujuk Kenzie meski sulit.
Deffan tau bahwa tidak ada gunanya dia membantah, jadi dia dengan mudahnya nurut. Daniel merasa Kenzie mudah sekali di bujuk, dia pun merasa tidak salah dengan keputusannya yang mau memeriksa kesehatan Kenzie.
.
.
.
Mood author menurun untuk menulis, entah ada apa ya? Tiba-tiba saja kok merasa malas.
Semangatin dong ......,
🌺like🌺
__ADS_1