Jangan Marahi Mama

Jangan Marahi Mama
132


__ADS_3

Ketika pulang, Daniel melihat Ariana yang sedang duduk di ruang tamu sambil membaca buku tentang metode kesehatan. Daniel masuk dengan wajahnya yang muram, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, dan terlihat sekali bahwa dia sangat kesal.


"Kenapa kau belum pergi?" Daniel berkata dengan sangat dingin."


"Aku akan pergi, tapi nyonya Maira memintaku untuk menunggunya di sini sampai dia kembali untuk membantunya merawat temannya itu."


"Tidak perlu, kau bisa pergi sekarang!"


Ucapnya begitu terlihat sangat jijik menatapnya.


Daniel kira dia yang mengadu kepada mamanya hingga dia terlihat jijik mengingatnya.


Ariana tidak ingin ribut dengannya, dia meletakkan buku di atas meja lalu memandang Daniel dengan serius.


"Aku sudah katakan, aku memang akan pergi, tapi mamamu yang menahan ku untuk tetap tinggal disini, jadi aku harus menunggunya sampai kembali. Jadi orang itu bukankah harus menepati janji?"


"Menepati janji? Apakah kau terlihat pantas mengatakan ini?"


"Ya, pantas saja, aku yang paling pantas." Ariana berkata seperti tidak mau kalah.


Daniel menatapnya dengan memicingkan kedua matanya. Buat apa berdebat dengan wanita tidak tau malu ini, benar-benar membuang waktu saja.

__ADS_1


"Pak Daniel, aku tidak akan pergi untuk sementara waktu ini, jika kau bersikeras untuk mengusir ku, minta kepada nyonya Maira menelpon ku dan memintaku pergi. Ketika nyonya Maira mengatakan kalau aku boleh pergi, aku akan pergi tanpa menunda-nunda waktu ku di sini."


"Kau ...."


Wajah Daniel semakin menekuk, dia benar-benar ingin menyuruh seseorang untuk mengangkat tubuh wanita ini dan melemparkannya keluar dari rumahnya.


"Aku tinggal di sini atas permintaan nyonya Maira. Oh ya kau juga tidak perlu meminta para pelayan untuk mengusir ku, nyonya Maira sudah berpesan kepada mereka. Siapapun yang berani menyentuh ku, dia akan mengikuti mereka ketika dia kembali."


Saat ini Ariana hanya memiliki satu tujuan, tidak peduli dengan cara apa pun, dia harus tetap tinggal di sini. Dan kemungkinan Daniel akan berubah pikiran untuk merebut hak asuh Deffan.


Tampaknya wanita ini tidak akan pergi, mata Daniel tampak lebih keruh. Dia maju selangkah dan tiba-tiba meraih pergelangan tangan Ariana.


"Pergi!"


Daniel seperti sedang menyeret sampah untuk segera membuangnya.


Ariana cepat-cepat menghempaskan tangannya yang begitu kuat, namun dia hanya sia-sia, lalu tangannya meraih kaki meja dan memegangnya dengan erat.


Dia rela seperti itu demi Deffan, tidak peduli Daniel akan mengatai dirinya seperti apa?


Daniel semakin kesal dengan sikapnya seperti ini. Dia pun berpikir lebih keras lagi agar wanita ini pergi dengan sendirinya.

__ADS_1


"Oke, aku akan membuat mu pergi dengan sendirinya, dan membuat kau mundur dengan sangat menyedihkan?" Ucapnya, setelah itu dia berjalan menuju ruang kerjanya.


Ariana tampak terkejut dan semakin bingung.


Bukan hanya kejam, laki-laki ini sungguh tidak punya perasaan sama sekali. Bajingan ini selalu menyulitkannya. Melihat Daniel masuk keruang kerjanya, Ariana bergegas masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintunya. Dia menerka-nerka apa yang akan dia lakukan?


Jantung Ariana berdegup kencang seakan tidak mau berhenti. dia terlihat takut dan cemas.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan dia melihat ID pemanggilannya adalah Reko. Ariana langsung mengangkatnya.


"Aku tadi ke kantor kakak ku, dan Liki bilang kakakku pulang ke rumah! Bagaimana? Apakah dia menahan mu?"


"Kau pikir kakak mu itu seperti dirimu? Dia kembali untuk mengusir ku, bukan untuk menahan kepergian ku. Jika aku tidak bersikeras memaksa, kau pikir aku masih tinggal di sini?"


"Apa? Keterlaluan sekali, tunggu sebentar," Reko memikirkan sesuatu, jika dia menelpon mamanya sepertinya kurang bagus.


"Nona Ariana, aku pikir kau sudah cukup bagus masih bisa bertahan sampai sekarang. Aku pikir kau memikirkan cara lain lagi agar kakak ku punya pikiran yang sedikit jernih. Ku beri tahu ya, kakak ku itu tidak suka dikasari, dia akan bersikap lembut jika orang itu bersikap lembut kepadanya."


Sepertinya tidak ada cara lain lagi untuk saat ini! Ariana menghela napasnya begitu dalam. Jika dia tidak bertahan, maka dia akan kehilangan Deffan. Tidak aku harus bisa menaklukkan laki-laki brengsek itu. Ariana masih dengan keras kepala mengatakan kalau Daniel adalah bajingan.


Demi tujuannya, Ariana akan mencobanya.

__ADS_1


__ADS_2