Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
90


__ADS_3

🌺like🌺


"Deffan, tolong dengarkan Mama, ayo cepat pergi dari sini."


"Ma, jika bukan Papa yang melukai mu, lalu siapa lagi?" Deffan bertanya sambil naik ke dalam mobil.


Ariana menghela napas. Deffan memang tidak bisa melihat ku seperti ini, dia sudah tau watak putranya ini.


"Tidak, Mama benar-benar jatuh tadi."


"Kalu Mama terjatuh, lalu kenapa meninggalkan kantor?"


Pertanyaan Deffan membuat Ariana pusing. Deffan memang tidak bisa di bohongi, dia sangat pintar dan cerdas, pikirannya sangat jauh.


Ariana tidak bisa untuk tidak jujur.


"Deffan, tidak usah memikirkan itu, oke. Mama tidak ingin bermasalah dengan orang sepertinya Daniel lagi. Dia benar-benar sangat berbahaya, kita akan segera pergi dan pindah rumah."


Kata-kata Ariana membuat Deffan membeku, dan tidak mengatakan apa-apa lagi selain diam. Dia hanya kasihan melihat Mama.


Sampai di rumah, Deffan segera mengambil kotak obat, dan mengobati kaki mamanya yang terluka. Ariana merasa Deffan kecilnya ini adalah Dewa, apa pun keadaannya dia merasa tenang jika ada Deffan di rumah. Meskipun masih sangat kecil, dia sudah menunjukkan bahwa dirinya harus melindungi Mama dan juga adik-adiknya. Ariana menatap Deffan yang sambil mengobati kakinya dengan sedih.


Setelah Deffan selesai mengobatinya, Ariana langsung memeluk Deffan dengan hangat.


"Kalian adalah nyawa Mama, jika kalian tidak ada maka Mama tidak tau harus hidup seperti apa."


Ariana sengaja melakukan itu, dia takut suatu hari nanti Daniel akan mengambil Deffan setelah dia mengetahuinya. Dia juga tidak tau harus berapa lama rahasia ini tertutup rapat. Maunya ya tidak terungkap untuk selamanya. Tapi apa mungkin?


"Mama jangan takut, Deffan akan selalu ada untuk mu."


Kata-kata Deffan membuat Ariana terharu. Dia semakin yakin Deffan tidak akan pernah meninggalkannya, bagaimana pun Deffan di besarkan olehnya, tidak mungkin dia bisa hidup dengan tenang tanpa mamanya.


Ariana tersenyum melihat Deffan, mensyukuri memiliki putra seperti Deffan. Deffan begitu baik dan pintar.


"Mama, istrahat. Aku akan menjagamu."


Ariana menganggukkan. Deffan langsung pergi ke dapur mencuci buah. Tiba-tiba arloji ponselnya berkedip tanda ada sebuah panggilan masuk. Deffan langsung mengangkatnya.


"Deffan, aku sudah sampai di kantor, tapi aku tidak menemukan Mama?"


Deffan menghela napasnya.

__ADS_1


"Kau sudah terlambat, Mama sudah terluka! Dan aku membawanya pulang ke rumah."


"Apa?"


Kenzie terkejut. Deffan memberi tahu dan menceritakannya kepada Kenzie bagaimana situasinya tadi.


Mendengar penjelasan Deffan, wajah Kenzie berubah dingin seperti wajah Daniel.


"Papa benar-benar melakukan sesuatu kepada Mama, keterlaluan sekali!"


"Ya, kamu jangan khwatir, Mama sudah aku obati, sekarang dia sedang istirahat."


Kenzie juga menceritakan bagaimana dia bisa terlambat tadi, itu karena ada seseorang yang ingin menculiknya, pada saat itu, Kenzie sudah hampir sampai di kantor Daniel, tapi tiba-tiba taksi yang membawanya itu berbelok ke arah lain, bukan ke arah kantor Papa. Jadi dia mencari cara untuk melarikan diri. Dengan sudah paya Kenzie mengelabui sopir itu, dan dia berhasil kabur.


Jika bukan karena supir sialan itu, aku tidak akan terlambat untuk menyelamatkan Mama, Mama pasti tidak akan terluka!


Setelah menutup telponnya, dengan marah Kenzie langsung pergi ke kantor papanya.


Daniel mendengar bahwa Ariana pergi membawa Kenzie saat pergi tadi. Dengan emosi dia mau menelpon Ariana, tiba-tiba Kenzie muncul di hadapannya.


"Kenzie kamu ...."


Belum selesai Daniel berkata, Kenzie sudah menyela.


Kenzie berkata dengan dingin, dan seketika itu pula wajah Daniel langsung berubah. Ariana pasti sudah mengadu dan menghasut Kenzie lagi.


Daniel menatap wajah kecil Kenzie yang sangat marah itu, dia belum pernah melihat Kenzie marah seperti ini! Wanita sialan itu benar-benar mempengaruhi Kenzie. Tanpa sadar Daniel menggenggam tangannya dengan erat.


Liki yang berdiri di samping Daniel langsung bergegas untuk menjelaskannya kepada Kenzie.


"Tuan muda, lihat ruangan kerja papamu ini. Ini semua mama kamu yang melakukannya. Papa mu di buat marah oleh Mama mu, jadi dia ....."


"Sudah sepantasnya seperti itu!"


Kenzie berteriak dengan sangat keras. Jika bukan Papa memberi Mama kue yang sangat tidak enak, Mama tidak akan melakukan hal seperti ini!


Mendengar ucapan Kenzie, wajah Daniel langsung menggelap dan masam.


Semalam saat makan malam, Kenzie masih ngobrol dan tertawa bersamanya, tapi hari ini, setelah bertemu dengan Ariana, dia menganggapnya seperti musuh terbesarnya.


Ariana sialan, sepertinya dia benar-benar tidak akan pernah bertemu dengan Kenzie lagi!

__ADS_1


"Antar Kenzie ke sekolahnya! Dan beri tahu gurunya untuk tidak membiarkan Kenzie pulang lebih awal lagi!"


"Baik pak Daniel."


"Aku tidak mau! Kau sudah keterlaluan menyakiti Mama, membuat Mama terluka! Papa kau jahat!"


Kenzie berteriak sambil di gendong Liki pergi, tangan kecilnya memukul-mukul dada Liki. Daniel mendengar ucapan Kenzie seperti itu, dadanya terasa sedikit sesak. Dia tidak terima mamanya di sakiti, Daniel terlihat gusar. Gusar dan bercampur sangat marah!


Siang harinya. Reva mengetahui kalau Mama terluka, dia juga sangat marah, wajahnya suram dan tidak mau bicara. Ariana takut Reva kenapa-napa, dia memeluk Reva dan menanyakan hal-hal di sekolah. Namun Reva sangat malas untuk menjelaskannya.


"Mama, aku sangat membenci orang yang sudah menyakiti Mama seperti ini, kalu aku sudah besar nanti, aku pasti akan membalasnya!"


Revi tidak mau mendengarkan apa yang Ariana tanyakan tentang sekolahnya. Reva tau kalau Mama sengaja mengalihkan pertanyaannya.


"Iya sayang, Mama sangat beruntung memiliki kalian, tapi ini urusan orang dewasa kalian jangan berlebihan memikirkan ini, ya. Mama akan menyelesaikan permasalahannya, oke."


Ariana mau menenangkan pikirannya. Dia juga tidak akan membiarkan anak-anaknya menghawatirkannya.


Revi menangis melihat Mama terluka.


"Mama, apakah rasanya sakit?"


"Buat apa menangis." Reva melirik Revi dan kemudian berjalan menuju kamar Deffan.


"Deffan Anggara, apakah kau hanya melihat saat Mama di sakiti seperti itu?"


Deffan yang di panggil dengan nama lengkapnya itu menoleh dan mengernyitkan dahinya.


"Jika kau laki-laki, pergilah dan lakukan. Balas perbuatan orang yang sudah melukai dan menyakiti Mama!"


Deffan mengerti perasaan Reva yang sedang marah itu, bukan dia saja yang tidak terima Mama di sakiti, mungkin Deffan lebih tidak bisa menerimanya dari pada Reva.


"Serahkan ini pada ku. Aku tidak akan pernah membiarkan Mama di sakiti seperti itu! Kau jangan khwatir soal ini."


Deffan berkata dengan menekankan kata-katanya. Seolah-olah dia berjanji pada dirinya sendiri kalau dia akan membalasnya.


Reva tertegun mendengar jawaban Deffan.


"Kalu begitu, kau balas kan dendam Mama, aku akan membalas dendam ku sendiri! Aku mau memukulnya dengan tangan ku sendiri!" Reva berkata dengan sangat mudahnya. Mendengar Reva berkata dengan keyakinannya seperti itu, Deffan sebenarnya hendak tertawa, tetapi dia tidak mungkin melakukannya. Deffan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Orang dewasa mana bisa dilawan dengan cara seperti itu hehehehe. Deffan tersenyum saat Reva sudah pergi. Tetapi dia salut dengan kegigihan adik perempuannya itu.

__ADS_1


Yuk komen agar author update lagi.


__ADS_2