
Setelah membaca:
Wajib like☑️
klik bintang lima di penilaian ☑️
tap love ☑️
Ketika sampai di depan pintu, Reva berseru memanggil nama Revi, dia kemudian memberikan sebuah kue yang sangat enak.
"Revi, terimakasih barusan kau sudah menolong ku, ini untuk mu." Reva tersenyum serta mengulurkan tangannya, memberikan sekotak kue enak kepada Revi.
Wow ....
Reva benar-benar memberinya kue!
Revi menatap kue itu dengan mata yang berbinar-binar.
"Kakak membelikannya untuk mu, ambillah!"
Belum sempat Ariana menyelesaikan kalimatnya, Revi mengambil kue itu dan memakannya.
"Lain kali aku akan membantunya lagi, aku akan melindungi kakak!" Revi berkata dengan mulutnya yang penuh dengan kue. Melihat itu Ariana menatapnya dengan lucu.
"Pelan-pelan makannya, jangan bicara selagi masih ada makanan di mulut." Ariana berusaha mengajari putrinya dengan baik.
Reva tersenyum geli melihat Revi yang melahap kuenya dengan ganas. Dia terlihat seperti singa kelaparan.
Saat itu, Deffan berlari menuju rumahnya dengan tergesa-gesa, dia harus cepat-cepat sampai di rumah dan membantu mamanya. Hingga dia tidak memperhatikan ada orang di depannya, tapa dia sadari menabrak kaki Siska yang baru saja keluar dari gang rumahnya itu.
Deffan mendongakkan kepalanya, menatap Siska dengan penampilan yang semerawut.
Siska melebarkan matanya, menatap bocah itu dengan marah.
"Anak brengsek ini ..., kau tak punya mata ya!" Siska membentak Deffan sambil menutupi wajahnya yang bengkak akibat lemparan buah apel yang di lakukan oleh Reva.
Erika menundukkan matanya, menatap Deffan begitu cermat. Baru saja Deffan ingin berlari, dia sudah di tangkap oleh Erika.
"Mau kemana kau bocah tengik?"
__ADS_1
Erika memegang erat tangan Deffan, hingga dia kesulitan untuk melepaskan dirinya.
"Lepaskan aku tante!"
Erika tersenyum licik. Sambil tetap memegang tangan kecil Deffan, dia melirik Siska dan berbisik.
"Ma, ini adalah senjata kita untuk mengancam Ariana, kita akan menyandra anaknya, dengan begitu Ariana akan memberikan uang kompensasi dengan cepat."
Melihat itu, Siska juga tersenyum licik, matanya berbinar seperti mendapatkan sebongkah berlian.
"Cepat bawa dia!"
Erika memerintahkan kepada anak buahnya yang baru saja tiba. Kemudian mereka pun membawa Deffan pergi untuk menyekapnya.
"Tante! lepaskan aku! kenapa kau begitu jahat!"
"Diam! Kalu kau tidak diam, aku terpaksa akan sumpal mulutmu itu!"
Deffan berpikir, memberontak juga tidak akan ada gunanya, dia tidak akan mampu melawan mereka. Lebih baik dia diam dan memikirkan sesuatu.
.
.
.
Ariana segera meriah ponselnya dan menatap layar melihat nama pemanggil yang tidak terdaftar di kontaknya.
Ya nomor yang tidak dia kenal. Beberapa saat Ariana membiarkan telpon itu, dia sedikit ragu-ragu untuk menjawabnya.
Setelah beberapa kali panggilan itu masuk, Ariana berpikir mungkin saja itu adalah pasiennya, jadi dia langsung mengangkatnya setelah mempertimbangkannya beberapa menit kemudian.
"Halo Ariana, aku membawa berita mengejutkan untuk mu!" Erika tertawa menyergai, sementara Ariana mengernyitkan keningnya setelah mengenali pemilik suara itu.
"Kau ...."
"Putra mu ada di tangan ku sekarang, jika kau mau dia selamat, kau harus membawa uang untuk menebusnya! Aku rasa kau sudah tau siapa aku?"
"Kau Erika!"
__ADS_1
Ariana menyebut nama Erika dengan keras, hatinya seketika bergetar hebat, dia panik. apa lagi saat mendengar suara Deffan dari seberang telepon.
"Erika, jika kau berani menyakiti putraku, aku akan membuatmu terkubur bersamanya!"
Erika tertawa seperti iblis.
"Di kubur bersama? Keluarga Malik tidak ada harapan lagi Ariana, apa kau kura aku takut untuk mati? Sedangkan putra mu ini masih kecil, apakah kau tidak menyayanginya hingga kau mudah sekali berkata seperti itu?"
"Erika, kau. Kau tidak boleh menyakitinya, jangan kau sakiti anakku!"
"Di sakiti atau tidak, itu tergantung dengan mu Ariana, siapkan uang 2 miliar, tidak boleh kurang sepersen pun!"
"Apa? Apakah kau sudah gila! Aku tidak mempunyai uang sebanyak itu Erika! Di mana otak mu!"
"Aku tidak peduli dari mana kau mencarinya, siapkan uang itu secepatnya."
"Erika kau ....."
"Maaf, aku tidak banyak waktu untuk berbicara dengan mu, kau punya waktu 1 hari, jika tidak, kau akan mendapat paket hadiah sore ini berupa mayat anak mu, hanya itu saja."
Tut-tut-tut
Erika memutuskan telponnya, sementara Ariana terpaku tak berdaya, bibirnya bergetar matanya memerah menahan tangis. Jantungnya seakan tidak lagi berdetak, dia terduduk di lantai, menahan napas yang tersengal di tenggorokannya.
Dengan keadaan ekonomi seperti ini, dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu? Mereka benar-benar memeras ku!
Setiap kata terdengar dengan sangat jelas, mereka benar-benar iblis yang tidak berprikemanusiaan. Ariana memejamkan matanya berharap ini hanyalah sebuah mimpi, tetapi, saat dia membuka matanya kembali, dia benar-benar gemetar ketakutan, memikirkan Deffan yang mereka culik, di dalam benaknya di penuhi dengan Deffan dan terus berpikir apa yang harus dia lakukan.
Memikirkan Deffan yang di tangan Siska dan Erika, apakah mereka akan memukulnya?
Apakah mereka akan menyiksa Deffan?
Oh tuhan, selamatkan lah nyawaku yang tak berdosa itu. Dia masih kecil dan tidak akan kuat melawan mereka.
Ariana begitu tegang dan panik. Uang, uang, dan uang. Hanya uang yang bisa menyelamatkan Deffan.
Bagaimana ini?
Apakah aku harus menelpon dan memberi tahu Daniel?
__ADS_1
Bersambung ....
Penasaran? Yuk komen agar author update lagi.